Dua Belas Pasang Mata

Dua Belas Pasang Mata.

Judul: Dua Belas Pasang Mata (Nijushi No Hitomi)
Penulis: Sakae Tsuboi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
Bahasa: Indonesia (terjemahan)
Jumlah Halaman: 191 halaman

--- [] ---

Kalau ada yang paling saya rindukan dari mengajar, maka itu adalah canda tawa anak-anak yang bersahutan.

Hahahahaha.

Hahahaha.

Hahaha.

Haha.

Ha.

Oke. Hampir sebulan nggak ngeblog, jemari jadi kaku mau nulis ini dan itu. Mau nulis receh, baru dua paragraf, dihapus. Karena jadi tulisan serius. Mau nulis serius, baru satu paragraf, dihapus. Karena jadi tulisan receh. Gitu terus sampai Neptunus menginvasi Pluto. Karena menulis adalah kebiasaan, maka saat lama tak dilakukan, jadi bingung mau menuangkan pikiran.

Kena writer’s block aqutu ~

Baiklah.

Jadi, kali ini saya hanya ingin mengulas tentang buku yang sudah saya baca hingga belasan kali. Kalau kalian pernah mendengar tentang Sakae Tsuboi, penulis lejen dari jaman old di Jepang, maka kalian pasti familiar dengan karya agungnya yang satu ini.

Dua Belas Pasang Mata.

--- [] ---

Ibu guru Oishi yang saat itu baru lulus sekolah keguruan, ditugaskan ke sekolah yang amat sangat terpencil. Untuk mengajar di sana, ia harus menempuh jarak belasan kilometer yang ditempuh dengan sepeda dan perahu. Iya. Sekolahnya nyebrang sungai gitu. Dan jaman dulu perahunya masih rakitan kayu. Belum ada tuh boat-boat yang bisa pakai mesin dan solar cem sekarang. Apalagi saat itu di Jepang sedang jaman perang yang bom-boman itu, yekan?

Pokoknya perjuangan ibu guru Oishi ini luar biasa sekali, sodara-sodara.

Sekolah yang ia tuju, adalah sekolah dasar yang terletak di pinggiran distrik di Jepang. Jumlah muridnya sedikit. Gurunya hanya dua. Satunya perempuan, biasanya selalu berusia muda. Satunya lagi laki-laki yang sudah tua. Kombinasi guru di sekolah dasar itu selalu demikian.

Ah, kalian pasti membayangkan yang tidak-tidak. Ada guru muda dan guru tua. Di kelas. Imajinasi kalian pasti tak jauh-jauh dari kakek lejen dan guru juniornya.

NGAKU!

Oke. Lanjut.

Jadi memang ada mitos yang beredar di sekolah dasar ini sejak dulu. Guru perempuan yang ditugaskan di situ, selalu guru baru yang baru dilantik atau diluluskan. Istilah jawanya, masih kinyis-kinyis gitu deh. Segelan. Nanti setelah mengabdi dua tiga tahun, guru perempuan muda tersebut akan dipindahtugaskan di sekolah yang berada di sekitar kota. Atau, guru perempuan tersebut biasanya menikah dan tidak mengajar lagi. Menjadi ibu rumah tangga untuk keluarganya.

Sementara untuk guru laki-laki, mereka adalah yang biasanya sudah mendekati masa pensiun. Sudah akan meninggalkan pekerjaannya dan menikmati masa tua di rumah. Atau yang merupakan veteran perang dan dulunya memiliki pekerjaan sebagai seorang guru.

Selalu seperti itu.

Dan proses rolling (pergantian pengajar) di sekolah dasar tersebut dilakukan secara berkala setiap dua atau tiga tahun sekali. Jadi murid yang bersekolah di sana, pasti mengalami setidaknya dua atau tiga kali pergantian guru. Sekolah dasar kan sekurang-kurangnya lima sampai enam tahun.

Ribet ya. Kalau sekarang kan yang ganti-ganti muridnya. Gurunya mah itu-itu aja.

Mungkin murid saya juga berpikir demikian.

“Ah, Bu May lagi. Aku bosan melihat keanggunannya.”

Mungkin begini.

Mungkin.

Jadi, ibu guru Oishi, mulai meniti karir sebagai guru sekolah dasar di tempat tersebut. Mulanya, ia dibenci oleh warga sekitar karena ia merupakan satu-satunya guru yang menaiki sepeda ke sekolah. Jaman dulu kan sepeda di Jepang masih langka. Yang punya hanyalah pejabat-pejabat dan keluarga komandan perang.

Oh iya, setting novel ini ada di tahun 1940-an ya. Pokoknya jaman-jaman Jepang menjajah Indonesia. Jadi bisa dibayangkan dong, jadulnya seperti apa. Sandal aja belum ada yang swallow. Hampir semua anak yang bersekolah di sekolah dasar tersebut memakai sandal dari jerami sekali pakai. Setelah dipakai langsung buang karena rusak sepanjang jalan oleh jalan bebatuan.

Pokoknya menuntut ilmu di Jepang saat itu mirip dengan lirik lagunya Ninja Hattori.

Mendaki gunung lewati lembah ~

Ya mirip dengan di Indonesia juga. Sama. Sekolah masih pakai sabak. Belum ada tuh papan tulis whiteboard yang spidolnya bau morfin seperti sekarang. Kapur aja belum banyak.

Jadi, singkat kata, ibu guru Oishi mengajar di sekolah tersebut dengan riang gembira. Karena sifat ceria dan “agak gesrek”-nya, ibu guru Oishi akhirnya disukai oleh penduduk setempat. Orang-orang mulai menerima penampilan dan sepedanya karena ia amat amat amat baik. Begitu pun para muridnya yang sebanyak dua belas pasang mata itu. Mereka mencintai ibu guru Oishi.

Banyak kejadian yang menghiasi karir mengajar ibu guru Oishi di tempat itu. Ia sempat mengalami kecelakaan yang membuatnya absen mengajar selama tiga bulan. Kakinya cidera. Ia juga sempat merasa sakit hati karena digantikan sementara oleh seorang ibu guru yang lebih kalem dan bersahaja. Ia juga sempat vakum mengajar beberapa bulan karena menikah dengan seorang pelaut.

Banyak sekali.

Semuanya diceritakan oleh Sakae Tsuboi dengan penuh intrik namun tetap mengalir apa adanya. Sama seperti air mata saya yang mengalir saat menuntaskan buku ini. Meskipun sudah berkali-kali membaca, sakit hatinya tetap terasa.

*baper baper baper*

Masalah mulai muncul saat muridnya lulus. Ada yang harus menjadi geisha karena tuntutan ekonomi keluarga, ada yang langsung menikah dengan pria yang berumur dua kalinya, ada yang meninggal karena sakit, ada yang bekerja, ada yang mendaftarkan diri jadi perawat, namun ada pula yang melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Ini terjadi untuk murid yang perempuan.

Berbeda dengan murid yang laki-laki. Semua murid laki-laki ibu guru Oishi mendaftarkan diri sebagai volunteer prajurit perang dalam membela Jepang. Saat itu sedang ramai-ramainya perang Jepang dengan Amerika. Kisah Pearl Harbor dan Hacksaw Ridge pun terjadi di jaman ini. Dan murid ibu guru Oishi yang ikut perang, meninggal satu per satu.

Lebih pahit lagi, suami tercintanya yang juga ikut menjadi prajurit perang akhirnya gugur dan tak pernah kembali. Meninggalkannya bertiga dengan kedua anaknya.

Setting lalu beranjak beberapa tahun kemudian. Murid-murid ibu guru Oishi yang masih hidup memutuskan untuk mengadakan reuni. Mereka mengingat kisah saat sekolah, menyebutkan nama-nama pembuat onar, menceritakan humor di pinggir sungai, meneriakkan nama teman mereka yang dulu mengompol atau tidur di kelas, dan juga perkenalan dengan ibu guru Oishi mereka untuk pertama kali.

--- [] ---

Dua Belas Pasang Mata ini merupakan salah satu buku terjemahan dari Jepang yang saya sukai. Selain serial Totto Chan, Seven Samurai, dan Minamoto Yoritomo.

Dari buku ini saya tahu bahwa Jepang adalah negara yang sangat memuliakan guru. Tradisi ini sejak lama mereka canangkan dan hingga kini pun belum bergeser. Bahkan kalau kita sempat membaca berita tentang bencana tsunami di Jepang beberapa waktu lalu, hal pertama yang ditanyakan pemerintah Jepang adalah, “Berapa jumlah guru yang tersisa di daerah bencana?”

Seperti itu.

Maka saya miris saat melihat berita di Indonesia justru sebaliknya. Sekarang guru di Indonesia seperti tidak punya imunitas. Bukan terhadap campak ya, tapi terhadap perlindungan hukum.

Ngomel dikit, ditendang muridnya.

Ngomel dikit, dihajar muridnya.

Ngomel dikit, disilet muridnya.

Kalau nggak gitu, orangtua murid yang melaporkan ke polisi dan guru akhirnya dipidanakan.

Oke. Baiklah.

BAIKLAH.

Padahal…

Tanpa adanya guru, apakah profesi lain bisa terwujud?
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

5 Comments:

  1. Salah satu novel favoritku juga mbak Mayang. Old, tapi bapernya gak kalah ma novel hits kekinian :) Sensasinya ketika membaca dan muatan maknanya jempolan :)

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.