On God and Other Unfinished Things



Nobody knows where one's word will rest, land, be made into part of somebody else's vocabulary. - Goenawan Mohamad (2015: 8)

Baru-baru ini dunia digital sempat diramaikan oleh hal-hal yang unik. Salah satunya adalah mundurnya Coki Pardede dan Tretan Muslim dari MLI. Saya nggak ngikutin sih sebenernya. Cuma sekali dua kali nontonin video mereka kalau sedang selo. Coki dan Tretan mundur karena berbagai alasan. Salah satunya adalah karena imbas video masak-masak mereka. Tretan dan Coki memasak daging babi dengan sari kurma. Dari situ, berbagai spekulasi pro dan kontra bermunculan. Pujian akan jokes sarkas yang mereka bawa dan kecaman karena mencampuradukkan agama dengan tontonan pun menghiasi kolom komentar.

On the comedy stage, language creates its own self. - Goenawan Mohamad (2015: 31)

Di sini saya sendiri nggak punya kapasistas untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah. Jika dibilang Coki dan Tretan menyalahi agama mereka masing-masing, juga kurang tepat. Daging babi dilarang untuk dikonsumsi oleh salah satu agama, sementara kurma identik dengan agama tersebut. Namun bukan berarti kedua benda tersebut memiliki agama. Sungguh sempit rasanya jika kekafiran seseorang dicerminkan oleh sebuah benda atau makanan. Hal ini jelas menimbulkan pertanyaan besar. Manakah yang sebenarnya disembah. Tuhan atau agama? 

Karena banyak dari kita yang kini terkesan meng-agama-kan Tuhan dan menuhankan agama.

Sedikit-sedikit penistaan agama.

Sedikit-sedikit pendustaan agama.

Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Bangbingbung yok, kita nabung ~

*digampar massa*

When it does not wish to represent anything, the language of jokes actually touches an area that cannot be recreated by the symbolic order. - Goenawan Mohamad (2015: 80)

Kebalikannya, jika dibilang bahwa Coki dan Tretan sangat menghargai agama mereka, juga kurang tepat. Terlepas dari konteks bahwa mereka mengusung candaan sarkas tentang agama, Tretan dan Coki menyalahi karakter masyarakat Indonesia yang sensitif dengan isu SARA. Bercanda dengan tema SARA sama saja bunuh diri di negara ini. Lagipula dengan adanya banyak hal lain untuk dikritisi dengan candaan satir, mengapa harus memilih agama?

Alasannya mungkin ada dua.

Alasan pertama: Dari perspektif fisika.

Hukum sebab dan akibat. Karena masyarakat Indonesia terlalu kaku dalam beragama, mereka ingin menyentil dengan jokes agar kita kembali mempertanyakan keimanan kita. Karena saya sendiri pun muak dengan dalih-dalih jualan agama yang dibawa di semua sektor kenegaraan; terutama politik dan pendidikan.

Alasan kedua: Dari perspektif ekonomi.

Hukum supply and demand. Karena agama termasuk salah satu konsep yang sensitif, mereka memilih untuk membahasnya agar lebih viral sekaligus menyindir para penggagas isu agama untuk memperoleh keuntungan. Ya tau sendiri lah siapa aja orangnya yang selalu gembar-gembor bela agama.

Dari polemik yang telah saya paparkan di atas, maka saya mengajak kalian semua untuk menyelami pikiran seorang Goenawan Mohamad dalam bukunya yang berjudul On God and Other Unfinished Things. Buku yang berisi esai-esai semi puisi sebanyak 99 stanza. Dari buku ini, akan kita lihat bahwa beragama itu seharusnya bukan hanya di kulit saja. 

Hijrah bukanlah secara penampilan saja.

Yang terpenting adalah di dalam hati.

--- [] ---

Wherever you look, you'll see the face of God, says the Qur'an. - Goenawan Mohamad (2015: 83)

Goenawan Mohamad adalah seorang editor majalah Tempo yang dulu sempat dibredel di era Soeharto. Setiap minggu sejak pertengahan tahun 1970, ia selalu menulis rubrik "Catatan Pinggir" atau yang disebut juga "Marginalia" yang berisi gagasan apa pun yang ada di pikirannya. Kadang tulisannya dapat berupa esai cerkas; di satu sisi juga puisi rumpang. Semua ia tuliskan saat ia sedang melakukan suatu pekerjaan atau mengunjungi suatu tempat.

Buku yang berjudul On God and Other Unfinished Things ini merupakan representasi spiritual dari seorang Goenawan Mohamad yang lincah dan dinamis. Beberapa sajak di dalamnya juga menyoroti tentang Indonesia yang darurat bahan bercandaan. Entah mengapa, kita menjadi orang yang amat sangat sensitif. Jika dulu Srimulat bisa vulgar dalam menuliskan teks komedi panggung dengan menyentil banyak tema termasuk agama, politik, dan budaya--yang semata-mata untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa Indonesia itu kaya dengan perbedaan, sekarang tidak bisa lagi.

Komedi yang menyinggung agama disebut penistaan.

Komedi yang menyinggung bentuk tubuh disebut sebagai body shaming.

Komedi yang menyinggung kesetaraan gender disebut melukai konsep feminisme.

Terus bolehnya ngejokes soal apa, Zubaedah???????????????????????????????????????????

Padahal derajat tertinggi dari sebuah komedi adalah saat kita mampu menertawakan diri sendiri. Entah apa pun konsepnya. Jika ada jokes yang menyentil keimananmu, pola pikir politikmu, dan caramu memandang dunia, berarti jokes tersebut justru sukses menyentuh hati nuranimu yang terdalam. Apalagi jika kamu bisa introspeksi terhadap diri sendiri kemudian. 

Karena esensi ber-Tuhan adalah mampu merefleksikan Tuhan di situasi dan kondisi apa pun. Termasuk dalam bercandaan. Tuhan tidak kaku. Bahkan agama pun sebenarnya tidak kaku. Manusia lah yang memagari dirinya sendiri dari keluwesan konsep ber-Tuhan. Manusia yang sukanya membatasi. Katanya ber-Tuhan harus beragama. Katanya beragama harus memiliki panutan mazhab. Katanya bermazhab harus mengikuti pemuka agama tertentu.

Jika agama sedemikian mengungkung, mengapa banyak pula orang yang menemukan kebebasan dan kedamaian di sana? Mengapa banyak orang yang tenang setelah menyebut dan mengeja nama Tuhan-nya?

Dalam salah satu esainya yang membahas tentang keberadaan Tuhan dalam keyakinan batin, Goenawan Mohamad datang membawa ide bahwa agama bukanlah sesuatu yang hierarki. Tidak ada istilah judgemental dalam beragama. Sejatinya keyakinan adalah milik masing-masing. Urusan orang dengan Tuhannya bukanlah sesuatu yang harus diumbar-umbar. Cukup dinikmati sendiri. Nggak usah dibagi-bagi. Ya kayak Silverquin Chunky Bar gitu deh. Emang rela bagi-bagi?

Katanya, makin dibagi, makin berkuranglah esensi dalam beragama itu sendiri.

Terkait dengan kasus Coki dan Tretan tadi, saya menemukan komentar di kolom Youtube yang relate banget dengan esai-esai Goenawan Mohamad. Jika dibilang bahwa orang kafir adalah yang terang-terangan makan daging babi bahkan sekecil apa pun itu, maka bagaimana dengan orang yang menghardik dan memakan harta anak yatim? Bagaimana dengan orang yang memfitnah dan menebar janji palsu pada rakyat?

Lebih jauh lagi, jika orang tidak menutup aurat dibilang menyalahi agama dan orang yang bercanda dengan agama; meskipun tujuannya satir atau sarkas, lalu bagaimana dengan para koruptor yang melanggar sumpah mereka saat dilantik menggunakan kitab suci dan ikrar janji sesuai agama masing-masing? Bukankah mereka lebih menistakan agama?


Corruption is iniquitous, corruption is evil. How is it possible for either to be part of the intelligent design that underlies this "beautiful and stupendous" world?  - Goenawan Mohamad (2015: 106)
Tuhan tidak mungkin menciptakan dunia untuk hal-hal yang buruk. Semua penciptaan ada alasannya dan kebermanfaatannya. Nggak mungkin nggak sama sekali. Bahkan luka diciptakan agar kita makin kebal. Jatuh untuk belajar bangkit. Dan penyakit diciptakan agar kita tahu betapa berartinya kesehatan. Kalau korupsi begitu merugikan, kenapa Tuhan membiarkan? Kenapa orang-orang itu tidak dibasmi dengan tsunami? Semua pasti ada alasannya.

Maka benar-benar terbuktilah salah satu kutipan dari Einstein yang mengatakan bahwa "Ilmu tanpa agama adalah buta dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh". Sama seperti kita mencari suatu alamat teman saat berkunjung pertama kali. Tanpa bantuan dan arahan dari orang maupun aplikasi, kita bisa tersesat. Beragama dan ber-Tuhan itu bebas. Yang dilarang adalah menjatuhkan keyakinan orang lain dengan kedok kebenaran absolut; apalagi bagi golongan mayoritas.

Sekali lagi, Tuhan itu Maha Luas. Manusia yang terbatas.

Kalau terbatas ya harusnya tahu diri.

Dah gitu aja.

The only thing that humankind is almost certain of is that eternity belongs only to the most possible hope: "God". - Goenawan Mohamad (2015: 10)

--- [] ---

Maaf kalau tulisan kali ini agak sensitif dan mengarah ke tema tertentu. Tapi beneran saya cuma resah dengan berita seliweran yang membahas hal itu. Dan juga habis baca bukunya Goenawan Mohamad ini. Jadi makin-makin deh jarinya mbeleber ke mana-mana buat ngetik keterkaitan keduanya. Salam damai. 

Peace, love, and gawl.

MTV ampuh!
--- [] ---

I do think everything is possible. God creates. He does not design.
(Goenawan Mohamad)

Yes. Everything is possible. Just wait and see. You.
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

3 Comments:

  1. Aduh, nama Tante Basah Enam Sembilan bikin saya hilang fokus aja nih. :(

    Meski saya juga enggak mengikuti MLI itu, tapi kalau soal urusan komedi yang membahas (lebih-lebih yang mengkritik) agama dianggap menistakan, itu sungguh enggak adil. Bagaimana dengan orang-orang yang menipu umat atas nama agama? Kasus bawa kabur uang umrah, misalnya. Itu bukankah menistakan Tuhan? Takut enggak bisa makan dan enggak percaya rezeki sudah diatur, sampai-sampai mesti menipu orang yang pengin ibadah?

    Dari keseluruhan tulisan ini, saya cuma enggak mengerti kenapa kamu minta maaf di akhir tulisan, May. Setiap orang bebas menuliskan keresahannya. Pro dan kontra juga udah biasa. Apa takut blog ini ditutup karena dianggap membela mereka, terus kamu pamit kayak Coki dan Muslim? Wqwq.

    ReplyDelete
  2. KOMENTAR BLOGMU INI KENAPA NGERI SEMUA ANJAY ._. NGAPA ADA TANTE BASAH 69

    Ini saya membaca sudut pandang mengenai kasus Coki Muslim dari kaum intelek banget sih rasanya ._.

    Kalau saya mentok cuma bisa berkomentar : 'anj******eng ngapain seh penistaan darimananya. agama agama agama agama muluk' fak.

    ReplyDelete
  3. bisa jadi akan selamanya komedi indonesia seperti ini. enggak akan semaju di barat sana, yang segala sesuatunya bisa dibecandain.

    gue enggak paham juga, kenapa orang-orang selalu emosian dan dikit-dikit dikaitkan dengan isu agama. mungkin lagi banyak masalah orang-orang yang cepet emosian itu. enggak tau juga deh

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.