Kopdar Amatiran Membahas Junjungan

Mas-mas yang berdiri di sebelah kiri itu bukan Febri ya.

Ngomong-ngomong soal dunia perbloggingan, saya termasuk orang yang on-off-on-off dalam menulis postingan. Kalau masih ingat, tentu kalian pernah membaca tulisan tentang vakum-vakuman-vangkai yang pernah saya pos beberapa waktu lalu. Pascavakum juga. Ya, memang Mayang adalah blogger yang terkenal dengan banyak vakumnya.

*padahal aslinya nggak terkenal juga*

*lau sokap, May?*

Terus terus terus…

Selama ngeblog sejak tahun 2010-an, saya hanya dua kali kopdaran dengan teman komunitas Kancut Keblenger regional Kediri (kota asal) dan Solo (kota domisili). Itu pun udah kapan tahun. Di Kediri kalau nggak salah tahun 2011. Saat masih SMA. Di Solo saat tahun 2012. Setelah ospek dan penderitaan sebagai maba berakhir. Setelah itu, bukannya makin rajin ngeblog, saya malah hibernasi dan sibuk dengan dunia kampus yang… ya… begitulah.

Kalau sekarang, mungkin fase saya saat itu sama seperti fase si dedek emesh Robby Haryanto. Robby yang sempat berujar “beruntung pernah mengenal blog”, sekarang harus beralih pada “menyesal pernah mengenal laporan”. Karena kami sama-sama anak IPA. Iya. Saya Fisika. Robby Kimia. Saya perempuan. Robby laki-laki. Kami cocok, bukan?

Balik lagi ke blog.

Pasca tahun 2015, dunia blog mulai berkembang dengan circle-circle baru dan beberapa komunitas mulai tergeser. Saat teman-teman sudah akrab satu sama lain chatting dan main game di grup WWF yang dulu sempat booming itu, saya ngechat sama simsimi (dan mas mantan). Saat teman-teman sudah saling kopdaran di mana-mana, saya kopdaran sama dosbing satu dan dua. Saat teman-teman membahas kejadian lucu di dunia blog, saya masih ngetawain jokes srimulat.

Ya, begitulah. Saya ketinggalan banyak kereta.

Tapi 2017 kemarin, saya mencoba kembali menulis. Beberapa teman blog angkatan lama KK sudah vakum. Bahkan menghilang tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah Yogaesce dan Bebybug. Yoga sekarang sibuk kerja di kubikel kantor sambil harap-harap cemas tiap jam makan siang datang. Kadang juga masih sering kehilangan barang seperti helm dan jas hujan. Mungkin suatu hari nanti dia kehilangan jati diri dan berubah menjadi Siluman Capung beneran. Mungkin.

Sementara Bebybug, yang nama aslinya Fa, blognya ditutup rapat-rapat. Diprivat, cuy. Katanya sih, malu sama tulisan-tulisannya yang dulu. Padahal Fa adalah blogger spektakuler jebolan KK yang viewers blognya ratusan ribu. Dulu nih ya, tiap dia ngepos tulisan, yang komen pasti buanyak buanget. Sampai 80-an lebih. Mulai dari komen receh, serius, bahkan ninggal jejak. Sampai ada salah satu pembaca blognya yang iri dan bikin ulah di cbox dengan ngata-ngatain nggak jelas.

Old times banget, bosque ~
Fa dan pangeran impiannya.

Setelah blog saya mulai aktif di tahun kemarin, saya pun mulai masuk ke circle teman-teman yang sekarang. Ada Yoga dan Icha. Dua blogger yang saya kenal sejak 2015. Lalu di tahun kemarin, teman saya terus bertambah. Sampai menemukan secuil Febri. Seorang blogger asal Yogyakarta yang sedang berjuang untuk sidang skripsi dan sidang calon mertua. Iya, Febri adalah calon sarjana. Dan ya, dia jomlo, pemirsa.

*kalau ada yang mau kenalan atau pacaran sama doi bisa kirim email ke saya ya, kata Febri kriterianya hanya dan cuma satu: YANG PENTING MAU!*
Ya, nggak, Feb?

Selain Fa dan Febri, beberapa waktu lalu saya juga menemukan Njus. Blogger satu kota yang juga satu almamater. Namun sayang, saya belum pernah ketemu Njus saat kami sama-sama masih berada di kampus. Kenalnya telaaat. Padahal kalau kenal lama, tentu saya sama Njus bisa barteran film dan anime dari dulu-dulu. Mungkin juga bisa barteran bra karena ukuran kami sama.

Karena saya sedang memiliki misi untuk menjadi seperti Pange - yang katanya merupakan junjungan kita semua - maka saya memutuskan untuk kopdaran dengan mereka bertiga. Dan kisahnya dimulai dari sini…

--- [] ---

Hari Sabtu, tanggal 19 Mei 2018, saya berangkat ke Yogya dengan naik kereta lokal seperti biasa. Sampai di Stasiun Tugu, saya turun. Rencananya sih Fa mau jemput dan kami berdua akan bertemu Febri di Artjog. Lokasinya berada di Jogja National Museum. Namun kelucuan pertama terjadi di sini.

Fa: May, kamu udah sampai? Maaf, kosan aku lagi sepi nih…

Ini kalau saya laki, saya pasti balas, “OTW, BEB!” namun chat Fa masih ada lanjutannya.

Fa: …nggak ada helm lagi buat dipinjam. Kita ketemu di JNM aja gimana?

AWKAY, FA.

Akhirnya saya berniat memesan Gojek. Namun sayang, sinyal Indosat sedang kampret-kampretnya di sana. Tiap mau mencari driver, ia cuma muter sampai kiamat. Kan kesel ya.

*damn you, Indosat!*

Beruntung saya orangnya supel dan ramah (dan nggak punya malu). Saya pun minta tolong pada seorang mbak-mbak dengan modus nanyain mau ke mana terlebih dahulu. Karena beliau kasihan melihat saya yang jauh-jauh dari Solo ke Yogya dan kepanasan, akhirnya mbak-mbak tersebut ngasih tethering ke saya sampai orderan Gojek saya datang. Setelah pamit dan cium tangan, saya lari ke mamang ojek untuk menuju TKP demi bertemu Fa dan Febri. Iya, itu semua demi kalian, Fa, Feb.

*makasih mbak Vita, di mana pun engkau berada, semoga lekas dapat pacar, ya!*

Sampai di JNM, saya hampir lupa balikin helm ke abangnya. Untung diingetin. Padahal itu posisi udah masuk ke dalam gerbang lokasi dan dilihatin oleh bapak satpamnya. Dan rangorang pengunjungnya. Huahahaha. Etapi, saya nggak lupa bayar Gojek-nya kok. Beneran.

Karena udah jam salat Ashar, saya salat dulu di musala dekat JNM. Baru setelah itu bertemu dengan Fa untuk pertama kalinya. Setelah tujuh tahun kami berkenalan. Iya. Itu pertemuan pertama kalinya. Waktu melihat Fa, saya langsung lari memeluk dia. Sesaat kami seperti sepasang kekasih yang LDR dan tidak bertemu lama. Dramatis abis. Sayang Fa perempuan. Huhuhu.

Setelah membayar tiket, saya dan Fa masuk lebih dulu sambil ngadem untuk nungguin Febri yang belum datang-datang. Kami ngobrol random ke sana ke mari, membahas saya, membahas dia, membahas kami berdua, dan masa depan yang akan kami rancang bersama.

*anjir, udah kayak pasangan lesbi aja*

“Fa, kamu udah pernah ketemu Febri?”
“Pernah, May. Dua kali.”
“Dia tinggi besar gitu, ya?”
“Iya. Tinggi besar banget si Febri itu, May.”
“Oh, mirip Juggernaut di Deadpool 2 kemarin?”
“Nah, iya. Hahahaha.”
“Hahahaha.”

Lalu kami ketawa ketiwi sampai Febri datang. Dan benar, Febri benar-benar tinggi besar. Memakai kemeja besar. Rambutnya panjang dan besar. Sepatunya besar. Topi kupluknya besar. Semuanya serbabesar! Saat pertama bertemu Febri, saya langsung menelan ludah dan membayangkan kalau kendaraannya adalah jeep hitam lejen yang biasa buat nyulik anak-anak pakai es krim dan permen kaki.

Eh… Taunya Febri naik motor matic yang kalau mau nyala harus distarter kaki dulu.

AWKAY, FEB.
Salah satu karya di Artjog 2018 yang berjudul "Cyber Crime".

Kami muter-muter Artjog sampai kaki rompal dari lantai satu ke tiga. Sebenarnya saya masih kuat kalau naik turun tangga sekali lagi. Tapi melihat kondisi Fa yang mengenaskan dan mulai lelah, akhirnya kami keluar dan menunggu maghrib di musala. Di situlah perdebatan ala suami istri antara Fa dan Febri dimulai.

“Kita mau makan di mana?”
“Mana aja, Feb. Kamu yang ngasih rekomendasi ya.”
“Ke sini?” (nyebut nama tempat makan)
“Jangaaaan…”
“Ke sana?” (nyebut nama tempat makan lain)
“Jangan di sana juga, Feb.”
“Terus maunya yang gimana?”
“Mana aja pokoknya yang enak buat ngobrol dan murah,”
“Ya udah, ke situ gimana?” (nyebut nama tempat makan lain lagi)
“Jangan di situuu.”

YA GITU AJA KALIAN SAMPAI 2019. TERUS-TERUSIN. KAN SAYA GEMES YA.

Setelah diskusi A sampai Z, akhirnya diputuskanlah bahwa tempat makan untuk berbuka puasa kami adalah di Richeese Factory. Bayangkan. Orang macam apa yang buka puasa di Richeese Factory padahal belum makan sepeser dan selemper nasi dari pagi?

Ya, orang macam kami.

Setelah makan bareng, kami ngobrolin banyak hal. Satu topik menarik yang menjadi inti pembahasan adalah Pange. Junjungan kita semua. Karena saya awam, maka saya bertanya pada Febri bagaimana menjadi seperti Pange dan mendapatkan penghasilan $3800 setiap bulan dari blog. Dan pembahasan malam itu ditutup dengan tergesa karena kereta pulang saya ke Solo adalah pukul 20:02. Perjalanan dari Yogya ke Solo adalah sejam lebih dikit. Dan kosan saya masih ada jam malamnya. Jam 9.

Sebenarnya saya udah izin bapak kos mau pulang larut, tapi ya gimana ya. Namanya juga perempuan kalem, mau nggak dikasih jam malam pun saya tetap pulang setelah ashar…

…keesokan harinya.

Febri dan Fa mengantarkan saya ke Stasiun Tugu dan kami berpamitan sambil dadah-dadah. Terima kasih, Fa dan Febri. Semoga kita bertemu lagi lain hari! Kuakan merindukan pertengkaran kalian yang seperti sepasang sejoli saat menentukan tempat makan! Muach!

--- [] ---

Lalu sama Njus. Saya ketemu Njus baru dua hari yang lalu. Tanggal 25 Mei 2018. Njus hari Jumat lalu libur tapi dia datang dulu ke acara akikahan temannya. Sementara saya masuk. Maka kami memutuskan untuk bertemu saat buka puasa. Karena saya dan Njus mau ngopy-ngopy film dan bacaan, saya bawa harddisk. Sementara Njus bawa laptop. Ketika sampai di Solo Paragon Mall, Njus belum datang karena terjebak hujan. Saat itu adzan maghrib sudah berkumandang, namun kami belum bertemu satu sama lain. Akhirnya kami nggak jadi buka bareng. Saya buka sendiri. Njus buka sendiri.

Barulah kemudian kami buka-bukaan bareng.

Hehe. Nggak ding. Maksudnya, setelah itu saya dan Njus tetap bertemu di food court mall dan makan bareng. Saya pesan ayam geprek dan Njus pesan kentang goreng nggak crispy yang dikejuin.

Sebelum itu, saya duduk nungguin Njus di lantai 2. Kalau nggak salah itu di dekat section make up-make up gitu. Kemudian masuklah chat Njus yang sedang nyariin saya.

“Mayang, aku pakai kaos stripe. Kamu pakai baju apa?”

Saat itu sebenarnya saya ingin jayus dengan membalas, “Nggak pakai baju, Njus.”

Tapi saya takut Njus keenakan ketakutan.
Ini Njus. Pakai kaos stripe andalannya.

Jadi saya pun mengetik apa adanya. Namun belum selesai mengetik chat, saya menoleh ke kanan dan melihat ada seorang perempuan berjalan mendekat dengan kaos stripe. Meskipun itu pertemuan pertama kami, saya langsung tahu kalau dia adalah Njusku tahun 2018.

Apakah… itu… cinta?

*kemudian saya digampar Jungjawa sampai ke rawa-rawa*

Setelah bertemu, kami naik ke food court. Beli makan. Ngopy film. Ngopy ebook. Dan ngobrol ke sana ke mari selama beberapa jam sampai lupa kalau kami nggak ngambil foto wefie sama sekali karena hape kami disimpan sendiri-sendiri. Njus baru megang hape saat mau ngechat temannya. Saya baru megang hape karena ngecek kiriman link ebook dari Njus. Dan pembicaraan malam itu, juga tak luput dari tema sang junjungan. Siapa lagi kalau bukan Pange. Kesayangan kita semua. 

Makasih juga, Njus. Kapan-kapan ketemu lagi buat belanja buku di Gramedia, ya! Kan kata kamu, kalau pakai kartu karyawan Kompas bisa dapat potongan harga. Muehehehe.
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

18 Comments:

  1. INI KENAPA SELALU BAHAS JUNJUNGAN WOY. EMANG MB BEBYBUGG TAU SIAPA ITU JUNJUNGAN :'))))

    Hmmm. Aura penyuka lubangan makin terasa setelah membaca post ini.

    ReplyDelete
  2. Wah untung pada ketemu semua iya, jadi bisa kopdaran.

    Btw Itu kenapa iya kita ketika naik ojekonline pasti sering lupa untuk buka hemnya ?nyelonong pergi aja, Sampe orang ojek onlinenya bilang mas helmnya belum dibuka,Aku pernah kayak gini, hahaha.

    ReplyDelete
  3. GILA GILA GILA GILA

    ADA NAMA SAYA TERPAMPANG DI TULISAN LEGENDA, BERSANDING DENGAN BEBYBUGG YANG SEKALI SAYA MENDENGAR NAMANYA SUDA GEMETARAN TIDA KARUAN. LUAR BIASA SIH KALIAN.

    Awkay, pertama, anda jika ingin mempromosikan saya, bisa kalik fotonya yang lebih manusiawi sedikit? Anda kan blogger legenda ya, jaringannya 200juta penduduk Indonesia. Jika mereka melihat foto itu, hancur suda karier pencarian perempuan saya.

    Kedua, Kentang ngga krispy yang dikejuin pasti harganya lebih murah ketimbang cheese wedges gitugitu. Bhaiq.

    Ketiga, saya ganteng.

    Uda ah, selamat berpuasa dan berbahagia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepatu flat juga harganya lebih murah daripada sepatu wedges. Gitu.

      Delete
  4. aduh mayang kenapa blog lama aku diungkit-ungkit lagi hhhh udah napa :(((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tolong rutin dibujuk agar blog tersebut bisa diakses khalayak lagi.

      Delete
  5. Febri yang mengenalkanmu ke junjungan, May? Ya ampun, telat sekali. Itu tahun jaya-jayanya, kan, udah sekitar dua tahun lalu. Muahaha. Jadi sampai sekarang persoalan mau makan di mana yang dijawab dengan terserah itu masih menyebalkan, ya. Hadeh~

    Hm, ada nama saya ikut disebut. Tapi nggak ngaruh juga, sih. Halah.

    Omong-omong soal kopdar, saya sempet kopdaran sama temen dari Medan sebulanan yang lalu, tapi sampai sekarang males banget nulisnya. Akhirnya, cerita itu pun basi. Saya udah banyak lupa detailnya. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, iyaaa. Kan saya sempet vakum lama, Yogs. Momen kalian ke Solo itu juga saya ketinggalan. Kalau dulu nggak vakum kan, mungkin kita udah ketemu itu. Febri yaampun orangnya kocak abis. Wkwk.

      Medan. Mantannya Febri bukan? :))

      Delete
    2. Dia itu cowok dodol. Sama Beby mah udah beberapa kali ketemu. Dia kan menetap di Jakarta.

      Delete
    3. Iya banget. Kapan-kapan kamu harus ketemu Febri, Yogs XD

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.