But Too Young to Die for Love.

Kalau ngomongin cinta-cintaan, sepertinya tidak akan ada habisnya. Iya. Makan aja kalau kita nggak cinta sama setiap suapannya, rasanya jelas akan hambar. Meskipun cinta datang dengan kadar dan cara yang berbeda (dan pada obyek yang berbeda), ia harus tetap dirayakan. Entah dengan kegembiraan. Entah dengan kesedihan. Bisa melalui pertemuan maupun perpisahan. Kompleks.

Karena ada banyak cara dalam merayakan cinta, sekarang saya mau ngomongin beberapa novel cinta lintas generasi. Ada yang teenlit. Tipikal jatuh cinta remaja yang agak - bahkan cenderung - menye-menye dan penuh drama. Ada kisah cinta dewasa yang saling menguatkan. Cerita cinta sarat konflik yang saling sambung dengan berbagai tema dalam sebuah matriks.

Buku-buku ini saya baca random sejak tahun 2007. Saat saya masih SMP. Buku yang paling baru dari daftar ini (kalau nggak salah) saya beli dan saya baca di tahun 2015.

Dan mereka adalah…

--- [] ---

1. Postcard From Neverland
Postcard from Neverland.

Buku pertama ini ditulis oleh Rina Suryakusuma. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Postcard From Neverland merupakan salah satu buku keluaran pada event Amore atau event nulis buku dengan tema cinta-cintaan. Kalau nggak salah ini diadakan di tahun 2013.

Buku ini menceritakan tentang seorang gadis yang serbakesusahan, Amy, karena dipecat dari pekerjaannya. Ia kerja keras untuk keluarganya dan tidak sempat memikirkan tentang cinta. Namun saat seorang laki-laki paruh baya (dan duda) datang memberinya pekerjaan untuk menjadi kepala asisten rumah tangga di rumahnya. Kisah cinta mereka lalu tumbuh dan berkembang begitu saja. By the way, novel ini agak dewasa karena ada adegan anu-anuannya. Tapi bagus kok. Lumayan lah. Nggak terlalu cheesy seperti kisah cinta majikan dan pembantu di sinetron Indosiar.

Rating dari saya: 3/5

2. Black Confetti
Black Confetti.

Assrianti adalah penulis buku ini dan Elex Media Computindo yang menerbitkannya. Percaya atau tidak, saya mendapatkan buku ini dengan harga 5000 aja. Murah bangeeet. Saya beli buku ini di acara year end sale Gramedia yang menjual buku-buku mereka mulai harga 5000-an.

Black Confetti menceritakan kisah cinta Aras dan Cassandra yang bermula dari sebuah perjodohan kedua kakek dan nenek mereka. Aras yang kala itu masih memiliki pacar menolak tegas pernikahan mereka, sehingga saat malam pertama pascapernikahan, Aras justru keluar dari hotel tempat mereka bulan madu dan meninggalkan Cassandra sendirian. Seperti kisah kebanyakan, akhir dari buku ini dapat dengan mudah ditebak dan biasa banget. Tidak ada adegan baru yang membuat saya berpikir untuk membaca ulang.

Rating dari saya: 2.5/5

3. In a Blue Moon
In a Blue Moon.

Ilana Tan. Seperti kebanyakan tulisan-tulisan beliau yang memang bagus banget (kalian pasti familiar dengan Seasons to Remember series yaitu Winter in Tokyo, Summer in Seoul, Autumn in Paris, dan Spring in London), lagi-lagi Gramedia Pustaka Utama menerbitkan satu buku Ilana Tan yang nyaris sempurna. Ilana Tan ini novelis Indonesia, tapi kualitas tulisannya rasa internasional. Bukan karena latar belakang ceritanya yang selalu berada di luar negeri ya. Bukan. Melainkan karena gaya penulisannya yang terasa“profesional”.

In a Blue Moon sendiri menceritakan tentang Lucas Ford dan Sophie Wilson. Lucas dan Sophie berteman di sekolah dan pemuda itu pernah membullynya habis-habisan. Saat mereka dewasa, barulah ketahuan bahwa Lucas mencintai Sophie, di balik sikapnya dulu. Lucas yang merupakan seorang chef terkenal, mendekati Sophie yang merupakan baker di salah satu toko kue karena perjodohan kakek mereka. Menurut saya, novel ini lumayan bagus. Tapi jika dibandingkan dengan kelas novel-novel Ilana Tan sebelumnya, sepertinya tidak selevel. Masih jauh lebih bagus novel-novel yang ada pada serial Seasons to Remember.

Rating dari saya: 4/5

4. Cewek!!!
Cewek!!!

Esti Kinasih merupakan penulis novel teenlit kenamaan yang dulu - bahkan mungkin sekarang - dikenal oleh anak-anak remaja yang masih duduk di bangku sekolah. Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan sudah cetak ulang berkali-kali dengan cover novel yang berbeda-beda. Kalau nggak salah ingat, pokoknya novel ini dulu menjadi rebutan teman-teman saya saat masih SMP untuk bergantian meminjam. Dan btw, saya termasuk yang meminjam. Hahaha.

Menceritakan tentang tiga cewek bernama Langen, Fani, dan Febri yang melawan kekasihnya masing-masing untuk kebut gunung. Mereka ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa mandiri bahkan tanpa kekasih sekali pun. Sebenarnya akar masalahnya hanya salah paham, tapi kekacauan muncul satu-satu dan membuat semuanya menjadi runyam. Buku ini cocok dibaca sambil senyum-senyum mengingat nostalgia masa sekolah atau bahkan kuliah. Terutama bagi eks-anggota pecinta alam.

Rating dari saya: 3.5/5

5. Still
Still.

Lagi-lagi, novel oleh Esti Kinasih yang juga masuk kategori teenlit. Still merupakan sekual novel Cewek!!! Yang juga diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Novel ini ditulis dan diterbitkan beberapa tahun setelah novel pertamanya sukses besar dengan ending menggantung. Namun untuk ukuran sekuel, novel ini berhasil mempertahankan konsistensinya dalam menceritakan tiga sahabat yang memperjuangkan cinta mereka. Masih kocak. Masih drama. Masih seru.

Hubungan Langen, Fani, dan Febi dengan kekasih mereka masing-masing yaitu Rei, Bima, dan Rangga menjadi suram pascakejadian kebut gunung di buku pertama. Masing-masing dari mereka minta putus karena merasa menang dan berhasil membuktikan bahwa mereka mampu tanpa laki-laki. Namun karena cinta, masing-masing dari mereka akhirnya mampu menyelesaikan masalah masing-masing dan ending buku ini ditutup dengan sangat manis.

Rating dari saya: 3.5/5

6. Stasiun
Stasiun.

Cynthia Febrina, kalau kamu membaca tulisan ini, saya mau bilang terima kasih yang sebesar-besarnya. Saya suka sekali dengan stasiun. Bagi saya, stasiun bukanlah tempat transit kereta. Namun tempat tinggal selamanya bagi ide-ide dalam kepala. Plotpoint menerbitkan buku ini dengan ornamen cover yang manis (bahkan covernya berbentuk pop-up). Sepasang pemuda dan pemudi yang berjibaku dengan keramaian kereta Jakarta atau yang sering disebut dengan commuter line (KRL).

Ryan dan Adinda memiliki pekerjaan mereka masing-masing dengan kisah hidup yang berlawanan. Jika Adinda harus mulai naik KRL karena putus dari Rangga yang bisa mengantar jemput dirinya, maka Ryan adalah anak kereta sejati yang selalu on time saat berangkat kerja. Jangan harap novel ini akan manis dari awal, ya. Adinda dan Ryan benar-benar baru berkenalan di dua halaman terakhir!

Rating dari saya: 4/5

7. The Mint Heart
The Mint Heart.

Pertama kali melihat buku karya Ayuwidya yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka ini, saya langsung mematahkan pepatah “jangan menilai buku dari sampulnya”. Karena saya harus mengakui bahwa saya menilai buku ini dari sampulnya! Selain itu, ulasan di belakang tentang mint ice cream yang pahit-manis-dingin seperti kisah cinta di dalam buku ini, mampu membuat saya lari ke kasir untuk lekas-lekas membayarnya. Desain covernya itu loh... Bagus banget!

Leon dan Lula merupakan kameramen dan reporter yang ditugaskan oleh bos mereka dalam perjalanan “Wherever You Want”. Sejak awal bekerja di kantor yang sama, keduanya tidak pernah akur. Menyapa pun tidak. Lula tidak suka gaya tengil Leon yang suka tebar pesona ke cewek-cewek di kantor dan playboy. Leon sendiri tidak suka dengan Lula, gadis acuh penampilan yang cueknya ampun-ampunan. Namun proyek perjalanan itu menyatukan kedua mereka. Lekat. Tanpa sekat. Salah satu bagian favorit saya dari buku ini adalah saat Leon mencium Lula yang sedang tidur saat gadis itu sakit dengan mata berkaca-kaca.

Rating dari saya: 4.5/5

8. Love, Hate & Hocus-Pocus
Love, Hate & Hocus-Pocus.

Karya Karla M. Nashar yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini pertama kali saya baca saat saya SMP. Novel ini bukan kategori teenlit sehingga cerita cinta di dalamnya tidak se-low class teenlit, namun juga tidak seberat rinduku padamu. Takarannya pas. Nggak norak. Nggak berlebihan. Karla mampu membuat pembacanya gemas sendiri dengan tingkah konyol Troy yang feminin dan Gadis yang tomboy. Meski kedua jiwa mereka seakan tertukar, Troy dan Gadis rupanya bisa memposisikan diri satu sama lain saat menjadi pasangan kekasih. Iya, keduanya saling melengkapi.

Awalnya saya pikir buku ini ada unsur mistisnya karena di judul tertera kata “Hocus-Pocus”. Semacam mantra gipsi yang digunakan peramal untuk “menerka-nerka” nasib atau masa depan seseorang yang menjadi kliennya. Sementara saya sendiri agak skeptis dengan hal seperti itu. Namun buku ini menampik semuanya dan menyajikan plot twist paling bangkai yang pernah saya baca. Overall, I love this book! Nggak melulu soal cinta-cintaan!

Rating dari saya: 4.5/5

--- [] ---

Dari kedelapan novel dengan tema yang sudah saya ulas sedikit di atas, saya paling merekomendasikan nomor 3, 7, dan 8. Sesuai dengan rating yang saya berikan. Ketiganya memiliki keunggulan yang berbeda-beda. Jika Ilana Tan menarik hati dengan kisah cinta dewasa dan penulisan rasa internasionalnya, Ayuwidya mampu membuat saya membaca The Mint Heart sampai tiga kali karena saya dibuat jatuh cinta oleh tokoh Leon dan Lula. Sementara Love, Hate & Hocus-Pocus memiliki poin plus dengan kisah cinta semu antara Troy dan Gadis yang merupakan teman sekantor.

Bukan munafik sih, dulu saat SMP saya juga menyukai teenlit seperti novel nomor 4 dan 5. Suka banget malah. Namun saya menulis reviewnya sekarang, saat saya sudah sebesar ini. Jadi menurut saya kisah cinta teenlit gitu sudah bukan segmen saya. Namun lagi, tidak ada salahnya membaca teenlit. Setidaknya, teenlit mampu membawa pembacanya bernostalgia ke masa sekolah. Hal yang selalu dirindukan namun tidak bisa diputar ulang.

4 Comments

  1. Kalau Mayang suka baca buku yang settingnya stasiun, berarti suka sama 3360-nya Daniel Mahendra juga. Udah pernah baca belum? Harusnya sih udah ya.

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.