Jangan Percaya pada Sosial Media

by - November 13, 2017


Berkenalan dengan orang di dunia maya tidak selamanya buruk. Riris adalah gadis yang baru-baru ini aku kenal lewat aplikasi MiRC. Antiklimaks memang, dari semua aplikasi sosial yang merajai pergaulan dunia, aku justru menemukan sosoknya dari aplikasi chatting yang sudah jadul. Mengingat bahwa hampir semua aplikasi chatting di jaman terdahulu sudah banyak yang vakum. Meskipun masih ada yang digunakan untuk media ena-ena.


Aku memberanikan diri mengajak Riris bertemu karena aku sudah melihat wajah dan penampilan aslinya di Facebook, Twitter, dan Instagram. Aku bahkan memastikan keaslian foto-fotonya dari tagging orang lain karena foto demikian biasanya akan lebih asli daripada foto selfie hasil unggahan sendiri yang bisa saja diedit menggunakan seribu efek dari Beauty Plusplusplus.

----- [] -----

OST: Daft Punk - Digital Love

Sabtu malam adalah jadwal aku bertemu Riris di salah satu kafe di dekat kota. Dengan sedikit tergesa, aku memilih dan memilah baju yang kira-kira pantas untuk digunakan pada kencan pertama.

“To, mau kemana?” Sapa temanku dari kamar kos sebelah.

“Ketemuan, Fat. Sama cewek.” Jawabku sambil nyengir kuda.

“Yang anak MiRC itu?” Sahutnya.

“Iya, yang itu.” Balasku pendek.

“Etdah, jangan lupa cek dulu onderdilnya ya. Biasanya kan anak kenal di chatting suka nggak beres. Hahaha.” Rifat tertawa sedemikian kerasnya.

“Sialan, jomblo akut diem aja deh!” Aku melemparinya dengan bantal. Namun Rifat gesit menghindar dan ngacir dengan santainya.

Aku gamang. Gara-gara Rifat, aku jadi memikirkan kata-katanya tentang onderdil di sepanjang perjalanan di atas motorku. Tapi bukan. Bukan onderdil motor. Ini tentang spareparts perempuan. 

Aku bukan cowok yang sering gonta-ganti pacar sih. Aku hanya punya satu mantan. Hampir setahun berpacaran, kami putus karena dia selingkuh dengan om-om senang. Aku merasa terhina. Sebagai pacar yang sudah satu tahun membersamai, aku bahkan belum pernah menyentuh bagian lain selain tangannya. Jadi untuk urusan wanita, aku tidak terlalu paham. Aku hanya memiliki pengetahuan lebih lanjut dari cerita-cerita mesum Rifat tentang perempuan.

----- [] -----

Sampai di sebuah kafe, aku memarkir motor dan bergegas masuk. Tak menunggu waktu lama, aku segera menemukan Riris yang ternyata sudah menungguku disana dengan gaun kasual warna merahnya. Kesan pertamaku bertemu Riris, aku senang. Sosok Riris sesuai dengan apa yang ada di dunia maya. Dia cantik, putih, langsing, dan memiliki rambut hitam ikal.

“Anto,” aku mengulurkan tangan kananku untuk bersalaman.

“Riris,” jawabnya singkat sambil tersenyum manis.

Oh, leleh rasanya melihat bibir tipisnya tersungging penuh makna. Namun aku merasa ada yang aneh. Tangannya tidak sehalus seperti tangan wanita yang dideskripsikan oleh Rifat. Ada beberapa lekuk kasar dan kapalan yang timbul. Ada pula noda putih kecil dan melingkar di sisi ibu jarinya. Apa itu? Apakah panu? Seingatku, Rifat tidak pernah berfantasi tentang perempuan berpanu.


Kami pun mengobrol tentang banyak hal, mulai dari kehidupan kami, pekerjaan, hobi, kesukaan, hingga politik dan agama. Kuakui sebagai mantan mahasiswa ekonomi yang sekarang bekerja di kantor finance, Riris terbilang wanita cerdas. Ia meraih IPK 3,80 saat wisuda dan sudah memiliki sertifikat penghargaan pekerja terbaik di kantornya dalam kurun waktu sebulan terakhir. Aku yang hanya lulusan D3 Farmasi dan bekerja menjadi editor artikel di website kesehatan merasa bagaikan ampas kopi yang berhadapan dengan busa latte Setarbaks. 

Kurasa aku mulai tertarik dan menyukai Riris. Selain pintar, dia juga supel dan pintar. Aku menyesal telah merendahkan tangan kapalannya (dan panuannya). Mungkin saja itu karena Riris terlalu keras bekerja. Ya. Mungkin saja begitu.

----- [] -----

Setelah selesai ngobrol dan makan, kami membuat janji untuk kencan selanjutnya. Saat kami keluar dari kafe, aku memiliki itikad untuk mengantarkan Riris pulang. Namun baru setengah perjalanan, hujan turun tak kenal ampun. Aku yang lupa membawa jas hujan pun terpaksa mengajak Riris berteduh. Dengan baju kami yang basah kuyub, kami menggigil dan saling berdekatan di sebuah teras toko kelontong.


“Dingin ya, To.” Lirih Riris berkata.

Aku segera ingat beberapa makna kode dari pernyataan wanita. Kalau ada cewek mengeluh dingin, kita harus sigap menghangatkannya. Dengan jaket. Atau dengan benda lain yang bersifat panas. Setrika misalnya.

Aku pun mengatupkan jaketku pada Riris. Tepat saat aku membelitkan jaketku, Riris menggeser tubuhnya. Dan dengan tanpa sengaja, tanganku jadi menyenggol bagian tubuh wanita yang selama ini belum pernah aku pegang. Duh. Antara canggung dan merasa enak. Dan nagih.

Namun Riris tidak menjerit marah atau mengumpat sial. Dia hanya tersenyum malu-malu. Aku buru-buru menyingkirkan tanganku, meminta maaf, dan kembali menatap hujan. Sepersekian detik menyenggol anunya, aku justru merasakan kejanggalan berikutnya. Kenapa rasanya tidak kenyal seperti yang biasa Rifat katakan ya? Empuk sih. Tapi tidak kenyal. Serius.

Usai hujan mulai rintik-rintik, aku memutuskan nekat menerobosnya karena jam sudah menunjukkan pukul 23:00. Riris turun di depan rumah kontrakannya yang mungil. Mulanya aku ingin langsung pamit, tapi Riris memaksaku untuk mampir dan berganti baju. Aku sempat tercenung. Riris mau memaksaku berganti dengan baju siapa? Namun dia bilang memiliki kaos all size yang pasti muat untuk aku gunakan pulang supaya tidak basah lagi. Dan aku pun menurutinya.

Aku pernah mendengar alur cerita macam begini dari Rifat. Ada sebagian golongan yang jika setelah kencan pertama, mereka akan melakukan hubungan seks dan esoknya tidak pernah bertemu kembali. Namanya one night stand. Aku yang cupu akan kegiatan perkencanan hanya bisa memandangi Riris yang sedang mengeringkan rambutnya. Kalau boleh aku menambahkan, Riris sungguh seksi. Sebagai laki-laki normal, aku tentu merasa ada yang membara dari salah satu bagian tubuhku. Tapi aku berusaha menahan diri.

Dengan kaosnya yang kebesaran, Riris terlihat polos namun di sisi lain datar. Aku beberapa kali menengok ke bagian yang tidak sengaja kusentuh tadi, namun tak kunjung muncul juga. Apa jangan-jangan...

“Anto, diminum dong tehnya. Kok ngelamun aja,” suara lembutnya memecahkan halusinasi liarku.

“Eh... Iya, Ris. Maaf,” sahutku gelagapan seperti maling yang tertangkap basah.

Kulihat Riris cekikikan melihatku salah tingkah. Aku hanya bisa menunduk malu. Namun Riris bukannya lanjut mengeringkan rambutnya, namun justru melangkah ke arahku. Riris mengeringkan wajahku, rambut atasku, dan rambut di beberapa bagian tubuhku yang lain. Tanpa kusadari, Riris sudah menciumku dengan rakus dan tak beraturan. Inikah one night stand yang Rifat maksudkan? Namun aku sudah berjanji akan menemui Riris lagi lain hari. Jadi ini pasti bukan one night stand.

Beberapa saat kemudian, aku tidak bisa melihat sekelilingku. Semua gelap. Sepertinya Riris menutup mataku dengan sesuatu. Seperti film-film begituan yang sering dilihat Rifat di kamarnya, aku menyadari bahwa Riris sepertinya memiliki kecenderungan seks yang brutal dengan menutup mataku seperti ini.

Tanpa bisa melihat apa yang dilakukannya, aku merelakan keperjakaanku dimiliki oleh gadis cantik ini dengan pasrah. Toh, ini berarti aku memiliki pacar kan. Aku bisa pamer pada Rifat dan membuatnya kalah mentah-mentah. Rifat mungkin lebih pandai tentang urusan bercinta, tapi hanya dengan tangannya. Sementara aku meskipun cupu, sudah bisa menikmati secara langsung. Dengan Riris.

“Anto...” sesekali Riris membisikkan namaku dengan nada penuh geli. Aku membiarkannya bereksplorasi tanpa bisa membalas apa-apa hingga waktu semakin larut ditelan hujan.

----- [] -----

Keesokannya, aku terbangun dengan kondisi masih telanjang. Aku membuka ikatan penutup mataku dan tidak ingat sampai jam berapa kemarin bermain dengan Riris. Aku terduduk di sudut ranjang dan terdiam. Sampai akhirnya mataku menemukan album foto. Kupikir itu pasti album foto Riris. Tergoda untuk membuka, aku lalu menengok halaman pertamanya. Ada seorang anak kecil laki-laki yang sedang mandi dan telanjang. Ada pula anak laki-laki yang sedang telentang.

Setiap foto diberi caption tanggal dan momen yang spesifik. Aku membuka hingga pada momen kelulusan SMA. Apakah ini foto adik Riris? Atau kakak Riris? Ketika akan membuka lembar selanjutnya, aku mendengar suara dari lemari Riris.

Srak srak...

Pintu lemari Riris terbuka sendiri dan menjatuhkan seonggok busa dakron. Didera rasa ingin tahu, aku menghampiri lemari tersebut dengan maksud ingin menutupnya. Namun saat aku menggerakkan pintu lemari tersebut, justru busa-busa dakron lain meluncur keluar. Sepertinya memang lemari ini sudah rusak. Aku segera membereskan busa-busa dakron tersebut dan meletakkannya secara rapi di sisi lemari. Untuk apa Riris memiliki busa-busa dakron sebanyak ini? Apakah Riris nyambi berjualan boneka?


Beberapa saat kemudian, mataku menatap setumpuk gaun merah basah yang dikenakan Riris kemarin. Ada bra dengan motif bunga dan... Busa dakron. Busa dakron yang cukup banyak. Aku mendekatinya dengan curiga. Ingatan tentang insiden jaket semalam membuatku merenung lagi. Jangan-jangan yang kemarin aku senggol...

“Hei,” tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamar terbuka dan seseorang memanggilku. Tapi bukan suara Riris. Suara ini lebih berat. Aku menoleh cepat.

“Hei juga,” aku terlongo karena yang memanggilku ternyata seorang laki-laki. Aku menatapnya penuh selidik. Apa mungkin ini adiknya? Tapi kemarin Riris bilang tinggal di kontrakan dengan temannya.

“Boleh juga nih korban baru,” laki-laki itu menggumam pelan. Namun aku tidak menangkap apa yang dikatakannya. Aku refleks menutup tubuhku dengan selimut karena sadar jika masih belum memakai baju.

“Lu pakai baju dulu gih, nanti ke ruang depan ya,” katanya memerintah.

Aku hanya mengangguk bingung namun segera mengenakan baju dan bersiap untuk pamit pulang. 

Tapi tunggu... Riris kemana ya? Dan siapa laki-laki yang tadi?

Usai berpakaian, aku beranjak ke ruang depan. Disana duduk laki-laki yang nggak jelas asal-usulnya tadi membaca koran. Untuk ukuran laki-laki, dia jelas tipe metroseksual. Rambut klimis, celana super pendek yang ketat, dan wangi banget. Di minggu pagi begini sudah rapi? Ayolah, cowok macam apa dia jika bukan metroseksual.

“Kalau boleh tahu lu siapa ya?” Tanyaku memberanikan diri.

Laki-laki itu menoleh ke arahku sejenak dengan tatapan yang tidak dapat kudefinisikan. Lantas berkata pendek, “Gue temennya,”

“Temen kontrakan.” Lanjutnya tanpa kuminta.

Teman kontrakan laki-laki? Entah cemburu atau penasaran, yang jelas aku mulai merasa tidak nyaman dengan hal janggal kesekian. Dan aku ingin segera pulang. Tapi Riris dimana sih...

“Riris kemana ya? Gue mau pamit nih,” kataku penuh perhitungan.

Laki-laki teman Riris ini menoleh lagi dan menjawab ringkas, “Oh. Aris lagi beli bubur ayam buat sarapan.”

Aris? Siapa pula Aris? Aku makin gagal paham.

“Lu duduk dulu aja,” dia menyodorkan kursi.

Bukannya duduk, aku justru menelusuri bagian dinding ruang tamu tersebut. Ada foto dua orang laki-laki tergantung di salah satu sudut dinding. Laki-laki pertama adalah cowok di depanku ini. Namun siapa yang satunya?

Kepingan-kepingan janggal makin melahap kesadaranku. Tangan kapalan (dan panuan), foto album berisi foto cowok yang mirip Riris, busa dakron melimpah macam busa deterjen, teman satu kontrakan yang seorang laki-laki metroseksual, dan foto di dinding ini...

“SHIT!” Umpatku keras antara mulai sadar, takut, dan marah bukan main. Aku segera berlari ke halaman untuk meraih motorku tanpa merasa perlu untuk berpamitan.

Cowok metro tadi langsung berlari menyusulku, namun aku tidak kalah gesit untuk lekas mengkopling motorku dan pergi dari tempat laknat itu. Aku menaiki motor kencang-kencang untuk sampai ke kos.

Rifat keparat!

Pantas saja dia menasihatiku untuk test drive onderdil segala kemarin. Aku terus mengumpat-umpat di jalan. Tak pernah kusangka bahwa aku telah menyerahkan keperjakaan pada cewek gabus (ganjelan busa) seperti Riris. Eh, Aris! Eh, dia bukan cewek! Ah sudahlah... Aku tidak akan pernah berkenalan dengan “cewek” dari dunia maya lagi.

Persetan dengan sosial media!

----- [] -----



Hello!

Lama sekali saya nggak muncul di blog. Dua minggu apa ya. Kerjaan sedang banyak-banyaknya sih. Huhuhu. Maaf curhat sedikit.

Btw, ini adalah bagian dari #ProjectLocktober yang kemarin sempat saya cetuskan dan spoiler-kan di postingan ini. Tapi malah baru saya posting bulan November. Hm. Maafkan ya.

Di project ini, saya akan mulai menulis cerita pendek di blog dengan label "Nulis Cerpen". Di dalamnya akan ada cerita, ilustrasi gambar, dan soundtrack rekomendasi saya untuk diputar bersamaan dengan membaca ceritanya.

Sebenarnya, saya sudah pernah menulis fiksi di akun Kaskus dan Wattpad sih. Tapi melihat beberapa blogger yang juga menulis cerpen mereka di blog masing-masing, saya jadi terpelatuk. Saya mah begitu orangnya. Gampangan. Senggol dikit, keracunan. Keracunan ide maksudnya. Bukan yang lain.

Cerpen ini sendiri sudah sempat saya posting di thread Kaskus saya dulu. Boleh dikata, ini adalah versi remake-nya yang sudah sedikit saya bumbui dengan diksi dan plot baru. I hope you enjoy this story! And please, jangan maki-maki saya karena temanya beginian. Terutama buat cowok-cowok yang geli dengan tema yaoi. Ehehehe.

See ya!





Pictures are taken from:
https://www.degdigital.com/insights/digital-strategy-should-take-lessons-from-love-part-2/
https://www.thestar.com/life/2013/10/31/online_dating_especially_with_international_love_interests_ellie.html
https://www.shutterstock.com/video/search/romantic-dinner-couple
https://www.500romanticideas.com/50-romantic-day-evening-ideas/
http://www.archiproducts.com/en/products/demaflex/rectangular-dacron-pillow-supersanital-pillow_131526

You May Also Like

54 Comments