Credit: Johan Herdi Putra on Google Local Guide.

Di saat banyak moda transportasi suka ngetem-ngetem kayak gajian di awal bulan, Samarinda memberikan kesan pertama dengan Kangaroo-nya. Iya. Kangaroo. Salah satu travel agent yang melayani jalur perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda pulang pergi. Dengan mengusung konsep “tepat waktu atau uang anda kembali”, Kangaroo menyediakan layanan keberangkatan setiap sepuluh menit baik dari Samarinda menuju Balikpapan dan sebaliknya.

Yang unik dan menarik untuk diusik, semua shelter keberangkatan Kangaroo dilengkapi dengan fasilitas iMac dan hampir semua pegawainya menggunakan iPhone. Ini nggak tahu apakah yang punya Kangaroo sama dengan yang punya pabrik rokok Gudang Garam Kediri, tapi yang jelas, pelayanan yang diberikan di sana tidak main-main.

Kangaroo menggunakan armada minibus yang mirip dengan L300. Tapi jauh lebih bagus daripada angkutan massal minimalis tersebut karena hanya memiliki kapasitas sepuluh seat di dalamnya. Selama perjalanan, kita juga diberikan minuman dan tisu basah. Nggak tanggung-tanggung, ada televisi flat di bagian front seat yang memutar film-film box office terbaru. Gokil pake banget. Bahkan transportasi umum di kota-kota besar lainnya belum ada yang secanggih Kangaroo ini. Perjalanan tiga jam dari Samarinda ke Balikpapan pun menjadi hal yang ringan dan tidak memabukkan. Kecuali kamu baru minum arak. Pasti tetep mabuk meskipun jalan kaki.

Bandara di Samarinda belum benar-benar resmi dioperasikan. Jadi kalau kita mau menuju ke kota tersebut, Tenggarong, dan Bontang, kita harus turun di Bandara Sultan Aji Sulaiman Sepinggan di Balikpapan. Baru setelahnya menempuh perjalanan darat ke Samarinda. Sebenarnya kita bisa juga menggunakan bis kota, taksi gelap, maupun taksi terang. Namun nggak ada salahnya kalian mencoba naik travel Kangaroo karena pelayanannya memuaskan sekali, bosque ~
Credit: Bagus Gunawan on Google Local Guide.

Meskipun relatif mahal, namun apa yang mereka sediakan sebagai servis tidaklah main-main. Per Januari 2018, tarif perjalanan dengan Kangaroo adalah 150 ribu itu berlaku dari Samarinda menuju Balikpapan dan sebaliknya.

Dari dalam pintu kedatangan domestik di bandara Balikpapan, kita akan langsung menemukan shelter travel Kangaroo di sebelah kanan pintu keluar. Persis di depannya Matahari Mall.

Funfact: Saya baru nemu ada bandara yang memiliki mol ya di Balikpapan ini. Bandara lainnya paling-paling hanya otlet makanan dan minuman.

Ngomong-ngomong, saya udah cocok belum jadi travel blogger?

Ngomong-ngomong lagi, ini bukan tulisan berbayar dari Kangaroo kok. Saya cuma iseng mencoba menuliskan sedikit review tentang mereka. Ya syukur-syukur kalau nanti beneran dilirik pihak Kangaroo.

Wkwkwk.

--- [] ---

Sejujurnya, saya sering kesusahan menjawab kalau ditanya pekerjaan saya apa sehari-hari. Dikatakan guru, ya boleh. Dikatakan penerjemah, oke juga. Mungkin intinya, saya bisa disebut sebagai pekerja serabutan.

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk ikut proyek paten dosen di salah satu kampus di Samarinda. Kebetulan memang saya pengin banget ke sana sudah sejak berbulan-bulan lalu. Alasannya sederhana:

1. Saya ingin sekali keluar kota

2. Saya belum pernah menginjak tanah borneo

3. Saya suka makan masakan dari laut dan Samarinda punya itu

4. Saya mendengar katanya cowok Samarinda ganteng-ganteng dan punya jakun semua

5. Saya berhasrat besar ingin ketemu Icha; seorang teman blogger dari Samarinda yang mengajarkan saya apa artinya hidup dengan sinema dan pengalaman-pengalaman seru nan saru

Itu saja.

Akhirnya kesampaian juga terjadi di minggu lalu.

Saya berangkat dari bandara Jogja hari Jumat pagi dengan rekan pembantu dosen yang satunya. Sebut saja namanya Mas Diki. Karena penerbangannya pagi, semalam sebelumnya kami sudah ke Jogja duluan. Mas Diki menginap di kos temannya di daerah Kaliurang. Dekat Ring Road utara. Sementara saya menginap di kos Fa (tentang dia, pernah saya ceritakan di sini) yang letaknya di Ring Road selatan.

Ya maklum. Penerbangan ke Balikpapan nggak ada yang langsung dari Solo. Bandara di Solo kan kecil. Sekecil porsi nasi kucing di Jakarta.

Paginya, baru saya dan Mas Diki janjian bertemu di bandara. Namun menjelang flight, Mas Diki nggak ada kabar sama sekali. Sebagai adik tingkat yang baik, tentulah saya sok-sokan bingung. Dari subuh chat saya nggak dibalas. Telpon saya nggak masuk. Ini pasti orangnya masih tidur dan memeluk temannya.

Karena kesal, akhirnya saya spam chat ke orangnya dengan isi pesan yang sama.

“Kamu di mana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?”

Lalu saya masuk ke dalam gedung bandara. Setengah jam setelah saya check in, akhirnya Mas Diki membalas.

“May, sori. Habis subuh aku ketiduran. Ini baru antre check in. Kamu di mana?”

“Udah nyampe Balikpapan.”

“Yang benar?”

“Iya. Ini di balik papan. Papan tulisan keberangkatan alias cepetan ke sini dasar lu kebo tidurnya keenakan kalau telat penerbangan gimana kita bisa digorok pak dosen kan lu yang bawa alat-alat labnya kmprt asdfjkl@#%$^%&^*!!!”

Meskipun dimanyunin habis-habisan, Mas Diki hanya membalas dengan cengengesan. Baiklah. Nanti sampai di Samarinda, akan kutenggelamkan dia di sungai Mahakam. Fufufu ~

Meskipun menggunakan maskapai Lion Air, tapi penerbangan kami tak kurang suatu apa. Sampai di Balikpapan tepat waktu dan bisa mengejar jadwal keberangkatan travel Kangaroo yang telah kami pesan sehari sebelumnya. Barulah perjalanan menuju Samarinda dimulai. Yuhuuu!

--- [] ---

Kami sampai di Samarinda pukul setengah satu. Sesaat sebelum salat Jumat dimulai. Setelah salat dan makan, kami bekerja keras bagai kuda. Pekerjaan di lab kampus selesai kurang lebih pukul setengah empat. Karena saya mau menginap di rumah Icha, akhirnya saya pamit duluan. Mas Diki juga pamit karena malamnya dia harus kembali ke Balikpapan untuk mengejar penerbangan ke Maluku. Kami sama-sama nggak ikut dosen untuk kembali ke Solo karena mau main dulu. Muehehe.

Karena Icha baru selesai kerja sekitar jam limaan, akhirnya saya gabut. Selesai keliling Mulawarman, saya pun meminta rekomendasi tempat menunggu yang enak dan bisa untuk tiduran bentar karena badan saya rasanya rompal kayak mau copot tulang punggungnya. Semalaman niatnya bobo cepet, malah keasikan ngobrol sama Fa. Subuh ke bandara. Sampai Balikpapan langsung ke Samarinda. Di Samarinda langsung bekerja. Sungguh duniawi sekali hamba rasanya…

Icha pun telpon.

“May, nunggu di KFC Hasan Basri aja. Selesai kerja, aku jemput terus kita ke rumahku ya.”

“Oke, Cha.”

Saya berpindah dari kampus ke KFC yang dimaksud Icha via gojek. Sepanjang perjalanan, mas gojeknya menceritakan tentang tempat-tempat wisata di Samarinda dan sekitarnya. Juga beberapa mitos yang harus diketahui pendatang saat berkunjung ke kota ini.

“Saya bukan asli sini, mbak. Saya blasteran.”

Seketika saya terkenyut.

Ah, masa sih? Kan mukanya Indonesia banget. Blasteran dari mana coba.

“Blasteran dari Samarinda dan Tuban, Jawa Timur. Ibu saya Samarinda. Bapak asalnya dari Tuban. Hehehe.”

Sebenarnya saya ingin membalas demikian.

“Oh, hehehe. Saya juga blasteran loh, mas. Blasteran dari sel telur dan sel sperma orangtua saya.”

Namun semua terhenti pada frasa “Oh, hehehe.” karena saya takut masnya menganggap saya mesum. Saya belum bertemu mahaguru mesum saya, Icha Khairunnisa. Masa iya saya mau mesum duluan. Kan nggak lucu.
Credit: Mayang Dwinta on Google Local Guide.

Sampai di KFC Hasan Basri, saya duduk ditemani semut-semut merah yang berbaris di dinding menatapku curiga seakan penuh tanya sedang apa di sini. Menanti Icha jawabku.

Pukul lima sore, Icha datang.

Memakai motor matic.

Pakai jilbab dan kacamata.

Dan sesaat setelah parkir, dia langsung histeris karena melihat saya.

Saya dan Icha bagai sepasang kekasih yang sudah lama dipisahkan laut dan daratan. Setelah berpelukan dan kegirangan di sana-sini, kami duduk sambil memesan float. Tak jauh seperti yang biasa kami bahas di chat, obrolan receh seputar mantannya kembali menghiasi perbincangan di sore hari yang syahdu itu. Uwuwu ~

Icha nggak jauh beda sama di telepon. Bawelnya, ketawanya, semuanya. Cerita tentang mantannya juga.

*digampar*

Setelah ngobrol tentang daleman kami masing-masing, akhirnya kami memutuskan untuk balik. Maunya sih nginap di rumah Icha supaya saya bisa merasakan aura keintiman kamarnya yang biasa ia tiduri. Tapi kami urung. Takut rumahnya Icha roboh. Usai ngobrol dengan orangtuanya, saya dan Icha pamit untuk menuju penginapan di dekat kantornya. Sayangnya, saya belum sempat ketemu Nanda. Adiknya Icha yang cantik itu loh. Pasti kalian yang udah lama kenal Icha tau kan siapa Nanda :(

Sebelum boboan bareng, saya dan Icha makan dulu di salah satu kafe. Samarinda ini beneran banyak banget kafenya. Kayaknya dalam radius seratus meter aja, ada dua kafe yang bersisian atau berseberangan. Meskipun kata Icha lebih besar Balikpapan daripada Samarinda, namun saya mengagumi tata kota tersebut. Samarinda itu… Kota kecil dengan pembangunan yang besar. Khas ibukota provinsi lah.

“Cha, kita nggak nonton nih?” Tanya saya kemudian saat kami sedang makan.

“Mau sih, May. Tapi ini udah malam banget dan film yang tayang udah ada beberapa yang kutonton.”

Iya juga, sih. Meskipun saya penasaran Icha kalau nonton film di bioskop petakilannya kayak apa, namun waktu kami terbatas. Besok saya harus melancong ke lain kota untuk misi menyelamatkan negara.
Credit: Mayang Dwinta on Google Local Guide.

Setelah makan, akhirnya kami memutuskan kembali ke penginapan dan ngobrol-ngobrol mesra aja. Saya udah kenal Icha lamaaa. Tapi baru bisa bertemu saat itu. Kan sayang banget kalau kami nggak menghabiskan waktu untuk berceloteh ria bersama.

Balik ke hotel, kami mengobrol sampai pagi buta. Lebih tepatnya, nyaris subuh. Baru tidur setelah ingat kalau Icha hari Sabtu masih kerja. Huhuhu. Niatnya mau main seharian, tapi hanya bisa memandangi gedung tempat kerja Icha yang ada di depan penginapan. Dikit-dikit saya ngintipin tempat kerja Icha. Anjir, drama sekaliii…

Oke fiks, saya berubah jadi melankolis sejak ketemu Icha.

Di sela istirahat kerja, Icha keluar dari kantornya dan mengantarkan saya ke shelter Kangaroo untuk menuju bandara di Balikpapan. Sebelumnya kami sempat hampir lupa belum foto-foto berdua karena keasikan ngobrol dan waktu yang terlampau sempit.

Oh iya, saya sebenarnya heran dengan diri saya sendiri. Tiap ketemu teman baru pasti hampir kelupaan foto bersama. Kesel saya tuh.

Sesampainya di Awang Long, tempat keberangkatan travel Kangaroo, saya dan Icha berpelukan dan berpisah. Saya balik ke bandara. Icha balik bekerja. Ironi sekali. Padahal saya belum puas ngobrol sama Icha. Padahal saya belum sempat ketemu Nanda. Padahal saya belum sempat ke Tenggarong dan Bontang. Dan padahal-padahal lainnya yang membuat mata kami berkaca-kaca.

*anjiiir, kenapa saya beneran jadi melankolis begini siiih*

By the way, Samarinda itu mendamaikan.

Dengan segala hiruk pikuk dan lekak-lekuk jalannya yang naik turun, Samarinda menawarkan keindahan sungai Mahakam dengan cara yang berbeda. Saya jadi membenci diri saya yang ingin tinggal di sana dan hampir tidak mau pulang. Saat menyeberangi jembatan di atas sungai Mahakam, saya rasanya mau turun dan menghentikan mobil travelnya.

Saya jatuh hati pada Samarinda dan keelokan kotanya yang sering dibilang berdebu bahkan oleh orang Samarinda sendiri.

18 Comments

  1. Secantik2nya Nanda, aqu tetep milih Icha sih. Jeritan Icha lebih ngangenin apalagi kalo lagi nnton film Coco.

    Sya jdi penasaran, knapa dalaman bisa jdi topik obrolan pnting dipertemuan pertama. Adeh.

    Bdw, abis baca cerita ini, jngankan pengen ke Samarinda, pengen ke Samaicha pun aqu mau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah nemu kandidat kakak ipar baru nih. Akhirnya setelah sekian lama...

      Delete
    2. Komentar Agia langsung membuyarkan apa yang ingin saya komentari. Wqwq. Taiq~

      Delete
    3. @Rey: Pepet terus, Rey. Pecut Icha! Pecut!

      @Agia: Kandidat kakak ipar yang sebelumnya siapa, Kang Agia?

      @Yoga: HAHAHAHAHAHAHA BANGKAY.

      Delete
  2. Meskipun menggunakan maskapai Lion Air, tapi penerbangan kami tak kurang suatu apa. <- iniloh kenapaa coba xD

    Gitulah enak ketemu temen yang di chat dan aslinya sama. Pernah ketemu temen di chat bawel bet di aslinya hmm mmm mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm cuma desauan angin yang terdengar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk. Tapi memang kita semua pasti memiliki teman yang bawel di chat namun aslinya pendiam bagai batu.

      Delete
  3. ini enggak ada foto barengnya? gue malah pengen liat. hahaha

    seseru itu ya setelah sekian lama berhubungan hanya melalui ponsel dan bisa bertemu secara langsung. kalo gue kok selalu khawatir ya, pas ketemu takutnya enggak secocok saat d chat. heuheuehu

    pengen juga uy jalan-jalan keluar pulau gitu. keliling pulau jawa sebenernya belum khatam juga sih, tapi kayaknya seru nih pergi ke kalimantan.
    abang gojeknya lucu ya, minta banget dicubit itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mau minta foto bareng, bayar ya, Zi.

      Kalau mau nyubit abang gojeknya boleh banget, beliau masih jomlo kok.

      Delete
  4. HEEY HEYYYY AQ PENGEN KETEMU KALIYAN WAHAI DUOMESUM :(((((

    Kok aku langsung kebayang saat icha kegirangan dan kalian berpelukan waktu pertama kali ketemu di kfc ya hahaha

    Btw, mana nih foto kaliyan berdua may ehe ehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Icha memang seperti aslinya, menggemaskan dan hilang urat kemaluannya. Sama kayak aku, Lan. Kamu nggak tahu kan apa yang terjadi pada KFC Hasan BAsri setelah kedatangan kami?

      Iya.

      KFC-nya masih berjualan sampai hari ini.

      Delete
  5. Wah.. Wah.. What a surprise.
    Ulasan sebagai travelblogger.. Noice :3

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.