Spy Spy Love.

Judul: Spy in Love
Penulis: Dwitasari
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 196 halaman

--- [] ---

Sesuatu yang dipaksakan itu nggak bagus. Termasuk memaksakan untuk menghabiskan buku yang kita kurang suka. Bukan ngedis sih, tapi tiap membalik halaman demi halaman buku ini, yang saya pikirkan adalah kapan tamatnya. Kapan halaman terakhirnya. Bahkan saya terkesan buru-buru membuka halaman 196 karena nggak tahan. Bukan nggak tahan penasaran sama endingnya. Tapi nggak tahan untuk nggak baca lagi karena perih, cuy. Perih di mata lantaran tidak paham jalannya cerita yang dituturkan Dwitasari.

*mohon maaf, mbak, it just didn't work for me*

Terlepas dari segala pro kontra yang menyertai kemunculan penulis ini, saya memang nggak mengikuti ingar-bingarnya. Katanya copas twit orang dan lain sebagainya. Saya sebenarnya nggak peduli. Saya membaca buku karena ceritanya dan saya tertarik dengan gaya tulisannya. Bodoamat dia copas enggak aslinya itu tanggung jawab dia di belakang. Namun dari awal muncul novelnya yang berjudul Raksasa dari Jogja, saya udah nggak tertarik. Adik saya beli sih. Lalu iseng saya baca bagian sinopsis belakangnya dan saya nggak mendapatkan feel untuk membaca isinya. Sesederhana itu.

Maka saya nggak pernah beli bukunya. Sama sekali.

Namun suatu hari ada teman yang memberikan Spy in Love ini pada saya. Dia bingung mau membelikan buku apa dan sepertinya tahu kalau saya belum pernah membaca karya Dwitasari. Oke. Saya akhirnya memberikan kesempatan pada buku ini. Saya baca deh ini buku di teras rumah yekan. Dengan angin sepoi yang hangat di sore hari sehangat pelukanmu, mas.

Posisi duduk juga udah paling mantep tuh. Kaki nangkring atu. Bawa teh tawar panas secangkir. Rambut dikuncir awur-awuran. Pake kemeja kakak dan celana jeans rebel yang dipotong bawahnya. Tak lupa kacamata dipasang dengan seksama. Pokoknya udah ngambil posisi paling enak dah tuh buat baca. Seenggaknya kalau bukunya nggak gitu saya suka, saya masih bisa menikmati syahdunya sore hari.

Tapi...

Baru dua halaman terbaca, saya kurang suka. Namun lagi-lagi, saya adalah orang yang menyukai disclosure. Saya harus membaca bukunya sampai akhir. Seenggaknya kalau mau menilai, sudah tahu isinya secara penuh. Bukan setengah-setengah. Apalagi untuk direview. Informasi yang diberikan di dalam review buku nggak boleh bias hanya karena baca bukunya nggak tuntas. Menurut saya begitu.

Lalu, saya baca dan baca lagi. Biasanya buku dengan halaman kurang dari dua ratus bisa saya selesaikan dalam sekali duduk. Tapi ini susah, bro. Susah banget. Akhirnya setelah seperempat bacaan, saya tutup karena ngantuk dan ketiduran. Baru lanjut besoknya dengan siklus yang sama. Jadi buku ini baru saya selesaikan persis di hari kelima.

Spy in Love menceritakan tentang seorang gadis bernama Jasmine yang patah hati karena kekasihnya menikah dengan sahabatnya sendiri. Lalu ia berlibur seorang diri di pantai dan bertemu pria baru yang kemudian mengejar-ngejarnya. Waktu sampai di bagian ini, saya ingin teriak.

WANJER, PREMIS CERITANYA MIRIP BANGET SAMA NOVEL KESAYANGAN W YANG JUDULNYA BADAI PASTI BERLALU.

Tapi buku ini lebih banyak halunya, sorry not sorry. Aduh, maaf kalau reviewnya kayak sadis banget tapi beneran deh ini ceritanya Badai Pasti Berlalu banget dengan ornamen action ala-ala sinetron Indonesia yang dilengkapi dengan sandera dan penculikan. Ada juga organisasi-organisasi hitam yang menghiasi ceritanya tapi sayang sekali hal ini malah membuat ceritanya makin nggak masuk akal. Entah karena akal saya yang emang cetek dan nggak mampu ngimbangin storyline-nya.

KU TAK KUASA MENDESKRIPSIKANNYA SAKING MIRIPNYA.

Lalu ceritanya itu beneran FTV banget. Kalau boleh dibilang ini kayaknya naskah FTV yang dibukukan deh. Bukan buku yang difilmkan. Jalan ceritanya ala-ala mas-mas kantoran yang ketemu mbak-mbak patah hati. Cocok. Jadian. Dengan segala embel-embel organisasi hitam dan lelaku aksinya tadi. But for me, it is too hybrid. Kalau mau aksi ya aksi sekalian. Kalau mau romansa ya romansa sekalian. Pas dicampur gini jadinya kaku dan aneh. Kayak nyampurin bumbu rendang ke kolak pisang.

Namun, tetap ada hikmah yang bisa dipetik dari buku ini kok. Nggak melulu semuanya review jelek doang. Yakali saya bisa digampar Dwitasari. Hehe.

Hikmahnya adalah...

Jangan pernah memaksakan diri untuk menuntaskan suatu hal jika memang kamu tidak mampu. Cukup ditutup. Ucapkan salam. Dan pergilah. Berlaku untuk semua hal termasuk buku. 

Sekian dan terima kasih.

4 Comments

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.