Oleh Mashdar Zainal.

Judul: Dongeng Pendek Tentang Kota-kota Dalam Kepala
Penulis: Mashdar Zainal
Penerbit: Diva Press
Tahun Terbit: Juni 2017
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 216

--- [] ---

Entah sejak kapan kota itu tumbuh dalam kepalaku. Tepatnya di ceruk mata. Aku pernah terdampar di kota itu. Mengalami rasa dahaga yang sangat. Hingga kota itu, bagai wajib kukisahkannya...

Penggalan paragraf di atas merupakan salah satu bagian dari cerita pendek yang berjudul “Dongeng Pendek Tentang Kota-kota Dalam Kepala”. Yang terdapat pada buku kumpulan cerita pendek dengan judul sama pula. 

Kalau kalian sedang mencari kumpulan cerita pendek yang bertema gelap dan suram, sepertinya kalian harus menambahkan buku ini ke dalam daftar belanjaan bulan depan. Mashdar Zainal, penulis buku ini, merupakan seorang penduduk asli Madiun, Jawa Timur. Dengan lincah dan cerkas, Mashdar menuliskan jajaran dongeng-dongeng yang menggugah, menerbitkan renungan panjang, helaan napas, dan rasa khawatir yang amat sangat. Bisa dibilang bahwa tulisan Mashdar ini 11-12 dengan Edgar Allan Poe.

Buku berjudul Dongeng Pendek Tentang Kota-kota Dalam Kepala ini terbit di tahun 2017 dan menjadi salah satu bacaan literasi untuk mahasiswa di Universitas Negeri Malang pada jurusan sastra. Bahkan, bagian awal buku ini dilengkapi dengan esai ilmiah karya salah satu dosen yang juga Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Djoko Saryono.

Terlepas dulu dari isi buku, esai Prof. Dr. Djoko Saryono menyoroti tentang batas antara fiksi dan nonfiksi di zaman sekarang. Dengan judul esai yang cukup memantik yaitu “Dongeng sebagai Ruang Fiksionalisasi”, beliau mengutarakan keresahan para penulis yang menyoroti era pasca-kebenaran yang terjadi saat ini. Berita di televisi dan koran yang katanya aktual, tajam, dan terpercaya, justru menjadi bualan fiksi yang dipelintir di sana sini. Sementara dongeng dan novel yang katanya fiksi, menjadi ekspresi kisah nyata penulis yang sebenar-benarnya. Singkat kata, fiksi dan nonfiksi sekarang tertukar maknanya. 

Buku Mashdar Zainal sendiri merupakan kumpulan cerita pendek yang “katanya” hanya dongeng semata, namun jika diteliti lebih lanjut, karyanya merupakan representasi kejadian nyata yang ada di kehidupan kita sehari-hari. Yang sedang terjadi. Yang nyata terjadi. Dengan total 20 cerita pendek, penulis berhasil menyajikan kisah nyata yang dikamuflase sebagai dongeng. 

Misalnya saja untuk cerita pendek pertama yang berjudul “Dongeng Pendek Tentang Kota-kota Dalam Kepala”, Mashdar Zainal mengutarakan kisah global warming dalam sub cerita Kota Tungku, masalah sampah di dunia dalam sub cerita Kota Sampah, gosip dan berita bohong dalam sub cerita Kota Lumpur, persentase laki-laki dan perempuan di dunia dalam sub cerita Kota Perempuan, penipisan bahan makanan di beberapa negara dalam Kota Lapar, dan bencana alam yang runtut terjadi dalam Kota Katastrofa. 

Cerpen-cerpen selanjutnya, misalnya “Perempuan yang Menjahit Bibirnya Sendiri”, merupakan cerminan watak dan tingkah laku perempuan dalam bergunjing, baik di kehidupan nyata dan di media sosial. Gunjingan perempuan dapat mematikan hidup seseorang, meredupkan mimpi, dan mencoreng reputasi. Efek yang dituliskan oleh penulis benar-benar sama seperti apa yang terjadi di kehidupan kita sekarang. Sebut saja fenomena akun-akun gosip di Instagram. Hal ini jugalah yang menjadi dasar penulisan Mashdar Zainal dalam cerita pendek tersebut.

--- [] ---

Hampir semua cerpen yang dituliskan oleh Mashdar Zainal memiliki akhir yang pedih dan tak terduga. Dengan penuturan ringan dan apa adanya, pembaca diajak tersenyum-senyum di awal cerita. Namun di tengah dan menjelang akhir, kita akan menyadari bahwa penulis sedang berusaha mengungkap fakta pedih di balik kejadian dunia. 

Secara garis besar, buku Dongeng Pendek Tentang Kota-kota Dalam Kepala memiliki makna mendalam yang sarat perenungan. Perenungan yang akan membuat kita memikirkan dunia dan bagaimana kita bisa berkontribusi di dalamnya. Sebelum semuanya terlambat.





*ditulis untuk sahabat pena dari Malang yang menginginkan review singkat tentang buku ini*
*you owe me an ice cream, buddy*

8 Comments

  1. Kayaknya seru--sekaligus--berat banget nggak sih isinya? Jadi penasaran mau baca. Soal fiksi dan nonfiksi itu kayaknya memang nggak ada batasan khusus sih, bahkan penilaian antara karya sastra dan bukan sastra saja sampai sekarang belum punya definisi yang disepakati secara universal. Maksudnya dari sisi batasan kapan karya itu dianggap sastra dan bukan. Jadi menurut saya kisah nyata yang difiksikan sah-sah saja kok.

    ANJIR SEJAK KAPAN KOMENTAR GUA JADI KAYAK GINI

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, bunda. Tidak ada batas dalam kesusastraan. Jika tulisan saja dibatasi, ke mana para penulis akan melarikan diri? Nulis kisah cinta dengan alibi zodiak juga sah-sah aja kok, muehehe XP

      Iya, tumben komentarnya nggak ngeselin. Hikmah bulan puasa?

      Delete
  2. hmm... mungkin berkiblat pada cerpen di buku itu, saya pernah baca puisi yang judulnya "Perempuan Yang Menjahit Lukanya Sendiri". udah lama kagak baca kumcer, padahal seru baca kumcer yg biasanya berakhir ngegantung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Haw. Mas Zainal ini juga bilangnya gitu waktu nulis cerpen "Perempuan Yang Menjahit Bibirnya Sendiri". Dia terinspirasi dari puisi yang kamu sebutkan. Coba beli yang ini, Haw. Buku etrbitan Diva Press kualitasnya nggak diragukan kok, meskipun kadang underrated :)

      Delete
  3. Mbak Mayang kenal Mashdar Zainal?
    Saya punya beberapa bukunya, tapi yang kota-kota ini tidak punya.
    Salah satu cerpen favorit saya dari Mashdar judulnya Petani Dongeng. Ada di buku Alona Ingin Menjadi Serangga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak kenal, Mas Iqbal. Saya hanya penikmat bukunya. Hehe.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.