Jodoh

Jodoh

Bahkan dosen master saja tidak tahu jawaban yang benar jika ditanya apa itu jodoh. - Bapak sopir gocar tempo hari
Dulu sebenarnya udah pernah mereview buku Jodoh ini di Twitter dengan ulasan seupil. Karena beberapa hari ini merasa kangen banget sama blog dan nulis-nulis berfaedah, saya memutuskan untuk menulis ulasan yang sedikit lebih panjang di sini. 

Urusan jodoh-jodohan memang masalah yang ribet-ribet tumpul. Kalau nggak dapat-dapat, dikatain tumpul. Kalau dapat tapi bikin pusing tujuh turunan, dikatain ribet. Mulut tubir manusia memang tiada habisnya kalau urusan ngatain masalah hidup orang lain. 

Sama seperti cerita pendek yang diusung dalam buku berjudul Jodoh karya A. A. Navis. A. A. Navis memang terkenal dengan cerpen Robohnya Surau Kami. Namun ternyata penulis humoris ini juga menulis hal-hal seputar jodoh. Dan semua cerpen yang ada di dalam bukunya--kendati dituliskan bertahun-tahun yang lalu--relevan dengan kasus jodoh-jodohan di zaman sekarang.

Meskipun latar waktunya terjadi bertahun-tahun yang lalu dan latar tempatnya berada di tanah Minangkabau, cerita dalam antologi Jodoh tetap memiliki hubungan yang signifikan dengan beberapa kejadian saat ini. Kadar korelasinya juga cukup tinggi.

*tsaaah berat bat bahasanya kek bab empat skripsi nak sains*

Dari buku ini juga ketahuan bahwa--sejak zaman dulu--oligarki orangtua dalam menikahkan anaknya selalu berperan. Sekarang anak muda kan sosoan pengin nikah dengan budget rendah dan sederhana. Cuma ngundang teman akrab aja di kebun belakang rumah dengan musik hiburan ngueng-ngueng dari nyamuk yang seliweran. Tapi gengsi dan relasi orangtua biasanya tidak menyetujui hal tersebut. Maunya mewah tipis-tipis sebagai ajang eksistensi di strata sosial. Nah, di buku A. A. Navis juga sudah menyisipkan budaya tersebut dari masyarakat Minangkabau. Jadi memang tema jodoh ini relevan sepanjang masa. 

Bagaimana tipikal cerita pada antologi Jodoh karya A. A. Navis ini, May?

Cerpen-cerpen dalam buku A. A. Navis yang ini mengisahkan beberapa kisah variatif yang menguras emosi karena hampir semua ceritanya mengandung twist tak terduga. Tapi semua tulisan sebenarnya mengarah pada satu konsep bahwa jodoh itu rahasia. Ketika pembaca sudah digiring ke arah klimaks cerita dan berpikir “Oh iya iya, aduh, kasian tokoh utamanya”, A. A. Navis lalu membalikkan perasaan dengan akhir cerita yang merosot kayak roller coaster. Lalu kita akan merenung, diam, dan baper sendiri.

Bagaimana dengan latar cerita yang mendasari buku ini, May?

Dengan latar waktu antara tahun 1950-1970, A. A. Navis menggambarkan urusan jodoh-jodohan yang belum terkontaminasi gawai. Semua terjadi karena konflik internal dan eksternal tokoh, keluarga, dan lingkungannya. Beda dengan cerita jodoh-jodohan macam sekarang yang kenalnya via digital, pas ketemu zonk, putus, dan balik ke siklus awal.

Hikmah paling penting dari buku ini apa sih, May?

Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah jodoh bukan sebatas ikatan dan hubungan. A. A. Navis tidak mengerucutkan konsep jodoh pada dua hal tersebut. Jodoh adalah laki-laki dan perempuan. Dalam beberapa deskripsi cerita, A. A. Navis menggambarkan bahwa jodoh belum tentu “terjadi” pada sepasang kekasih maupun suami istri.

Bahasa yang digunakan di buku ini berat nggak, May?

Nggak kok. Yang berat adalah rinduku padamu. Eaaa.

Bahasa yang digunakan dalam kumpulan cerpen ini adalah Bahasa Indonesia baku yang sedikit menyisipkan bahasa ibu---bahasa sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat Minangkabau. Jadi bukan bahasa nak-nak kewl dari Jaksel.

Ngomong-ngomong, sebagai penutup postingan, berikut saya sertakan lagu tentang jodoh-jodohan yang dapat menemani pagi hari kalian semua. Selamat menikmati!


"A team squad tersolid dunia akherat"
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

2 Comments:

  1. Kesimpulan: jodoh itu udah ada yang ngatur. Cuma manusianya aja yang suka susah diatur. Huhu

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.