Bandara Sultan Aji Sulaiman Sepinggan Balikpapan.

Salah satu impian saya sejak masih ingusan adalah bisa berkeliling Indonesia dengan gratis. Bahkan dibayar. Kayaknya enak gitu jalan-jalan, makan-makan, dikasih uang lagi. Iya. Saya dulu ingin menjadi penerus Bondan Winarno; legenda acara kuliner dan plesiran yang terkenal dengan jargon “maknyus”-nya.

Kalimantan menjadi salah satu pulau yang selalu ingin saya tuju. Keindahan alamnya yang katanya masih hijau--seenggaknya lebih hijau dari pulau lain di Indonesia--membuat saya memasukkan Kalimantan sebagai top list pulau yang harus dikunjungi sebelum mati. 

Kalian pernah tahu Pulau Derawan? Kalau belum, coba gugling deh. Banyak orang yang menyebut Pulau Derawan sebagai Maldives-nya Indonesia. Dan ya, pulau kecil yang luar biasa eksotis itu terletak di Kalimantan. Tepatnya Kalimantan Timur.

Atau kalau ingin berkunjung ke Berau yang terkenal dengan keindahan muaranya, kalian juga harus ke Kalimantan. Tugu khatulistiwa ada di Pontianak, Kalimantan. Ingin ke Floating Market yang dulu masuk di iklan RCTI oke zaman sebelum masehi, ada di Banjarmasin. Sedangkan bagi adrenaline junkie yang hobi manjat-manjat bebatuan, Palangkaraya bisa menjadi destinasi wisata yang tepat guna karena memiliki berbagai macam bukit.

Karena beberapa minggu yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Tanah Borneo tersebut, saya pun gembira bukan kepalang. Kota pertama yang saya tuju di Kalimantan adalah Balikpapan. Sebenarnya bukan untuk jangka waktu lama. Hanya transit di bandaranya karena tujuan utama dari pekerjaan saya adalah Samarinda.

Sepanjang jalan saat menyusuri jalan-jalan di Balikpapan, saya cuma bisa wah-wah aja karena emang bener saya kagum. Tata kotanya bagus, jalanannya bersih banget, dan rapi. Saya ulangi, rapi. Jarang banget saya nemu kota serapi Balikpapan. Padahal dulu saya pikir Balikpapan itu masih ijo-ijo macam belantara. Ehehe. Maafkan.

Saya belum sempat foto-foto dan main di kotanya sih. Beneran cuma transit singkat aja karena udah ditunggu travel ke Samarinda pada saat kedatangan. Jadi nggak sempat menikmati gemerlap ajep-ajepnya Balikpapan yang ternyata udah semegah Surabaya.
How One Man's Courage Changed the Course of History.

Saat melewati salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Balikpapan, saya jadi teringat buku yang pernah saya baca yaitu Nathaniel’s Nutmeg: How One Man’s Courage Change the Course of History. Karangan Giles Milton. Buku tersebut menceritakan kisah kolonial tentang pendudukan pulau-pulau di dunia, salah satunya pulau yang ada di Indonesia.

Sepertinya dulu orang yang pertama datang ke Pulau Kalimantan juga nggak bakal tahu kalau dia jadi orang pertama sebelum adanya buku dan pena untuk mencatat sejarah. Namun tanpa disadari, orang tersebutlah yang mampu mengubah peradaban Borneo hingga sejaya sekarang. Buktinya, Kalimantan yang dulu identik dengan tanah hijau luas membentang, kini berubah menjadi kota dengan gedung-gedung tinggi menjulang. 

Balikpapan sudah bukan kota di balik papan lagi. Balikpapan sudah menjadi salah satu kota terdepan yang ada di Kalimantan.

--- [] ---

Menjelang pulang, saya kembali naik travel dari Samarinda ke Balikpapan. Momen pulang itu menjadi momen pertemuan dengan seorang teman blogger yang konon alisnya nyambung. Sebut saja namanya Yoga Esce. Kenal Yoga sejak 2011, waktu komunitas blogger Kancut Keblenger masih menuju puncak. Gemilang cahaya. Mengukir cita. Seindah asa.

Yoga sempat cinlok dengan mojang Bandung dan menulis buku Senior High Stress. Sebagai salah satu anggota Kancut Keblenger, dulu saya bela-belain nyari bukunya Yoga di Gramedia naik angkot dari rumah karena dedikasi saya yang tinggi.

*yak, boleh memberi applause di bagian ini*
Komentar pembaca di blog Yoga seputar bukunya.

Bertemu Yoga ternyata gampang-gampang susah. Masalahnya, Yoga hanya sekali menyentuh Bandara Sepinggan. Itu pun sebelum direnovasi. Alhasil saat mau ketemuan, kami saling mencari seperti anak ayam yang butuh dinenenin induknya. 

Yoga di kanan, saya di kiri.

Yoga di lantai satu, saya di lantai tiga.

Yoga bilang di dekat shelter travel Kangaroo, saya di samping bapak satpam yang senyumnya geli-geli seperti Om Burhan di sinetron "Taubatnya Seorang Lelaki Gay".
"Ayo, buka celananya!"

Beneran lawak.

Yang orang Balikpapan siapa, yang hafal denah bandara siapa.

Saya pun menerka-nerka Yoga aslinya seperti apa. Sebenarnya yang harus diingat saat hendak ketemuan dengan Yoga adalah satu. 

Alis nyambung adalah koentji. 

Kalau nanti kalian mau ketemuan sama dia, cari aja orang di kerumunan yang alisnya nyambung bagai selat Gibraltar, warnanya hitam pekat, dan tebalnya dua harakat. Itulah Yoga Cahya Putra. Camkan ini.

Setelah pencarian panjang, akhirnya saya bisa menemukan Yoga berdiri dengan memegang ponsel. Sesaat saya berpikir apakah dia sedang menerima orderan fake taxi dari customer yang ada di bandara. Karena saya sudah yakin dengan alisnya, saya pun mendekati Yoga. Perkara salah orang ya urusan nanti deh. Lagian saya udah biasa malu-maluin.

“Yoga?”

“Iya. Tadi nunggu di mana sih?”

“Di atas. Kan kedatangan travel kalau dari Samarinda di atas, Yogs.”

“Oh, kirain sama aja di sini juga. Makanya aku nunggu di sini.”

Tak disangka tak dinyana, Yoga suaranya macho dan serak-serak membahenol banget, saudara-saudara. Beda dengan yang selama ini saya bayangkan saat membaca tulisannya.

Karena saya bingung mau ngobrol di mana yang enak--kan di bandara terbatas itu-itu aja outletnya--maka saya mengajak Yoga ke A&W dan ngebir aja. Flight masih tiga jam lagi. Namun keluar ke tempat lain juga sepertinya tidak cukup waktu. Jadi kami pesan minum dan ngobrol-ngobrol di A&W bandara sampai mulut kami berbusa. 

Berbeda dari keseharian di tulisannya yang ngeri-ngeri bodor, ternyata Yoga orangnya rapi banget. Serapi feed instagramnya yang berisi foto dan kutipan-kutipan manis ala-ala. Terus alisnya. 

Yawlaaa, aqu iri dengki dengan alis Yoga.

Sebagai anggota #TimTanpaAlis, saya hanya bisa meringis saat melihat alis Yoga yang paripurna.

--- [] ---

Obrolan saya dan Yoga pun random. Dari seputar pekerjaannya yang peka deadline, percintaannya yang nyangkut di kubikel sebelah, blog-blogan, Kancut Keblenger, Marvel, dan hal-hal random lainnya yang tidak akan kamu temukan di acara sepakbola. Yoga juga pernah bertemu dengan Icha. Kala itu Yoga jomlo dan mengincar adik Icha yang cantik. Namun sayang, adik Icha sudah memiliki kekasih.

"Dulu pas aku kondangan ke Samarinda bareng teman kantor, aku sekamar dengan tiga orang teman yang gay. Karena aku telat jadi nggak bisa milih partner sekamar."

Oke.

Saat itu saya menduga bahwa Yoga pasti sudah tidak perawan.

Pasti dia perjaka.

"Terus kamu digrepe-grepe, Yogs?"

Seketika saya teringat adegan Om Burhan dan keponakannya di kamar.

"Nggak, aman kok. Aku nggak diapa-apain."

Syukurlah. Yoga nggak diapa-apain oleh ketiga rekan kamarnya meskipun mereka mayoritas dan Yoga minoritas. Padahal kalau mereka mau, dalam sekali sergap, Yoga pasti tidak bisa berkutik. Kalau Yoga menolak, mereka juga pasti punya bermacam cara untuk memaksa dan membungkam Yoga. Membuangnya ke sungai Mahakam, misalnya.

Saya curiga. Jangan-jangan alis Yoga penyebabnya. Selain berperan sebagai ornamen yang otentik, alis nyambung Yoga juga merupakan pembawa keberuntungan dan tolak bala.

Gokil.

4 Comments

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.