Jogja dan pesonanya ~

Kadang kita butuh digampar dulu sampai terkapar supaya sadar kalau hidup itu nggak melulu soal senja dan si dia. Tulisan kali ini mungkin agak berbeda dan bertema dari kebanyakan review buku biasanya. Bukan apa-apa, namun karena pengin aja. Namanya juga blog personal, bukan blog komersil yang nulisnya harus dipancang dan dipancung SEO. 

*maaf kalau ada yang tersundut…

…rokok*

Katanya, setiap orang berhak mencintai Jogja dengan caranya masing-masing. Ah, bias banget. Kalau Jogja lagi panas aja semua makian keluar ke sana kemari. Mamam tuh cinta.

Katanya, setiap orang boleh memiliki Jogja menurut versinya sendiri-sendiri. Ah, ngarang banget. Coba kalau berani ngaku begitu di depan keraton. Mamam tuh rasa memiliki.

NB: Dua pernyataan di atas diperoleh dari pengalaman pribadi.

Tapi memang benar, yang paling ngangenin dari Jogja adalah suasananya. Entah saat panas atau hujan, aura di kota Jogja tetap sama. Otentik. Aura tersebut tidak bisa didapatkan dari kota-kota lainnya. Banyak pendatang yang bekerja di Jogja--meskipun sering mengeluh dengan UMR rendah yang diperolehnya--mengatakan bahwa Jogja itu “mbetahi”. Senyum ramah penjual makanan tradisionalnya bikin betah. Tawa renyah anak-anak jalanan yang mengamen di sore hari memancing nostalgia. Dan wajah semringah para penjaja moda transportasinya membuat kita enggan beranjak dari hiruk pikuk kota tersebut.

Jogja selalu punya cara untuk membuat kita berkisah.

Juga berkeluh kesah.

Saya pertama kali mengunjungi Jogja di tahun 2008 saat sedang studi belajar. Acara di SMP kalau nggak salah ingat. Tempat paling terkenang saat di Jogja adalah Taman Pintar. Di situlah pertama kali saya mengenal alat-alat dan kerangka percobaan sains…

…dan merusakkan salah satunya.

Dan tidak mengaku.

Dan melipir ke wahana selanjutnya tanpa rasa bersalah.

Oqe, aqu dulunya blengcek.

Waktu itu saya merusakkan seperangkat percobaan listrik statis. Generator Van de Graaf. Dan sekarang jadi guru fisika yang mengajarkan salah satu eksperimen dengan menggunakan alat tersebut. Sungguh hidup yang penuh dengan tantangan dan kontradiksi, bukan?

*kemudian menangis dengan backsound lagu Taubat*

Kali kedua mampir ke Jogja adalah saat perjalanan menuju barat alias ke tanah Bobotoh dengan bapak dan adik. Dua tahun sejak saya merusakkan alat di Taman Pintar. Itu cuma transit, jadi nggak mampir ke mana-mana seperti saat studi belajar. Saya tidak sempat merusakkan gerobak penjual bakpia kok. Saya hanya makan sate-satean di angkringan dan minum semangkok wedang ronde panas. Iya, cuma itu. Mau nakal nggak bisa karena ada bapak. Takut dibuang ke kali code.

Kali ketiga main ke Jogja adalah saat saya sudah kuliah di Solo. Saya bahkan punya tradisi setiap dua bulan sekali ke Jogja untuk membeli buku di Shopping Center. Sebuah pasar buku bekas dan baru dengan harga miring yang ada di belakang Taman Pintar. Kalau di Jakarta mirip Kwitang. Kalau di Malang mirip Wilis. Kalau di Bandung mirip Palasari.

--- [] ---

Selain karena berburu buku, saya suka main ke Jogja karena kotanya besar banget. Beda dengan Solo yang luasnya hanya seupil. Jogja jauuuh lebih berupil-upil daripada Solo. Beneran deh.

Mau menikmati jalanan besar tanpa batas, bisa jalan-jalan atau kebut-kebutan di Ring Road utara maupun selatan. Mau menikmati keramaian bisa ke Malioboro. Mau berwisata ala Jawa bisa ke Taman Sari, keraton, alun-alun, dan candi. Mau agak ngadem bisa ke Kaliurang. Mau mantai bisa ke Gunungkidul. Mau kulineran bisa di semua tempat. Mau belanja bisa di Pasar Beringharjo atau mol-mol yang bertebaran di sana. Gampang. Tinggal pilih.

Apalagi akses kendaraan dari Solo ke Jogja gampang banget. Segampang soal matematika anak SD yang dikerjakan oleh anak SMA. Beberapa kendaraan yang bisa kamu pilih untuk membolang dari Solo ke Jogja adalah:

1. Sepeda Motor


Estimasi waktu perjalanan: 1-2 jam

Biaya yang dibutuhkan: 2 liter bensin--terserah mau pertalite, pertamax, atau air suling--kurang lebih harganya 20 ribuan, es teh dua ribuan kalau haus di jalan, dan permen yupi seribuan (total 23 ribuan)

Kelebihan: Nyaman, bisa berhenti sesuka hati, bisa mengatur tempo perjalanan suka-suka, bisa sambil nyuit-nyuit cewek atau cowok cakep di jalan, dan efisien untuk melanjutkan wisata di Jogja tanpa bingung memilih kendaraan umum

Kekurangan: Hanya muat untuk maksimal dua orang, kalau hujan kehujanan, kalau panas kepanasan, risiko dibegal mas-mas ganteng yang naik Ninja, kena lemparan botol minum kosong dari kenek truk yang suka iseng, dan motor mogok karena sudah waktunya turun mesin

2. Mobil Sewaan


Estimasi waktu perjalanan: 2-3 jam

Biaya yang dibutuhkan: 3 liter bensin seharga 30 ribuan, sewa mobil dan sopirnya seharga 200 ribuan, perbekalan selama perjalanan seharga 100 ribuan (total 330 ribuan)

Kelebihan: Bisa muat sampai dengan delapan orang, kalau hujan nggak kehujanan, kalau panas nggak kepanasan, bisa tidur sambil ngences sambil nunggu sampai di tempat tujuan, bisa sambil makan, bisa sambil nyanyi-nyanyi pakai CD player, dan efisien untuk melanjutkan wisata di Jogja tanpa bingung memilih kendaraan umum

Kekurangan: Tidak bisa mendukung adanya aktivitas memeluk dari belakang seperti halnya di atas motor, relatif lebih mahal, risiko macet lebih besar apalagi kalau sudah sampai di Jogja kota, dan kalau berangkatnya weekend dijamin susah cari parkiran

3. Bis Antar Kota


Estimasi waktu perjalanan: 2-3 jam

Biaya yang dibutuhkan: 20 ribuan

Kelebihan: Enak tapi nggak cocok buat enaena karena bis termasuk alat transportasi masal, murah, bisa menikmati pemandangan, kalau beruntung bisa dapat kenalan mas-mas atau mbak-mbak yang juga mau berkunjung ke Jogja, kalau lapar tinggal beli di penjual keliling, dan ada hiburan live music di atas bis setiap sepuluh menit sekali

Kekurangan: Fasilitas AJ alias angin jendelanya kadang membuat masuk angin, membutuhkan skill rebutan kursi dengan emak-emak pro yang membawa ayam dan belanjaan, menjadi sandaran penumpang di kursi samping yang kadang ngences sampai banjir, dan susah tidur akibat terlalu merdunya suara hiburan live music yang ditampilkan

4. Kereta Lokal Prambanan Ekspres (Prameks)


Estimasi waktu perjalanan: 1 jam

Biaya yang dibutuhkan: 8 ribuan

Kelebihan: Murah banget, jadwalnya teratur dan tiap jam selalu ada keberangkatan ke Jogja, serta relatif lebih cepat daripada kendaraan lainnya

Kekurangan: Tidak ada nomor kursi sehingga saat kereta datang penumpang harus berebutan untuk masuk dan mencari tempat duduk sendiri

5. Pesawat Terbang


Estimasi waktu perjalanan: 20 menit (sudah termasuk take off dan landing)

Biaya yang dibutuhkan: 300 ribuan

Kelebihan: Ekspres dan cepat sekali bagai koneksi internet di luar negeri

Kekurangan: Mahal banget bangkai lagian buat apa juga naik pesawat kalau cuma ke Jogja doang, sosoan banget jadi orang

6. Sepeda Kayuh


Estimasi waktu perjalanan: 5-7 jam

Biaya yang dibutuhkan: Aqua dua botol (total lima ribuan)

Kelebihan: Santai, bisa mengatur tempo bersepeda sesuka hati, bisa sambil menikmati pemandangan di kanan dan kiri dengan seksama, dan menyehatkan tubuh

Kekurangan: Kalau hujan kehujanan, kalau panas kepanasan, diliatin banyak orang karena bersepeda jarak jauh jika bukan karena ada agenda sepeda sehat bareng-bareng dapat memicu keheranan, dan sampai di Jogja bisa tepar kalau tidak terbiasa

7. Kedua Kakimu


Estimasi waktu perjalanan: Tak terhingga tergantung stamina

Biaya yang dibutuhkan: Nol rupiah tanpa DP dan tanpa janji palsu cagub cawagub Jakarta

Kelebihan: Hemat dan murah meriah

Kekurangan: Berisiko mati di jalan alias modaro

--- [] ---

Dari ketujuh cara-cara menuju Jogja dari Solo, tentu saja saya paling menyukai yang nomor 1 dan 4. Kalau tempat yang mau dituju hanya satu atau dua tempat saja, lebih baik nomor 4. Kalau tempat yang hendak dikunjungi lebih dari dua dan membutuhkan kendaraan yang efisien serta mudah mobilitasnya, lebih baik pilih nomor 1. Opsi yang lain abaikan saja. Itu cuma buat menuh-menuhin tulisan ini agar terlihat lebih panjang. Serius.

Oh iya, kalau berencana ke Jogja, jangan lupa mencoba untuk makan di burjo ya. Kalau nggak familier sama burjo, biasanya di kota-kota besar namanya warmindo alias warung makan indomie. Burjo sama warmindo kurang lebih sama. Menyediakan banyak variasi masakan dari indomie yang harganya murah dan rasanya enak.

Terakhir, percayalah bahwa setiap detik senyum mas-mas burjo yang kebanyakan berasal dari Sunda itu dapat mencerahkan harimu yang membosankan. Terutama jika pacarmu tidak sepeka mereka yang selalu menanyakan:

“Telurnya mau digoreng ceplok atau dadar, neng?”





Pictures are taken from:
http://jabar.tribunnews.com/2018/05/06/12-sepeda-motor-hasil-modifikasi-yang-bikin-geleng-geleng-kepala-mana-paling-parah
https://www.pinterest.com/pin/479211216577484100/
https://www.youtube.com/watch?v=fpmua2YTu7M
https://www.merdeka.com/peristiwa/kai-sebut-kereta-tua-penyebab-ka-prameks-kerap-terlambat.html
http://militermeter.com/pameran-pesawat-tempur-korea-utara/
https://www.dagelan.co/suka-gowes-cobain-deh-modifikasi-sepeda-berikut-ini
https://www.liputan6.com/news/read/3002238/peminat-tiket-online-minim-pemudik-sesaki-loket-pelabuhan-merak

12 Comments

  1. Naik pesawat udah kayak orang mau buang-buang duit. Mending kalau jadwalnya enggak ngaret. Dari semua pilihan itu, ya jelas naik kereta, lah! Paling murah. Lagian, mana tau saya jalan ke Jogja naik motor dari Solo. Motornya juga kagak ada. Mesti nyewa dulu atau ngehubungin kenalan di sana. Itu juga kalau mereka enggak sibuk. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya tiket kereta terbatas banget, Yogs. Kalau nggak rebutan antre H-berapa jam, nggak kebagian XD

      Delete
  2. Ternyata solo-jogja emang sedekat dan semurah itu transportasinya. Tau gitu pas dua kali main ke jogja sekalian ke Solo. -_- Beda jauh ama Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. walo depannya sama-sama kalimantan, tapi jauh bet. kalo naik pesawat kudu lewat jakarta/jogja/surabaya dulu. walo tetap lebih mudah ke sulawesi sih. tinggal ambil perkakas buat mukulin paku, gunakan untuk memukul lutut (kayak dokter di tipi). udah deh, nyame, kepalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah gue dulu dua tahun di Jogja malah nggak tau kalau Solo cuma selemparan sempak dari Jogja. Wkwkwk

      Delete
  3. wah klo dari solo ke jogja gabisa pake kuda ya ternyata.

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.