Antara Disa, Dio, dan Sapardi Djoko Damono

Suti.

Saya pernah punya seorang murid bernama Disa di sekolah. Selain menyukai pelajaran Fisika yang saya berikan, Disa ini ternyata juga mencintai buku lebih dari apapun. Setiap istirahat sekolah, saat teman-temannya menjubeli kantin dan makan sambil bergawai ria, Disa justru membeli cilok di depan sekolah dan duduk di taman sambil membaca buku. 

Katanya, “Lima belas menit itu cukup untuk baca satu atau dua bab buku, Bumay. Kalau chattingan sih, mungkin nggak cukup. Hehe,”

Namun jangan harap Disa ini tipikal gadis-gadis remaja kutu buku yang pendiam dan acuh penampilan. Disa modis banget, meeen. Dia juga bawel nggak ketulungan. Saat pertama kali saya memperkenalkan diri di kelasnya, Disa inilah yang bertanya A sampai Z. Sampai dia menemukan bahwa hobi saya sama sepertinya. Disa juga petakilan abis. Usil. Suka banget nyembunyiin barang temannya atau menghilangkan bolpoin sahabatnya.

Salah satu penulis favorit Disa adalah Sapardi Djoko Damono. Iya. Serius. Disa suka sekali dengan beliau. Saya sempat heran juga. Saya pikir anak-anak remaja di generasi Disa nggak ada yang baca buku beliau. Biasanya akan anak SMA suka teenlit dan buku-buku yang genrenya jauh lebih ringan. Tapi Disa berbeda.

Suatu ketika, Disa terlihat duduk di perpustakaan dan membawa novel Suti karya Sapardi Djoko Damono. Di depan Disa ada beberapa kertas warna-warni berserakan, alat tulis yang menyebar, dan buku Bahasa Indonesia yang dibuka lebar-lebar.

“Bumay, lagi kosong jadwal ngajar, ya?”

“Eh, iya nih. Disa lagi kosong kelasnya? Pelajaran siapa?”

“Pelajaran Bu Endang, Bumay. Bahasa Indonesia. Ada tugas meresensi buku. Ngomong-ngomong, saya pilih buku yang judulnya Suti nih!” Disa berkata sambil mengacungkan bukunya ke udara.

“Oh, saya udah baca itu. Bagus. Salah satu buku Pak Sapardi yang paling saya suka. Latar tempatnya di Solo, latar waktunya di tahun 1960-an, dan kental banget sama nuansa budaya Jawa.”

“Iya. Saya udah sampai halaman 150 dari total 194 halaman, Bu. Dan tugasnya dikumpul minggu depan, jadi bisa nyicil dulu dikit.”

Lalu selama beberapa menit, kami larut dalam perbincangan tentang Suti. Saya membaca buku tersebut beberapa bulan sebelumnya. Dan saya jatuh cinta pada sosok Suti yang polos seperti gadis desa pada umumnya. Suti menggambarkan karakter perempuan Jawa kuno yang kalem dan anggun. Yang tidak aneh-aneh menuntut kesetaraan gender. Yang tidak menolak perintah atau bangun kesiangan karena begadang nonton drakor.

Tambahan, Suti adalah nama eyang putri saya yang sudah meninggal saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 2. Eyang putri satu-satunya yang saya miliki dan sempat bermain dengan saya. Karena kedua kakek saya sudah meninggal saat saya bayi dan balita. Sementara nenek satunya sudah meninggal bahkan dari saat kedua orang tua saya belum menikah.

Membaca Suti, sama seperti melihat eyang putri yang kalem dan kejawen. Beberapa halaman yang menceritakan tentang latar belakang Suti sebelum ikut keluarga Den Sastro sebagai pembantu, membuat saya ingat kisah eyang putri yang juga ikut budhenya di kota untuk menuntut ilmu. Namun tiap hari pula beliau jalan pulang ke rumah yang jauhnya 10 kilometer dari kota untuk menemui ibunya. Eyang buyut saya. Eyang putri tidak betah tinggal di kota. Katanya, banyak keramaian.

Suti dalam tokoh Suti juga demikian. Sapardi Djoko Damono benar-benar menuturkan kisah sederhana ala gadis Jawa yang tanpa tedeng aling-aling. Meski demikian, romansa antar karakternya tetap terasa. Di awal, saya pikir Suti akan diangkat menjadi menantu di keluarga Den Sastro. Mungkin saja Suti akan menikah dengan Kunto atau Dewo. Salah satu anak Den Sastro dan Bu Sastro. Namun Pak Sapardi berkehendak lain. Buku ini memberikan ending yang tidak terduga-duga.

Saat saya dan Disa saling melempar bagian cerita favorit masing-masing dari buku Suti, tiba-tiba ada sosok anak laki-laki yang keluar dari balik rak. Membawa buku Pak Sapardi yang lain. Judulnya Trilogi Soekram.

“Bumay, ini Dio. Anak IPS 1. Hehe,” Disa lantas mengenalkan anak laki-laki itu.

Dari ekspresi keduanya, saya bisa paham kalau Disa dan Dio adalah sepasang kekasih. Mungkin baru jadian. Karena mata keduanya masih mengeluarkan bintang-bintang satu sama lain.

“Salam kenal, Dio. IPS 1 sedang jam kosong juga?” Saya bertanya balik.

“Hehe, sepertinya, Bu.” Dio cengengesan.

Saya mau ikut cengengesan, tapi nanti disangka guru kurang waras. Ya udah, akhirnya saya pamit dan membiarkan mereka berdua membahas buku karya Pak Sapardi. Beberapa minggu kemudian, baru saya tahu bahwa Disa dan Dio berpacaran karena sama-sama menyukai penulis kenamaan tersebut.

Iya. Kadang perasaan sayang memang bisa bermula dari sebuah kesamaan.
Trilogi Soekram.

Beberapa bulan setelahnya, Disa dan Dio naik tingkat. Mereka menjadi anak kelas 12 yang harus bersiap untuk Ujian Nasional. Di tahun itu, saya tidak mengajar kelas 12. Jadi saya jarang banget ketemu Disa untuk kemudian bertukar informasi tentang buku baru. Kadang kami hanya bersisipan di jalan. Dan seperti biasa, Disa pasti bercerita tentang buku-buku yang telah ia baca selama seminggu. Selebihnya, kami jarang berbincang lama.

Namun di suatu siang, Disa terlihat duduk di depan sekolah dan menunggu jemputan. Saya yang tidak buru-buru pulang dan sedang ingin membeli kue lekker di depan sekolah, akhirnya duduk di sampingnya. Siang itu Disa terlihat muram dan berbeda. Di tangannya membawa dua buku Pak Sapardi yang berjudul Trilogi Soekram dan Hujan Bulan Juni.

Saat itu saya pikir, Disa sedang galau karena PMS. Lalu saya ingat bahwa Disa pernah tembus kala bulanan karena terlalu lincah bermain basket di lapangan. Disa bukan tipe perempuan yang mengalami mood swing karena menstruasi. Bukan.

“Disa kok murung, ada apa?”

Saat menoleh, ternyata matanya bengkak gede banget seperti disengat lebah. Pasti habis nangis bombay, pikir saya.

“Saya sama Dio putus, Bumay…”

“Loh, kenapa? Berantem?”

“Enggak. Hehe.”

“Lalu? Rebutan bukunya Pak Sapardi?”

“Enggak. Ini bahkan dua-duanya buku Dio. Dikasih ke saya,”

“Terus kenapa? Jangan bilang karena mau fokus Ujian Nasional,”

“Bukan, kok.”

“Karena Dio terlalu baik buat kamu?”

“Bukaaan, Bumay… Huhuhu…”

Kemudian saya diam. Disa Diam. Beberapa menit kemudian ayah Disa datang untuk menjemput dengan motor Vario-nya. Sementara pesanan kue lekker saya sudah matang. Disa berpamitan dan menuju ke arah ayahnya dengan langkah gontai. Saat itu saya belum tahu apa-apa. Dan saya tidak mengejar lagi.

Namun seminggu kemudian, Disa mengunggah foto buku-buku Pak Sapardi ke media sosial Instagram. Di captionnya kurang lebih tertulis demikian (karena saya udah lupa-lupa ingat).

Kalau bisa, aku juga ingin menggugat kehidupan karena menciptakan perbedaan seperti Soekram menggugat sang pengarang. Meskipun cara mengimaninya berbeda-beda, tapi aku sadar bahwa Tuhan hanya satu. Hujan Bulan Juni tahu betul tentang itu. - Disa

Saya jadi ingat bahwa kisah Soekram di bukunya memang “keluar” dari jalur dan masuk ke dunia cerita yang lain untuk menuntut keadilan bagi dirinya. Soekram tidak mau menjadi tokoh semu dalam buku yang kisah hidupnya harus diatur oleh pengarangnya. Soekram ingin menentukan jalan hidupnya sendiri. Katanya, Soekram mau ending yang bagus!

Sementara Hujan Bulan Juni, buku ini merupakan salah satu buku Pak Sapardi yang memiliki alur tak disangka-sangka. Kisah cinta Pingkan dan Sarwono yang penuh liku dihiasi dengan puisi-puisi tajam yang membuat nalar bergetar dan hati bertali. Seperti karya Pak Sapardi kebanyakan, cerita ini romantis sekaligus menyayat hati. Baru dari sini, saya paham bahwa keadaan Disa dan Dio sama persis seperti pasangan sejoli di dalam buku Hujan Bulan Juni.

Iya. Kadang perasaan sayang memang bisa diakhiri dengan sebuah perbedaan.
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

4 Comments:

  1. Suti itu eyangmu, May? Padahal Suti itu adalah nama emak saya. Apa jangan-jangan kamu ini adalah anak saya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi... Kalau kamu bapak saya, emaknya kok belum ada?

      Delete
    2. Sudah seharusnya kamu tau, Nak. Taun lalu dia masih ada, tapi keinginan akan harta dan tahta tak bisa dibendungnya. Kemudian dia pergi dengan pria lain yg sudah kaya.

      Delete
    3. Coba ikutan acara di tipi yang karma-karma itu, Pak. Dijamin.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.