Agregasi Pendidikan Menurut Dead Poets Society

Sajak yang patah dan abadi.

Judul: Dead Poets Society
Penulis: N. H. Kleinbaum (berdasarkan film karya Tom Schulman)
Penerbit: Jalasutra Yogyakarta
Tahun Terbit: 2004
Bahasa: Bahasa Indonesia (terjemahan)
Jumlah Halaman: 226 halaman

--- [] ---

Anak-anak Akademi Welton masuk satu per satu ke arah gedung yang menyerupai kastil kuno di Eropa. Berjajar. Bersiap menyambut tahun ajaran baru yang mengukuhkan mereka sebagai siswa di sekolah tersebut. Sekolah yang menjunjung tinggi wmpat pilar pendidikan yaitu:

1. Tradisi

2. Kehormatan

3. Disiplin

4. Kecerdasan

Sekolah khusus siswa laki-laki tersebut merupakan sekolah yang cukup ketat dalam aturan, bagai sabda alam yang tidak boleh dilanggar. Sekali mereka berbuat kesalahan, detik itu juga mereka dipulangkan dengan tidak hormat kepada orang tua mereka. Anak-anak dididik dengan keras dan tertutup dari dunia luar, meskipun ada pula yang masih bandel dan mencoba menerobos untuk mencari pembebasan. Ya, peraturan memang dibuat untuk dilanggar, bukan?

Begitu juga hidup Todd Anderson dan teman-temannya. Mereka terkurung dalam “penjara” yang dibuat oleh sekolah tersebut. Tidak boleh mengembangkan hobi, tidak boleh mengejar cinta, tidak boleh ini, tidak boleh itu. Hanya boleh belajar, belajar, dan belajar setiap hari. Membosankan! 

Namun kehidupan sekolah mereka perlahan berubah saat mengenal sosok guru Bahasa dan Sasrta Inggris bernama John Keating. Hanya mau menoleh jika dipanggil “Oh, Captain! My Captain!”, Keating membawa suasana baru dan inspirasi baru di kelas. Membuat siswa-siswanya - Todd Anderson dan kawan-kawan - berani terbuka menjadi dirinya sendiri. Melawan batas norma. Keluar dari zona nyaman.

Seperti yang selalu dipesankan dan diteriakkan Keating kepada mereka,


Carpe Diem! Seize the Day! Raihlah Kesempatan! - John Keating

Mereka mulai mengembangkan lagi komunitas sajak Dead Poets Society dan melakukan perayaan atas kebebasan di hutan belakang sekolah dengan saling melempar sajak setiap minggu sekali. Di dalam gua yang ada di hutan tersebut, Todd Anderson dan kawan-kawannya mengekspresikan diri mereka tanpa sekat, tanpa batas, dan tanpa beban. Saling menguatkan untuk meraih cita-cita mereka.

Lalu masalah pun muncul satu per satu menghadang Todd Anderson dan kawan-kawan karena pilihan mereka dalam menentang peraturan sekolah dan kekangan orang tua mereka masing-masing. 

--- [] ---

Novel berjudul Dead Poet Society ditulis (lebih tepatnya diadaptasi) oleh N. H. Kleinbaum berdasarkan film karya Tom Schulman yang lahir di tahun 1989. Mengisahkan tentang kisah sekumpulan anak yang mencoba “menghidupkan” hidup mereka tanpa mempedulikan aturan sekolah dan tuntutan orang tua. Mereka ingin meraih cita-cita yang sesuai dengan keinginan dan minat mereka. Bukan arahan orang tua. Mereka ingin berkarya di sekolah. Bukan terkekang dan menjadi kelinci dalam kandang.

Jika melihat satu per satu sajak yang muncul dalam buku ini, kita bisa melihat energi yang ada pada masing-masing karakternya. Terutama John Keating. Sebagai guru, Keating hanya ingin murid-muridnya mendapatkan pendidikan terbaik dengan tidak mengesampingkan keinginan pribadi mereka. 

Sementara semua guru lain mengarahkan para murid Akademi Welton untuk menjadi dokter, politisi, pemerintah, ketua dewan, pilot, insinyur, dan berbagai pekerjaan prestisius lainnya, Keating lah yang mengajak merek untuk berpikir di luar kotak. Di luar kebiasaan. Ada salah satu bab yang mengisahkan kelas Keating di suatu siang. Ia membebaskan muridnya untuk berandai-andai dan membayangkan cita-cita mereka. Lalu ia meminta satu per satu membuat sajak atasnya.

We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. - John Keating

Jika dilihat dan dicermati, cerminan pada Akademi Welton sama seperti pendidikan di era sekarang, di Indonesia. Saat pertama masuk saja, semua anak SMA dicekoki doktrin bahwa “jurusan IPA > IPS”. Apalagi jurusan Bahasa yang sekarang hampir tidak ada lagi di sekolah-sekolah.

The hell I disagree. 

Belum lagi paradigma sempit yang memandang pekerjaan di bawah naungan kementerian (aka PNS) adalah pekerjaan yang membanggakan. Padahal standar bangga tidak bangga, munculnya dari diri sendiri. Bukan pandangan orang lain. Orang lain hanya berkomentar karena mereka memiliki mata dan mulut (dan sekarang ibu jari). Tanpa keduanya, orang lain hanya penonton tanpa bayaran yang juga sibuk dengan urusannya sendiri.

Buku Dead Poet Society membuat kita menyelami agregasi pendidikan lebih dalam lagi. Tentang bagaimana sekolah seharusnya membentuk siswa. Siswa bukan robot maupun plastisin yang bisa dibentuk (dan dibanting-banting) untuk kemudian dicetak utuh mirip buku Agama, Sosiologi, Ekonomi, Geografi, Biologi, Fisika, Kimia, Kewarganegaraan, dan lainnya. Siswa bukan kertas putih yang masuk mesin fotocopy untuk kemudian menyerupai isi buku yang sedang dipindai. Bukan.

Mereka hidup. Dan mereka yang hidup, berhak menentukan jalan mereka masing-masing. Bukan wajib mengikuti ketentuan jalan yang telah disiapkan orang lain.

I went to the woods because I wanted to live deliberately. I wanted to live deep and suck out all the marrow of life. To put to rout all that was not life and not, when I had come to die, discover that I had not lived. - Todd Anderson

Cara John Keating membelajarkan subjek mata pelajaran pada siswanya memang berbeda. Memang melawan arus. Memang melawan peraturan. Namun di balik semua itu, Keating berhasil mendidik murid-muridnya untuk menjadi diri sendiri. Meskipun tidak berakhir menggembirakan, buku Dead Poet Society ini (sekali lagi) patut menjadi bahan bacaan wajib seluruh guru dan civitas akademika di Indonesia. Setidaknya, jika tidak bisa mengganti sistemnya, kita masih bisa memperbaikinya pelan-pelan dengan tidak memaksa anak untuk menjadi apa yang bukan mereka mau.





Selamat Hari Kebangkitan Nasional!
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

4 Comments:

  1. Jurusan Bahasa hampir nggak ada lagi di sekolah-sekolah itu mungkin karena banyak yang meremehkan. Misalnya, "Loh, orang Indonesia kok masih masuk Jurusan Bahasa Indonesia?"

    Padahal saat membedakan "di" kata depan dan kata awalan juga masih sering salah. :)

    Pendidikan yang sesuai dengan dirinya sendiri pasti saya jadi inget film Accepted. Ehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya, ironi kan, ya :')

      Semua orang berlomba masuk IPA dan memasukkan anaknya ke IPA. Wkwk.

      Ah, Accepted. Emang salah satu film tentang pendidikan yang ringan dan tanpa pemaksaan. Apalagi pas bagian kurikulum yang "what you want to learn" XD

      Delete
  2. Malah lebih dulu nonton filmnya dibanding baca bukunya. Film (dan buku) yang menarik. Selalu suka nonton film yang mengangkat nilai-nilai pendidikan.

    Kalo ngomongin sistem pendidikan, ane ada satu referensi buku nih, buku karyanya dedengkot dunia pendidikan, Eric D. Hirsch, yang judulnya "Why Knowledge Matters: Rescuing Our Children from Failed Educational Theories". Gak tau ada terjemahannya ato gak, soalnya dulu baca buku ini karena minjem dari dosen ane.

    Di buku ini kita diajak untuk berpikir 'bagaimana' pengetahuan dapat berdaya guna untuk 'komunitas' di masa depan, dibanding dengan 'apakah' pengetahuan dapat berdaya guna untuk 'individu' di masa depan. Buku ini, kalo menurut ane, relevan sama keadaan sistem pendidikan (dan juga sistem sosial) yang ada di tataran masyarakat kita sekarang, suatu sistem yang lebih berpusat kepada pencarian kebenaran dan pembenaran (dikotomi benar-salah), dibandingkan dengan pengejawantahan kebaikan dan perbaikan.

    Mengutip kata-kata dari Cak Nun: "Simpan saja kebenaranmu di dapur, sajikan saja kebaikan kepada tamumu."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ini salah satu film dan buku favorit saya sepanjang masa, bang. Mungkin selain karena pendidikan, juga karena Pak Keatingnya yang inspiratif. Hehe. Eh, makasih rekomendasi bukunya ya XD

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.