Spin Off Trilogi Dilan-Milea: Suara Hati yang Terdalam dari Kang Adi

Milea, kamu cantik. Tapi sukanya ikutan ngetik angka '1' di kolom komentar Facebook.

Milea…

Ah, sialan!

Tiap menyebut namamu, ada bagian dari tubuh saya yang gemetaran. Bukan itu, Milea. Bukan. Bukan karena saya lapar. Tapi karena isi hati saya. Begini. Dengarkan saya baik-baik. Sebentar saja. Mungkin tidak sampai sepuluh jam. Kamu boleh sambil salto, jungkir balik, atau tawuran melawan SMK sebelah dan mecahin kaca. Tidak apa-apa. Bebas. Silakan sesuka kamu saja. Yang penting nyaman. Oke?

Sebenarnya saya tidak paham mengapa saya hanya menjadi figuran di kisah cinta kamu. Saya pun tidak paham mengapa kamu lebih memilih Dilan di buku pertama dan kedua (meskipun saya tahu bahwa kamu tetap memilih Dilan sampai di akhir buku ketiga dan meskipun saya tahu bahwa kenyataan tidak berpihak pada kalian berdua, hahaha, mampus sukurin!).

Milea…

Apa sih yang kamu lihat dari Dilan? Dia pecicilan! Gayanya urakan! Sok-sokan pakai jaket jeans dapat beli di Tanah Abang! Mending juga beli di Tanah Om. Lebih menjanjikan. Meskipun nantinya bisa disangka pelakor, tapi itu tidak masalah, bukan? Kan sekarang sedang tren.

Saya tidak pernah suka dengan Dilan, Milea. Jujur saja. Sejak pertama bertemu mata dengannya, saya selalu kesal bukan main. Dia menatap saya dengan pandangan yang menakutkan, jijik, dan menyebalkan. Pokoknya, sungguh kampret jika didefinisikan. Sekali lagi. Apa yang kamu suka dari Dilan?

Brengsek!

Saya jadi ingin marah dan memaki-maki kehidupan.

Tiap kali saya ajak kamu keluar, Dilan selalu menghalangi. Baru saya tahu kemudian kalau ternyata dia cemburu. Katanya, cemburu hanya untuk orang yang tidak percaya diri. Dan dia sedang tidak percaya diri. Lalu salah siapa kalau dia tidak percaya diri? Salah saya? Salah teman-teman Playgroup saya? Salah teman-teman kuliah saya? Salah teman-teman rumpi mama saya? Salah mobil-mobil koleksi papa saya? Tidak, bukan? Lalu mengapa Dilan seakan-akan melimpahkan kecemburuannya ke saya, Milea? Mengapa?

Pakai sok-sokan telepon di wartel dan bilang cemburu lagi. Pft. Dasar kalian anak kecil. Remaja tanggung. Tahu apa kalian tentang rindu dibandingkan saya yang telah berumur matang ini? Hah? Tahu apa? Pasti kalian tidak tahu. Pasti kalian tempe. Iya kan?

Milea…

Dengarkan saya. Entah mengapa Pidi Baiq menuliskan cerita cinta yang terasa timpang. Kamu dan Dilan bahagia. Boncengan sepeda motor dengan mesra tanpa peduli jika Krakatau akan meletus sekali lagi atau warga di Ethiopia kekurangan air bersih. Kalian luar biasa egois. Sementara saya dan beberapa tokoh lain sebagai penghias belaka. Ibarat kata, Dilan adalah seluruh napas kamu. Hasil inspirasi. 

Sementara saya, Nandan, Anhar, dan Beni, mantan kamu, merupakan seluruh ampas kamu. Sisa ekspirasi. Upil, Milea! Upil! Kami hanya bagaikan upil di hidung kamu. Kamu tahu upil kan? Ya itu!

Kalau tahu bahwa kisah kasih kami akan kusut begini, mana mau kami dijadikan karakter di buku Pidi Baiq. Tidak akan! Tapi sayangnya, kami sudah telanjur taken kontrak untuk menjadi tokoh di buku-bukunya. Menurut kamu, bagaimana perasaan kesal dan menyesal ini harus kami abaikan? Tidak bisa. Karena selamanya kisah kami akan tercetak di bukunya. Kekal. Abadi. 

Meskipun kata Ariel Peterpan, Tak Ada Yang Abadi.

Milea…

Kamu sudah bosan ya mendengar saya bicara? Jangan dulu ya. Saya masih ingin bercerita. Selain mempertanyakan apa yang kamu suka dari Dilan dan mengapa kami para figuran ingin menggugat cerita yang berjalan, saya juga ingin menyampaikan bahwa kamu cantik. Mungkin Dilan juga sama. Jatuh cinta pada kecantikanmu. Buktinya dia mengatakan kalimat yang sama di angkot sore itu. Iya kan? Tapi di belakang, dia tambahkan bahwa dia belum mencintaimu.

Ah, bedebah sekali!

Padahal saya tahu betul, dia pasti sudah naksir padamu sejak pertemuan di jalan itu. Pakai ramal-ramalan segala. Sungguh tidak lucu. Dan kamu sendiri, mau-maunya digombali dengan rayuan tidak maut seperti itu, Milea. Kamu sudah gila ya? Begitu saja menggelepar. Lalu apa kabar kalau saya bawa kamu jalan-jalan ke pesisir pantai tertiup angin berhembus yang sejukkan diri damaikan hati dan melihat biru? Mungkin kamu bisa mimisan dan minta dinikahi saat itu juga.

Milea…

Belum ngantuk kan? Kalau sudah, cuci muka dulu. Atau pemanasan dengan peregangan di lapangan. Setelah itu, baru saya lanjutkan ceritanya. Sungguh, saya tak ada niatan membuatmu menguap berkali-kali. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang ada di dalam hati.

Oh, kamu mau Fanta? Sprite juga ada. Apa? Satu galon? Boleh. Ini saya belikan satu galon. Silakan dinikmati sendirian. Kamu pasti mau menggemukkan diri untuk menyambut hari raya kurban kan? Kelihatan sih. Atau kamu frustasi karena pada akhirnya tidak menikah dengan Dilan? Namun dengan laki-laki yang namanya mirip dengan saya. Mas Herdi.

Hm. Mas Herdi. Kang Adi. Kami mirip, Milea. Iya, kan?

Baiklah. Ini adalah poin penting terakhir yang harus kamu dengarkan langsung dari saya. 

Sebenarnya, alasan saya mendekatimu adalah satu. Saya tahu bahwa Dilan adalah seorang anak berandalan. Anggota geng motor kawakan di kota Bandung. Sudah sejak lama saya mengikuti kiprahnya. Sudah sejak lama saya tahu tentangnya. Tapi kami sama sekali belum pernah berkenalan.

Saya baru bisa bertemu langsung dan saling memandang dengannya karena kamu. Saat kamu pindah ke Bandung dari Jakarta, saya langsung tahu bahwa Dilan pasti akan mau sama kamu. Dan dugaan saya benar. Dilan suka padamu, Milea. Dia mengejarmu dengan berbagai cara yang jijik-jijik-elegan. Di situlah saya mulai kesal. Akhirnya saya mulai mendekati kamu dengan cara yang lebih jantan dan edukatif. Sebenarnya saya ingin melihat Dilan tersiksa dengan semua itu.

Dan benar. Dia tersiksa dan cemburu.

Saat saya dan Dilan sempat bertemu karena kamu dulu, saya lupa di buku berapa, sebenarnya saya sudah ingin mengutarakan semuanya. Tapi rasa itu tertahan di dalam hati. Saya tidak bisa berkata apapun selain memandangnya dengan penuh amarah. Ya. Saya marah.

Milea…

Sebenarnya saat mendekatimu, seperti yang saya katakan tadi, saya hanya punya satu alasan. Tiap kamu mau saya ajak jalan, saya juga punya satu alasan. Saat saya telepon ke rumah kamu, saya pun hanya punya satu alasan. Juga saat saya berusaha menunjukkan rasa cinta pada kamu, itu karena satu alasan. Tidak lebih dan tidak kurang.

Dan alasan itu adalah…

Dilan.

Saya suka Dilan sejak lama, Milea.

Makanya saya cemburu saat dia justru suka padamu.

Begitu.

Eh, kok kamu kaget begitu?

Mengapa?

Hei?

Halo?

Milea?

Hei, Milea?

Kok mulut kamu berbusa?
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

6 Comments:

  1. MUAHAHAAA. GOKILLL. Ngakakk aku baca iniiihh. Buseet, kpikiran ajaaa nulis sudut pndang kang adi. endingnya jg kampret bet lg. wkwk.

    ReplyDelete
  2. .....................................................................................................................................

    ReplyDelete
  3. Wah kacho nih kacho kambing hitam.... kacho ini kacho.. *diulangi

    ReplyDelete
  4. Jangan mau terima Fanta dari Kang Adi, Milea! Itu pasti udah dicampur Insto. Jangan mau juga terima Sprite-nya, jelas-jelas itu dicampur Bodrex.

    Ujungnya kok ....

    ReplyDelete
  5. gue baca semuanya sampe abis. pake segala beliin fanta segalon.
    tapi kok kesel ya bacanya

    TOLONG KEMBALIKIN WAKTU GUE!!!

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.