Apa yang Terjadi Selama 24 Jam di Jakarta?

by - December 27, 2017

Newbie belajar mengambil gambar yang aestetik ~

Setiap orang berhak mencintai Jakarta dengan caranya sendiri.

Ungkapan inilah yang selalu saya lontarkan setiap kali berkunjung ke kota hidup dan mati tersebut. Saya pribadi merupakan orang yang mencintai Jakarta dengan segenap kemacetannya. Meskipun, hingga sekarang, setiap kali saya kesana, hati saya selalu naik turun tatkala melihat kehidupan manusianya. 

Orang-orang di Jakarta berkendara seperti kelebihan kafein.

Kalau saya jualan "waktu" di Jakarta, mungkin saat ini saya sudah menjadi jutawan karena banyak pelanggan yang akan antri membelinya. Namun sayangnya, waktu tidak bisa diulang. Ini cukup bangkai mengingat acuan jarak di Jakarta bukan lagi menggunakan kilometer, tapi durasi. Beberapa orang yang saya temui disana mengatakan demikian.

Jadi, misalnya saya bertanya pada driver Gojek tentang berapa jarak antara bandara Soetta dengan Kalideres, beliau tidak akan menjawab ukuran dalam satuan kilometer, melainkan waktu. 

"Jarak bandara ke tempat A adalah satu jam." Begitu katanya.

Lucu memang. Apalagi saat saya pelajari bahwa tarif moda transportasi online disana memiliki selisih harga yang cukup signifikan dibandingkan dengan kota lainnya. Alasannya satu, macet. Ini harus masuk kompensasi. Sungguh suatu fenomena yang cukup unik untuk dikulik lebih jauh.

Beralih pada sisi kehidupan Jakarta yang lain, saya mendapatkannya pada buku berjudul Jakarta 24 Jam ini. Sebuah buku kumpulan cerita pendek tentang sisi liar kehidupan Jakarta yang sebenarnya. Memang bukan aktualisasi kejadian sebenarnya karena ini fiksi. Namun, Jakarta 24 Jam ini juga cukup menjadi representasi bahwa gaya hidup dan keseharian disana adalah seperti yang diceritakan oleh empat sekawan yaitu Putra Perdana, Wandy Ghani, Faizal Reza, dan Feddy F. Bayusegara.

--- [] ---

Buku kumpulan cerpen ini diberikan keterangan dengan tulisan "kumcer dewasa", yang artinya cerita di dalamnya memiliki batasan usia pembaca. Dewasa. Mungkin maksudnya 18 tahun ke atas. Usia yang sudah melewati fase barter video ena-ena dengan ekstensi 3gp. #eh

Diterbitkan oleh Gramedia pertama kali di tahun 2013, buku ini membawa angin segar pada dunia literasi. Cerita di dalamnya menyentil banyak pihak dari berbagai profesi yang terlibat dalam adu kehidupan di Jakarta. Dengan tebal halaman 20 milimeter, buku ini memiliki jumlah halaman sebanyak 256. Membuatnya bisa dibaca dalam sekali duduk dengan durasi satu hingga dua jam.

Kumpulan cerita pendek dalam buku ini merupakan algoritma setiap kisah yang muncul di sebuah kafe yang berlokasi di dekat halte bis Sarinah. Kafe tersebut memiliki nama yang sama dengan judul buku ini, Jakarta 24 Jam. Kafe yang didirikan atas dasar kenangan seorang pria terhadap wanita. Kafe yang dibangun karena kerinduan, cinta, dan bau hujan di tanah gersang (petrichor).

Sekilas terlihat romantis dan manis. Tapi tunggu dulu, sampai kita benar-benar membaca isinya yang luar biasa mengesankan karena banyak adegan berdarah-darah hingga daging manusia gosong yang diceritakan di dalamnya. Gokil kan.

Sudah lama sekali sejak saya membaca novel Indonesia dengan tipe cerita seperti di Jakarta 24 Jam ini. Makanya saat saya pertama kali menapaki cerita ketiga, dengan judul yang sama yaitu "Ketiga", saya langsung takjub. Apalagi saat tokoh utamanya berkali-kali bermonolog, "Aku akan membunuh seseorang hari ini". Sumpah, keren banget, anjir.

Ada juga salah satu cerpen berjudul "Alasan". Tentang seorang perempuan jalang yang menggunakan tubuhnya demi uang dan membunuh dua pria sekaligus pada hari yang sama. Sekilas saya ingat cerita tentang istri Yakuza yang "ditanamkan" ke rumah lawan perang dan membuat mereka mati dalam tidur usai pergumulan. 

Salah satu cerpennya bahkan memuat humor receh tentang asal muasal "Sulap" yang merupakan anagram dari kata "palsu". Seorang anak yang diundang sebagai asisten pertunjukkan seorang pesulap jalanan mengambil sudut pandang dalam kisah yang satu ini. Ada adegan dimana "biji" anak tersebut akan dihilangkan oleh pesulap tersebut, namun ia justru tertawa kencang. Keesokan hari hingga seterusnya, pesulap tersebut kehilangan pekerjaannya. Karena biji. Sekali lagi, karena biji.

Semua cerita dalam buku ini dibagi menjadi 3 babak menurut waktu dalam satu hari.

Yang pertama adalah pukul 6 pagi hingga 2 siang. Yang kedua adalah pukul 2 siang hingga 10 malam. Dan yang terakhir adalah pukul 10 malam hingga 6 pagi. Semua kejadian dalam cerita pasti bersinggungan dan berlokasi dekat dengan kafe Jakarta 24 Jam.

Secara keseluruhan, keempat sekawan penulis di atas berhasil merebut perhatian saya tanpa jeda. Dan waktunya tepat karena saya membaca buku ini saat sedang berada dalam kereta. Dan kebetulan kereta yang saya naiki memiliki tujuan akhir Jakarta, meskipun saya turun di stasiun Surakarta. 
Train to perantauan ~

Buku ini membuat saya berpikir bahwa Jakarta memang brengsek. Ia semena-mena dalam memperlakukan manusia yang tinggal di dalamnya dengan banyak cara. Membuat mereka mencuri, saling bunuh, saling baku hantam, melepaskan peluru nyasar pada pemain saksofon jalanan, membuat sepasang kekasih beradu nyawa, membuat seorang patah hati bunuh diri, dan membiarkan kehidupan lusuh ibukota bersanding dengan jajaran mewah gedung yang berlomba mencakar langit. 

Namun dengan segala gempitanya, saya pribadi jatuh cinta pada Jakarta. Bahkan tanpa alasan. Berkali kesana, saya tetap merasa bahwa hati saya ingin kembali menikmati wangi masakan pinggir jalan, panas asap dari knalpot kendaraan yang tanpa celah, dan senja di Kota Tua yang luar biasa menawan.

Sama seperti buku ini. Luar biasa menyita perhatian. Rating dari saya adalah 8/10.

--- [] ---

Beberapa quote yang cukup menarik dari buku ini saya dapatkan di lembaran-lembaran halaman yang genap, meskipun ada beberapa yang berasal dari halaman ganjil pula. Dari cerpen berjudul "Kembali", saya terkesan dengan ide tentang penemuan mesin waktu untuk kembali ke masa lalu.

Kelak di masa depan akan ada penemuan luar biasa. Mesin waktu. Mesin waktu disediakan terbatas. Akan tertulis di peraturan internasional. Satu negara hanya boleh memiliki satu unit mesin waktu. Untuk memakainya, orang harus membayar cukup mahal. Cukup wajar, kan? Bukankah kesempatan memperbaiki kesalahan adalah hal yang tak ternilai harganya? - hlm. 202

Lalu ada juga dialog seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dengan Tuhan-nya di cerpen berjudul "Maria". Ia hampir menyerah karena perempuan yang disukainya ternyata sudah memiliki kekasih.

Tuhan: Kenapa tak kau coba katakan cintamu?
Pemuda: Aku tidak bisa.
Tuhan: Berarti kau tak sedang jatuh cinta. Kau hanya sedang kesepian. - hlm. 245

Percakapan yang sungguh membuat saya berpikir bahwa cinta itu bukan seperti yang didefinisikan orang kebanyakan. Cinta harus dikatakan. Cinta harus diusahakan. Perkara hasilnya bagaimana, lihat nanti. Yang penting sudah diungkapkan. Oke. Saya stop disini. Berani benar anak ingusan seperti saya bicara tentang cinta. Muehehe.

Jadi yah, intinya, buku ini bagus. Saya dulu sempat nggak yakin bisa menemukan kumpulan cerpen yang berkesan setelah dibombardir dengan cerita-cerita milik Yanusa Nugroho. Namun setelah saya menemukan kumpulan flash fiction milik Tulus Ciptadi Akib dan Jakarta 24 Jam ini, sepertinya saya akan mencoba bertualang untuk berburu buku kumpulan cerpen lainnya. 





Pictures are taken from:
Self collection from My Very Own Room view (26 December 2017)
Self collection from Brantas Train view (25 December 2017)

You May Also Like

14 Comments