Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

by - August 28, 2017


Oke. Kali ini ngomongin buku lagi setelah sekian lama.

"Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" adalah sebuah novel karya Eka Kurniawan. Saya pertama kali membaca buku ini di tahun 2015 dan langsung jatuh cinta dengan isi ceritanya. Mungkin ada juga dari kalian yang sudah membacanya?


Novel ini pertama kali diterbitkan di bulan Mei tahun 2014 oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Sampul pertamanya adalah yang terpampang gambarnya di thumbnail postingan ini. Karena novel ini laris manis tanjung kimpul, penerbit pun sempat menggubah sampulnya menjadi di bawah ini saat proses cetak ulang. Walau sejujurnya, saya lebih suka cover yang pertama. Lebih klasik dan lebih mengena.

Karena dulu saya membaca novel ini dari rekomendasi seorang teman dan saya meminjamnya, jadilah sampai hari ini saya tidak memiliki novel ini secara pribadi. Di toko buku, novel ini dijual dengan cover barunya yang saya kurang suka. *sigh* *masih berusaha mendapatkan yang versi cover lama tapi belum berhasil juga*


Sejujurnya saya sudah lama sekali ingin me-review novel milik Eka Kurniawan ini. Tapi apa daya, vakum berkali-kali membuat saya kehabisan waktu untuk meramaikan resensi buku ini yang sudah ditulis oleh kurang lebih seratus orang (sejauh yang saya baca di blog pribadi Eka Kurniawan).

Dimulai dari sampulnya ya...

Seperti quote-tiaw yang saya tulis di intro blog saya, bahwa kita tidak boleh menilai blog hanya dari sampulnya. Buku pun begitu, jangan hanya dinilai dari sampulnya. Padahal, saya termasuk orang yang sering sekali judge book by its cover. Bukan karena buruknya, sih. Malah lebih banyak karena baiknya. Ada novel bagus, tapi belum masuk wishlist, akan tetap saya beli karena tertarik pada covernya.

Melihat cover novel "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" (lihat cover yang pertama ya), kita bisa mengetahui bahwa tema yang diusung di dalamnya adalah BURUNG. Sekali lagi. BURUNG. Dengan bunga kecil di sampingnya.

Mulanya, saya pikir ini novel tentang apa? Kok judulnya DENDAM dan RINDU. Tapi sampul bukunya malah berupa BURUNG yang posenya malu-malu.

Ternyata oh ternyata...

BURUNG ini memang menggambarkan keseluruhan di dalam cerita.

Apalagi jika kalian membaca ringkasan di sampul bagian belakang, maka saya berani menjamin bahwa kalian bisa membayangkan plot ceritanya seperti apa.

...Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya.

Dari sinilah, petualangan Ajo Kawir dan BURUNG-nya yang menjadi tokoh utama di dalam cerita ini dimulai. Jeng jeng jeng...

Menapaki alur cerita...

Cerita dimulai saat Ajo Kawir dan sahabatnya yang bernama Si Tokek masih kanak-kanak. Seperti biasa, anak kecil memang rasa ingin tahunya luar biasa. Mengetahui ada seorang perempuan gila namun cantik yang hidup sendirian setelah suaminya dibunuh dengan sadis, Si Tokek mengajak Ajo Kawir untuk mengintip perempuan itu mandi. Yah, semuda-mudanya usia mereka, mereka tetaplah laki-laki. Punya nafsu birahi. Rona Merah, nama perempuan sinting tersebut, tidak pernah menyadari bahwa ada dua bocah ingusan yang selalu mengintipnya mandi. Ia terlalu acuh untuk mengurusi dunia. Mengurusi dirinya saja ogah-ogahan.

Sampai suatu ketika, ada dua oknum polisi jahanam yang datang ke rumah Rona Merah dan memperkosanya. Ajo Kawir dan Si Tokek yang tengah asik menonton perempuan itu mandi, jelas semakin merem melek melihat adegan lanjutan di depan matanya. Hingga tanpa sadar, mereka ketahuan! Anjay...

Si Tokek ternyata masih sempat melarikan diri, sementara Ajo Kawir harus menghadapi cercaan kedua polisi biadab tadi. Usai menggilir Rona Merah, mereka memaksa Ajo Kawir untuk memasukkan burungnya ke lobang milik Rona Merah.

Ajo Kawir pulang dengan trauma mendalam. Dan siapa tahu, usai tragedi itu, burungnya terlelap dalam tidur panjang dan tidak pernah mau bangun lagi hingga ia dewasa.

Si Tokek, yang akhirnya merasa bersalah seumur hidupnya karena meninggalkan Ajo Kawir, berusaha membantu kawannya itu dengan segala cara. Bahkan, ia bercerita kepada ayahnya yang bernama Iwan Angsa untuk ikut membantu menghidupkan burung Ajo Kawir lagi.

Namun semua usaha sia-sia belaka...

Akhirnya, Iwan Angsa justru merekrut Ajo Kawir untuk menjadi jago kelahi dan menggantikannya yang sudah mulai renta. Ajo Kawir yang sudah tidak memiliki keinginan apa-apa selain bekerja dan mencari uang, akhirnya justru menjadi tukang cari keributan di kampungnya. Dengan mengasah skill berkelahi dari Iwan Angsa, Ajo Kawir menjadi tukang pukul yang disegani.

Lalu, perintah datang dari seorang bernama Paman Gembul. Seorang bos mafia. Ia ingin Iwan Angsa membunuh Si Macan, kakak dari Agus Klobot yang merupakan mendiang suami Rona Merah. Geng Paman Gembul memang benci sekali dengan keluarga kakak beradik itu. Sehingga usai berhasil membunuh adiknya, Paman Gembul ingin membunuh kakaknya juga. Karena Iwan Angsa tidak kuat berkelahi, diutuslah Ajo Kawir untuk melaksanakan tugas ini.

Namun, yang namanya jodoh tidak tahu kapan datangnya. Usut punya usut, Ajo Kawir malah jatuh cinta dengan anak buah Si Macan. Iteung namanya. Cantik dan pintar berkelahi.

Bukan membela masing-masing tuannya, Ajo Kawir justru berniat menikahi Iteung. Meskipun konfliknya sempat naik turun karena Ajo Kawir ingat bahwa burungnya tidak bisa bangun lagi, namun Iteung tetap meyakinkannya dengan sepenuh hati.

Pernikahan mereka berlangsung bahagia pada awalnya. Tangan Ajo Kawir yang gesit mampu melemahkan Iteung dalam hitungan menit, meskipun mereka tidak langsung melakukan hubungan suami istri.

Tapi yang namanya pernikahan, anak adalah harta yang paling didamba. Hmmm. Sehingga, Iteung mulai bermain api karena hasratnya tak terbendung lagi. Dan jadilah... Iteung hamil tanpa sengaja. Ini jelas mencoreng harkat dan martabat Ajo Kawir sebagai suami yang tak bisa ngaceng. Dengan amarah menggebu, Ajo Kawir meninggalkan rumah dan minggat begitu saja. Ia bertemu dengan Mono Ompong dan menjadi sopir truk cabutan.

Sementara Iteung yang menyesali perbuatannya, hanya bisa menangis tiap malam dan menunggu sang suami pulang. *sambil nyanyi lagu Bang Toyib*

Di akhir cerita, Ajo Kawir yang menapaki kisahnya menjadi sopir truk mengingat kembali masa lalunya. Ceritanya masih sangat panjang, hingga akhirnya Ajo Kawir berhasil menuntaskan rindu dan dendam masa lalunya dan terbangun dengan celana basah.

Berhasilkah Ajo Kawir menghidupkan BURUNG-nya kembali? Akankah ia kembali ke pelukan Iteung dan memperbaiki rumah tangganya?

Ada baiknya kalian juga membaca novel ini karena ceritanya nagiiih bangeeet. Sepanjang membaca dari bab satu hingga terakhir, dari halaman 1 hingga halaman 252, saya dibuat ah ih uh eh oh tak henti-henti karena plot ceritanya benar-benar jenius!

Berlatar belakang rezim pemerintahan yang penuh kekerasan, novel ini dibalut apik dan rapi oleh Eka Kurniawan. Berbeda dengan novelis lain, Eka Kurniawan menyebutkan kata-kata vulgar tanpa sensor sama sekali. Misalnya "perek" dan "lonte". Eka tidak menggantinya dengan kata lain yang lebih halus.

"Tidak mau membunuh kata-kata."

Sepertinya itu menjadi daya tarik tersendiri dari penulis yang satu ini. Saya sih setuju. Sebenarnya yang membuat suatu kata menjadi negatif maknanya adalah kita sendiri. Kita yang mereduksi maknanya. Kita yang mendiskreditkan keluasan harfiahnya.

Seperti kalian tahu, kata LOKALISASI.

Orang kalau diberi tahu tentang "lokalisasi", pasti arahnya langsung kesana. Lokasi pelacuran. Bisnis prostitusi. Padahal, lokalisasi menurut KBBI adalah...

lokalisasi / lo.ka.li.sa.si / kata benda / pembatasan pada suatu tempat atau lingkungan / contoh: lokalisasi wabah kolera

Oke, kembali pada novel Eka Kurniawan.

Dengan adanya konflik sosial yang demikian pelik, tidak menjadikan novel ini berat untuk diikuti. Seperti yang tadi saya bilang. Kalian justru bisa terbawa arus ceritanya yang unik dan menarik. Kadang saya sampai senyum-senyum anjay dan tertawa keras sendirian di kamar saat humor cerdas ala Eka Kurniawan muncul ke permukaan.

Cerita ini vulgar. Banget. Namun tidak mesum sama sekali.

Cerita ini rumit. Amat sangat. Namun tidak menggantung di dalam hati.

Tidak ada plot hole dan cliffhanger sehingga kita digiring pada ending yang... AH! Apa ya? Pokoknya endingnya benar-benar luar biasa, deh! Saya sampai ternganga-nganga dan membaca beberapa bagian berulang kali untuk memastikan bahwa saya belum gila!

Kalimat-kalimat semacam ini...

"Hah, kok bisa, sih?"

"Loh, kok gini, sih?"

Pasti akan bermunculan entah di bibir entah di dalam hati. Muehehe.

Jadi kalau membaca novel ini, sediakan waktu yang cukup misalnya di hari Minggu agar tidak terpotong-potong keasikannya. Sensasinya itu loh... NAGIH PAKE BANGET!

Komentar sebagian orang...

Saya mengikuti novel Eka Kurniawan yang lain juga, misalnya Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, Corat-coret di Toilet, dan Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Dan kesemuanya memang memiliki kesamaan yang identik. Khas Eka Kurniawan banget! Istrinya yang juga seorang novelis, Ratih Kumala, bahkan sempat berkomentar kalau novel Eka yang satu ini cenderung brutal. Iya, BRUTAL. Bahasanya nggak pake filter sama sekali.

Karena novel ini sedemikian ngena-nya di hati para pembaca, "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" sampai diterjemahkan ke berbagai bahasa dan diterbitkan di negara lain seperti Inggris, Perancis, dan Jerman. Novel bahasa Inggrisnya sendiri berjudul "Vengeance is Mine, All Others Pay Cash".

Kesimpulannya adalah...

Saya menyukai gaya penulisan Eka Kurniawan sejak lama saat buku pertamanya terbit. Tulisannya khas, identik dengan tema vulgar, namun juga penuh humor kritis yang cenderung menyentil kehidupan kita sehari-hari, bahkan yang tidak kita sadari sama sekali.

Saya paling menyukai ide tentang adanya dialog Ajo Kawir dengan burungnya yang berulang kali ditampilkan secara gamblang. Bayangkan, orang waras mana yang kerap kali mengajak ngobrol burungnya sendiri?

Kalau burung yang bisa berkicau sih oke lah ya, diajak ngobrol.

Lah, kalau "burung" yang itu, gimana ceritanya mau diajak ngobrol? :v

Menurut saya pribadi, buku ini memiliki nilai 9 dari skala 10. Keren, cuy. Dengan humor kritis yang dibalut konflik renyah, Eka Kurniawan sukses membawa saya naik roller coaster dengan kecepatan fluktuatif yang kadang naik dan kadang turun. Asoy geboy lah, pokoknya. WAJIB DIBELI DAN DIBACA! Jangan cuma minjem temen kayak saya. Oke? x)

Quote paling asik dari buku ini...


Beberapa quote-tiaw paling laziz yang saya temukan dari buku ini adalah sebagai berikut.


SATU...
Tak ada yang lebih menghinakan pelacur kecuali burung yang tak bisa berdiri.

DUA...
"Enggak bisa. Aku enggak bisa menjadi kekasihmu. Kamu seperti cahaya dan aku gelap gulita. Sesuatu yang kamu tak akan mengerti." Tentu saja Ajo Kawir ingin mengatakan sesuatu yang tak terucapkan mulutnya: "Aku tak bisa ngaceng."


TIGA...
Ajo Kawir: Burungku bilang aku tak boleh berkelahi.
Mono Ompong: Kenapa kau selalu bertanya kepada burungmu untuk segala hal?
Ajo Kawir: Kehidupan manusia ini hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja.

Gimana? Penasaran dengan cerita Ajo Kawir dan burungnya? Kalian bisa menemukan buku ini di toko buku terdekat, tentunya dengan cover yang baru, ya. Entah dimana bisa membeli novel ini dengan cetakan cover lamanya. *hiks*

Oh iya, bagi yang tertarik untuk kepo-kepo tentang salah satu penulis favorit saya ini, bisa langsung cek TKP di website pribadinya yaitu Eka Kurniawan. Atau yang mau baca-baca sneak peek lainnya tentang novel ini, bisa cek di website goodreads dengan link berikut Review Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas.

SEE YOU!

You May Also Like

14 Comments