I Sit by A Cup of Tea in The Morning

I sit by a cup of tea in the morning.

Saya selalu menyukai pagi hari.

Morning talks.

Morning thoughts.

Morning meals.

Morning person.

Morning glory. 

Saya selalu memimpikan bisa morning glory dengan morning person dan menyantap morning meals berdua setelah kami melakukan morning talks tentang morning thoughts masing-masing.

Dan besoknya, kami berdua akan sama-sama mengalami morning sickness.

--- [] ---

Beberapa kebiasaan saya saat pagi tiba adalah bangun, bangkit dari tidur dan duduk sambil merenungi pagi yang datang lagi, menyiapkan diri untuk kesibukan harian, dan menuliskan sebaris kalimat yang saya pikirkan pertama kali saat membuka mata. Tapi kebiasaan yang terakhir hanya bertahan setahun. Setelah jar sebagai wadah kertas-kertas tersebut penuh, saya tidak sengaja meninggalkannya saat pindahan dari Malang ke Surakarta. Beberapa bulan yang lalu.

Jarnya hilang dan pergi entah kemana. Seperti masa lalu. Padahal tulisan di sana banyak yang bagus. Motivasi-motivasi gitu lah. Meskipun ada juga yang ampas dan hanya berisi kalimat “pagi datang lagi, malam bersembunyi, karena mereka sedang main petak umpet”.

*sok puitis lu, May*

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat sakit cukup lama. Diagnosa dokter cukup mengejutkan, tapi semua hal tetap berjalan sebagaimana mestinya. Setelah sembuh, niatnya saya mau mengisi konser Paramore. Tapi kemarin malam sakit saya kambuh lagi, sehingga saya batal menyanyi di Jakarta. Kasihan sih sama fans, tapi ya mau bagaimana lagi. Daripada kotak tertawa saya rusak. Yakan?

Sebagai penjunjung tinggi nuansa pagi hari, saya amat menyukai teh tawar panas. Saya sudah tidak mengonsumsi gula sejak empat tahun yang lalu. Sebisa mungkin. Meskipun kadang masih kelepasan dan khilaf memesan es jeruk manis tiga gelas di warung makan. Atau sengaja meminta hidangan penutup berupa dua cup es krim cocopandan di nikahan mantan teman.

Teh tawar panas adalah kenikmatan yang hakiki.

Sama seperti Indomie kuah panas pakai telur rebus setengah matang, sawi, wortel, kubis, irisan cabe hijau, dan taburan bawang merah goreng yang renyah. Disajikan di mangkuk lejen yang berwarna putih dan bergambar ayam dengan sepasang sendok dan garpu stainlessteel.

Sungguh sialan, saya jadi lapar sekarang.

--- [] ---

Sebenarnya postingan kali ini random. Lama nggak nulis postingan curhat-curhatan dan receh. Jadi hari ini, mau nulis yang beginian. Dan ini agak panjang. Maka bersiaplah.

Setiap pagi, saya selalu memikirkan hal-hal acak sejak bangun dari tidur. Biasanya saya bermimpi. Lalu mimpi tersebut masih terbawa hingga saya memasak nasi, menyeduh teh, atau duduk sambil membaca berita harian di portal online. Iya. Saya masih sering membaca berita harian. Kadang kalau sedang iseng dan berjodoh, saya akan membeli koran cetak di perempatan lampu merah dekat rumah sakit umum daerah Surakarta. Bapaknya baik banget. Kadang bawa TTS. Kadang bawa tabloid masakan. Kadang bawa cerita usang semalam tentang anaknya yang tak kunjung pulang.

Setiap membaca kabar pagi, ide-ide dan pikiran-pikiran liar pun jadi bermunculan. Biasanya sedikit. Dan tidak jauh-jauh dari harga pembalut yang meroket atau harga beras kiloan yang naik turun. Namun biasanya juga, pikiran tersebut keluar bagai air bah kecokelatan yang mengenai ladang gandum. Banyak banget. Sampai saya sedikit mempertanyakan kewarasan saya. Dan brengseknya, setiap pagi datang, pikiran yang tak terjawab itu akan muncul kembali.

Cara satu-satunya untuk menghilangkan hal tersebut adalah distraksi. Buku. Lagu. Film. Diam di masjid. Atau duduk di pinggir jalan semalaman. Kelimanya bisa menjadi alternatif yang membuat saya lupa pada pikiran-pikiran tersebut. Meskipun begitu, sifatnya hanya sementara. Saya tidak akan berhenti penasaran setengah mati sampai benar-benar menemukan jawabannya.

--- [] ---

Beberapa waktu lalu, postingan saya tentang One OK Rock ditautkan di dalam postingan Firman. Namun katanya, saya bukan influencer yang baik. Karena memang, kalau sedang flu, ingus saya pekat dan kental-kental bergairah. Bukan encer. Sorry to say.

*catat ini, Firman*

Tapi saya juga mau berterima kasih setulus-tulusnya karena blog saya telah disebut di sana. Mayan kan dapat backlink gratisan dari seorang bloger pro yang followers-nya ribuan. 

Di tulisan tersebut, ia mengutarakan beberapa hal yang mengusik pikirannya. Mostly random. Mostly morning thoughts. Dan ngeselinnya, tulisan tersebut jadi mengusik kedamaian saya.

1. Elon Musk Mengunggah Peluncuran Mobil Pertama Ke Luar Angkasa

Hal ini telah menjadi bahan perbincangan selama dua minggu. Sejak videonya diunggah, komentar orang-orang bermunculan. Ada yang pro, ada yang kontra. Ada yang mengaitkan dengan kemunduran Tesla. Ada yang diam dan menikmati videonya dengan rasa penasaran yang ditahan-tahan.
Mobil balap luar angkasa.

Mengapa Elon Musk mengirimkan mobil ke luar angkasa? Untuk uji coba skala besarkah? Untuk momen tertentukah? Atau hanya untuk sekadar pamer pada netizen?

Jika dibaca ulang, hampir semua komentar di postingan tersebut memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Dari negara yang bervariasi. Bahkan beberapa kali saya cek lagi, ada yang sedang perang komentar mirip orang-orang di akun gosip murahan. Bawa-bawa etnis lagi.

Menurut saya pribadi, Elon Musk hanya ingin mencoba hal baru. Tipikal entrepreneur yang baik. Ingin selalu berkembang. Ingin selalu berinovasi terhadap produk-produk yang cemerlang. Ini wajar. Karena sebagai bos besar PayPal, Elon Musk hanya ingin mempertahankan karirnya dengan menginvensi moda transportasi baru yang menjanjikan. Transportasi ke luar angkasa.

Kita tahu bahwa NASA sudah mengembangkan proyek untuk perjalanan ke luar angkasa sejak lama. Target pertama keberangkatan pesawat dengan awak adalah tahun 2030. Dengan adanya prospek tersebut, Elon Musk dan SpaceX sudah pasti ingin menjadi bagian dari histori. Peradaban baru manusia. Peluncuran mobil yang dilakukannya adalah inisiasi kunci yang dilakukannya untuk menandai wilayah. Seperti kucing yang mengencingi daerah kekuasaannya.

Atau meminjam istilah para pejabat, ini adalah fenomena yang disebut sebagai “pesan kavling” pada dana proyekan pemerintah. Yang biasanya dikorupsi.

2. Prospek Kehidupan Di Luar Angkasa Beberapa Tahun Ke Depan

Jika berbicara tentang prospek kehidupan di luar angkasa, bukan tidak mungkin kita dapat melakukannya. Sekarang teknologi sudah canggih, man. Ingin mengembangkan apapun, bisa. Ingin membangun apapun, bisa. Ingin ini ingin itu banyak sekali, bisa.
Perjalanan tak terbatas dan melampauinya.

Perjalanan ke luar angkasa sendiri sudah dimulai sejak lama dengan adanya pesawat ulang alik tanpa awak dan pengiriman Mars rover untuk mendapatkan vegetasi wilayah di Mars secara real time. Kelak, akan ada alat transportasi antar planet yang mampu membawa manusia untuk travelling mengelilingi alam semesta. Saya sih yakin. Dan berharap. Dan sedikit cemas. Banyak rindunya.

Jika berbicara tentang kendaraan, terlepas dari milik Elon Musk, konsep pesawat yang memiliki kecepatan di atas kecepatan cahaya telah dikembangkan sejak jaman Einstein. Konsep tersebut mengusung teori relativitas dan persamaan medan yang disebut Alcubierre Warp.

Hyperspace - Faster Than Light (H - FTL), merupakan penerapan Alcubierre Warp yang sekarang masih diteliti oleh banyak saintis NASA dan seluruh dunia. Sebenarnya, sekarang NASA sedang mengembangkan pesawat dengan kecepatan hampir mendekati cahaya. Bukan melebihi. Mendekati. Bahan bakarnya sendiri sedang diujicobakan menggunakan salah satu sifat cahaya itu sendiri. Difraksi. Dan menurut saya, Zero Point Energy (ZPE) sebagai bahan bakar untuk pesawat Alcubierre Warp bukan tidak mungkin untuk diwujudkan. Sungguh masa depan yang menyenangkan.

Jadi jika ditanya, bagaimana prospeknya? Saya menjawab ya. Ada. Meskipun saya belum tentu apakah nantinya masih hidup dan masih bisa melihat perkembangannya.

Dan kalau kiamat belum terjadi.

3. Kematian dan Hal-hal Yang Mendasarinya

Kematian datangnya lebih cepat dari tertidur. 

Kata Sirius Black di film Harry Potter 7.

Sebagai seorang yang beragama, saya percaya bahwa setiap orang akan mati dengan caranya masing-masing. Kematian adalah hal gelap yang menjadi misteri. Saking misteriusnya, kematian sendiri ada yang coba-coba. Mati suri. Dan beberapa kasus mati suri membuat saya semakin yakin dengan adanya pertanggungjawaban di alam lain. Bukan saya sok agamis. Bukan. Tapi saya percaya bahwa hari perhitungan dan kebangkitan itu ada. Saya yakin.
When the death comes.

Katanya, kematian itu menyakitkan. Baik untuk yang mati dan yang ditinggalkan. Itu benar. Mati adalah sebuah bentuk dari perpisahan. Itu juga benar.

Tapi marilah kita kembali pada ciri-ciri makhluk hidup itu sendiri. Tumbuh dan berkembang.

Mengapa kita bertambah tua? Mengapa kita kita mati? Apa yang terjadi setelah kita mati? Apakah makna kehidupan yang sebenarnya? Apa makna kematian sesungguhnya?

Ijinkan saya membahasnya pada konteks Fisika. Entropi adalah besaran yang menyatakan ukuran ketidakteraturan sebuah benda. Makin besar entropinya, makin chaos lah benda tersebut.

Entropi berkaitan dengan energi. Karena kita merupakan manusia yang memiliki sistem biologis, kita selalu menyerap dan memancarkan energi. Itu pasti. Namun akan ada suatu titik dimana entropi pada diri kita akan terus berkembang, sehingga sistem biologis kita semakin lemah. Kulit keriput, tulang semakin rapuh dan sering encok, adalah dua hal yang merupakan imbas dari naiknya entropi pada sistem biologis kita.

Ketika entropi tersebut mencapai titik kulminasi, titik puncak, maka sistem tubuh kita akan berhenti beroperasi. Datanglah kematian.

Dan jika banyak yang bilang bahwa kematian adalah sebuah akhir, maka saya sendiri lebih suka menyebutnya sebagai sebuah awal.

4. Adanya Kehidupan Setelah Kematian

Berbicara tentang afterlife, saya jadi ingat sebuah lagu milik Avenged Sevenfold. Afterlife. Lagunya bagus. Dan representatif. Terhadap beberapa pertanyaan saya.

Jika dikaji dari sudut pandang agama, sebenarnya sudah ada ayat yang menceritakan tentang kehidupan setelah kematian. Klise memang. Tapi agama memang tentang kepercayaan. Saya juga percaya tentang adanya kehidupan setelah kematian. Juga keabadian setelah kematian. Bukan tidak mungkin kalau hidup saya yang sekarang adalah kehidupan yang kedua, ketiga, atau kesepuluh.
Walk the door of new life.

Yang menjadi masalah adalah, bagaimana saya tahu bahwa kehidupan setelah kematian itu ada? Apakah saya harus mati dulu untuk tahu alasannya?

Tidak. Tentu hal ini bukanlah jalan keluar.

Sebenarnya jika dipikirkan secara sederhana, kita juga tidak benar-benar tahu darimana kita berasal. Namun jika mencari tahu, semua pasti bermuara pada agama dan penjelasan ilmiah yang lalu lalang tanpa data empiris. Inilah yang disebut dengan kepercayaan. 

Bukan munafik, bukan pula menelan mentah-mentah konsep afterlife. 

Namun jika kita dulu, saat masih proses penciptaan saja, tidak memikirkan apa hal yang akan terjadi ke depannya, mengapa sekarang harus merisaukan kehidupan setelah kematian? Biarlah hal itu menjadi misteri dan kejutan di dunia yang berbeda. Nantinya.

5. Tentang Reinkarnasi dan Bukan Reinkarberas

Reinkarnasi. Jadi ingat anime Inuyasha yang tayang setiap hari Minggu pagi. Reinkarnasi tokohnya benar-benar mindblowing. Selain itu, banyak sekali film dan drama yang juga mengusung tema reinkarnasi.
Ilustrasi reinkarnasi.

Reinkarnasi sendiri masih menjadi tema yang diperdebatkan oleh sebagian besar umat manusia. Banyak pertanyaan yang juga muncul karena konsep reinkarnasi. Sesungguhnya, hal ini sama saja seperti mempertanyakan kehidupan setelah kematian serta eksistensi surga dan neraka.

Pusing? Saya juga.

Tapi jika dilihat dengan kacamata yang lebih sederhana, bukan kacamata minus dan silinder, reinkarnasi adalah hal yang mungkin terjadi. Mungkin saja dulu kita hidup sebagai manusia berjenis kelamin berbeda dengan saat ini, mungkin saja kita dulu adalah pohon, mungkin juga katak, dan mungkin juga benda mati. Hal ini juga bisa diterapkan di masa depan. Setelah kita mati, kita akan hidup lagi sebagai sesuatu yang berbeda. Namun kita tidak tahu mengapa hal ini terjadi. Bahkan, kita mungkin lupa jika dulu pernah hidup sebagai ini dan itu.

Ini sama seperti saat kita mempertanyakan tentang dunia paralel. Adakah diri kita yang lain disana? Seperti apa mereka? Apakah benar jika kita yang lain di dunia paralel memiliki sifat berkebalikan dengan kita yang ada disini? Dan apakah-apakah yang lain. 

Masih belum terjawab hingga saat ini.

Namun jika ditelaah dengan Fisika, lagi-lagi, kita hidup karena kita memiliki dimensi. Dan sistem. Dimensi adalah tubuh ragawi. Sistem adalah nyawa. Tanpa keberadaan salah satunya, kita bukan apa-apa. Sistem dan dimensi yang hidup akan menyerap dan memancarkan energi. Seperti ulasan saya mengenai entropi di atas. Energi kan kekal. Tidak dapat dimusnahkan. Hanya bisa diciptakan.

Kemana perginya energi kita setelah kita mati?

Mereka akan bertransformasi menjadi bentuk lain. Ada beberapa saintis yang bilang, energi ini akan bertahan dan berjalan mengarungi waktu. Sehingga jika nantinya ada kehidupan kedua dan seterusnya, salah satu orang yang menyerap gelombang energi kita akan menjadi hasil reinkarnasi kita. Di kehidupan berikutnya. Hal ini juga mungkin berlaku untuk kita di kehidupan yang lalu.

Mungkin iya. Mungkin tidak. Belum ada bukti empiris yang membuktikan ini semua.

6. Refleksi Berkenaan dengan Krisis Identitas

Untuk sebagian besar orang, identitas adalah kunci untuk bertahan hidup. Desainer tanpa identitas dan keahlian yang spesifik, tidak akan laku. Profesor tanpa identitas doktor, tidak akan disebut profesor. Traveller tanpa kartu identitas, akan ditangkap polisi.
Aku siapa? Ini dimana?

Maka dari itu, identitas adalah sesuatu yang esensial.

Dan saya nggak tahu mau bahas apalagi tentang krisis identitas. Hanya ingin menanggapi. Karena hingga saat ini, saya sendiri belum mampu menemukan identitas saya yang sesungguhnya.

Apakah saya benar-benar perempuan? Apakah saya sebenarnya titisan dewi kucing? Ataukah saya robot humanoid yang dikendalikan oleh seseorang dari jauh? Dan apakah mungkin bahwa saya sebenarnya adalah seonggok alien?

Semua pertanyaan itu, kadang membuat saya mempertanyakan keaslian Akta Kelahiran saya. Jangan-jangan saya lahir di Pluto. Lalu saya dibuang ke bumi karena Pluto ditendang dari susunan tata surya. Sementara orang tua asli saya kabur ke galaksi lain.

7. Rekam Jejak Linkin Park dan Chester Bennington

Selain lagu David Bowie yang Life on Mars, ada lagu Linkin Park yang berjudul Leave Out All the Rest. Bukan segi lagunya, tapi video klipnya yang mengambil setting luar angkasa. Lalu ada pula Radiohead yang berjudul No Surprises. Liriknya lah yang merepresentasikan pertanyaan seputar kehidupan dengan penegasan berulang-ulang.
Linkin Park.

Kembali pada Linkin Park sendiri, saya menyukai band ini karena kakak saya. Semua pernah saya ceritakan di tulisan From The Inside. Kakak saya benar-benar terpukul saat mengetahui Chester meninggal dunia.

Suicide has never been easy. It is tragic.

Saya sendiri jadi berpikir bahwa sebenarnya Chester tidak benar-benar meninggal. Mungkin dia sedang menjadi volunteer perjalanan ke luar angkasa. Merealisasikan lagu Linkin Park yang saya sebutkan di atas. Dan nantinya, beberapa dasawarsa ke depan, Chester akan kembali dengan kondisi di usia yang sama. Sementara saya sudah semakin menua.

8. Menonton Ulang Guardian of The Galaxy

Karena membaca tulisan tentang pertanyaan seputar hal-hal random dalam kehidupan dan kematian, serta luar angkasa, saya jadi memutuskan untuk maraton nonton Guardian of The Galaxy. Lalu membayangkan kalau saya menjadi bagian dari mereka.

Tapi saya ingin menjadi villain.
Guardian of my heart.

Lalu saya juga menonton film serial Back to The Future dan Mission Impossible. Mengunyah apel. Minum seteko air putih. Minum segelas teh. Lalu membiarkan filmnya nyala sampai saya ketiduran. 

9. Pertanyaan Seputar Alien dan Penciptaan Alam Semesta

Alien. Apakah mereka benar-benar ada?

Pertanyaan sejuta umat yang selalu ditanyakan pada guru Fisika. Hampir setiap murid saya selalu bertanya demikian. Kalau dipikir-pikir, saya sebenarnya beruntung karena mendapatkan murid yang kritis-kritis. Pertanyaannya. Bukan anaknya ya.
Kamu. Iya kamu.

Beberapa pertanyaan lain seperti.

“Apakah alien tinggal di angkasa luar?”

“Apakah bahan bakar UFO?”

“Apakah kita dapat bertemu alien?”

“Apakah crop circle benar-benar dapat memancing alien untuk datang kemari?”

“Apakah batunya Patrick benar bisa berjalan?”

Sebelum menjawab, biasanya saya tersenyum dulu sebagai tanda apresiasi. Lalu baru saya jawab satu per satu dengan perlahan.

“Keberadaan alien masih rahasia. Tapi jika mereka benar-benar ada, kamu akan menjadi orang pertama yang mereka jemput. Karena kamu cerdas.”

“Bukan solar. Bukan pula premium. Mereka punya bahan bakar khusus yang namanya dirahasiakan dari penduduk bumi. Kode etik perusahaan.”

“Bisa. Kalau mereka mau mengunjungi kita. Kita belum dapat mengunjungi mereka karena belum ada kendaraan yang membawa kita tak terbatas ke luar angkasa.”

“Belum tentu. Tapi crop circle dapat memancing datangnya juragan sawah yang lahannya rusak karena diobrak-abrik.”

“Batunya Patrick adalah sebuah konspirasi. Bahwa sebenarnya Patrick adalah tokoh paling pintar di antara semua karakter di Spongebob Squarepants. Kebodohannya hanyalah pencitraan.”

Jadi jika ditanya lagi, apakah alien benar-benar ada atau tidak, jawaban saya satu. Atau.

Bisa ada. Bisa tidak.

Sama seperti prinsip eksperimen kucing Schrodinger. Seekor kucing ditempatkan di dalam kotak tertutup berisi zat radioaktif untuk jangka waktu tertentu. Orang tidak akan tahu bagaimana keadaan kucing tersebut sampai kita membukanya, bukan? Apakah kucing itu sudah mati atau masih hidup, semua menjadi misteri sampai kita benar-benar melihat isinya.

Karena itulah, sebelum kotak dibuka, kucing tersebut memiliki dua keadaan sekaligus. Hidup dan mati.

Sama seperti alien. Sebelum kita melihatnya langsung, mereka masih berupa ada dan tiada.

Dan bisa jadi, kita adalah alien itu sendiri.

--- [] ---

Rasa ingin tahu saya besar. Besar banget malah. Lebih besar dari volume otak saya sendiri. Seperti yang tadi telah dikatakan, saya tidak bisa berhenti memikirkan hal-hal yang mengganjal saat bangun pagi. Saya harus selalu menemukan jawabannya. Mungkin hal ini terjadi karena saya seorang guru. Mungkin karena saya seorang setengah saintis di bidang Fisika. Mungkin juga karena saya masih mempertanyakan eksistensi dunia di balik alam semesta. Mungkin juga karena gejala Obsessive Compulsive Disorder saya. 

Tidak ada yang tahu.

Saya bahkan tidak tahu mengapa saya terus memikirkan dan berusaha menemukan jawabannya. Saya bahkan tidak paham mengapa saya harus memusingkan pertanyaan absurd yang muncul tiap pagi hari.

Semua abu-abu.

Namun abu-abu bukanlah hal yang keliru, bukan? Ada kalanya kita memang harus bertahan di zona abu-abu untuk melindungi diri. Atau menunggu pembuktian tentang hitam dan putih. Maka dari itu, ada beberapa pertanyaan pilihan di dunia ini yang masih harus dijawab dengan jawaban “atau”.

Duluan mana, ayam atau telur?

Pertanyaan pilihan klasik yang selalu diperdebatkan. Terlepas dari argumen masing-masing kelompok pilihan, saya sendiri menerapkan jawaban abu-abu pada pertanyaan ini. Atau. Dan hal ini pernah juga saya bahas dengan seorang teman dari Kaskus di postingan blog saya yang berjudul Mission to Mars.

Jika sudah mencari informasi, membaca, mendengarkan berita, menonton beberapa video, serta berdiskusi dan bercerita pada orang lain, biasanya akan ada titik terang yang muncul. Namun jika belum, maka pertanyaan tersebut jangan sampai menjadi kegilaan yang bertahan berminggu-minggu.

Saya selalu mengatakan pada diri sendiri.

Bertanyalah sebanyak-banyaknya. Cari tahu jawabannya. Tapi jika belum mampu, jangan sampai pertanyaan itu mengganggu kehidupanmu. Suatu hari nanti, kamu akan menemukan jawabannya atau kamu harus merelakan pertanyaan tersebut menjadi hal abu-abu tanpa penjelasan.

Dan ini.

Don’t be so hard on yourself.

Karena.

Some of questions are better left unexplained.

--- [] ---

Ngomong-ngomong, teh kantung saya habis. Namun kantung mata saya bertambah. Sepertinya hari ini saya harus belanja sepulang kerja. Dan duduk di pinggiran sambil menghitung jumlah mobil berwarna hitam yang lewat di sepanjang jalan.

Have a nice weekend, everyone.

--- [] ---


(Radiohead - No Suprises)





Pictures are taken from:
https://www.livescience.com/61660-hot-tea-cancer-risk.html
http://fox13now.com/2018/02/09/what-will-become-of-the-car-elon-musk-launched-into-space/
https://www.nasa.gov/content/nasas-journey-to-mars
https://digital.report/razvitie-svobodyi-informatsii/
http://www.frazerconsultants.com/2017/03/is-there-an-afterlife-different-religious-views-on-death/
http://www.bigfm.de/buzzhaltestelle/18348/reinkarnation-hindu-glaube-wissenschaftlich-belegbar
https://www.hercampus.com/school/dickinson/how-deal-mid-college-identity-crisis
https://en.wikipedia.org/wiki/Linkin_Park
https://nerdist.com/guardians-of-the-galaxy-vol-2-who-were-those-new-ravagers-spoilers-sylvester-stallone-michelle-yeoh-ving-rhames-miley-cyrus/
https://www.nbcnews.com/mach/science/simple-math-shows-how-many-space-aliens-may-be-out-ncna841371
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

8 Comments:

  1. Pagi datang lagi
    Malam bersembunyi
    Waktu itu saya yg bertugas jaga nyariin
    Tapi ketiduran
    Kutemui gelap, tapi bukan malam
    Kutemui Fajar, tapi anak tetangga
    Kutemui hutan, dia belok ke pantai
    Benci sendiri aku benci

    saya nggak mau menanggapi semua poinnya, karen aitu memang luapan pikiran yg meresahkan karena untuk menjawabnya, orang2 perlu bukti. namun, perihal ada atau tiada ini sebenernya jawabannya satu. ada. kenapa? dengan alasan yg sama, "sebelum kita melihatnya langsung".

    karena selama ini kita tidak pernah melihatnya, maka situasinya menjadi "tidak ada", tapi logika mengatakan bahwa itu bukan tidak ada, melainkan kemampuan kita saja yg kurang. sama kayak nanya tuhan ada apa nggak, kita bilang ada pun org tetap akan menagih bukti nyata bentuknya karena belum melihat secara langsung.

    sehingga jawaban "tidak ada" ini sebenarnya tak pernah ada. karena untuk menunjukkan bahwa itu benar2 tidak ada, kita harus menjelajahi semuanya dari sekecil atom sampai seluas semesta. namun, memilih jawaban "atau" yg berupa kata hubung pun bukanlah hal yg bijak. mending diam, dapat emas. atau nyepik, dapat mbak.

    Tidak ada itu sebenarnya tak pernah ada kecuali dengan penekanan tempat (misal apakah ada alien di botol minyak angin?) karena terikat tempat yg kecil, maka jawaban tidak ada itu bisa diterima. namun untuk sesuatu yg tak terbatas, maka jawaban tidak ada tak bisa digunakan. dan yg tersisa hanyalah ada. ada, tapi kita belum mampu menemukannya.

    bahkan saat teknologi manusia sudah sangat2 canggih sekali pun, dan mereka tetep tidak menemukan alien, mereka tetap tidak bisa menyebutkan tidak ada. kali saja perlu teknologi pemindai khusus. ini ruwet.

    dan ini aku ngomong apaan dah, adohai... -___-


    ReplyDelete
    Replies
    1. Permisi bang, ijin nimbrung. Ane ada satu pertanyaan nih:

      Menurut anda, ada atau tidak ada suatu ke'tidak ada'-an?

      Pernyataan (Premis 1) "... jawabannya satu. Ada" dengan pernyataan (Premis 2) "jawaban 'tidak ada' itu tak pernah ada" bagi ane kok malah kontradiktif ya?

      Jika premis 1 benar, artinya ada suatu ke-'tidak ada'-an. Maka, premis 2 secara otomatis akan gugur. Sedangkan, jika premis 2 benar, artinya ada jawaban selain jawaban 'ada', yaitu jawaban 'tidak ada'. Maka, premis 1 akan gugur.

      Dari kedua premis diatas, bagi ane menjadi sebuah kesimpulan bahwa selalu ada ruang untuk jawaban tidak ada, bahkan untuk suatu ke-'tidak ada'-an itu sendiri.

      Oh ya, mengenai ada atau tidak adanya Tuhan, ane ada sedikit referensi buku: Richard Dawkins - The God Delusion dan Frans Magnis-Suseno - Menalar Tuhan. Kalo belum baca, rekomendasi bangetlah ini dua buku, saling menalar Tuhan dalam pandangan yang berseberangan. Kalo udah baca, gimana pendapatnya bang?

      Delete
    2. Ah ... Hampir lupa. Ada satu poin lagi yang mengganjal di pikiran ane dari kemaren, pernyataan agan tentang "memilih jawaban 'atau' yg berupa kata hubung pun bukanlah hal yg bijak."

      Kata 'atau' dalam dalil matematika disebut sebagai disjungsi logika (disimbolkan 'V') dan dikategorikan sebagai logika proporsional. Logika proporsional itu sendiri sangat berkaitan erat dengan silogisme. Sedangkan kata 'bijak' dalam dalil matematika itu tidak ada. Sehingga, bagi ane memilih 'atau' sebagai sebuah konklusi (sementara) dari pernyataan yang belum dapat dibuktikan kebenarannya juga merupakan sebuah argumen yang valid. Sementara, menilai pemilihan kata 'atau' dengan sebuah kata 'bijak' itu merupakan argumen yang salah.

      Delete
    3. @Haw: Mungkin memang seharusnya kita tidak mempertanyakan keberadaan. Ada dan tiada kan sebenarnya relatif juga. Kuncinya satu, kemampuan kita terbatas. Itu aja sih kalau menurut saya, Haw. Makanya kita resah karena belum memiliki kemampuan lebih untuk menjawab semuanya.

      Delete
  2. Apa ini? Artikel nano-nano? @_@

    Gak mau komentarin bahasannya, cuma mau request buat review-in salah satu dari buku ini:
    1. Goerge Orwell - Nineteen Eighty-Four (1984)
    2. Tetsuko Kuroyanagi - Totto-Chan: Little Girl at The Window
    3. Joseph Conrad - Heart of Darkness
    4. Albert Camus - La peste (Sampar)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nano-nano. Nomor 1-3 udah baca. 4 yang belum, bang. Nanti saya review. Makasih ya X)

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.