Anak Kos Dodol, Bapak Kos Getol (Narik Duitnya)

Yang nggak suka ngutang temennya.

Lika-liku anak kosan sering menjadi salah satu topik yang dibicarakan di media sosial. Katanya anak kosan itu kere-kere. Makanya serba ngutang dan seringkali berburu gratisan. Yaaa… Emang iya sih. #plak

Tapi nggak semua anak kosan kayak gitu kok. Ada juga anak kosan yang mandiri dan hampir nggak pernah berhutang selama hidup di sebuah rumah boarding. Meski kadang tipe anak kosan begini justru menjadi sasaran empuk untuk meminjam uang. Kzl kan.

Salah satu kalimat paling horor untuk anak kosan bukanlah “aku mau ngomong sama kamu” melainkan “pake duit kamu dulu ya, nanti aku ganti”.

Kalau udah nemu temen kosan kayak gini, lebih baik segera pasang pagar betis agar tidak terulang lagi di kemudian hari. Kalimat pamungkas itu--jika sudah diucapkan sekali--akan menjadi kalimat andalan tiap kali kalian keluar makan atau beli sesuatu. Parasit emang temen kosan yang begitu mah.

Tapi kalau udah ditagih, pasti alasan duitnya gede semua. Biru sama merah. Ya kalau nggak segera dipecah mau kapan bayarnya maliiih…

Jadi... Berteman dengan rekan kosan yang demikian, pasti alasannya kalau dia nggak bawa dompet ya dia duitnya gede semua. Klise anying!

Astaghfirullah. Jadi kasar.

*ambil amplas dulu*
Dan bapak kos yang dagang pentol.

Jadi ingat dulu saya seneng banget baca bukunya Dewi Dedew Rika yang ngarang novel Anak Kos Dodol. Di dalamnya terdapat banyak hikmah yang bisa kamu petik jika akan memulai kehidupan perkos-kosan. Karena meskipun toh jauh dari orangtua dan bisa bebas, kamu akan menemukan hal-hal baru yang lebih menantang daripada sekadar omelan ibu yang ngamuk kalau kita ngilangin Tupperware-nya.

Iya, ibu saya adalah salah satu dari sekian emak-emak yang menjual jiwanya pada Tupperware. Udah punya koleksi yang hijau, beli lagi yang warna ungu. Katanya biar beda kalau ada tamu datang arisan dan tamu acara khitanan…

…kucing kesayangannya.

Oke, balik lagi.

Menjadi anak kos berarti siap menjadi pribadi yang baru. Siap mental juga perlu karena jenis-jenis pemilik kos itu ada banyak. Tipe-tipe teman kos juga variatif sekali. Dari mulai yang pemalu tiap ketemu senyum-senyum melayu sampai yang nggak tahu malu tiap minjem duit nggak tahu waktu. Blencek!

Astaghfirullah. Jadi kasar lagi.

*ambil parutan kelapa*

Jadi, berikut adalah tips dan trik yang perlu kamu terapkan sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada sebuah kos-kosan. Ada perlunya direnungi karena tinggal di sebuah kosan yang notabene bukan milik kamu berarti kamu numpang. Numpang dan membayar. Ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi.

Eaaa. Sok bijak tapi garing.

1. Pastikan Fasilitas Kosan Berbanding Lurus dengan Kebutuhan

Fasilitas kosan adalah hal pertama yang harus kalian telisik sebelum mengiyakan untuk membayar kosan atau tidak. Sesuaikan fasilitas kosan dengan apa yang kalian butuhkan. Misalkan, kalian hobi masak-masak supaya hemat pengeluaran makan dan nggak diutangin terus tiap nongkrong, ya carilah kosan yang ada kompornya. Dan dapurnya. Dan kalau bisa wastafelnya. Tapi lihat-lihat juga, jangan kosan yang kamarnya ada 27 tapi dapurnya cuma isi kompor satu tungku. Mau masak aja ada antreannya. Itu dapur kosan apa WC umum?

2. Jangan Cari Kosan yang Tiap Bawa Alat Listrik Ini Itu, Ada Tambahan Membayarnya

Ini ngeselin sih. Promosi di depannya bilang kalau listriknya pukul rata sebagai tarif bulanan. Taunya tarif bulanan cuma buat lampu doang. Kalau bawa laptop, magic com, dispenser, heater, kipas angin, dan sekawannya, bakal ada tarif tambahan lagi. Udah berasa iuran arisan aja. Itu juga tarif per itemnya beda. Kalau bawa kipas angin sama laptop, beda bayarnya. Duh… Mending cari kosan lain aja daripada dapat yang beginian deh. Belum lagi kalau ada kasus listrik mati-mati karena yang masak nasi barengan. Tapi tiap diminta naikin daya, pemilik kosnya nggak mau karena mahal. Lah, yang bayar kan kita-kita juga, om? Maunya getol narik uang bulanan tapi fasilitas nggak diperbaiki. Huhu.

3. Amati Kelancaran Sistem Irigasi Kosan, Kalau Ngadat Skip

Pentingnya air pasti udah tau semua kan tanpa dijabarkan. Jadi hal terpenting dari kosan selain ketersediaan listrik yang proper, sudah jelas aliran airnya. Jangan ngekos di tempat yang airnya nggak lancar dan mati tiap jam-jam tertentu. Misalkan sedang ingin pipis tengah malam gitu kan susah hayati. Masa iya pake air galon? Nggak lucu. Kosan saya yang pertama dulu masih sumur. Pompa gitu deh. Kalau sedang ngisi harus ditungguin, takutnya banjir. Pernah ngisi saat tengah malam karena sesorean nggak ada penghuni yang di kosan. Alhasil nulis laporan Fisika buat besok harus sambil nengokin gentong pinguin di atas loteng, takut kalau kepenuhan.

4. Perhatikan Koneksi Wifinya Apakah Bapuk atau Berkualitas, Kalau Ada Ya

Kalau butuh kosan berwifi, maka perlu adanya cross check sebelum akhirnya membayar uang muka untuk ngekos. Wifi menjadi kebutuhan primer bagi mahasiswa--apalagi tingkat akhir--karena sekarang sudah banyak course yang diselenggarakan online oleh dosen atau pihak kampus. Kalau wifinya mati-mati, ya matilah nilai mata kuliahnya. Apalagi mahasiswa yang nyambi freelance. Pasti butuh koneksi sesuai untuk menuntaskan pekerjaannya.

5. Kalau Bawa Motor, Cek Dulu Apakah Garasinya Merger dengan Kandang

Biasanya kosan dengan jumlah penghuni sedikit tidak menyediakan garasi khusus untuk motor-motor yang dibawa anak kosan. Garasi biasanya merangkap ruang tamu. Atau ada yang menyediakan garasi tapi nyempil di luar kosan dipagarin. Nah, beda dengan kos-kos besar yang kamarnya berjumlah 20 lebih. Pasti mereka menyediakan garasi yang besar. Beberapa kasus, pemilik kos tidak mau rugi dengan menyediakan tanah garasi cuma-cuma. Makanya, mereka merangkap garasi sebagai kandang piaraan ayam dan bebek. Bahkan burung dara dan kambing. Warbyasa. Kalau nggak mau bersihin jok motor tiap hari, mending lekas-lekas pindah deh.

6. Observasi Kelakuan Penghuni Kosan, Kalau Mencurigakan Cari Opsi Lain

Sebagaimana teman, rekan kosan juga pasti punya karakter yang berbeda-beda. Ada yang rajin banget sampai kamarnya sepi tanpa dengungan lalat dan nyamuk karena disemprot berkala tiap lima menit. Ada yang males banget sampai nyuci piring aja nggak mau dan piringnya ditumpuk di wastafel berminggu-minggu. Jadi, cek dan ricek beberapa spot seperti sudut rak sepatu dan lorong penghubung antar kamar. Kalau banyak sampah bertebaran, lebih baik cari kosan lain yang lebih manusiawi. Sayangi ususmu, minum Yakult tiap hari ~

7. Terakhir, Kosan Murah Tidak Menjamin Kebahagiaanmu

Seringkali kita mau ngekos di tempat yang murah. Pokoknya ada kosan murah, gelap mata. Maunya langsung DP aja. Biasanya mahasiswa baru yang begini sih. Takut ngerepotin orangtua kalau bayar kosannya mahal. Tapi percayalah dengan pepatah Jawa, “ana rega ana rupa”. Artinya ada harga ada rupa. Kosan murah tidak menjamin kebahagiaanmu. Apakah kamu mau tiap belajar listriknya mati-mati karena kurang daya? Atau kebelet pipis dini hari tapi nggak ada air? Iya kalau laki-laki mungkin bisa pakai batu. Kalau perempuan masa harus tayamum?

Mencari kosan sebenarnya cocok-cocokan. Ya sama kayak nyari pasangan. Orangnya sederhana dan mau diajak makan di angkringan, tapi tiap ngobrol nggak nyambung. Jelas nggak bisa diteruskan. Udah cocok, tapi berkorban duitnya banyak amat sampai jual ginjal karena gaya hidup doi gemerlapan. Itu juga nggak bagus. Ya, sama kayak kosan. Budgetnya cocok, tapi fasilitas minus semua. Buat istirahat tentu nggak nyaman. Budgetnya nggak cocok, tapi buat goler-goler ngadem tiap pulang kuliah enak banget. Tentu bisa bangkrut dan makan nasi kerupuk doang tiap hari.

Jadi, bagaimana pintar-pintarnya kita mencari deh. Kalau udah dapat, jangan lupa disyukuri. Belum tentu kosan lain akan sebaik yang sekarang kamu tinggali.

Salam anak kos!

#MenolakTanggalTua
Anak kos akhir bulan starter pack.






Images are taken from:
https://cari-kos.com/blog/tips-hidup-menjadi-anak-kos/
http://www.dewirieka.com/2013/11/anak-kos-dodok-komik-repackage-terbit.html
https://today.line.me/id/pc/article/6+Kisah+Sedih+Makanan+Anak+Kost+yang+Justru+Bikin+Ngakak-yZZ8jy
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

10 Comments:

  1. Saya cuma pernah baca satu bukunya Mbak Dew. Itu juga hasil minjem pas lagi maen ke indekos temen. Saya enggak melanjutkan baca atau mencari tahu yang lain karena merasa kurang relevan. Selama ini belum pernah ngekos. Huhu. Cupu amat. Wq. Kebanyakan enggak jauh beda juga, sih, ceritanya dari temen-temen yang ngekos. Jadi semacam lebih senang didongengi teman langsung daripada baca sendiri. :D

    Tapi seandainya suatu hari saya ngekos, saya pasti cari yang nyaman buat tidur aja. Jadi sebisa mungkin menghindari indekos yang besar dan ramai. Lebih-lebih yang ada wifi. Bisa kagak tidur-tidur yang ada karena internetan terus. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Percayalah, ngekos itu tidak sebebas yang kau bayangkan :(

      Kuota internet emang justru bisa mengatur seseorang untuk lebih hemat ya, Yogs. Aku juga mengakui hal yang sama. Malahan, wifi kenceng bisa bikin kita nggak produktif karena keasikan berselancar di internet.

      Delete
  2. ((menjual jiwanya pada Tupperware))

    TOS. Mamaku juga menjual jiwanya pada Tupperware, May. :(

    Wakakaka ini tulisannya lucu nih. Nggak relatable sama aku tapi bikin aku seolah ngerasain jadi anak kosan itu mengenaskan juga. Memilih kosan sama dengan memilih pasangan. Tidak boleh sembarangan. Cintaimu ususmu. Minum Yakult tiap hari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi anak kos itu ada enak nggak enaknya. Belum tentu habis kos kita bebas keluyuran, Cha. Apalagi kosku yang ada jam malamnya :(

      Jargon Yakult emang nggak ada matinya. Wkwk.

      Delete
  3. garasinya merger dengan kandang itu maksudnya gimana dah? jadi satu gitu ya?
    sebagai anak rantau dan sudah sering nge kost, sebenernya hal-hal kayak ginii seharusnya sudah diketahui luar kepala.
    tapi emang banyak sih kostan yang gitu, yang tiap alat listrik yang kita punya terus bayar lagi. ngeselin sih emang. tapi kayaknya kalo cowo agak lebih simple buat nyari kostan. kayaknya. ga tau juga yang lain sih.

    tapi kayaknya butuh satu lagi sih, pastikan kostan yang ingin di huni terkesan horor atau enggak. itu penting sih. bawa lawan jenis buat masuk kostan juga penting sih
    *eeeh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, garasi motornya campur sama kandang unggas, Zi. Jadi satu. Bayangin tiap ngambil motor harus sambil bersih-bersih joknya karena kotor semalaman. Hehe. Sebenarnya simple nggak simpel nyari kosan tergantung orangnya juga. Kalau orangnya sederhana, kosan yang cuma listrik dan air aja cukup. Nggak usah pakai fasilitas-fasilitas parlente.

      Woeee.

      Delete
  4. Pernah banget ngerasain ruang tamu merangkap garasi. Shalat waktu sujud, kan kadang suka meleng gitu kan matanya, tubrukan sama jeruji sepeda coba :) sujud kaya bukan nyembah Allah tapi sepeda -_-

    Wifi for the win! Pernah awal pasang wifi kecepatan up to 5 MB. Wapuasih puas puas banget nonton 4K seenaknya di skip skip saking lancarnya XD

    Trus tetangga juga tuh kak. Tetangga kosan gimana. Kalau masih suka ngomong gini gitu berasa masih di rumah wkwkwkw.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama. Kosku yang sebelum ini juga ruang tamu gabung sama garasi jadi kalau salat jamaah dan pintu kamar dibuka sering nyundul. Wkwk. Namun pindah yang sekarang juga nggak enak-enak banget. Garasinya gabung sama kandang. Hehe.

      Kalau omongan tetangga kos mah cuekin aja. Kalau mereka butuh juga datang sendiri.

      Delete
  5. Muahahaha. Gue untung gak pernah ngekos yang sendiri gitu sih. Paling jadi penghuni gelap kontrakan. Tapi, biasanya hal paling krusial pas nyari tempat tinggal baru itu antara sinyal sama banjir. \:p/

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.