Ibu Suri Bercerita Kisah Supernova

Serial Supernova by Dewi Lestari.

Judul: Serial Supernova
Penulis: Dewi Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Bahasa: Bahasa Indonesia

--- [] ---

Salah satu novelis kenamaan Indonesia yang saya sukai adalah Dewi Lestari. Dee, panggilan kecilnya, merupakan penulis novel yang juga merangkap sebagai penulis lagu dan penyanyi. Tulisan Dee lahir dari pikiran-pikirannya tentang semesta. Salah satu yang membuat saya sangat menyukai tulisan Dee adalah keterkaitan emosi yang saya rasakan pada buku-bukunya.

Melalui serial Supernova, Dee mengikat saya dengan kontemplasi sains dan jagad raya. Ada sisipan-sisipan istilah sains yang buat saya itu “fisika banget” dan erat bertalian dengan bidang saya. Ada pula istilah-istilah lain yang notabene buat saya terdengar baru dan asing. Dari serial supernova, saya belajar banyak sekali hal. Salah satu kata baru yang saya dapatkan adalah “SIMULAKRUM”.

Simulakrum adalah ruang yang disarati oleh duplikasi dan daur ulang berbagai fragmen yang berbeda-beda di dalam satu ruang dan waktu yang sama. - Baudillard

Dari penuturan Dee dalam novelnya, saya jadi bisa mengambil arti baru dari simulakrum. Simulakrum bisa dimaknai sebagai wadah atau tempat meleburnya kenyataan dan fantasi, realitas dan ilusi, alam nyata dan alam mimpi, yang terjadi secara berulang-ulang (duplikasi) sehingga obyek atau peristiwa yang nyata dan maya tidak jelas lagi bedanya (kabur). Simulakrum sangat dekat dengan teori hiperealitas.

Sekilas pasti kalian membayangkan film Inception (2012) atau film-film dengan tema time loop. Iya. Benar. Saya juga membayangkan demikian. Karena menurut saya konsep ketiganya sama. Simulakrum barangkali sudah sering terjadi di hidup kita juga mengingat kita pasti pernah berfantasi tentang sesuatu.

Ada kalanya, fantasi itu menjadi kenyataan. Bukan tidak mungkin, kok. Simulakrum sendiri memiliki energi gelombang pikiran (elektromagnetik) yang bisa terus menerus dipancarkan jika duplikasi terjadi berulang kali dalam jangka panjang. Maka dari itu, jika kita memiliki target tertentu, penting adanya pengulangan pemikiran, sehingga kita fokus dalam mewujudkan target tersebut. Semua saling berhubungan, bukan?

Iya. Saya mendapatkan pelajaran sampai sebegitunya dari buku-buku Dee, si ibu suri. Dan salah satu impian saya adalah ingin mengikuti kelas menulis Dewi Lestari. Dulu pernah ikutan kuisnya sih, tapi belum beruntung. Nanti deh kapan-kapan mau coba lagi. Kalau enggak ya ikutan yang kelas membayar. Karena serius, saya ngefans sama beliau!

Jadi, mari kita bahas satu per satu buku dalam serial Supernova ini. Catch on!

--- [] ---

Buku 1: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh
Tahun Terbit: 2001
Jumlah Halaman: 231 halaman
Paling rumit.

Pertama kali membaca novel Dee ini di tahun 2006, saya geleng-geleng kepala karena gagal paham. Saya meminjam novel ini dari rak buku kakak teman saya bernama Widya yang kala itu sudah kuliah. Sementara saya masih SMP kelas 1. Masih lucu-lucunya. Masih suka baca teenlit juga. Baru lulus dari akademi maling mangga tetangga. Jadi otak saya yang hanya sekepal langsung terguncang begitu membaca novel ini.

“Ini kok ada adegan anunya…”

“Ini apa kok istilahnya aneh-aneh…”

Baru di pertengahan cerita, saya tutup novelnya dan keesokannya saya balikin ke rumah yang punya. Beberapa tahun kemudian di SMA, saya menemukan buku tersebut di perpustakaan daerah di dekat sekolah. Karena saya ingat bahwa saya belum selesai membacanya, maka saya meminjamnya dan membaca ulang dari awal. Di situlah saya paham bahwa tokoh Reuben dan Dimas sedang menciptakan simulakram yang ternyata benar-benar ada di dunia nyata. Kisah Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh yang mereka tulis ternyata benar-benar terjadi di antara Ferre, Rana, dan Diva. Buku ini bagusss. Bagian yang paling mengacak-acak otak saya adalah saat Reuben dan Dimas akhirnya menemukan kenyataan bahwa tokoh-tokoh yang mereka buat ternyata benar-benar ada.

--- [] ---

Buku 2: Akar
Tahun Terbit: 2002
Jumlah Halaman: 262 halaman
Paling mendamaikan.

Novel kedua dari serial Supernova ini menceritakan tentang Bodhi, seorang anak laki-laki yang tinggal di sebuah Wihara. Bodhi acapkali dipandang aneh karena tulang yang tumbuh di bagian luar kepalanya. Diceritakan juga oleh Dee bahwa Bodhi memiliki kemampuan untuk merasakan apa yang ada di dalam diri orang lain atau benda lain yang dilihatnya. Bahkan, Bodhi dapat bertukar tempat dengan benda atau makhluk tersebut. Bodhi lalu melakukan perjalanan keluar negeri dan meninggalkan wiharanya berbekal tasbih kenangan dari sang mahaguru. Dari sinilah, keterkaitan antara novel kedua dan pertama Dee dimulai.

Cerita Bodhi ini membuat saya ingin sekali mencoba praktik meditasi. Sungguhlah. Di novel benar-benar rinci diceritakan bahwa Bodhi hidup tenang di wihara dengan segenap ajaran yang didapatkannya. Lalu tatto. Saya jadi ingin mempelajari seni tatto dari buku ini. Dee menceritakan tatto yang tabu di sebagian lapisan masyarakat dengan konsep pengetahuan dan seni. Bukan hal yang harus ditentang di sana sini. Pikiran Dee yang bebas dan cenderung tidak menghakimi tema kontroversi terlihat jelas di buku Akar.

--- [] ---

Buku 3: Petir
Tahun Terbit: 2004
Jumlah Halaman: 203 halaman
Paling lucu.

Ah, Elektra! Salah satu tokoh perempuan yang saya sukai dari serial Supernova. Elektra yang lincah dan apa adanya harus hidup kesusahan karena ditinggal orang tuanya. Belum lagi, Elektra selalu hidup di balik bayang-bayang sang kakak yang bernama Watti. Elektra akhirnya berhasil keluar dari kemiskinan dengan perlahan-lahan membuka warnet di Bandung. Di salah satu bagian rumahnya. Di novel ini, Elektra bertemu dan berkenalan dengan Bong. Bong inilah yang menjadi perantara pertemuan Elektra dengan tokoh di buku sebelumnya, Bodhi. Kisah keduanya lalu saling berkaitan, apalagi sejak adanya seorang ibu asal India yang “membantu” Elektra untuk mengendalikan kemampuan listriknya.

Pertama kali saya membaca buku ini dan menemukan nama-nama tokohnya yang unik, saya tertawa. Anjir lah, namanya nama listrik-listrikan semua. Mentang-mentang judulnya Petir. Buku ketiga ini adalah buku yang menurut saya paling lucu dibandingkan dengan buku pertama dan kedua. Buku pertama serius banget. Isinya sains semua dan drama cinta. Sementara buku kedua drama “keluarga”. Petir hadir dengan sengatan segar yang membuat saya tertawa setiap kali melihat tingkah polos Elektra.

--- [] ---

Buku 4: Partikel
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 500 halaman
Paling kusuka.

Jika ditanya buku mana yang paling saya sukai dari keenam buku dalma serial Supernova ini, maka pilihan saya jatuh pada Partikel. Saya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada sosok Zarah - yang menurut saya - mirip dengan diri saya. Zarah rebel, tidak mau diatur, memiliki pemikirannya sendiri dalam hidup, suka menentang, bebas, dan tegas. Ia juga ceroboh dan sedikit keras kepala. Pokoknya, Zarah ini “gue banget”!

Zarah dibesarkan di daerah pinggiran Bogor oleh kedua orang tuanya. Ayahnya, Firas, adalah seorang ahli mikologi yang sering mengadakan penelitian di Bukit Jambul, bukit yang dikeramatkan oleh tetangga-tetangga Zarah. Latar belakang keluarga besar Zarah yang agamis membuat Firas dikecam karena mendidik Zarah tidak sesuai dengan koridor agama. Menurut mereka. Namun Firas dan Zarah tidak peduli. Saat akhirnya Firas hilang, Zarah pun mencoba mencari ayahnya dan melanjutkan penelitian ayahnya melalui kecintaannya pada alam.

Zarah berpindah-pindah tempat untuk menemukan jati dirinya dan menajdi wild life photographer. Dari Bogor ke Kalimantan. Dari Kalimantan ke luar negeri. Di titik akhir menuju penutup, Zarah pun mulai menemukan titik terang tentang keberadaan ayahnya dan identitas aslinya. Hubungan Zarah dengan tokoh-tokoh di buku sebelumnya lalu terkuak satu per satu.

Dari segi penceritaan, saya juga paling menyukai buku ini. Dari keenam buku Dee yang paling cepat saya habiskan adalah buku Partikel ini. Tutur tulisan Dee di sini lebih lincah, lebih membuncah, dan lebih liar daripada buku-buku sebelumnya. Imajinasi saya seperti tertinggal di Bukit Jambul yang angker itu. Bunda Dee, kamu benar-benar membuat saya gila lewat buku ini!

--- [] ---

Buku 5: Gelombang
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 492 halaman
Paling menegangkan.

Buku ini dibuka dengan kelanjutan kisah Gio dalam mencari keberadaan Diva di hutan Amazon. Dibandingkan ulasan singkatnya di buku kedua, tokoh Gio diceritakan dengan lebih panjang oleh Dee sebagai kisah kunci yang akan menyatukan semua buku dan karakter yang ada. Selain itu, buku ini dititikberatkan pada Alfa, seorang pemuda asal Batak yang cerdas dan tangguh.

Nama lengkap Alfa membuat saya terheran-heran karena Dee benar-benar mengambil nama tokoh sains. Salah satu yang saya kagumi. Thomas Alfa Edison Sagala. Ia dipanggil Ichon oleh keluarganya. Karena kemampuannya, Alfa menjadi rebutan Ompu-ompu di sana yang ingin ia menjadi muridnya. Namun karena salah mengambil keputusan, Alfa harus menghadapi masalah besar pertama dalam hidupnya. Perjalanan Alfa yang cerdas dan tangkas bukan berhenti di situ saja, ia juga harus pergi ke luar negeri untuk menuntut ilmu dengan status sebagai imigran gelap.

Buku kelima Dee ini membuat keempat buku sebelumnya menjadi gamblang dan membentuk satu matriks yang saling menginvasi. Dee menceritakan tokoh Alfa dengan teliti dan mengarahkannya menjadi tokoh kunci pembuka konflik utama. Bagi saya sendiri, Alfa adalah pelatuk yang menggabungkan semesta di buku satu, dua, tiga, empat, dan lima.

--- [] ---

Buku 6: Inteligensi Embun Pagi
Tahun Terbit: 2016
Jumlah Halaman: 724 halaman
Paling mindblowing.

Inteligensi Embun Pagi adalah buku penutup dalam serial Supernova yang ditulis oleh Dee. Seperti yang saya duga, buku ini memiliki jumlah halaman paling banyak dan desain sampul yang paling beda. Jika buku lain didominasi dengan warna hitam di covernya, buku ini justru didesain dengan sampul berwarna putih keperakan. Inteligensi Embun Pagi menjadi titik kulminasi sekaligus titik nadir dari semua cerita yang ada pada kelima buku sebelumnya.

Jati diri masing-masing tokoh terungkap. Misteri-misteri yang ada dari buku satu hingga lima mulai menemui titik penyelesaian. Dee memberikan penjelasan tentang cliffhanger dari buku Petir, Partikel, dan Gelombang. Dee juga memberikan penjelasan plot twist dari buku Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, Akar, dan Petir. Semua dituliskan dengan sempurna oleh Dee berikut alasan dan teori yang mendasarinya.

Meskipun begitu, ada hal yang kurang saya sukai pada buku ini. Dee terkesan ingin “memahamkan” semua pembacanya melalui buku ini. Ada beberapa pengulangan yang sebenarnya sudah ada di cerita sebelumnya yang dipaparkan di sini. Sebagai penikmat buku Dee sejak lama, saya justru melihat Dee seperti membongkar “behind the scene” buku-buku sebelumnya. Padahal menurut saya akan lebih bagus jika dibiarkan semu. Menurut saya sih.

--- [] ---

Serial Supernova ini barangkali menjadi satu-satunya serial buku sci-fi di Indonesia. Temanya berbeda dan orisinil sekali. Belum ada penulis lain yang mengusung tema sama seperti Dee. Sebenarnya ada juga serial Bumi-Bulan-Matahari-Bintang karya Tere Liye. Tapi serial tersebut lebih condong ke genre fantasi.

Jadi, begitulah. Ngomong-ngomong, kalian sudah membaca serial Supernova ini belum?
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

4 Comments:

  1. Tujuan pengulangan itu kalau di film biasanya agar penonton bisa mengerti inti cerita di film pertama tanpa harus menontonnya terlebih dahulu. Maksudnya kalau-kalau penonton tidak tau kalau yang mereka tonton itu ternyata sekuelnya--tetap bukan masalah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi buku juga demikian ya, saudara Immank.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.