Bastian dan Jamur Ajaib.

Ratih Kumala boleh jadi dikenal sebagai salah satu tim penulis script atau naskah di salah satu televisi swasta; TRANS TV. Tapi di samping itu, Ratih Kumala sendiri sudah terjun di dunia kepenulisan cukup lama. Salah satu novelnya yang sudah pernah saya baca dan bikin merinding disko (karena tulisannya highly epic banget) yaitu Tabula Rasa. Saya masih ingat betul dulu saat membaca Tabula Rasa adalah ketika saya sempat sakit satu bulan dan terpaksa pulang ke kampung halaman. Kala itu saya masih kuliah S1 di awal-awal semester.

Buku Tabula Rasa membuat saya takjub sekaligus takut karena diksinya kaya banget. Ratih Kumala juga sempat menceritakan bagaimana proses kremasi berlangsung. Juga hubungan tabu sesama jenis. Nanti deh kapan-kapan lebih lengkapnya saya akan menuliskan ulasan tentang buku tersebut. Sekarang saya mau ngomongin buku Ratih Kumala yang berjudul Bastian dan Jamur Ajaib.

Berbeda dengan Tabula Rasa, Bastian dan Jamur Ajaib merupakan kumpulan cerita pendek yang dituliskan Ratih Kumala dalam kurun waktu selama dua tahun. Sebelumnya Ratih juga pernah menuliskan kumpulan cerpen berjudul Larutan Senja. Namun sayang, sampai kini saya belum menemukan bukunya di toko meskipun sudah saya cari selama beberapa tahun. Kalau ada yang punya atau tahu di mana membelinya, boleh sharing di kolom komentar ya.

--- [] ---

Bastian dan Jamur Ajaib terdiri dari tiga belas cerpen yang memiliki daya pikat masing-masing. Setelah membaca beberapa review buku ini, saya sependapat dengan mayoritas ulasan bahwa kumpulan cerpen ini memiliki magis. Setiap cerpen mengandung litotes bahwa di setiap kehidupan ada kematian. Di setiap keheningan, ada keramaian meskipun toh itu hanya dalam kepala. 

Cerpen pertama berjudul Ode Untuk Jangkrik menyuguhkan pola pandang anak-anak yang masih labil dalam menyikapi nyawa. Iya, harga sebuah nyawa. Adu jangkrik yang dilakukan oleh anak-anak di sebuah desa kecil nan asri berbuntut kekecewaan mendalam setelah jangkrik aduan seorang anak harus dilahap seekor ayam. Dari situ tokoh anak tersebut belajar artinya harga sebuah nyawa. Benar-benar magis menjelaskan bahwa sekuat-kuatnya manusia, tidak akan lepas dari maut.

Kengerian juga dituliskan Ratuh Kumala dalam cerpen Nonik. Gadis bergelimang harta yang kelihatan riang gembira namun ternyata menyimpan duka dua kali lebih pahit dari kemiskinan teman karibnya. Selain itu, ada pula cerpen Ah Kauw yang terpaksa menelan buah simalakama tatkala harus menerima proyek untuk membongkar pemakaman umum dengan jenazah ayah kandungnya yang terkubur di situ. 

Selain tiga cerpen tersebut, masih ada cerpen berjudul Telepon, Rumah Duka, dan Lelaki di Seberang Rumah. Lalu ada pula cerpen Foto Ibu; yang paling saya sukai di antara semua cerpen dalam buku ini. Foto Ibu menceritakan kisah seorang anak yang ingin membuat tattoo foto ibu tercintanya yang meninggal beberapa tahun lalu. Ada salah satu konsep yang paling saya suka dari cerpen ini. Jika diizinkan untuk terlahir kembali ke dunia, si anak akan meminta untuk menjadi ibu dari ibunya sehingga ia bisa membalas semua kebaikan ibunya semasa hidup. Saking cintanya ia pada ibunya yang baik hati dan selalu berjuang untuk anak-anaknya.

Secara garis besar, cerpen Ratih Kumala yang satu ini benar-benar bisa dinikmati dengan sekali duduk. Akan lebih pas dengan keheningan atau backsound instrumental karena buku ini begitu sarat renungan. Jika dibilang bahwa batas antara hitam dan putih itu tipis bahkan tak kentara, maka buku ini sangat luwes dalam menjelaskannya.

--- [] ---

Seperti tulisan Ratih Kumala kebanyakan, cerpen-cerpen dalam Bastian dan Jamur Ajaib tidak menggunakan kalimat-kalimat bermajas tinggi. Bahkan ia cenderung menulis dengan bahasa sederhana. Ratih Kumala selalu punya cara untuk menuliskan cerita yang sarat makna tanpa baasa yang terlalu berat untuk dicerna. Beberapa cerpen seperti yang berjudul Rumah Duka dan Bastian dan Jamur Ajaib bahkan memiliki aliran cerita seperti diary. 

Satu yang saya pelajari sekali dari tulisan Ratih Kumala, ia bisa berganti-banti perspektif sebagai orang pertama dengan mudah. Jika menulis dari sudut pandang pertama sebagai seorang lelaki, tulisannya akan "lelaki banget". Sementara saat menulis dengan POV pertama sebagai perempuan, ia akan menjelma sebagai sosok yang feminin. Juga dari segmen usia. Ratih Kumala mampu menjadi banyak tokoh bahkan nenek-nenek sekali pun. Hal ini ditunjukkan dengan salah satu cerpennya yang berjudul Lelaki di Seberang Rumah. Gokil maksimal!

Padahal menjadi bermacam karakter di dalam tulisan membutuhkan kemampuan yang setara dengan berakting teater di panggung. Saya juga pernah menuliskan cerpen dengan sudut pandang orang pertama sebagai laki-laki di sini. Tapi hasilnya tidak sehalus tutur cerita Ratih Kumala. Memang harus banyak-banyak belajar lagi sih dalam penulisan POV. Serius, itu susah. 

0 Comments