Bagaimana Rasanya Menjadi Newt dalam Maze Runner

Newt. Bukan Scamander.

Bagaimana rasanya menjadi Newt dalam Maze Runner?

Kalau boleh saya mewakili menjawab, rasanya menyenangkan. Dapat mengenal Thomas dengan baik, menjadi second commander di Gladers, mengenal Minho, mengenal Gally, dan berkorban banyak hal untuk semua karakter di Maze Runner

Newt yang imut.

Sejak pertama saya tahu bahwa yang akan memerankan Newt di film Maze Runner adalah Thomas Brodie Sangster, saya langsung merasakan histeria tiada dua. Kebetulan saya sudah membaca novelnya sejak lama dan saya tidak sabar menunggu adaptasi filmnya. Dulu.

Saya mengenal Thomas Brodie Sangster dari filmnya yang berjudul Nanny McPhee. Sebagai anak sulung di keluarga yang nakalnya minta ampun. Sebagai Simon. Simon siapa saya kurang paham. Yang jelas bukan Simonyet. Thomas, terlalu tampan, untuk menjadi monyet. 

Sebenarnya saya sudah tahu kalau karakter Newt nanti endingnya seperti apa. Karena di bukunya sudah dijelaskan. Jadi di film, karakternya hanya akan menjadi penegasan. Visualisasi.

Meskipun begitu, saya tidak bisa berhenti menangis sesaat setelah filmnya berhenti. Bahkan saat credit dan lampu teater sudah dinyalakan, saya masih menangis di bangku dan dilihat oleh banyak orang. Ending hidup Newt menyedihkan. Terkena virus Flare tapi tidak mau bercerita pada siapa-siapa. 

Apalagi saat surat Newt pada Thomas dibacakan di akhir film yang ketiga. Pedih. Semua kalimat yang dituliskan Newt benar-benar merepresentasikan sense of belonging persahabatan yang teduh dan menenangkan. Newt harus pergi meninggalkan kehidupan dan menutup cerita dengan tragis. 

Dengan perpisahan. 

Kalau boleh curhat, saya teringat Zahra. Teman magang di tahun 2015 yang meninggal karena kecelakaan. Yang pernah saya tuliskan surat padanya di postingan ini. Zahra menyukai Dylan O’Brien. Pemeran Thomas. Dan saya menyukai Thomas Brodie Sangster. Pemeran Newt. Setelah kami menonton filmnya yang kedua di tahun 2015, kami berjanji akan menonton yang ketiga di dua tahun berikutnya. Tapi Zahra pergi lebih dulu dan saya hanya bisa mengenangnya lewat lagu.

Dan malam itu, setelah menonton film Maze Runner: The Death Cure sendirian sepulang kerja, saya menangis bukan hanya untuk Newt. Tapi juga untuk Zahra. Saya teringat Zahra dan semua kepingan tentang Zahra muncul membabi buta. Kalau bukan karena mbak-mbak bagian kebersihan, mungkin saya masih menangis di dalam bioskop sampai pemutaran film berikutnya.

Jadi kalau pertanyaan tadi harus kembali dilontarkan, bagaimana rasanya menjadi Newt dalam Maze Runner, mungkin Zahra bisa menjawabnya.

Saat ini Zahra sudah bebas dari Maze. Dia sudah bahagia. Dan saya masih harus melanjutkan kehidupan untuk terus berlari menuju masa depan.

--- [] ---
You are funny. Yet acceptable.





Pictures are taken from:
https://wallpaperclicker.com/wallpaper/The-Maze-Runner/38558596/
http://www.azquotes.com/author/72783-Thomas_Brodie_Sangster
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

6 Comments:

  1. Newt memang ganteng! Saya kalau punya anak cowok mau saya kasih nama Newton ah. Kalau cewek Newtonia.

    ReplyDelete
  2. gue belom nonton yang ketiga sih nih. jdi penasaran seseru apakah film maze runner yang ketiga ini.

    tengsin juga kayaknya kalo masih nangis, sedangkan para penonton untuk film selanjutnya sudah masuk dan duduk d tempat. udah ngucapin terimakasih sama yang bersih-bersih bioskop itu belom?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah dong XD

      Udah terima kasih karena dikasih tisu juga. Entah tisu toilet atau bukan, tapi tisu. Buat ngelap ingus. Buahaha.

      Seru banget kok, Zi. Salah satu film series yang hingga serinya tamat tidak membosankan.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.