Tiga Ciri Khas Ika Natassa Dalam Menulis Buku

The Architecture of Love.

Critical Eleven dan The Architecture of Love adalah dua buku karya Ika Natassa yang pernah saya baca beberapa waktu lalu. Ika Natassa adalah salah satu novelis yang menurut saya cerdas dan inovatif. Pengembangan cerita yang dituliskannya rapi dan sistematis banget. Bahkan bukunya yang berjudul The Architecture of Love itu ditulis berdasarkan polling pembaca melalui Twitter. Gokil, kan?

Jadi hampir setiap tingkah laku tokoh yang ada di dalamnya merupakan hal yang diinginkan pembaca. Melalui polling yang diselenggarakan secara longitudinal (beberapa bulan secara berkala), Ika Natassa mengembangkan draf novel tersebut dengan apik dan luwes. Baru kali ini saya menemukan penulis asli Indonesia yang membawa ide dan nuansa baru dalam menulis.

Dari dua novel yang telah saya baca, ada beberapa hal dari cerita Ika Natassa yang terasa otentik. Sebenarnya di awal saya nggak terlalu ngeh. Tapi setelah membaca salah satu novelnya sekali lagi, maka saya tahu ada tiga ciri khas utama yang ditonjolkan Ika Natassa dari kisah yang ada pada kedua bukunya.
Critical Eleven.

1. Cerita tentang kehidupan orang dewasa

Cerita yang ditulis Ika Natassa berhubungan erat dengan kehidupan orang dewasa. Alih-alih menuliskan cerita ringan yang mudah dipahami konfliknya, Ika Natassa membawa ciri khas tersendiri dengan menyoroti hubungan antar laki-laki dan perempuan dewasa. Bisa dalam konteks ikatan. Bisa tidak. Seperti kisah Ale dan Anya dalam Critical Eleven. Mereka memiliki ego dan enigma masing-masing yang membuat keduanya terjebak dalam ikatan kelabu.

Anya yang keguguran anak pertamanya dan merasa “disalahkan” oleh Ale dan merenggangkan hubungan mereka. Tidak ada good night kiss, tidak ada morning sex, tidak ada pembicaraan sarat emosi yang melayang di udara. Semua dingin. Dan keadaan kilas balik yang disajikan Ika Natassa dalam novel ini mampu menunjukkan bahwa konflik orang dewasa ternyata jauh lebih rumit daripada remaja. Mungkin di remaja memang bisa terjadi galau-mewek berkepanjangan. Tapi masalahnya lekas selesai dalam hitungan hari. Sementara pasangan dewasa tidak akan banyak drama. Tapi proses baikannya bisa hitungan bulan.

2. Konflik yang diangkat selalu sarat emosi

Sentimentil. Itulah satu kata yang menurut saya mampu mengdeskripsikan kedua novel Ika Natassa yang sudah saya baca. Critical Eleven membawa kisah rumah tangga Ale dan Anya yang dingin karena kegagalan hadirnya buah hati. Sementara The Architecture of Love menyajikan hubungan River dan Raia yang mengalami patah hati di masa lalu. Jika dipikir-pikir, hampir semua masalah yang terdapat dalam kedua bukunya sebenarnya mirip. Hanya saja Ale dan Anya telah menikah. Sementara River dan Raia belum. Mereka masih dalam level healing moment dan berdamai dengan masa lalu.

Kisah kelam River tentang istri dan calon anaknya yang terus menghantui pria itu membuatnya takut dan cenderung menutup diri dari orang lain. Sementara Raia bercerai dari suaminya dan lari ke New York karena terkena writer’s block. Keduanya bertemu dan memulai hubungan ya-tidak-ya-tidak yang membuat pembaca gemas. Sementara perasaan saya juga diaduk-aduk oleh perkataan Ale yang menyudutkan Anya saat perempuan itu keguguran. Berat? Iya. Konfliknya memang berat.

3. Tokoh-tokoh yang berkarakter

Latar belakang tokoh-tokohnya selalu berasal dari orang-orang yang sudah bekerja dan berusia matang. Ale merupakan pekerja tambang minyak di laut lepas. Pulang setiap akhir minggu atau dua minggu sekali. Sementara Anya adalah wanita karir yang terbang ke mana-mana untuk bertemu klien dan mengurus ini itu. Ale digambarkan sebagai sosok pria tidak romantis yang apa adanya, namun tegas dan keras kepala. Sementara Anya adalah wanita independen yang sedikit egois. Karakter keduanya semakin membuat rumit konflik yang ada dalam cerita.

Sedangkan pada novel The Architecture of Love, Raia digambarkan sebagai sosok penulis novel yang bebas dan ceria. Yang selalu dewasa dalam menyikapi permasalahan hidupnya. Namun begitu ia bertemu River yang seorang arsitektur, Raia berubah menjadi seumpama remaja yang sedang jatuh cinta. Sikap dingin dan acuh River justru membuatnya penasaran dan menyukai laki-laki itu.

Sebenarnya karya Ika Natassa ada banyak. Banget. Tapi saya belum sempat membeli lagi. Nanti deh, kalau benar-benar ingin membeli bukunya Ika Natassa, saya mau melakukan riset pasar dulu. Saya bosan dengan cerita cinta-cintaan yang memiliki karakter hampir sama. Kisah Raia-River menurut saya hampir mirip dengan kisah Anya-Ale. Bedanya hanya terletak di latar belakang kehidupan tokoh dan konflik yang muncul. Sisanya, persis.

Menurut kalian, bukunya Ika Natassa ada yang bertema beda nggak? Kalau ada rekomendasi dengan tema berbeda, sepertinya saya akan segera membelinya akhir pekan ini.
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

2 Comments:

  1. hatinya sedang berbunga bunga nih suka dengan cerita cerita cinta gini.. . tapi menyenangkan juga sih apalagi hal yang pernah kita alami gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya udah baca lama. Dan saya sendiri lebih suka thriller daripada cerita cinta. Hehe.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.