Hidup Seperti Larry (Part 1)

Minus Andika dan Agung.


Tahun 2015 adalah tahun yang penuh pembelajaran buat saya. Saya jatuh ke lubang yang paling dalam, di tahun itu. Saya terbang ke langit yang ada di atas langit, juga di tahun itu. Namun tahun 2015 jugalah yang memberikan saya keluarga kecil nan penuh warna. Tepatnya mereka bersembilan itu, teman-teman KKN dari berbagai daerah dan jurusan.

Pekan pertama sebelum penerjunan KKN, mahasiswa di kampus saya dibagi-bagi menjadi berpuluh-puluh kelompok. Kami lalu diminta duduk sesuai dengan kelompok masing-masing. Sebagai mahasiswa dari jurusan yang dipandang relijius, teman-teman baru saya memandang dengan segan saat pertama kali berkenalan. Apalagi saat itu saya memakai rok panjang dan kemeja putih kayak mbak-mbak SPG obat kuat.

*fufufu, mereka belum tahu aja aslinya gimana*

Setelah saling pandang dan malu-malu mau, akhirnya ada yang membuka sesi perkenalan. Sebut saja namanya Agung. 

“Gaes, kenalan yuk, gaes.” Agung yang kalau ngomong selalu membasahi lawan bicaranya itu mulai mengulurkan tangan.

“Aku Agung. Anak Seni Rupa murni. Setengah jomlo. Lelaki tulen. Pernah main Plurk, MySpace, Friendster, mxit, mIRC, dan Nimbuzz. Tapi belum pernah mainin hati perempuan. Hehehe,”

Kami bersembilan terkikik mendengar basa-basi Agung yang memang basa-basi banget.

Andika, laki-laki kedua yang ada di kelompok kami lantas melanjutkan perkenalan.

“Aku Andika. Pendidikan Teknik Mesin 2012. Dari Jakarta. Masih ada keturunan China.”

Seketika kami ternganga. Biasanya kan orang ibukota--apalagi keturunan China--ganteng-ganteng klimis gitu. Tapi Andika benar-benar berbeda. Matanya sipit sih. Tapi kulitnya bersisik dan gosong nggak nanggung-nanggung.

“Kenapa? Nggak percaya? Aku emang tinggal di Jakarta sekarang. Tapi lahir dan sempat besar di Wonogiri. Yang masih ras China itu kakek dari kakek kakekku,”

BANGKAI.

Lagi-lagi semua tertawa nggak nyantai.

Setelah itu perkenalan dilanjutkan pada Mbak Tety (satu-satunya angkatan 2011), Amalina, Farit, Lovi, Bekti, Putri, Clara, dan saya sendiri. Saya masih ingat banget tatapan anu mereka saat saya memperkenalkan diri.

Men, saya dikira ustazah!

Baiklah.

Di beberapa pembekalan KKN berikutnya, saya ganti kostum. Pakai jeans semi ketat, kemeja lengan panjang gombrong-gombrong, jilbab yang disampirkan di kanan dan kiri pundak. 

Jadi lakik bet stailnya.

Namun lagi-lagi mereka masih memandang segan. Bukan dikira ustazah lagi. Melainkan preman pasar yang baru lepas dari lapas. Sialan sekali.

Setelah penerjunan KKN di desa Manjung, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, kami bersepuluh tinggal serumah. Manjung itu letaknya di lereng gunung Lawu. Jadi bisa dibayangkan dinginnya seperti apa. Maka beberapa hal yang menjadi tradisi kami berikutnya adalah:

1. Nyetok jahe, kopi, teh, dan minuman seduh-seduhan lainnya.

2. Nyetok sambal botolan buanyak buanget. Merek apapun diterima.

3. Nyetok cabe. Mulai cabe merah, cabe rawit, sampai cabe-cabean.

4. Nyetok mie instan kuah dari berbagai merek dan varian.

5. Nyetok sarung dan selimut yang banyak sampai minjam punya Pak Sekdes dan Pak Kades (dan selimut istrinya salah satu pamong desa--yang minjem Andika sibgst sambil godain beliau).

Tiap pagi setelah bangun, bersih-bersih rumah, masak sarapan, dan nyiapin agenda seharian sesuai program kerja, kami akan menyempatkan diri untuk berkumpul dan anget-angetan di beranda posko. Old but gold. Kegiatan itu adalah hal yang paling saya rindukan dari kelompok KKN. Ngumpul sambil ngopi, ngeteh, atau ngejahe sering menjadi ajang ghibah kelompok KKN lain dan mitos-mitos mistis di desa yang tidak sedikit jumlahnya. 

Xixixi.

Apalagi saat pertama ke Manjung. Beuh. 

Pada malam pertama kami diajak ke salah satu peresmian musala baru di sana. Jaraknya sekitar dua kilometer dari posko. Namun motor di posko baru ada dua. Yang tiga lainnya belum dibawa karena pihak kampus membatasi motor yang dibawa saat penerjunan dan disarankan untuk diambil kemudian. Terutama untuk lokasi KKN yang tidak terlalu jauh dari kampus.

Mulanya saya yang disuruh duluan karena masih dianggap ustazah KW. Andika, Agung, dan Lovi akan berangkat bersama saya naik motor agar duluan sampai dan ikut acara di sana dari awal. Sisanya jalan kaki dan nyusul. Namun begitu keluar dan melihat bahwa medannya gelap gulita tanpa penerangan--dan lewat jembatan yang bau kemenyan, maka saya diminta turun untuk menemani lima orang perempuan yang jalan kaki. Sementara yang berangkat naik motor adalah Andika, Agung, Lovi, dan Farit. Andika berboncengan dengan Lovi. Sementara Agung berboncengan dengan Farit.

Iya. Teman-teman saya penakut semua.

Yang tadinya saya diminta duluan sampai musala naik motor karena dirasa paling alim, malah saya disuruh turun dan menemani yang berjalan kaki karena dirasa paling mampu mengusir setan.

*berasa bawang putih geprek aqutu*

Sampai di tikungan dekat kuburan dan jembatan yang mistis itu, ada pos ronda. Teman-teman perempuan yang telah berjalan satu kilometer mulai kecapekan. Mereka meminta berhenti sebentar di pos tersebut dan ingin dijemput bergantian saja menggunakan motor. Medannya benar-benar naik turun dan beberapa teman yang mengenakan heels mulai lecet kakinya.

Namun Andika dan Agung entah mengapa nggak bisa dihubungi ponselnya. Jawabannya selalu dialihkan.

Akhirnya kami duduk tanpa kepastian di pos ronda karena dipaksa bagaimana pun juga, beberapa teman saya sudah tidak mau berjalan lagi. Beberapa saat kemudian, ada dua--atau tiga--ibu yang berjalan ke arah jembatan mengenakan baju putih-putih. Kami mengira bahwa ibu-ibu tersebut akan menghadiri acara yang sama. Namun saat dipanggil, mereka tidak menoleh. Saat melewati jembatan, saya iseng melihat dan mereka… hilang.

Ehe.

Saya kembali dan masih diam. Tidak langsung bercerita pada teman-teman yang lain. Sementara Putri kakinya makin kram sebab lecet dan dingin. Akhirnya saya mengusulkan untuk pulang saja. Apalagi Clara katanya melihat sesuatu bergerak melayang dari arah rumah yang berada di samping kuburan.

Horor anjir.

Kami pun berjalan pulang dan mampir di rumah istrinya Pak Sekdes yang rumahnya ada di samping kiri posko. Ibu--panggilan sayang kami untuk istrinya Pak Sekdes--tidak berangkat ke musala karena sudah diwakili oleh bapak--panggilan akrab kami untuk Pak Sekdes.

Setelah curhat tentang kejadian barusan, ibu terkekeh pelan dan memandangi kami satu per satu. Namun beberapa saat tawanya lenyap ketika ada suara gemerisik di halaman depan.

“Sebenarnya…” Ibu memulai ceritanya.

“...rumah di ujung jalan yang dilihat Clara tadi milik seorang anggota DPRD Magetan. Istri beliau adalah seorang sinden.”

GLEK.

Bekti menelan ludah. Entah ludahnya sendiri atau ludahnya Agung yang tadi muncrat saat berpamitan padanya.

“Dua hari sebelum kalian kemari, sinden tersebut gantung diri. Tembok langit-langit yang dipakai gantung diri akhirnya dipugar dan dibuang di sungai yang ada di bawah jembatan.”

Putri seketika mimisan.

Ibu lalu menceritakan kronologi lengkapnya pada kami dan kami hanya bisa berpandangan dengan rasa getir. Satu jam kemudian, bapak pulang bersama dengan Andika, Agung, Farit, dan Lovi. Mbak Tety mengulangi cerita tentang kejadian yang kami alami dan cerita ibu barusan. Mereka berempat pun sama bengongnya.

Usai ditenangkan oleh ibu dan bapak, akhirnya kami bersepuluh memberanikan untuk pulang ke posko sambil diam. Tanpa dikomando, Agung dan Andika mengambil kasur-kasur kami dari dalam kamar dan menempatkannya di ruang tamu untuk tidur bersama malam itu. Saya dan Mbak Tety ke dapur untuk membuatkan minuman hangat.

Sebelum tidur, saya mencoba berkelakar untuk memecah kesunyian.

“Hei… Kita harus hidup seperti Larry. Dia kan nggak takut apapun. Flying Dutchman aja gagal nakut-nakutin dia. Iya kan? Hahaha.”

Mereka diam memandangi saya dengan hambar.

“Hehehe. Hidup seperti Larry! Yeay!”

Masih hening.

“Put? Dik? Gung? Lin? Rit? Lov? Bek? Clar? Mbak Tet?”

Hening tujuh turunan. Lalu terdengar suara desau angin dan pintu belakang rumah yang seperti dibanting. Padahal pintu tersebut sudah dikunci tadi sebelum ngumpul di ruang tamu.

Lalu Mbak Tety berkata dengan amat sangat pelan.

“May, mending kamu mimpin doa deh daripada ngejokes. Yuk, ngantuk nih.”

Saya diam. Mereka bersembilan diam. Lalu kami berdoa bersama. Meskipun nyatanya, tidak ada yang tidur barang seorang pun sampai pagi tiba.
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

7 Comments:

  1. I've told you thousand times. Anda itu garing.

    ReplyDelete
  2. Ini saya nggak tahu harus takut apa ketawa. Takut ketika mau bilang, "Kok ceritanya nggak serem sih, May? Yang barusan horor bukan, sih?" :(

    Terus ketawa karena gagal bikin lelucon. Ya Allah, saya tertawa di atas kegagalan orang saat melucu. Padahal, sadar kalau itu emang susah. XD

    Bentar, Larry itu yang udang dan hobi berolahraga kan, ya?

    ReplyDelete
  3. Posko ne misah sendiri dari rumah warga gitu, May? Untung dulu punyaku jadi satu rumah, jadi kalau si empunya rumah punya makanan atau jajanan gitu, kita yang KKN bakal ikut kebagian. Mulyo banget, kan? Tapi ya itu, akses ke tempat KKN ku, yang bikin sedih. Jalane masih nggronjal-nggronjal tanpa aspal :(

    *Ini lagi mbayangin kalau aku ikut denger jokes garingmu itu secara langsung* XD

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.