Josh Dun dan Tyler Joseph.

Terakhir kali saya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada sebuah band adalah pada tahun 2009. Pada Panic! At The Disco, Paramore, Arctic Monkeys, Linkin Park, dan Keane. Masing-masing memiliki cerita yang berbeda-beda dalam menemani hari-hari saya yang nano-nano manis asam asin rame rasanya. Dan lagi, saya termasuk orang yang nggak pilih-pilih pada jenis musik apa pun. Mau itu dangdut juga ayo aja asalkan musiknya ear catching dan enak didengar. 

Komentar-komentar teman yang membuka daftar lagu di ponsel pintar atau laptop saya pasti nggak jauh-jauh dari kalimat-kalimat seperti di bawah ini.

"Random banget lagu-lagu lo, May!"

"Selera musiknya nyeleneh ya,"

"Ini apa deh kok ada mars universitas segala?"

"Suka dangdut sama keroncong juga nih?"

"Lagu jaman kapan nih kok kamu kenal?"

Yaelah. Namanya selera musik seseorang kan nggak mesti sama tiap generasi. Dikata kalau orang angkatan 90-an nggak boleh tahu lagu tahun 80-an atau 70-an? Kan enggak. Musik itu sama seperti bahasa. Dan merupakan salah satu representasi bahasa. Dengan musik, kita bisa kembali ke momen-momen saat kita pertama mendengarkan musik tersebut. Seorang kesayangan bahkan pernah menuliskan 30 lagu yang memiliki makna dalam hidupnya selama 30 hari non stop. 

When music's stuck in your head, you'll know it's stuck in your heart. - Self
Jadi, saat nanti musik itu secara sengaja maupun nggak sengaja diputar lagi di suatu waktu atau tempat, kita akan otomatis terbawa di waktu atau momen yang berkaitan dengan lagu tersebut. Entah karena liriknya atau karena kejadian yang mendasarinya dulu. Pasti. Cobain deh.

Kalau kita mendengar lagu Joshua yang berjudul Diobok-obok pasti kita akan kembali ke zaman di mana Joshua masih enyol-enyol. Belum sejayus sekarang. Sementara saat kita mendengar lagu Belah Duren, kita akan secara langsung ingat pada masa hidup artis Julia Perez. Karena memang sebagian neuron otak kita didesain untuk merekam suara dan momen secara bersamaan. Maka lagu selalu punya momen. Dan momen biasanya juga punya latar lagu sendiri.

Aw sekali bukan.

Dengan banyaknya band dan musisi yang menelurkan album dan lagu, tentu kita memiliki favorit masing-masing. Namun saya pribadi jarang banget bisa suka dengan semua lagu suatu band. Biasanya dari satu album, saya cuma suka satu atau dua lagu aja. Bahkan pada album band Panic! At The Disco yang amat sangat saya cintai itu, ada beberapa lagu yang saya nggak suka. Atau biasa aja.

Maka saat saya mengenal band satu ini, saya heran juga kenapa saya bisa suka banget sama semua lagu-lagunya. Di semua album. Penasaran band apakah itu? 

Ya, enggaklah. Kan udah ada di atas gambarnya. Twenty One Pilots.

Di judulnya juga ada. Ehehe.

Jadi, Twenty One Pilots adalah satu-satunya band (sejauh ini) yang semua lagu-lagunya saya gemari. Nggak ada yang enggak. Album pertamanya yaitu Vessels (2013) berisi 12 lagu yang semuanya enak-enak banget. Dan satu lagi. Hal yang paling dominan dari lagu-lagu milik Twenty One Pilots adalah liriknya. Selain aneh dan unik, liriknya beneran nggak akan ditemui di lagu-lagu kebanyakan. Diksinya cerdas. Majasnya oke. Juga permainan idiom, makna, dan anti-makna dalam lagu-lagu gubahan Tyler dan John ini beneran nggak disa diprediksi oleh awam.

Berbeda pula dari band kebanyakan, Twenty One Pilots mengusung genre campur-campur. Rock ada. Scream ada. Pop ada. EDM ada. Semua campur jadi satu. Bahkan blues dan jazz juga ada. Beberapa die hard fans Twenty One Pilots sendiri kalau ditanya genre apa sih yang diusung oleh band favorit mereka, kebanyakan menjawab tidak tahu. Atau ada yang berkelakar menjawab begini.

"Ya, genre Twenty One Pilots!"

Gitu.

Saking randomnya ya. Apalagi si Tyler selaku vokalis utamanya ini bisa menyanyi dalam segala kondisi. Teriak-teriak kayak orang kesetanan bisa, slow moving voice seperti penyanyi akustik atau orkestra juga bisa. Duh, multitalenta bener ini orang beneran deh sumpah!

Twenty One Pilots sudah menciptakan lima album. Dua yang pertama adalah ketika mereka masih indie yaitu Twenty One Pilots (2009) dan Regional at Best (2011). Dua-duanya masih self title dan tidak mendapatkan outbreak yang besar. Belum banyak yang notis. Baru setelah dilirik mayor label, Twenty One Pilots resmi masuk ke dapur rekaman dan lagu-lagu di dua album sebelumnya dimasak sampai matang menjadi lagu di album resmi pertama mereka yaitu Vessels (2013).

Vessels (2013) berisi 12 lagu yaitu:

1. Ode to Sleep
2. Holding on to You
3. Migraine
4. House of Gold
5. Car Radio
6. Semi-Automatic
7. Screen
8. The Run and Go
9. Fake You Out
10. Guns for Hands
11. Trees
12. Truce

Blurryface (2015) berisi 14 lagu yaitu:

1. Heavydirtysoul
2. Stressed Out
3. Ride
4. Fairly Local
5. Tear in My Heart
6. Lane Boy
7. The Judge
8. Doubt
9. Polarize
10. We Don't Believe Whats on TV
11. Message Man
12. Hometown
13. Not Today
14. Goner

Trench (2018) berisi 14 lagu yaitu:

1. Jumpsuit
2. Levitate
3. Morph
4. My Blood
5. Chlorine
6. Smithereens
7. Neon Gravestones
8. The Hype
9. Nico and The Niners
10. Cut My Lip
11. Bandito
12. Pet Cheetah
13. Legend
14. Leave The City

Sebelum menulis 10 lagu teratas favorit saya, saya mendengarkan semua lagu-lagu di tiga album tersebut seharian untuk menemukan mana-mana lagu yang paling membuat saya semangat dan bergairah saat mendengarkannya. Iya, satu-satu. Kesannya kayak apa banget dan sok berdedikasi, tapi beneran saya lakukan. Kalau nggak gitu susah, pak. Lagunya bagus-bagus semua. Suka semua. Saya nggak bisa menentukan kalau cuma melihat lirik lagu dan mengingat nadanya khusus kasus Twenty One Pilots ini.

Dan setelah menimbang-nimbang selama seharian kemarin, berikut adalah 10 lagu teratas dari Twenty One Pilots yang harus harus harus banget kamu dengarkan. Semua favorit saya. Pada dasarnya ya semua 40 lagu mereka favorit saya. Sepuluh lagi ini pun bukan peringkat ya. Bukan berjenjang. Maksudnya 10 tuh paling biasa dan nomor 1 paling luar biasa. Enggak. Sepuluh-sepuluhnya murni saya suka pada level yang sama. Ini malah saya urutkan berdasarkan albumnya. 

1. Ode to Sleep



2. Migraine



3. Fake You Out



4. Guns for Hands



5. Truce



6. Stressed Out



7. Tear in My Heart



8. Not Today



9. Jumpsuit



10. Morph


Jadi, itulah beberapa rekomendasi 10 lagu Twenty One Pilots yang patut untuk kamu dengarkan dan harus kamu dengarkan. Serius. Dengan mendengarkan lagu-lagu mereka, kamu akan tahu bahwa genre musik bukan nggak bisa dicampur-campur. Juga lirik. Lirik dengan kalimat paling nyeleneh sekalipun bisa menjadi sebuah maha karya yang luar biasa. Kalau didengarkan baik-baik, lirik lagu mereka itu basic banget.

Contohnya lagu yang nomor 7 berjudul Tear in My Heart. Nanti kamu akan menemukan lirik berikut.

"You fell asleep in my car
I drove the whole time
But that's okay
I'll just avoid the holes
So you sleep fine
I am driving here and sit
Cursing my government
For not using my taxes
To fill holes with more cement"

Nyetir motor sambil menghindari jalan berlubang supaya perempuannya nggak terbangun dan bobo nyenyak. Juga ada lanjutannya kenapa jalannya bolong-bolong. Ternyata pemerintah nggak menggunakan pajak yang rakyatnya bayar untuk menambal jalanan rusak tersebut. Kan bangke. Liriknya unik dan nyeleneh. Tapi itulah yang bikin Twenty One Pilots dicintai banyak fansnya. Mereka berbeda.

Dari mereka juga saya belajar bahwa menulis lirik lagu maupun puisi nggak melulu butuh diksi-diksi tingkat tinggi. Yang penting adalah bagaimana mengemasnya menjadi sesuatu yang bisa dinikmati orang lain. 

Oh, cobain juga coveran Can't Help Falling in Love-nya Elvis Presley yang dibawakan oleh Twenty One Pilots. Dijamin meleleeeh kayak cokelat Silver King yang ditaruh di balkon kosan di siang hari.






Pictures are taken from:
http://www.greensboro.com/go_triad/twenty-one-pilots-is-flying-high-on-popularity-of-album/article_e894f814-1831-5e5a-b04c-41754287e07d.html

2 Comments

  1. Bisa juga yak kak may demen lagu ampe sealbum full. Kan capek klo kudu dengerin satu album diulang2 trs nyari yg paling enak. Akusih paling yg ngetop2 doang, atau gak sengaja dgr eh enak wkwk. Stressed out juga unik sih lirik ama musiknya. Ada 3 lagu twenty one yg kusuka, yg td kusebut, yg jd sontrek pilm, sama satu lagi kulupa. Muahaha. Setuju lah sama pandangan kak may soal musik, toh aku jg trmasuk anak generasi micin yg doyannya lagu2 tahun 90-70an. Hahaha. Brasa jd sepantaran ama emak sndiri sih kadang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tapi Twenty One Pilots beneran pengecualian. Aku suka semua lagu di albumnya, Lu. Beneran sebagus ituuu. Hehe.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.