Sepotong Senja untuk Seno Gumira Ajidarma

Sepotong roti untuk kekasihku.

Salah satu tema paling umum yang paling sering muncul di karya-karya literasi adalah senja. Siapa yang tidak menyukai senja dan segenap keindahan jingganya? Meskipun orang-orang di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia mungkin mengutuki momen tersebut - bahkan beberapa orang membenci senja karena setiap ia datang selalu bertepatan dengan momen-momen jam pulang kerja yang penuh kemacetan - senja tidak bisa dipisahkan dari semua filosofi dan intuisi.

Barangkali dasar inilah yang digunakan Seno Gumira Ajidarma dalam menulis buku yang satu ini. Sepotong Senja Untuk Pacarku.

Seno Gumira Ajidarma berkontemplasi tentang Sukab dan dunianya. Dengan nekat dan tekad bulat, Sukab mencuri semburat senja dari langit dan lari membawanya untuk kekasih tercinta. Gila memang. Pembaca diperdaya dengan narasi-narasi klasik yang mengatakan bahwa senja tersebut dimasukkan ke dalam amplop. Kurang ajar. Tapi permainan kata dalam buku ini justru berhasil membuat saya jatuh cinta pada sosok Alina. Perempuan yang dibawakan senja oleh pacarnya.

Namun sial, tukang pos yang membawakan senja untuk Alina ternyata tidak dapat dipercaya. Karena rasa penasaran, tukang pos itu justru membuka isinya. Membuat surat Sukab yang berisi senja baru sampai ke tangan pemiliknya sepuluh tahun kemudian.

Kalau dipikir-pikir, buku ini memiliki judul paling gombal yang pernah saya baca. Sepotong senja untuk pacar. Hm. Kenapa nggak sepotong roti untuk pacar? Kan lebih mengenyangkan. Senja buat apa? Dinikmati berjam-jam pun nggak bikin kenyang. Tapi pikiran Seno Gumira Ajidarma memang out of the box. Alih-alih mempersatukan Sukab dan Alina dengan perjuangannya mencuri senja, penulis yang satu ini justru mengarang cerita "romantis" dengan versi yang lain. 

Ada 12 cerita pendek lain yang ada di dalam buku ini. Salah satu yang paling membuat saya terngiang-ngiang adalah Hujan, Senja, dan Cinta. Percayalah, cerita ini tidak seklise kedengarannya. Dalam cerita ini, dikisahkan seorang laki-laki yang setia pada perempuannya sampai mati. Tiap kemana pun si perempuan melangkah, hujan mengguyurnya. Hujan tersebut adalah tanda cinta si laki-laki yang setia menunggunya. Daripada menikmati filosofinya, si perempuan justru jengkel dan marah-marah karena tiap keluar rumah harus kebasahan. Absurd memang. Dan seperti tidak masuk akal. Tapi semesta penulis cerita kan, selalu suka-suka. Justru cerita aneh begini yang menarik hati (sebagian) pembaca.
Tiada ojek hari ini. Tiada ojek kemarin.

Sementara Sukab dikejar-kejar polisi karena mencuri senja dari muka bumi, Seno Gumira Ajidarma kembali menulis esai tentang kehidupan urban di Jakarta melalui buku Tiada Ojek di Paris. Saya menemukan buku ini di Gramedia dan langsung jatuh cinta pada tulisan kritisnya tentang kehidupan masyarakat perkotaan di Indonesia. Terutama Jakarta. Di sini, Seno Gumira Ajidarma memaparkan pikiran-pikiran kusutnya tentang keseharian hidup di ibukota yang sarat panas, macet, dan sampah.

Dari buku ini, dapat disimpulkan bahwa Seno Gumira Ajidarma adalah pengamat yang baik. Meskipun kadang ia turut terjun langsung untuk meneliti isu-isu sosial yang ingin dipaparkannya, Seno Gumira Ajidarma juga sering menulis dengan hasil observasi lapangan yang dilakukannya tanpa sengaja. Menarik jika mencermati gaya penulisannya yang santai tapi tetap menohok di sana sini. 

Salah satu esai dalam buku ini yang berjudul Manusia Jakarta, Manusia Mobil (hlm. 21). Esai ini menggambarkan dikotomi tempat tinggal masyarakat di Jakarta. Menurutnya, manusia di Jakarta memiliki 3 tempat tinggal. Rumah, kantor, dan mobil. Yang ketiganya memiliki fungsi saling berkebalikan. Rumah bukan menjadi rumah, melainkan kantor. Sementara mobil menjadi rumah. Dan kantor menjadi mobil. Bingung? Iya. Saya juga.

Lalu tulisan yang berjudul Zebra Cross (hlm. 161). Esai ini menceritakan tentang bagaimana hak pejalan kaki di Indonesia benar-benar disisihkan. Kalau bisa nih, seharusnya kita menggugat pemerintah untuk membuat atau merevitalisasi hukum tentang pejalan kaki dan penyeberang jalan. Tidak semua spot di Jakarta memiliki jembatan penyeberangan. Maka menyeberang di zebra cross masih menjadi solusi di beberapa tempat di Jakarta. Herannya, tiap ada orang yang akan menyeberang di zebra cross, justru pengendara kendaraan bermotor menglakson mereka keras-keras. Ngeselin kan. Dikata jalanan milik moyang mereka apa? 

Satu lagi. Jika biasanya kita mengenal istilah uang tutup mulut, maka di buku ini, Seno Gumira Ajidarma menceritakan tentang Uang Dengar (hlm. 102). Salah satu kebiasaan orang urban yang tinggal berdekatan. Misalnya begini. Ada keluarga yang sedang mencari kontrakan. Saat telah menemukan, keluarga tersebut akan membuat kesepakatan dengan pemilik kontrakan dan membayarnya. Usai transaksi selesai, tetangga samping kontrakan tersebut biasanya akan datang ke empunya rumah dan meminta uang. Namanya uang dengar. Apa faedahnya tetangga tersebut? Dan apakah ia benar-benar mendengar keseluruhan isi kesepakatan transaksi? Tentu tidak. Dan anehnya, di Jakarta, kerap terjadi hal seperti ini.

Saya belum membaca buku-buku Seno Gumira Ajidarma yang lain. Tapi sudah masuk reading list sih. Meskipun begitu, dua buku ini saja telah berhasil merebut hati saya. Tulisannya ringan tapi menyentil. Seno Gumira Ajidarma berhasil membuka mata saya tentang hidup di kota besar dengan kacamata yang berbeda. Meskipun toh saya sendiri tinggal di Solo, kota kecil yang nggak ada besar-besarnya.
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

3 Comments:

  1. ya kalau kecil emang nggak besar, mbak. sama kayak kalau dikit nggak banyak. udah serius baca dari atas, pas selesai malah kesal.

    ReplyDelete
  2. Sewaktu minjem punya temen, sebagian cerita di buku Sepotong Senja itu sungguh bikin saya bingung. Terlalu absurd gitu. Pesannya nggak sampai juga. Mungkin karena dulu saya masih miskin referensi bacaan. Wqwq. Nggak tau, sih, kalau baca ulang sekarang bisa menikmatinya atau sama saja.

    Dulu saya kira Tiada Ojek di Paris itu bukunya selebtwit. Gara-gara ada salah satu buku yang pakai kata "ojek" bikinan selebtwit. Ternyata SGA toh. Saya suka esai yang bagian tua di jalanan itu. Bikin merenung, tapi kadang juga menyebalkan sebab bikin mengeluhkan nasib yang udah nyaman tinggal di Jakarta. Hm~

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.