Kesan Pertama

Kesan pertama.

Jika aku tahu bahwa hari pertama bekerja akan sehectic ini, seharusnya aku tidak menghabiskan malam dengan pekerjaanku sebelumnya. Semalam aku baru pulang saat orang-orang sudah pulas menikmati tidur berkepanjangan. Lewat tengah malam. Seperti biasanya. Dan kini aku harus menanggung akibatnya dengan bangun kesiangan. Sialan.

Tanpa pikir panjang, semua buku-buku Bahasa Inggris kujejalkan tanpa ampun ke dalam tas yang baru kubeli beberapa hari yang lalu. Ransel sederhana berwarna hitam. Tak lupa sepasang speaker dan laptop kubawa serta. Aku harus menciptakan kesan pertama yang fenomenal nantinya. Tak peduli bagaimana pagi membabi buta menyiksaku, pertunjukan harus tetap berlangsung. Setelah semua siap, aku lekas menuju ke arah meja rias dan membubuhkan bedak tipis-tipis pada wajahku. Tipis. Hanya tipis. Oke. Baiklah. Selesai.

Lalu… Lipstik!

Ah, sial. Kemana perginya lipstik yang berwarna merah jambu? Aku merunduk dan mencari di sekeliling kaki meja rias dengan seksama. Nihil. Mengapa di saat yang dibutuhkan begini dia justru menghilang?

Aku lekas bangkit dan mengambil lipstik yang berwarna lebih merah. Memulaskannya setipis mungkin karena pekerjaan kali ini sungguh berbeda dengan sebelumnya. Aku tidak boleh berdandan dengan make up yang terlalu rapat. Oke. Selesai. Semuanya sudah siap. Rambutku sudah rapi dan kemejaku tidak kurang suatu apa pun. Dengan hati-hati, aku melingkarkan jam tangan dan mengenakan kacamata. Sempurna.

Kuhabiskan teh tawarku yang tinggal setengah gelas. Lalu, tanpa sempat mencucinya - meskipun biasanya aku rewel melihat bekas alat makan dan minum yang kotor berserakan di meja - aku berlari ke depan menuju pintu. Menguncinya. Dan segera berlari ke arah halte bis trans dengan tergesa-gesa. Aku tidak boleh terlambat di hari pertama. Meskipun saat ini sudah tiga puluh menit menjelang upacara bendera.

--- [] ---

Bis berhenti tepat di persimpangan empat dekat sekolah. Aku turun. Diguyur hujan tanpa ampun. Mendung sepagian ternyata tidak mampu mempertahankan uap air yang tertahan di antara awan. Sesaat setelah aku naik bis tadi, hujan turun dengan lebatnya.

Baguslah. Pasti upacara ditiadakan dan aku tidak jadi terlambat hari ini. Namun pikiran naif itu langsung sirna saat aku ingat bahwa payungku tertinggal di rumah.

Kini aku harus berlarian di bawah atap-atap ruko sepanjang seratus meter untuk sampai di gerbang sekolah. Berusaha sekuat mungkin supaya tidak basah. Dengan tertatih, aku melewati beberapa pedagang asongan yang juga berteduh di sekitar serambi toko sambil minum kopi atau merokok. Aku menggigil. Kuputuskan untuk mengoper letak tas ranselku dari belakang ke depan agar bisa kudekap erat-erat.

Gerbang sekolah hanya selangkah lagi. Namun aku melihat ada seorang anak laki-laki berdiri sambil merokok dan memegang koran pagi. Di depan tempat fotocopy yang persis ada di samping gerbang. Melihat dari seragamnya, sepertinya dia merupakan salah satu murid di sekolah ini. Aku tahu persis karena dulu sudah pernah berkeliling dan mengamati seragam serta badge sekolah yang dikenakan. Setiap hari Senin hingga Kamis, mereka mengenakan baju abu-abu putih. Setiap Jumat, mereka memakai batik. Dan setiap hari Sabtu, mereka mengenakan baju pramuka.

Entah mengapa aku penasaran dengan wajahnya. Maka kuputuskan untuk berhenti sejenak. Saat ia membalik halaman koran ke lembar selanjutnya, tatapan kami bertemu untuk sepersekian detik. Aku diam. Ia diam. Lantas meludahkan puntung rokoknya.

Tatapannya seakan memberi penegasan, “Awas, kalau lo ngadu ke guru BK! Gue kejar lo sampai ke neraka!”

Tak ada setan. Hanya ada hujan. Namun bulu kudukku meremang. Entah karena kedinginan atau ketakutan, aku tidak paham.

--- [] ---

Aku tidak habis pikir. Dengan ukuran sekolah yang seluas lautan ini, ruang guru ditempatkan di pojokan dekat dengan gudang dan perpustakaan.

Yang bikin denah siapa, sih? Benar-benar tidak strategis.

Sementara ruang kepala sekolah dan wakil kepala sekolah ada di antara laboratorium IPA dan Bahasa. Di seberang ruang Bimbingan dan Konseling yang dicat hijau. Senada dengan banyaknya tanaman dan pepohonan di sekitarnya.

Aku mengetuk pintu kepala sekolah dengan hati-hati. Lalu menarik napas perlahan untuk menyambut setiap kejutan yang mungkin muncul setelah ini.

“Silakan masuk,” Suara berat dari dalam mempersilakan.

“Selamat pagi, Pak Pardi.” Aku membuka pintu dan berjalan ke arah meja beliau.

Suasananya terlihat sama. Masih ada rubik yang warnanya berantakan. Masih ada foto bersama keluarganya. Masih ada seperangkat radio dan speaker yang memutar siaran FM secara acak. Begitu aku masuk lebih dekat, radio tersebut dimatikan. Beliau mempersilakan aku untuk duduk dengan isyarat tangannya.

“Gugup di hari pertama, Bu Tania?” Tanyanya sejurus kemudian.

“Sedikit, Pak.” Kujawab sambil mengulum senyum tipis. Brengsek. Sedikit, kataku. Padahal dalam hati, aku merasakan gejolak tidak nyaman yang luar biasa mengesalkan.

“Hari ini upacara ditiadakan…”

Karena hujan, pikirku.

“Jadi Bu Tania bisa langsung mengisi pelajaran di kelas sesuai jadwal yang sudah saya berikan minggu lalu. Sepertinya hari ini mengajar dua kelas. Jam pertama kedua dan jam kelima keenam. Bukan begitu?”

Tepat!

Kepala sekolah memang memiliki eidetic memory. Terlihat dari caranya bicara dan mengingat hampir semua hal yang pernah ia katakan padaku. Sejak pertama kali kami bertemu saat aku membawa surat lamaran di sekolah ini. Sungguh bakat yang mengagumkan.

Aku mengangguk mengiyakan kalimatnya barusan.

“Baiklah, mari saya antar ke ruang guru. Bu Tania mendapatkan meja di deretan belakang. Paling pojok. Dekat dengan etalase piala.” Jelas kepala sekolah dengan lugas. Beliau berdiri sambil mempersilakan aku untuk keluar lebih dulu.

Kami berjalan di koridor dalam keheningan. Rupanya benar rumor yang dikatakan beberapa guru di sini. Pak Pardi irit sekali dalam berbicara. Hanya perkara penting yang dibahas. Selebihnya, diam. Namun aku jadi tidak perlu repot-repot untuk mencari topik pembicaraan. Karena jarak ruang guru dan ruang kepala sekolah cukup lumayan.

Sesampainya di ruang guru, aku diperkenalkan pada semua tenaga pendidik yang lain sebagai “Bu Tania - guru Bahasa Inggris yang baru”. Selanjutnya aku memberi salam dan menunjukkan ekspresi mendalam dengan ungkapan “Mohon bimbingannya, para senior” dan menyalami hampir semua guru yang ada di sana. Kecuali Pak Anam - terlihat dari nametagnya - yang merupakan guru Pendidikan Agama Islam.

Aku duduk di meja yang telah disediakan. Ada namaku tertera di ujungnya. Setelah mengeluarkan beberapa amunisi mengajar dari dalam tas, aku menelisik jadwal pelajaran. Kelas yang akan kuajar pertama kali adalah… XI IPA 7.

--- [] ---

“Hei, katanya hari ini kita akan diajar oleh guru Bahasa Inggris yang baru.”

“Jadi, Pak Roni beneran udah pindah?”

“Iya, Pak Roni udah pindah ke Surabaya.”

“Berarti beneran dong. Kirain pamit yang dulu hanya candaan. Kan Pak Roni jayus.”

“Hahaha, iya juga ya.”

“Lalu, guru yang sekarang perempuan atau laki-laki?”

Aku hampir tertawa pecah saat mendengar pembicaraan siswa di kelas XI IPA 7. Namun kutahan-tahan karena aku tidak ingin merusak kesan pertama ketika mengajar.

Harus terlihat sedikit berwibawa, Tania. Harus.

Hampir lima menit aku duduk di depan kelas untuk menunggu bel masuk berbunyi. Karenanya, aku jadi bisa mendengar obrolan mereka yang penasaran dengan guru barunya.

KRRRIIIIIINNNGGG!!!

Akhirnya berbunyi juga.

Aku berdiri dan merapikan baju yang sebenarnya tidak berantakan. Dan rambut. Oh iya, rambut. Setelah merapikannya dengan jari, aku bergegas menuju ke arah pintu kelas yang terbuka lebar. Puluhan pasang mata menatap ke arahku dengan gerakan lincah. Mereka berlarian duduk ke bangku masing-masing. Setelah menempatkan buku dan laptop di atas meja, aku menyapu pandangan pada wajah mereka satu per satu. Dan tersenyum.

“Good morning. My name is Gisella Tania. You can call me Miss Tania. And I am the new English teacher here. Nice to meet you.”

Senyum mereka rekah. Meskipun ada yang memandang dengan penasaran dan penuh rasa ingin tahu lebih dalam.

“Good morning, Miss Taniaaa! Nice to meet you toooo!” Jawab mereka serempak.

Aku tertawa pelan. Namun tidak lekas memulai pembelajaran. Kuraih daftar absensi kelas dan memulai sesi perkenalan diri. Karena ungkapan “tak kenal maka tak sayang” jelas berlaku di keadaan dan pekerjaan seperti ini. Satu satu dari mereka berdiri di bangkunya dan menyebutkan nama, alamat, serta hobinya. Semuanya lucu dan memiliki jawaban yang unik. Salah satu siswa yang bernama Dipta, bahkan menyebutkan ukuran sepatu dan film favoritnya. Yang kemudian disambut oleh sorak sorai cemoohan dari kawan-kawan sekelasnya.

“Januar Adi Chandra?” Panggilku setelah membaca nomor urut selanjutnya.

“He’s absent, Miss Tania. He’s on duty.” Teriak Eko sambil tertawa cekikikan.

“What duty?” Balasku pada Eko. Namun ia justru tertawa lebar tanpa filter sama sekali.

“He’s trying to save the world!” Karin, salah seorang siswi menyahut. Lalu kelas riuh rendah oleh tawa anak-anak yang lain.

Sebenarnya aku tidak paham apa maksudnya. Namun aku hampir ikut tertawa sebelum akhirnya mendengar suara pintu kelas diketuk dengan anarkis. Semua pandangan berpaling ke arah sumber suara.

“Sorry, I am late.”

Anak laki-laki itu.

Anak laki-laki yang tadi pagi kulihat merokok sambil membaca koran.

Anak laki-laki yang memiliki pandangan dingin dan mengerikan.

Kami berpandangan lagi sesaat. Dalam hening dan jeda yang cukup panjang. Kemudian ia mendesis seperti kesal karena melihatku. Yang ternyata merupakan guru Bahasa Inggrisnya yang baru. 

Belum sempat aku mempersilakan ia untuk masuk, tiba-tiba ada suara berteriak lantang.

“HE IS JANUAR, MISS TANIA!”

Sesaat tenggorokanku tercekat seperti dicekik tali rafia. Januar masih melihatku yang mulai gusar dengan tatapan tajamnya. Sepertinya, aku akan benar-benar dikejar olehnya ke neraka.
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

12 Comments:

  1. Ini... ini.... bersambung apa gimana, May? Atau sengaja nih para pembacanya digantungin? Pengen tau si Januar ini anaknya badung beneran apa pencitraan doang. Ehehehe.

    Aku baca ini ngebayanginnya si Tania itu kamu, May. Terus si Januar itu Dane DeHaan anjir. Deskripsi "tatapan dingin dan mengerikan" itu bikin aku langsung keingatan sama mata belum-tidur-dua-minggu-tapi-seksi-bener-nya Dane DeHaan.

    AAAAK KALAU GITU AKU AJA DEH YANG JADI TANIANYA DEH AAAAAAAAAAAAAAAK MAUUUUUUUUUU :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya mau digantungin doang sih, Cha. Lanjutannya belum kepikiran. Ehe. Kayaknya ini gara-gara habis baca Dear Nathan lagi, jadi keinget sosok Jefri Nichol. Tania terlalu cantik buat aku, Cha. Kurang gahar.

      Dane DeHaan emang matanya bagus banget elah. Kayak sakaw-sakaw nantangin di kasur gitu.

      Delete
  2. Penulisnya curang nih. Kenalan duluan sama Eko.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya, Eko dan Tania adalah saudara sepersusuan.

      Delete
  3. ini kisah nyata yach mbak ? kok asik bngtz dibaca.. :)

    ReplyDelete
  4. Setuju, Kang. Ceritanya asyik tapi sayang membuat pembaca merasa digantung. Semoga aja bersambung, hehehe

    ReplyDelete
  5. Awwweeee

    Awalnya aku pikir tokoh utamanya ini pengerek bendera hahaha
    Ternyata guru bahasa inggris

    Bagus iniiiiiiiiii
    Kayak komik gitu plotnya.

    Akankah jadi love story Teacher and student kayak komik benerannn??
    WKkwkwkwkwkw

    Ditunggu part selanjutnyaaaaaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengerek bendera. Kok bisa? Wkwk.

      Love story teacher and student kok kayaknya tabu banget ya. Ini yang perempuan loh gurunya. Bukan yang laki-laki XD

      Delete
  6. Ini nantinya bakalan cinlok apa sama anak SMA? Kayaknya Tania memang doyan berondong. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau berondongnya kayak Robby sih, saya juga mau. Eh, maksudnya, Tania juga mau.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.