Tidak Semua Masa Kanak-kanak Menyenangkan

Muda, beda, dan berbahaya!

Namun masa kanak-kanak selalu bisa dikenang.

Kata orang pintar yang berkecimpung di dunia medis dan psikologi, masa anak-anak adalah masa keemasan. Golden age. Makanya, nggak sedikit orang di dunia yang berusaha mengampanyekan tentang hak-hak anak. Ada hari anak nasional. Ada hari anak sedunia. Karena sekali rapuh, masa anak-anak akan membekas sampai mati.

Bahkan beberapa riset menemukan bahwa masa anak-anak menentukan seperti apa karakter orang di masa depannya. Meskipun nggak semua hal di masa kecil akan berpengaruh secara total pada saat seseorang dewasa, tapi akan ada bagian yang terus terbawa. Phobia, misalnya. Trauma juga.

Contohnya begini. Sekali takut dengan kecoa karena pernah nggak sengaja ditemplokin, maka sampai dewasa akan dilanda ketakutan yang sama.

*lalu mengingat-ingat pernah takut sama hewan apa*

Ngomongin tentang masa kanak-kanak, sebenarnya kurang cadas kalau nggak sekaligus membahas tentang buku-buku berikut. Dari sebagian buku yang telah saya baca, lima buku ini benar-benar membuat saya senyum-senyum nggak jelas seharian. Manyun. Sedih. Nangis. Tepuk tangan. Gitu terus sampai bukunya menyentuh bab akhir. 

Sebenarnya ingin hati membahas buku-buku ini dengan pakar anak-anak langsung. Kakek Sugiono. Eh, maap. Kak Seto maksudnya. Kakek Sugiono mah pakar remaja perempuan yang memiliki daddy issue. Bukan anak-anak. 

Tapi siapalah saya. Kak Seto nggak mungkin kenal dengan saya. Lebih tepatnya, belum. Oleh dari itu, saya mau membahas buku ini dengan…

…diri saya sendiri. Ala-ala interview gitu. Nggak apa-apa kan? Nggak kelihatan jones kan? 

Oke, makasih.

--- [] ---

1. Buku apa yang pertama kali mau dibahas, May?

Buku yang pertama yang mau saya bahas adalah buku karya Bung Pram. Nama panjangnya tidak diketahui. Entah Pramono, Pramudya, atau Pram yang lain, nggak ada keterangannya. Secara garis besar, bukunya lucu banget. Judulnya Para Pelukis Langit
Para pelukis mimpi.

Buku ini menceritakan tentang sekumpulan anak desa di SMP terpencil yang membentuk geng di sekolahnya. Bernama Obenk. Pakai K. Bukan G. Singkatan dari Orang Bengkel Nekat. Mereka memutuskan nama tersebut karena tempat ngumpulnya selalu di bengkel gitu. Bengkel orang. 

Obenk bukanlah geng yang selalu baik-baik. Mereka terlibat tawuran, suka mencuri hasil ladang tetangga, mencoba merokok, mencoba minuman keras, dan lain sebagainya. Mereka tumbuh dengan berbagai liku-liku khas anak-anak lelaki yang suka coba-coba. Termasuk mencoba jatuh cinta.

Salah seorang anggotanya, Suep, bahkan pernah jatuh cinta dan mengejar Ika, teman sekelasnya. Suep bahkan pernah nekat ke Semarang dengan Yogo, tokoh “aku” di buku ini, hanya untuk membeli buku-buku tentang menulis surat cinta. Namun malang, Suep dan Ika tidak pernah bersatu. Meskipun begitu, Suep berhasil menjadi pujangga di kelompok mereka. 

Kalau membaca sampai akhir, meskipun ceritanya seru dan bikin senyum-senyum, sebenarnya Para Pelukis Langit ini menyimpan pesan terselubung dari bumi Purwodadi. Kabupaten yang sering dijuluki daerah dengan jalanan paling jelek di Jawa Tengah. Sebenarnya bukan karena truk-truk barang yang lewat, melainkan karena aspal murahan yang digunakan. Karena anggaran untuk membeli bahan berkualitas (untuk membangun jalan raya) telah dikorupsi. 

Berkali-kali Yogo cs ingin mengungkap hal itu, tapi semua orang di sekitarnya tidak setuju. Akhirnya mereka harus rela tumbuh dewasa di daerah yang susah listrik, susah sinyal, dan susah kendaraan. Hingga mereka dewasa dan merantau ke kota impian masing-masing.

2. Apa kutipan paling ngena dari novel ini, May?

Kutipan yang paling menampar dari buku ini adalah.

Hal yang paling memalukan dalam diri seorang laki-laki adalah takut terhadap kemampuan diri sendiri untuk mengejar mimpi.

Meskipun saya bukan laki-laki, tapi kutipan tersebut menurut saya anu banget. Benar. Saya jadi ingat beberapa kasus saat saya enggan mengambil keputusan yang berani. Dan saya menyesalinya bertahun-tahun. Percayalah, menyesal setelah melakukan sesuatu adalah lebih baik daripada menyesal karena tidak melakukan sesuatu. 

*kemudian duduk dan merenung di pojokan*

3. Buku kedua, apakah bercerita tentang sekumpulan anak SMP juga?

Bukan. Kalau buku kedua ini bercerita tentang jenjang yang lebih rendah lagi. SD. Judulnya adalah Dunia Kecil. Penulisnya bernama Yoyon Indra Joni. Jika novel pertama mengambil setting tempat di Jawa, maka kita beralih ke Sumatera. Buku ini menceritakan tentang sekumpulan anak-anak berusia sepuluh hingga dua belas di SD Koto di daerah Nagari Taratak, Padang.  
Dan dunia besar.

Ada Ikal, rajanya IPA yang hapal dan memahami beberapa buku IPA sekaligus. Ikal selalu jadi juara jika saat pembelajaran IPA diadakan kuis tanya jawab. Ikal juga selalu menenteng buku IPA kemana-mana. Sementara Epon, adalah penyair di kelas yang pandai menulis puisi, surat, dan hapal semua majas Bahasa Indonesia. Lalu ada Isep. Si jenaka yang selalu riang gembira dan suka melempar candaan di kelas. Juga Igun, seorang siswa gagu yang memiliki hati paling besar di antara kawan-kawannya. 

Terakhir, ada Asrul. Asrul merupakan anak yang berpikiran selangkah lebih depan daripada teman-temannya. Ia pengamat yang baik. Dan ternyata, Asrul inilah cerminan dari penulis yang sesungguhnya. Epilog cerita mengungkap semuanya.

Masing-masing anak menikmati pahit manis hidup dengan caranya sendiri. Jika dilihat-lihat secara mendalam, sebenarnya buku ini representatif cerita Upin Ipin banget. Hanya saja, bentuknya lebih ke cerita memoar. Berdasarkan kisah hidup penulis yang dinarasikan.

Buku ini juga bagus. Dengan jumlah halaman 462, buku ini mampu mempertahankan senyum saya yang menguar sepanjang dua hari. Saya jadi belajar bahasa Padang sedikit-sedikit dan budaya di sana yang lumayan rumit. Tapi saya suka. Semuanya dikemas bagus dan sederhana oleh penulis.

4. Adakah hal yang paling nendang dari buku ini? Misalnya kutipan atau adegannya?

Ada!

Saya suka beberapa adegan yang dituliskan di buku ini. Salah satunya adalah kala Isep bandel dan mencurangi nilai rapor yang diterimanya. Karena takut dimarahi oleh kedua orang tuanya, Isep mengubah nilai 3 di rapornya menjadi angka 8. Karena ketahuan, akhirnya anak itu harus tinggal kelas. Adegan saat Isep tinggal kelas ini, sempat membuat saya trenyuh. Semua teman sekelasnya menangis karena kehilangan sosok yang riang gembira.

Lalu ada Epon. Yang kata gurunya masih ingusan, tapi sudah bertindak macam-macam untuk mendapatkan cinta monyetnya. Ia menuliskan surat pada calon gebetannya. Namun karena ditolak, dukun pun bertindak. Epon membawa jampi-jampi dari dukun untuk dibubuhkan di meja dekat sang gebetan. Tapi yang namanya anak-anak ya, akhirnya ketahuan juga. Mau tak mau, Epon harus tinggal kelas karena perbuatannya. Kelas pun kehilangan sosok pujangga sekali lagi.

Dan jika berbicara tentang kutipan, saya menyukai ini kutipan yang dilontarkan Asrul saat temannya bertanya tentang masa depan Isep dan Epon yang tinggal kelas.

Orang yang tidak punya cita-cita adalah orang dungu. Jangankan tidak punya cita-cita, berhenti bercita-cita saja merupakan sebuah tragedi terbesar yang pernah ada dalam sejarah manusia.

5. Kalau buku yang ketiga, judulnya apa, pengarangnya siapa, dan tentang apa?

Buku ketiga, judulnya Perjalanan Mengalahkan Waktu. Penulisnya adalah Fatih Zam. Buku ini bercerita tentang seorang anak yang bernama Ardi. Ardi berasal dari keluarga di desa yang sederhana. Hampir setiap laki-laki di desanya, bermata pencaharian sebagai pemburu katak di malam hari. Ardi kecil memiliki pikiran yang berbeda. Ia ingin bekerja di bidang lain. Pemburu hantu.

Ehe. Enggak deng.

Pokoknya Ardi ingin menjadi berbeda. Ia bosan dengan pekerjaan yang itu-itu saja. Berbekal nekat dan impian masa kecilnya, Ardi merantau ke kota lain untuk masa depan yang lebih baik. Ia sempat ikut mengajar di komunitas sosial, ia sempat bekerja serabutan. Namun pada akhirnya, ia tetap menginginkan pulang pada kedua orang tuanya.
Waktu memang selalu menang.

Pada dasarnya Ardi ini “kabur” dari rumah sih. Dia memberontak. Nggak mau kerja menangkap katak. Tapi karena bapak dan ibunya tidak setuju, Ardi minggat. Barulah saat ia dewasa dan berkali-kali gagal dalam pekerjaan, ia sadar. Bahwa kesuksesan manusia, tak akan lepas dari doa kedua orang tuanya.

Terutama ibu.

6. Sepertinya buku ini cukup nyesek. Kira-kira hal yang paling memilukan dari buku ini apa, May?

Apa ya…

Kalau dipikir-pikir, bagian paling nyeseknya ya pas Ardi akhirnya sadar bahwa ia tidak akan pernah sukses tanpa doa dan restu ibunya. Ia menangis. Saya pun menangis saat membaca bagian itu. Ardi merasa ia telah menjadi anak durhaka yang menyakiti hati ibunya. Bahkan saat ibunya berusaha menelepon, Ardi enggan menjawab. Ibunya sakit hati, itu jelas.

Meskipun saya tahu kalau ibu tak akan mendoakan yang jelek-jelek pada anaknya, tapi sakit hatinya seorang ibu jelas dapat mempengaruhi nasib anaknya. Dan Fatih Zam menceritakannya dengan kepiluan mendalam. Sampai rasanya saya ingin menendang tokoh Ardi karena terlampau bebal.

7. Oke. Daripada melo, kita lompat ke buku keempat. Siapa tahu lebih cerah auranya. Coba ceritakan, May!

Baiklah. Kita menuju ke buku keempat. Judulnya Home. Pengarangnya bernama Iva Afianti. Sepertu judulnya, kisah dalam buku ini tak jauh dari permasalahan di dalam sebuah rumah tangga. Lebih tepatnya, sebuah rumah. Rumah di mana Kurt dan Beatrice membina cinta dan memiliki 7 anak laki-laki yang lucu-lucu, cerdas, dan tampan rupawan.
Sebaik-baik tempat beristirahat adalah di rumah sendiri.

Kurt dan Beatrice diceritakan sudah berusia senja. Sebagai tokoh utama lagi. Pertama kali saya membaca, sempat pesimis sih dengan alurnya. Apa yang bisa dijelajahi dari kisah kakek dan nenek? Lalu di mana letak kisah anak-anaknya?

Ternyata, kisah ini diceritakan dari sudut pandang Trully, menantu mereka dari anak pertama. Bea, nama kecil dari Beatrice, tidak setuju dengan keinginan suaminya untuk menjual rumah mereka di Menteng. Kurt yang pendiam pun tidak membicarakan alasannya apa. Bea akhirnya meminta tolong pada Trully untuk mencari tahu apa alasan sebenarnya yang membuat Kurt berkeras menjual rumah mereka.

Dan satu per satu kisah masa lalu Kurt serta Bea akhirnya terungkap. Saat membaca novel ini, saya merasa ada di posisi Trully. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kedua mertuanya. Pada akhirnya, Trully tahu bahwa Kurt dulu sempat menanamkan trauma pada anak-anaknya. Terutama suaminya, Wisnu. Wisnu sendiri memang tidak pernah cocok dengan ayahnya karena memiliki masa kanak-kanak yang kelam. Dan ternyata, hal itu terulang pada keenam adiknya.

8. Kalau pesan kesan setelah membaca buku ini apa aja, May?

Endingnya, luar biasa sih. Nggak nyangka banget kalau ternyata endingnya begitu. Dengan semua kejadian kelam yang dituduhkan pada Kurt, ternyata Bea menyimpan hal yang lebih mengagetkan. Buku ini, pantas dibaca semua orang. Harusnya buku ini dicetak ulang dan dijual di Gramedia. Harusnya. Bagus banget.

Seriusan!

Buku ini benar-benar mengungkap kisah kesetiaan mendalam dan kasih sayang yang luar biasa besar dari sosok laki-laki yang pendiam. Ayah, sedingin apapun sikapnya pada kita, sebenarnya sangat sayang pada anak-anaknya. Ayah hanya tidak bisa mengungkapkannya dengan lisan maupun perbuatan seperti ibu. Itu saja. Karenanya, ayah terkadang menyimpan semuanya sendiri dan berakhir dibenci oleh anak-anaknya.

Dan satu lagi, sebenarnya semua masalah di keluarga bisa dibicarakan baik-baik. Jangan disimpan menahun supaya tidak menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Kurt hanyalah seorang ayah yang menginginkan anak-anaknya menjadi orang baik. Tapi karena caranya yang kurang tepat, anak-anaknya jadi merasa tersakiti dan membawa kenangan masa kecil yang kurang baik.

9. Huaaa. Sediiih. Jadi kangen disuapin bapak. Hmm. Oke, baiklah. Ini udah empat buku yang dibahas. Tentu buku kelima menjadi buku pamungkas. Apakah itu, May?

Buku terakhir adalah karya Iwan Setyawan. Judulnya Ibuk. Buku Iwan yang lain udah pernah saya bahas disini. Dan ini merupakan spin off-nya yang khusus menceritakan tentang ibunya. Parah. Benar-benar parah. Dua-duanya membuat saya nangis bombay saking nyeseknya.
Tak ada yang abadi. Kecuali kasih ibu.

Ibuk menceritakan tentang sosok ibu yang mampu membesarkan kelima anaknya dengan segala keetrbatasan. Selain itu, berbeda dengan novel sebelumnya yang mengupas masing-masing karakter lewat surat, disini Iwan menuliskan kisah masa kecilnya secara mengalir.

Bagaimana ia menghabiskan malam dengan belajar berteman lampu ublik di kegelapan. Bagaimana ia dan keempat saudarinya bermain di pelataran rumah yang sempit. Dan bagaimana mereka berlima harus membagi satu kerat empal daging saat makan siang.

Semua kisah masa kanak-kanak Iwan, menjadi bahan bakar yang membuatnya sukses seperti sekarang. Iwan dan kakak-kakaknya memiliki masa kanak-kanak yang suram-suram menyenangkan. Suram karena harus makan seadanya, tidak bisa membeli mainan seperti anak lain, tidak bisa bersekolah di kota meskipun nilainya bagus karena tidak ada ongkos, dan tidak dapat memiliki kamar pribadi karena rumah yang terlampau kecil. Namun kisah tersebut juga menyenangkan karena Iwan kecil dan kakak-kakaknya jadi tahu, apa arti dari kesederhanaan.

10. Bagian paling menyedihkan dari buku ini yang bagian apa, May? Apakah ada? Ataukah sedihnya sama rata?

Ada sih. Bagian paling menyedihkan dari buku ini adalah adegan saat bapak meninggal dunia. Saya menangis sampai galau berhari-hari karena Iwan menuliskannya dengan rincian yang supernyesek. Apalagi saat membaca bagian ibu yang seperti kehilangan cahaya kehidupan. Ibu yang amat cinta pada bapak, sempat hampir kehilangan kendali saat suaminya meninggal dunia. Dan semua perasaan Iwan serta keempat saudaranya, dituliskan di bagian ini.

Itu… Sumpah ya, sedih banget nggak ketulungan.

Apalagi setelah adegan itu, Iwan dan keempat saudarinya seperti mengingat semua adegan menyenangkan masa kanak-kanaknya bersama bapak. Tentang bapak yang kadang absen narik angkot hanya untuk mengajak kelima anaknya jalan-jalan ke alun-alun kota Batu. Fiks. Pecah air mata saya.

*lalu sms bapak sendiri karena tiba-tiba kangen*

--- [] ---

Mungkin nggak banyak yang tahu tentang buku-buku tentang masa anak-anak yang saya ulas di atas. Yang paling terkenal memang Iwan Setyawan sih. Lainnya jarang saya tahu. Saya bahkan tidak pernah menemui keempat buku yang lain di Gramedia atau Togamas.

Buku yang pertama, Para Pelukis Langit, saya dapatkan di Shopping Center Yogyakarta. Di belakang Taman Pintar kan ada tuh sentra penjual buku. Nah, saya belinya di situ. Kalau buku yang kedua, Dunia Kecil, saya mendapatkannya di pameran buku Klaten. Sementara buku ketiga, Perjalanan Mengalahkan Waktu, saya beli di belakang stadion pertunjukkan Sriwedari, Surakarta. Buku keempat,  Home, saya beli di Jakarta. Di daerah Pasar Senen. Dan buku kelima, Ibuk, adalah buku satu-satunya dari daftar ini yang saya beli di Gramedia.

Saya suka sih menjelajah tempat jual buku-buku gitu. Dan saya juga suka membeli novel random dari berbagai pengarang. Meskipun bukan pengarang besar atau penulis yang memiliki belasan buku, saya akan tetap beli jika resensi singkat di bagian belakangnya menarik.

Kalau kamu, suka berburu buku juga nggak?





Pictures are taken from:
http://www.enjoyinglifewith4kids.com/2012/08/amazing-okinawan-sunset.html
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

10 Comments:

  1. Si obenk kan harusnya temennya si baut
    Lah kenapa dia ikut ikutan si kancil nyuri di ladang

    Wah si isep pinter ya bisa merubah angka 3 jadi 8
    Ah kalo baca buku ini dari dulu mah saya lebih baik contoh si isep

    Kalo neng g kuat nangis abis baca buku
    Abang siap kok nyewain pundak
    Hidup itu berat, cukup aku aja

    ReplyDelete
  2. kalau masa anak anak saya lihatnya orang tuaku sibuk banget, sekarang jadi orang tua juga gitu sibuk penginnya kerja he...

    ReplyDelete
  3. Saya nggak tau buku-bukunya, kecuali Ibuk. Udah termasuk jarang berburu buku bekas gitu, sih.

    Yang lebih memalukan dari takut mengejar mimpi adalah, sudah berlari dan mengejar mimpi, tapi kok belum sampai-sampai. Rasanya mimpi larinya kencang betul. Terus kita terjatuh, kemudian terluka, lalu ditertawakan sama kenyataan. Malu banget. Namun, udah telanjur ya kejar terus saja sampai mimpi itu kecapekan dan berhasil kekejar. :)

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.