Dear Diary.

“Terima kasih. Hal-hal sepele begini yang membuat orang lain bahagia. Memungutkan benda jatuh orang lain yang berjalan di depan kita, memberikan kata-kata semangat pada orang-orang yang bekerja stagnan--seperti tukang parkir, bapak satpam--sehingga mereka tersenyum di saat suntuk karena tidak bisa berakhir pekan. Order gojek saat ada voucher hanya agar bapak-bapaknya dapat poin. Membuang sampah setelah makan pada tempatnya meskipun saat berada di restoran. Terima kasih sekali lagi.”

“Terima kasih, bu. Karena bu guru, saya bisa menentukan jurusan kuliah saya sesuai keinginan saya yang sebenar-benarnya. Saya berani untuk bicara dengan orangtua di rumah dan meminta izin untuk masuk ke jurusan X. Selain itu, saya juga jadi gemar belajar fisika karena ibu. Saya senang sekali.”

“Terima kasih, kak. Kakak baik sekali pada saya. Padahal saya tidak punya teman dan dikucilkan karena selalu dianggap sombong oleh teman-teman dan kakak angkatan.”

“Terima kasih ya. Kamu selalu jadi pendengar yang baik kalau teman-teman cerita tentang apa pun. Kamu baik sekali.”

“Terima kasih, mbak. Saya doakan semoga mbak lancar rezekinya dan selalu dilindungi Tuhan di mana pun mbak berada.”

“Terima kasih. Jangan selalu bilang iya.”

“Terima kasih banyak. Istirahatlah.”

--- [] ---

“Kamu jangan diam saja dong. Kalau ada masalah gantian curhat. Jangan apa-apa dilupakan. Jangan apa-apa diendapkan. Dilupakan. Dibodoamatkan. Nanti kalau meledak, kamu bisa gila. Jangan jadi pendengar aja. Curhatlah sekali-sekali. Gantian. Kita-kita siap mendengarkan kok. Sama seperti kamu menjaga rahasia kami. Kami bisa menjaga curhatan kamu.”

“Kamu beneran nggak capek? Jemput hujan-hujan sampai meriang. Motor juga bocor. Maaf ya. Ketemu saya jadi apes gini kamunya. Ayo tidur. Istirahat. Supaya sakitnya lekas sembuh. Kamu bukan perempuan kuat yang bisa terus menerus tampil prima di depan orang lain.”

“Kamu tidak bisa membahagiakan semua orang. Belajarlah menolak permintaan tolong teman kalau memang capek. Jangan memaksakan diri iya-iya terus. Egois sedikit itu perlu.”

“Kamu bisa nggak sih memikirkan diri sendiri. Royal dengan diri sendiri. Lalu kalau disakiti jangan diem aja. Lawan dikit.”

“Kamu bisa kalem sekali ya ternyata. Saya pikir hanya petakilan.”

“Kamu kelihatannya cuek. Aslinya peka dan perhatian banget.”

“Kamu tahu nggak sih kalau kamu itu baik banget.”

--- [] --- 

“Kamu individualis.”

“Kamu seenaknya sendiri.”

“Kamu tidak peduli pada orang lain.”

“Kamu apatis. Tidak takut kehilangan orang lain.”

“Kamu sama jahatnya seperti orang-orang di hidup saya. Bahkan lebih.”

“Kamu tidak berpikir dua kali. Hanya melakukan yang kamu mau. Kamu suka. Kamu yakini benar. Tidak peduli orang lain.”

“Kamu tidak menghargai saya. Tidak pernah memikirkan keputusan saya setiap mengambil keputusan. Kamu tidak pernah menghargai perasaan orang lain.”

--- [] ---

“Saya pikir kamu benar-benar orang baik.”

“Saya pikir kamu benar-benar obat buat saya.”

“Saya pikir kamu adalah orang yang tepat dan sempurna.”

“Saya kira kamu adalah orang yang pintar. Ternyata bodoh sekali.”

“Saya pikir saya tidak akan membenci sedikit pun tentang kamu. Ternyata kamu jahat dan membunuh kepercayaan saya.”

“Saya kira kamu akan membantu saya bangkit. Ternyata sama saja. Mengecewakan. Menjatuhkan harapan saya lagi.”

“Saya kira kamu orang yang jujur dan apa adanya. Ternyata kamu pembohong. Kamu jahat. Kamu jahat sekali. Berengsek kamu. Kurang ajar. Bangsat. Licik. Perempuan tidak tahu diri. Kamu membuat saya hancur. Kamu jahat sekali. Awas kamu ya.”

--- [] ---

Ibu menutup sebuah buku yang lusuh berwarna kecokelatan. Katanya, itu buku cerita dongeng dari masa lalu yang ditulisnya sendiri beberapa tahun lalu. Saat ibu masih muda. Dengan pekerjaan bercabang yang menyita waktu istirahatnya--meskipun toh ibu tidak pernah lupa meluangkan waktu untukku setiap hari--aku sangat kagum karena tahu bahwa ibuku dulu ternyata seorang penulis andal. Kereeen!

“Jadi, Dias… Apa kesimpulan dari dongeng yang ibu bacakan malam ini?” tanya ibu sambil mengelus anak-anak rambutku.

“Hmmm… Apa ya, bu?” Aku berpikir. Mengingat-ingat alur cerita yang dituturkan olehnya. Namun menggeleng sejenak kemudian. Aku sudah mengantuk. Dan seperti biasa, ibu tidak memaksaku menjawabnya. Hanya mencium keningku pelan dan mengatupkan sisa selimutku sampai ke dada.

“Kesimpulannya… Sebaik-baik kita menjadi seorang manusia, kita pasti pernah menjadi tokoh antagonis di dalam cerita hidup orang lain.”

Aku termenung. Masih menguap. Namun sempat kulihat dengan sadar bahwa di sudut mata ibu ada kristal bening yang siap jatuh.

“Manusia tempatnya salah. Makanya harus selalu berusaha memperbaiki diri. Urusan maaf dan perubahannya diterima atau tidak, itu nanti. Dias juga harus selalu menjadi anak yang baik. Namun jangan takut untuk berbuat salah. Ayo, tidur. Selamat malam…”

Ibu mematikan lampu kamarku. Dan pergi menutup pintu.

Aku jadi berpikir. Aku juga mau menulis buku dongeng seperti yang dituliskan ibu ah! Siapa tahu nanti aku bisa membacakannya kepada anak-anakku sebelum tidur seperti yang ibu lakukan kepadaku.

Oh, aku bisa mulai menuliskannya besok!

Aku akan menulis tentang teman-teman yang selalu bilang bahwa aku anak pungut karena aku tidak punya ayah. Iya, juga ya. Dari sekian banyak dongeng yang dituliskan ibu, mengapa tidak pernah ada kata ayah di dalamnya? Sebenarnya aku anak siapa?

2 Comments

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.