Perjalanan Rasa

Perjalanan Rasa.

Inilah perjalanan rasa. Resapilah setiap episode kehidupan yang pernah kita lalui. Aku ingin bertamu ke hatimu dan memulai sebuah percakapan kecil yang barangkali tak biasa: berbahagialah seperti anak-anak. Waspadalah seperti kali pertama belajar berjalan. Jadilah air hujan yang membawa kehidupan baru bagi tanah-tanah yang kering. Jadilah matahari yang berani terbit dan siap untuk tenggelam. Jadilah seseorang yang membuat dunia jadi berbeda. Jadilah dirimu sendiri. Kita bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa, sampai kita mewakili pikiran dan perasaan kita sendiri! - Perjalanan Rasa

Fahd Djibran, atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama lahirnya yaitu Fahd Pahdepie, merupakan seorang penulis kenamaan yang menerbitkan belasan buku. Salah satunya yang paling diingat banyak orang adalah bukunya yang berjudul Hidup Berawal Dari Mimpi (2011) dan Tak Sempurna (2013). Dua buku yang merupakan karya fiksi-musikal yang dibuatnya bersama dengan Bondan Prakoso and Fade2Black.

Kalau diamati, Fahd selalu mengangkat cerita dari tema ringan sehari-hari yang tidak jauh dari tema kehidupan. Kalau membaca buku Fahd dalam kondisi letih, sebaiknya sediakan tisu sebanyak-banyaknya karena tulisannya cenderung melankolis. Ada yang gelap juga. Tapi lebih banyak yang melankolis. Kalau kalian pecinta tulisan Nicholas Sparks dan Jane Austen, tulisan Fahd ini sedikit banyak akan menyentil romantisme dan sisi emosional kalian seperti kedua penulis novel tersebut.

Ada tiga buku Fahd Djibran yang saya miliki. Yang pertama adalah Perjalanan Rasa. Sementara yang kedua adalah A Cat in My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa. Dan yang terakhir adalah Tak Sempurna. Ketiga-tiganya punya magnet tersendiri yang membuat pembaca merasakan emosi Fahd saat menuliskan pikiran-pikirannya.

Perjalanan Rasa memuat tulisan-tulisan pendek yang di tiap akhir tulisannya merupakan kata pembuka di tulisan berikutnya. Ada tulisan tentang ibu, ayah, keluarga, dan hal-hal ringan yang sering kita remehkan sehari-hari. Hampir semua tulisannya mengandung makna tersirat yang sepertinya dialami sendiri oleh diri penulis. Salah satu tulisannya yang berjudul Ayah selalu berhasil membuat saya menangis sesenggukan.
A Cat in My Eyes.

Beberapa cerita pendek di A Cat in My Eyes bahkan membuat kita membayangkan deskripsi kejadian yang sedang diceritakan oleh Fahd. Salah satunya saat ada cerita tentang orang yang pup di halaman rumah seorang pemuda. Dia mengutuk marah karena bau dan bentuknya yang tidak manusiawi. Kurang ajar sekali, bukan? Tapi cerita-cerita khas yang “Fahd Djibran banget” inilah yang membuatnya mudah dihafal oleh banyak pembaca (saya sendiri malah mengingat bagian absurd dari ceritanya).
Tak Sempurna.

Sementara buku Tak Sempurna berhasil menyita perhatian saya karena Fahd menuliskan fenomena tawuran remaja dengan cara yang sungguh berbeda. Masih terbayang betul rasa ngilunya saat Fahd mendeskripsikan kaki tokoh utama yang dilindas truk angkut barang karena berlari menghindari kejaran polisi usai tawuran. Namun gelap kisah yang ditulis di buku Tak Sempurna tetap diimbangi dengan kisah kasih di sekolah ala abege yang baru mengenal cinta. Si perempuan tidak menyukai lelakinya tawuran. Namun akhirnya si lelaki terlibat juga sampai cacat. Apalagi, kalau tidak salah, buku ini dulu terbit di tahun 2013. Saat ada beberapa kasus tawuran pelajar di Jakarta yang sampai menghilangkan nyawa seorang siswa laki-laki (tapi saya lupa namanya). Ia meninggal dengan luka tikaman di dada.

Melihat efek yang ditimbulkan usai membaca ketiga bukunya, sepertinya saya akan berburu buku-buku Fahd Djibran yang lain. Kadang memang orang harus ditampar dulu melalui sebuah tulisan agar kembali pada kodrati yang dimilikinya. Iya, kembali jadi manusia.

Dan tulisan Fahd Djibran memang berhasil memanusiakan saya kembali.
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

10 Comments:

  1. Sebelumnya bumay bukan manusia ya? Terus apa? Kucing? Atau bumay adalah orang yang pup di halaman belakang seorang pemuda? Hm, menarik untuk dikupas. Pinjam pisau.

    ReplyDelete
  2. May, baca bukunya Fahd Djibran juga ya?
    Saya juga. Bahkan buku novel pertama yang saya baca dan bkin bkin suka baca novel adalah bukunya Fahd, yg judulnya Tak Sempurna. Yg kmu tulis diatas itu.

    Kebetulan dlu msih suka2nya sama lagunya Bondan and Fade2Black. Pas tau ada bukunya jadi tertarik buat baca. Buku sama lagunya sama2 keren.

    Tak sempurna versi novel mnurutku berhasil mengkritik soal sistem pendidikan kita yang sedang tidak baik2 saja. Yg cman sya inget klo gak salah soal komentarnya tentang rumah sakit. Ktanya, kenapa rumah sakit itu harus dinamakan sakit? Itu yg juga sering kepikiran smpe skarang setiap ngeliat rumah sakit.

    Dan yg paling nyeseknya itu sih. Yg pas kakinya hrus diamputasi :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku baca banyak bukunya Fahd Djibran aka Fahd Pahdepie, Rey. Semuanya bagus-bagus. Nggak kayak penulis sebelah. *digampar*


      Iya, bagian yang paling aku ingat juga pas diamputasi itu. Ngilu.

      Delete
  3. Eh, gue baca tuh yang Tak Sempurna. Tentang anak sekolahan tauran kan? Gilaaa. Jaman kapan itu gue bacanya. Waktu itu asal ambil aja, nggak ngeh siapa penulisnya. Ternyata orang ini. :p

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.