Madre Berfilosofi Tentang Kopi

Madre.

Sore itu, saya sedang menikmati perjalanan kereta dari rumah asal ke kota tempat tinggal. Sudah menjadi kebiasaan di setiap perjalanan saya. Saya harus membawa buku turut serta. Kadang untuk dibaca, kadang untuk dipegangi, kadang untuk diciumi, kadang untuk dipeluk, kadang untuk diencesi. Buku buat saya sudah seperti benda wajib yang harus dibawa kemana pun karena… Saya orangnya bukan gadget-person. Meskipun kekurangannya adalah saya jadi kena sindrom tuli mendadak karena terlampau asik dengan bacaan. Dipanggil-panggil nggak nyaut sama sekali. Ditowel-towel, nggak noleh sama sekali.

Dan perjalanan sore itu berbeda. Biasanya kalau sedang di kereta dan berkenalan dengan orang baru, bahasannya tidak akan jauh-jauh dari small talks dan basa-basi-bisa-busa tentang pekerjaan dan kehidupan. Saya lupa kapan tepatnya, tapi saya menemukan orang ini. Seorang perempuan dan kekasihnya yang juga menyukai Dewi Lestari.

Tanpa menunggu lama, karena kebetulan saya sedang membawa buku Madre, mbak-mbak itu mengajak saya mengomentari buku tersebut. Sementara kekasihnya tertidur sambil mendengarkan musik lewat headset. Supaya mempermudah pemahaman (padahal aslinya karena lupa namanya), mari kita sebut saja nama mbak-mbak itu Buavita rasa jambu.

Eh, kepanjangan.

Ya udah, Bua aja. Okesip.

--- [] ---

Bua: Menurut kamu, mengapa Dee menulis antologi Madre, May?

Saya: Sederhana. Dee sedang lapar dan ingin makan roti. Ehehe.

Bua: *tertawa sampai mulutnya berbusa*

Saya: Bua, kamu nggak papa, kan?

Bua: Nggak papa. Hahaha. Kalau menurut saya sih, karena Dee pada dasarnya seorang pecinta kuliner. Kamu juga tahu kan kalau ia menulis antologi lain berjudul Filosofi Kopi?

Saya: Bisa jadi. Dee ini kan serbabisa ya. Nyanyi bisa. Nulis lagu bisa. Nulis puisi bisa. Nulis cerpen bisa. Nulis novel bisa. Mungkin sebentar lagi ia ingin mencoba peruntungan di dunia kuliner bersama Bondan Winarno (saat itu Pak Bondan masih ada).

Bua: Hm. Bisa jadi. Kopi dan roti memang perpaduan sempurna.

Saya: Kamu sendiri paling menyukai cerita atau puisi dalam buku Madre, yang judulnya apa?

Bua: Saya paling suka tetap Madre. Sesuai judul bukunya. Kamu tahu May, setiap Dee menjelaskan dengan detail tentang bagaimana Tansen dan Pak Hadi memanggang roti dan bagaimana renyah serta harumnya roti panas tersebut dideskripsikan, saya langsung lapar mendadak. Rasanya saya seperti ada di dapur tempat pemanggangan tersebut. Kalau kamu bagaimana?

Saya: Sama. Saya juga suka Madre. Namun yang membuat saya suka adalah karakter Madrenya itu sendiri. Adonan roti yang terasa hidup. Ia dipersonifikasikan. Buat saya, itu sebuah keunikan tersendiri dari cerita pendek Madre. Kalau orang lain menulis cerita tentang bakery melalui sudut pandang orang yang mengolah atau mengelolanya, saya justru merasakan adonan roti kakek Tansen tersebut ikut berbicara. Apalagi saat adonan tersebut akan dibeli oleh Mei.

Bua: Ah, iya iya iya. Madre kan artinya ibu, ya? Waktu akan dijual itu rasanya kayak ngelihat Tansen mau jual ibunya sendiri. Sedih banget. Apalagi dengan adanya narasi tentang ekspresi Pak Hadi dan pekerja bakery lainnya saat tahu Tansen akan menjual adonan tersebut. Meskipun hanya adonan roti, Madre seperti hidup dan memegang kendali atas keseluruhan cerita.

Saya: Betul banget! Dee ini makanannya apa ya, kok sampai kepikiran bikin cerita dengan tokoh sebuah “adonan roti” begini.

Bua: Ya, roti lah! Sama nasi. Kan orang Indonesia. Hehehe. Ngomong-ngomong, ada cerita lain dari buku Madre yang kamu suka nggak?

Saya: Ada, Bua. Saya suka cerpen Menunggu Layang-layang. Kisah cinta antara Starla dan Che itu menurut saya unik banget. Kalau kamu?

Bua: Saya suka dua tulisan lainnya. Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan. Serta 33. Tulisan tersebut mampu membuat saya memaknai hidup dengan kacamata yang berbeda.

Saya: Kacamata apa? Kuda?

Bua: *tertawa sampai kekasihnya terbangun*
Filosofi Kopi.

Saya: Eh... Kalau yang Filosofi Kopi, Bua suka cerpen yang mana?

Bua: Hm… Kalau Filosofi Kopi, saya suka cerpen Filosofi Kopi-nya dan Mencari Herman. Unik-unik itu kisahnya. Hahaha. Filosofi Kopi membuat saya belajar banyak tentang kopi-kopian. Karena biasanya saya cuma minum kopi sachet-an doang, lewat cerpen ini saya jadi tahu bahwa kopi murni yang dijual di kafe-kafe itu jelas memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Ada rahasia di balik setiap cangkirnya.

Saya: Widiiih… Berat-berat. Kalau saya sih, nggak bisa minum kopi. Hihi.

Bua: Serius? Kopi sachet sekalipun?

Saya: Iya, nggak bisa. Kamu tahu kopi luwak sachet abal-abal yang katanya kopi ringan nggak bikin deg-degan? Kalau saya minum itu, saya memang nggak deg-degan. Tapi lambung saya kejang-kejang.

Bua: Hahahahaha. Kasihan sekali. Padahal kopi adalah salah satu nikmat dunia yang hakiki. Jangan-jangan kamu belum pernah ke Starbucks juga, May?

Saya: Anjir, pernah lah! Sekali. Pesennya greentea frappe. Jangan salah kamu, ya!

Bua: Iya, iya. Tapi ke Starbucks dan nggak pesan wide open coffe menu-nya, sama aja kayak nggak Starbucks, May. Sama aja kayak jalan berbulan-bulan sama gebetan, tapi ujung-ujungnya nggak jadian. Sakit!

Saya: Buaaa…nnngggkkkaaaiii! Apa hubungannya, woi?

Bua: Nggak ada! Hahaha!

Saya: By the way on the way busway, saya suka cerpen Filosofi Kopi karena karakter Ben, sih. Saya punya teman di bangku kuliah yang ambisius bukan main. Dia menyukai seni grafis dan menekuninya dengan baik-baik. Dia nggak mau dibayar murah, bahkan sejak awal karir freelance-nya. Dia ke mana-mana, keliling kota di Indonesia, untuk belajar seni daerah ini dan itu. Pernah suatu kali ia ditawari job jutaan. Dan ia mendapatkan pelajaran keras dari tawaran tersebut. Benar-benar mirip Ben di cerpen Filosofi Kopi deh, pokoknya!

Bua: Terus… Jody-nya mirip kamu?

Saya: Yaaa… Enggak juga. Saya perempuan. Jody kan laki-laki. Hahaha!

Bua: *mencekik saya karena kesal*

Saya: Selain Filosofi Kopi-nya, kamu suka cerpen yang mana lagi, Bua?

Bua: Hm… Apa ya? Eh, saya juga suka Sepotong Kue Kuning. Skandal banget ceritanya. Nungguin kekasih yang sebenarnya sudah punya kekasih lain. Pedih. Sebenarnya, saya memang suka cerita yang pedih-pedih daripada yang manis-manis, May.

Saya: Oh… Berarti cerita kamu sama pacar kamu pedih juga, ya?

Bua: *mencekik saya lagi karena sebal*

Saya: Hahahaha. Ampun. Kalau saya lebih suka cerpen Rico de Coro. Gila ya! Dee berhasil memanusiakan hewan yang biasa diinjak dan disemprot Baygon itu dengan sangat epic. Saya sebenarnya suka nih cerita fabel yang dimodernisasi begini. Daripada Filosofi Kopi-nya sendiri, saya malah lebih suka Rico de Coro, Bua. Asli!

Bua: Iya, biasa sih. Kan makhluk satu spesies memang cenderung saling menyukai.

Saya: Buangkai! Saya gampar kamu, ya!

Bua: Hahahahaha.

--- [] ---

Selanjutnya isi percakapan saya dan Bua lebih didominasi dengan haha-hihi dan receh-recehan nirfaedah. Sebenarnya Bua ingin membahas buku Dee yang lain, yaitu Rectoverso. Tapi saya belum membacanya (dan belum membelinya). Dan ketika saya ingin membahas serial Supernova, Bua gantian yang belum membacanya. Sementara untuk novel Perahu Kertas, kami sama-sama belum membacanya.

Saya jarang nemu teman satu kursi yang asik dan langsung akrab seperti Bua. Entah karena efek sayanya yang begini atau Bua-nya yang begitu, tapi kami berdua seperti sudah berteman sejak balita. Tapi karena kecerobohan saya, sekarang saya lupa namanya karena kejadiannya memang sudah lama. Sekitar tahun 2016-an. Huhuhu.

*maaf ya, Bua!*

By the way, kalau kamu membaca ini, kamu bisa menghubungi saya di email, ya! Tinggal bilang, “Mayang, ini Bua” di bagian subyek email nantinya. Pasti akan saya balas, kok. Saya janji!

Karena teman saya yang bernama Bua sepertinya hanya kamu. Saya nggak punya teman lain bernama Bua. Kalau yang sifatnya Bua, buanyak. Buangsat dan Buajingan. Datang cuma pas buatuh aja.
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

10 Comments:

  1. Gue malah baca Perahu Kertas, yang lainnya nggak. Itu pun iseng karena nganggur di meja teman. Bacanya lompat-lompat halaman. Yah, namanya juga iseng. Hahaha

    ...teman yang buangsat dan buajingan. :))

    Nanya dong, kenapa template versi mobile nggak pake yang custom? Padahal udah responsive mobile-friendly hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gigip sukanya iseng-iseng ya? Jangan-jangan mandi dan makan karena iseng juga?

      Karena saya masih suka versi mobile. Simpel. Hehe.

      *gagal move on dari mobile version*

      Delete
    2. Iya iseng-iseng biar kayak anak Thailook. Ini aja punya blog iseng-iseng ngeblog. :(

      Delete
    3. Nggak papa. Keseriusan biasanya berawal dari keisengan.

      Delete
  2. Perahu Kertas udah baca. Terus pas ada filmnya, nggak tau kenapa males gitu pas selesai nonton. Kayaknya itu film adaptasi pertama yang bikin saya kecewa dah. Kugy yang ada di imajinasi saya nggak cocok dimainkan Maudy Ayunda. Tololnya tetep nonton sampai yang part 2. Wqwq.

    Kalo Madre kayaknya belum baca deh.

    Rectoverso pernah baca sebagian, pas pinjem punya temen sewaktu lagi di rumahnya (nggak boleh dibawa pulang). Supernova belum sama sekali. Nonton filmnya yang KPBJ aneh banget. Kayaknya lebih cocok untuk baca aja. :(

    Filosofi Kopi saya justru ingat sama yang judulnya Spasi. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya belum nonton filmnya Perahu Kertas. Dua-duanya. Hehe. Apalagi KPBJ. Pas tahu premis di trailernya gitu, saya nggak tertarik, Yogs. KPBJ lebih menarik difantasikan dengan pikiran sendiri. Soalnya rumit banget konfliknya. Paralel paradoks kan.

      Madre bagusss. Cobain kapan-kapan! :D

      Delete
  3. Ingat sekali, baca Madre dan Filosofi Kopi saat SMA. Saat aku maish unyu! Saat model jilbab kayak ibu-ibu salawatan berjamaah.

    Yang aku ingat tentang Madre, yaitu adonan ibu adonan roti yang tiap hari terus 'dikasih makan' karena memang itu semacam kayak bahan dasarnya wkwk.

    Trus kalau Filosofi Kopi, ada bapak2 yang mengenalkan di tokoh utama dengan kopi wenaaaak dengan harga murah xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. ((model jilbab kayak ibu-ibu salawatan berjamaah))

      Seketika kuteringat iklan Ramayana anju XD

      Iya. Paling ingat pas Madrenya harus dikasih makan. Mereka memperlakukan adonan roti bagai manusia banget. Bayi malah. Tapi namanya 'ibu'. Wkwk.

      Delete
  4. Aku kok gak paham paragraf ini ya padahal dibaca berulang :(

    By the way on the way busway, saya suka cerpen Filosofi Kopi karena karakter Jody, sih. Saya punya teman di bangku kuliah yang ambisius bukan main. Dia menyukai seni grafis dan menekuninya dengan baik-baik. Dia nggak mau dibayar murah, bahkan sejak awal karir freelance-nya. Dia ke mana-mana, keliling kota di Indonesia, untuk belajar seni daerah ini dan itu. Pernah suatu kali ia ditawari job jutaan. Dan ia mendapatkan pelajaran keras dari tawaran tersebut. Benar-benar mirip Ben di cerpen Filosofi Kopi deh, pokoknya!

    Btw, dari semua novel Dee, aku baru baca Perahu Kertas :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, makasih koreksinya, Farih. Itu maksudnya "Ben" bukan "Jody" saya salah nulisnya. Udah mikir Ben tapi yang terketik Jody. Haha.

      Saya malah belum baca yang Perahu Kertas.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.