Tere Liye dan Dongengnya Yang Abadi

Dongeng-dongeng tentang kehidupan dan masa silam.

Terlepas dari kasus tentang Tere Liye yang kemarin sempat ramai di berbagai media sosial, saya merupakan salah satu penikmat buku-bukunya. Tidak semua buku telah saya baca sih. Hanya beberapa. 

Dan setelah menimbang-nimbang, rasanya gatal juga karena saya belum sempat menuliskan satu pun ulasan singkat dari tiap-tiap bukunya. Karena ada beberapa, maka tulisan tentang Tere Liye akan saya gabungkan menjadi satu di postingan kali ini.

Sama seperti beberapa orang awam kebanyakan, dulu saya mengira bahwa beliau adalah seorang perempuan. Tere. Nama pertamanya mengingatkan saya pada seorang penyanyi wanita dengan nama yang sama. Tere juga. Makanya saya pikir beliau adalah seorang perempuan tulen. Yang cantik. Yang wajahnya teduh keibuan. Yang rambutnya berkibar-kibar ke angkasa seperti terkena efek kipas angin di iklan shampo.

Eh, tahunya ada nama depan yang nggak ikutan ditulis. Darwis. Muahahaha.

*gigit jari dan merasa tertipu*

Sebenarnya saya bukan orang yang suka mencari biodata atau identitas penulis buku yang saya baca sih. Bukan. Saya mah cuek orangnya. Tapi karena saya sempat “tertipu” dengan gender penulis yang sudah menerbitkan belasan buku ini, akhirnya saya iseng mengikuti salah satu berita yang dituliskan di portal online. Usut punya usut, ternyata Tere Liye mirip sekali dengan salah satu teman blogger.


*lalu ketawa ngakak tanpa sensor*
Cari 5 perbedaan pada kedua foto ini.

Sudah banyak yang membandingkan potret Yoga dengan Tere. Liye. Dan memang mirip sih. Saya sendiri curiga. Jangan-jangan, mereka memang satu keturunan. Sama-sama nulis buku lagi. Bedanya, buku Tere lebih ke arah dongeng dan kehidupan. Kalau bukunya Yoga, ya tahu sendiri lah kayak gimana. Lucu-lucu menyebalkan. Oh iya, saya jadi ingat kalau belum pernah nulis tentang bukunya Yoga. Pankapan deh. Nunggu momen yang tepat.

Jadi, bang Tere ini sudah menuliskan banyak sekali buku. Di antaranya adalah antologi puisi, kutipan, dan juga novel. Di antara novelnya ada yang merupakan novel serial. Ada lanjutannya gitu. Novel serial bang Tere belum termasuk yang saya bahas di sini karena masih akan ada buku kelimanya. Biarlah tamat dulu baru diulas kelimanya.

Mengapa saya mengatakan bahwa novel bang Tere ini dekat dengan dongeng abadi?

Mengapa tidak begini?

Mengapa tidak begitu?

Karena satu. Hampir setiap novelnya selalu memiliki ending yang bagus-bagus. Alurnya juga terlihat landai tanpa harus meneropong hilal. Dan karakternya. Sumpah ya. Karakternya selalu nyaris sempurna.

Saya bukan ngomongin “sempurna” dalam artian sukses dan hidup dalam harta yang hingar bingar. Bukan itu. Bukan pula memiliki paras tampan dan cantik seperti artis dan aktor korea di luar sana yang sekali senyum, tiga abege mati. Sempurna dalam artian dan pemahaman yang lain.

Karakternya rumit. Tapi selalu mengalami jalan hidup yang sederhana. Karakternya sederhana tapi memiliki jalan hidup yang rumit. Memiliki masalah yang luar biasa kampret tapi bisa menyelesaikannya dengan mudah. Memiliki bakat-bakat yang luar biasa dan kemampuan di atas nalar. Hm. Kalau dijelaskan masing-masing, mungkin butuh beberapa postingan bersambung. Saya nggak akan kuat. Biar bang Tere saja.

Maka dari itu, saya akan menuliskannya secara sederhana. Dan membahas buku-buku bang Tere ini dengan cara yang paling sederhana.

--- [] ---

Semua hal yang diceritakan bang Tere, menurut saya semu. Bukan dalam artian negatif sih. Saya sendiri bahkan menyukai beberapa karyanya dengan teramat sangat. Meskipun saya sering berontak dengan ceritanya yang menurut saya terlampau sempurna tadi.

Seperti saya memberontak dan menangisi kematian Fitri di buku pertama bang Tere yang saya baca kala itu. Buku paling bedebah yang membuat hati saya patah saat membaca bab demi babnya.

Rembulan Tenggelam di Wajahmu
(2006)
Rembulan Tenggelam di Wajahmu.

Buku ini saya pinjam dari seorang teman kos saat saya berkuliah di semester 1 dulu. Buku ini juga yang membuat saya jatuh cinta sekaligus patah hati pada sosok bang Tere. Bangsat.

Bukunya bagus banget sumpah!

Reihan, tokoh utama dalam buku ini, memiliki kisah hidup yang penuh liku dan merasa bahwa dirinya adalah orang paling sengsara di jagad raya. Reihan selalu mempertanyakan kekuasaan Tuhan. Jika demikian besarnya Tuhan, mengapa Reihan tidak diberikan secuil kebahagiaan? Mengapa satu per satu hal yang ia miliki diambil? Reihan pun menolak bersyukur karena dirinya merasakan ketidakadilan dalam hidup.

*lebay lu, mz*

Reihan bertemu Natan, dan hidup Natan jadi berantakan. Bertemu dengan Plee, merusak hidup Plee. Emang bener-bener deh karater Reihan ini. Tiap masalah tersebut usai satu-satu, Reihan justru kabur dan mencoba mengulang hidup yang baru. Sampai akhirnya ia bertemu juga dengan sosok yang menjadi istrinya. Fitri. Seorang mantan simpanan pejabat yang sebenarnya memiliki “hubungan” dengan Reihan tanpa mereka tahu.

Namun malang, Fitri meninggal dengan kandungannya. Lagi-lagi, Reihan terpukul dan lari meninggalkan tempatnya bersama Fitri. Mencoba mencari hidup yang baru. Ia bertemu dengan Vin. Yang menjadi kolega kerjanya. Vin menyukai Reihan, tapi Reihan tetap setia pada Fitri meskipun istrinya itu telah tiada. Hingga mereka sama-sama berusia 40-an, akhirnya Vin meninggal dunia dan Reyhan melayatnya. Di tengah kegamangan karena merasa telah mematahkan hati Vin, Reihan yang penuh emosi menabrak sepasang suami istri. Begitu seterusnya hingga cerita membawa kita pada keadaan dimana Reihan sedang terbaring di rumah sakit karena komplikasi penyakit yang serius.

Ia akhirnya tahu, mengapa kesengsaraan menghampirinya bertubi-tubi. Mengapa banyak orang tersangkut pada masalahnya. Semua matriks tersebut akhirnya terungkap dan Reihan menyadari, bahwa ia hanya kurang bersyukur. Lebih tepatnya, ia tidak pernah bersyukur. Novel ini mengingatkan saya pada film Mr. Nobody yang diperankan oleh Jared Leto. Setting rumah sakit di usia senjanya mirip-mirip sih.

Setelah itu, saya sempat ketagihan pada tulisan bang Tere. Saat ada buku keduanya, saya langsung membeli tanpa pikir panjang. Pokoknya beli, beli, beli. Karena ekspektasi saya sudah tinggi.

Pulang
(2015)
Pulang.

Judulnya umum banget. Pulang. Pulang ke mana? Itulah yang menjadi poin pentingnya. Jika buku sebelumnya menceritakan tentang kesengsaraan seorang anak manusia, maka Pulang ini membawa angin berbeda. Entah bang Tere mendapatkan riset darimana, novel ini mampu membawa tema Shadow Economy. Hm. Cukup menarik.

Novel ini menceritakan tentang seorang pemuda (lagi-lagi) yang bernama Bujang. Bukan karena dia membujang seumur hidupnya. Bukan. Tapi karena namanya memang Bujang. Dikasih nama begitu oleh ibu dan bapaknya. Jangan protes.

Bujang ini memiliki fisik yang warbyasa tegap dan kokoh. Yah, mirip-miriplah dengan bangunan bersemen Gresik. Karena ia piawai menangkap babi hutan, Bujang dijuluki pula dengan nama yang sama seperti buruannya. Babi hutan. Kalau saya sih ogah. Sekuat-kuatnya babi hutan, tetap saja babi. Babi. Yang biasa keliling saat malam Jumat.

Karena kemampuannya tersebut, Bujang akhirnya dibawa oleh teman bapaknya, Tauke Muda, untuk menjadi salah satu tukang pukulnya. Mengapa Tauke Muda butuh tukang pukul?

Karena ternyata… Ia adalah salah satu penguasa dan penggerak Shadow Economy di Indonesia.

Gokil nggak tuh. Kurang sempurna dan dongeng apa cerita bang Tere yang satu ini.

Saya memang bukan anak ekonomi, bahkan saya cenderung buta ekonomi. Hanya tahu sebatas MLM doang. Itu pun karena nyaris ditipu teman kos sendiri. Tapi lumayan lah dapat makan siang gratis di hotel.

*yang penting anak kos senang*

Tapi saya paham bahwa semua gerak-gerik roda ekonomi di Indonesia tidak akan ada yang senyalang dan sehitam itu. Okelah kalau bandar narkoba ya. Banyak memang. Tapi kalau bisnis hitam yang seperti Tauke Muda lakukan, kayaknya saya belum pernah menemukan sekalipun saya pernah jalan-jalan di beberapa situs hitam. Jadi, maaf bang Tere, ceritanya agak halu.

Saya bisa menebak alur dan akhirnya seperti apa. Karena entah mengapa, bang Tere di buku yang ini seperti membiarkan rumahnya tak beratap selembar rumbai pun. Telanjang. Dilihat mata awam pun, tahu bahwa alurnya akan sedemikian rupa. Apalagi di adegan action yang menunjukkan bahwa tokoh Bujang ini sempurna sebagai sosok yang terkuat di tanah Sumatera. Sempurna ~

Semua cerita pertempuran yang dipaparkan membuat saya seperti nonton film-film Jackie Chan. Persis. Yang naik ke lantai paling atas, berhadapan dengan musuh-musuh di tiap sisi gedung, itu juga sama seperti salah satu episode Spongebob Squarepants yang mendapatkan kesempatan belajar kung fu di pulau seberang. Sama. Seriusan.

*kesel banget bacanya*

Saya hanya menyukai bagian “pulang”-nya. Dimana Bujang akhirnya menyadari, bahwa dalam setiap pertempuran dan di tempat manapun ia berada, hatinya akan selalu pulang. Ke rumah ibu dan bapaknya yang telah dipasangi batu nisan.

Setelah itu, saya sempat stuck dan tidak mau membeli buku bang Tere dulu. Tapi saat melihat novel ini, saya tidak tahan untuk tidak membeli. Meskipun dalam hati, saya tidak mau kecewa lagi.

Hujan
(2016)
Hujan.

Seperti Pulang, judul buku kali ini klasik dan biasa banget. Hujan. Buku ini mengambil tema overpopulasi yang terjadi di bumi setelah menapaki abad ke 25. Dari segi temanya, saya sedikit tertarik. Lumayan lah. Sepertinya bisa mengobati kekecewaan saya pada Pulang.

Hujan bercerita tentang Lail, yang di adegan pertamanya ingin segera menghapus ingatan tentang hujan dan masa lalunya di salah satu klinik neuroterapi milik Elijah.

*dan ini membuat saya cengo kenapa namanya harus Elijah*

Lail merasa kecewa pada hidupnya. Karena ia patah hati. Sederhana memang. Lail patah hati pada seorang pemuda bernama Esok yang menjadi temannya sedari kecil karena Lail mengira Esok akan meninggalkannya di bumi. Karena Lail mengira Esok akan menikah dengan gadis lain di perjalanannya menuju migrasi ke luar angkasa. Lail tidak mau mengingat Esok lagi.

Dari segi penggambaran alur dan plot, saya lebih suka Hujan daripada Pulang. Meskipun tema yang diangkat jauh lebih sederhana, tentang cinta-cintaan anak muda, yang diberi sentuhan teknologi supercanggih. Secara gampangnya, Hujan mampu menghujani hati saya sampai basah. Meskipun saya akui, saya tidak dapat menangis dan hanya menyelesaikan bukunya dengan kaku.

Tapi buku ini jelas lebih bagus.

Karenanya, saya jadi rindu membaca tulisan bang Tere lagi. Saya sempat yakin bahwa beliau akan menulis novel sebagus Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Dan datanglah novel berikutnya.

Rindu
(2014)
Rindu.

Rindu sukses membawa nuansa islam dengan sederhana. Kerinduan menuju rumah-Nya. Sebenarnya hanya itu yang diinginkan bang Tere untuk sampai pada pembacanya. Menurut saya sih. Novel ini berkebalikan dengan Hujan. Hujan mengambil latar waktu di masa depan, sementara Rindu mengambil latar waktu di masa lalu. Saat jaman penjajahan Belanda di Indonesia.

Tanggal 1 Desember 1938, sebuah kapal Belanda berlabuh di Makassar untuk membawa calon jamaah haji ke tanah suci. Cukup banyak calon penumpang yang naik dari Makassar. Ada alim ulama bernama Ahmad Karaeng, yang biasa dipanggil Gurutta. Ada Ambo Uleng, yang mendaftar menjadi salah satu kelasi di kapal tersebut. Ada Bonda Upe dan suaminya, yang nanti menjadi guru mengaji di kapal tersebut.

Ada pula Daeng Andipati yang memiliki seorang istri cantik dan dua anak perempuan yang lucu. Tapi saya tidak suka pemilihan nama keduanya. Anna dan Elsa. Ayolah. Kayak nggak ada nama lain aja. Saya jadi ilang feeling sesaat setelah mengetahui nama dua tokohnya yang ini. Apalagi saat itu sedang demam film animasi Frozen.

Namun saya tidak akan berhenti sebelum menghabiskan bukunya. Prinsip saya satu sih, senggakbagus-nggakbagusnya sebuah karya, saya harus tetap menikmatinya sampai akhir. Entah itu buku atau film. Atau lagu. Walaupun saya akhirnya nggak akan suka, setidaknya saya sudah mengapresiasi dengan menikmati sampai akhir. Meskipun kadang terpaksa juga.

Oke, kembali ke Rindu. Setelah semua penumpang naik, kapal mulai melaju menuju ke pelabuhan berikutnya. Surabaya. Sepanjang perjalanan, banyak sekali hal yang terjadi di kapal. Satu per satu rahasia kelam tiap penumpang terungkap ke permukaan. Saya suka saat masing-masing karakter ternyata mampu berdamai dengan masa lalunya dan merelakan waktu terus berjalan. Jadi menurut saya, Rindu lumayan bagus jika dibaca untuk teman pemulihan jiwa.

*tapi tidak berlaku untuk jiwa yang gesrek*

Meskipun saya tidak suka “kesempurnaan” di novel ini dan saya justru lebih menyukai Pulang dibandingkan Rindu, tapi saya tetap menyukai petuah bijak yang diutarakan di sini. Dari sekian banyak tokoh di buku bang Tere yang berperan sebagai pemberi petuah, saya paling menyukai tokoh dari buku ini.

Gurutta aka Ahmad Karaeng.

Dari titik tersebut, saya paham jika menikmati novel atau tulisan, mood seseorang akan sangat berperan. Mungkin saya nyaman membaca Rindu karena saya sedang butuh bacaan yang islami. Mungkin. Mungkin juga dulu saat saya membaca Pulang dan kesal sendiri, karena saya habis menonton film action.

Dan karena Rindu, saya jadi memutuskan untuk tidak berburu buku bang Tere lagi. Nanti lah, kalau ada yang benar-benar membuat haru biru, saya beli lagi. Karena saya benar-benar suka dengan Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Buku pertama bang Tere yang saya baca, yang sampai sekarang malah belum saya miliki. Saya belum beli sendiri. Dulu kan minjem teman kos.

Beberapa lama tidak membeli buku bang Tere, tepatnya di tahun 2016, seorang teman memberikan kado buku kepada saya karena momen kelulusan. Saya tidak menyangka bahwa buku yang diberikan adalah buku beliau. Bang Tere.

Sunset Bersama Rosie / Sunset dan Rosie
(2011)
Sunset dan Rosie.

Sunset adalah hal terindah yang pernah terekam di kehidupan seorang Rosie. Dengan sunset, ia seperti memiliki segalanya. Dengan sunset ia, juga kehilangan segalanya. Kebahagiaan keluarganya direnggut dalam tragedi bom bali di Jimbaran. Suaminya, Nathan, meninggal dunia dengan kepala pecah. Sakura, anak keduanya, mengalami luka berat. Sementara Lili, si bungsu yang masih bayi, mengalami depresi.

Tegar adalah seorang yang menyukai pagi. Baginya, waktu selalu pagi. Tegar adalah sahabat pertama Rosie yang menceritakan kisah dalam buku ini dari sudut pandangnya. Dialah tokoh “aku”. Tegar selalu mencintai Rosie sejak puluhan tahun yang lalu. Saat mereka masih kanak-kanak. Dan Tegar pula yang mengenalkan Rosie pada Nathan, sahabatnya di kampus. Namun saat Nathan dan Rosie akhirnya menikah, Tegar patah hati dan merasa kalah. Kalah cepat.

Tegar sempat menghilang dan akhirnya baru kembali setelah Rosie dan Nathan mencarinya di Jakarta. Mereka berbaikan. Tegar juga ikut menyayangi keempat anak Rosie yang semuanya diberi nama bunga. Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili. Entah mengapa semuanya nama bunga. Mungkin bang Tere ingin anak-anak Rosie nama aslinya disamarkan karena ada skandal di dalam buku ini.

Tapi ternyata bukan. Bukan skandal yang menghiasi buku ini. Melainkan alur yang platonis. Alur yang kalau dibaca, “Ah, memang idealnya begitu”. Tanpa kejutan. Tanpa klimaks yang berarti. Semua mengalir begitu saja. Namun saya justru tidak suka!

Sejujurnya, buku bang Tere yang ini, adalah buku yang benar-benar tanpa gebrakan. Kalau boleh membandingkan, meskipun tidak etis, buku ini Kuch Kuch Hota Hai banget. Nggak kurang. Nggak lebih.

Dan saya benar-benar nggak habis pikir dengan endingnya yang supertanggung. Bang Tere seperti melakukan mic drop dan pergi dari panggung begitu saja saat penonton masih menunggu klimaksnya. Ibarat mendaki gunung, masih di atas lerengnya, tiba-tiba balik ke bawah dan turun. Nggak sampai ke pos 1, 2, bahkan puncak.

Melihat “kesempurnaan” tokohnya, saya juga heran lagi. Ini dongeng banget. Bukan saya mematahkan semangat dengan membatasi cita-cita. Tapi tokoh Sakura di sini benar-benar superwah. Jago Bahasa Jepang di usia satuan. Jago main biola sampai diundang resital dan rekaman oleh maestro orkestra. Menurut saya, terlampau sempurna jika dijadikan salah satu karakter sebuah cerita yang nyatanya begitu sederhana. Timpang.

--- [] ---

Saya bukan haters beliau. Saya bukan haters bang Tere. Tapi jujur saja, saya tidak bisa mencintai semua bukunya. Saya hanya suka satu. Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Itu aja. Selebihnya, saya tidak mendapatkan sensasi jatuh cinta. Semua datar dan terlalu dongeng buat saya.

Kalau kalian, pernah baca dan suka buku bang Tere yang mana aja?





Pictures are taken from:
https://www.tokopedia.com/suksespustaka/tere-liye-sunset-dan-rosie
https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/novel/nkeu0-jual-novel-rembulan-tenggelam-di-wajahmu-tere-liye-buku-islam-online
http://www.harisfirmansyah.com/2016/09/wahai-para-shohabat.html
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

4 Comments:

  1. belum pernah baca hahaha
    si yoga itu versi tere liye muda loh
    Coba liat rambutnya, sama-sama item
    coba liat matanya, sama-sama dua
    coba liat idungnya, sama-sama nempel diatas mulut
    coba liat mulutnya, sama-sama nempel di bawah idung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba baca yang Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Nik. Siapa tau kamu bisa menangis. Kalau nggak bisa, setidaknya masih bisa pipis.

      Yoga memang mirip dengan Tere Liye. Sama-sama lelaki.

      Delete
  2. Emang keren..
    Tapi sejauh ini baru baca 4 bukunya aja eh.. Pulang, Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang...

    Semoga dalam waktu dekat bisa baca bukunya lagi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cobain yang Rembulan Tenggelam di Wajahmu deh :)

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.