What I Talk About When I Talk About Running

What  I am Thinking When I am Running.

Judul: What I Talk About When I Talk About Running
Penulis: Haruki Murakami
Tahun Publikasi: 2007
Bahasa: Inggris (Diterjemahkan dari Bahasa Jepang)
Jumlah Halaman: 175 halaman

--- [] ---


“May, kamu lebih suka lari pagi atau sore?”

Tanya seorang teman kala itu usai mata pelajaran Kimia di kelas. Saat kami masih SMA.

“Pagi. Masih segar soalnya,”

“Oh, saya sih lebih suka sore. Anginnya hangat, nggak sedingin pagi.”

“Enakan pagi ah.”

“Sore.”

“Pagi.”

Lalu kami berdebat sampai keesokan harinya. Bukan tentang lari. Tapi tentang ketupat sayur di kantin yang harganya naik.

Perempuan yang merupakan partner pemburu diskonan dan potongan harga di berbagai warung makan tersebut kini sudah menikah dan memiliki satu orang bayi yang lucu. Kami masih sering bertanya kabar. Kadang kabar baik. Kadang kabar burung. Tepatnya setahun yang lalu, tanggal 12 Januari 2017, ia mengirimkan sebaris chat yang menanyakan judul sebuah buku.

“May, apa kabar? Masih suka lari?”

Begitu isi chat-nya kira-kira. Meskipun banyak basa-basinya yang sok-sokan menanyakan saya sibuk ataukah tidak. Karena tahun 2016, memang tahun saya vakum besar-besaran dari berbagai media sosial. Katanya, ia takut mengganggu. Padahal saya suka kalau digangguin. Asal isi pesannya bukan “mama minta pulsa” aja sih.

“Kabar baik. Lari dari kenyataan? Masih. Kamu sendiri gimana?”

Balas saya kemudian. Lalu kami chatting sebentar dan dia memberitahukan kabar pernikahannya. Di akhir obrolan, barulah ia bertanya tentang judul sebuah buku karya Haruki Murakami.

“Kamu udah baca buku What I Talk About When I Talk About Running belum, May? Pasti udah yakan?”

Sudah. Saya sudah membacanya di pertengahan tahun 2016. Ia lalu meminta beberapa spoiler dari buku tersebut karena akan membelinya di toko buku. Teman saya ini menyukai lari lebih dari olahraga apapun yang ada di dunia. Jadi saya nggak heran sih kalau akhirnya dia mau baca buku. Karena isi buku What I Talk About When I Talk About Running memang tentang pengalaman Murakami dalam berlari sebagai bagian dari hidupnya.

--- [] ---

Sebenarnya teman saya ini bukan tipe yang suka membaca buku. Tapi setelah seminggu ia membaca buku tersebut, ia mengatakan bahwa kegiatan rutin lari sorenya berjalan dalam level normal kembali. Setelah beberapa lama ia tidak berlari karena kesibukan pekerjaan.

Pain is inevitable. Suffering is optional.

Adalah salah satu kutipan dari buku ini yang amat disukai oleh teman saya. Dan juga saya. Rasa sakit bisa datang kapan saja. Juga saat kita berlari. Murakami bahkan menceritakan detilnya rasa sakit yang menimpanya saat sedang mengikuti lari maraton. Namun manusia bisa menolak untuk merasakan sakit tersebut karena kita memang dirancang untuk itu. Merasakan sakit adalah pilihan.

Saya sendiri berlari karena banyak hal. Saya berlari ketika ingin. Saya berlari untuk olahraga. Saya berlari ketika demam supaya lekas sembuh. Saya berlari untuk meninggalkan luka yang sedang menghampiri.
Berlari mengejar bayangmu.

Ya. Saya selalu berlari saat ingin menangis dan bersedih. Kadang tanpa tujuan. Sama seperti Murakami yang bercerita bahwa lari bisa membantu menghapus rasa sedihnya. Entah mengapa, sedih dan berlari seperti membentuk satu kesatuan dalam kamus saya. Meskipun tidak menyelesaikan masalah, setidaknya berlari dapat melegakan hati. Dan mencegah air mata datang kembali.

--- [] ---

Buku Murakami ini merupakan sebuah memoar dirinya tentang pengalaman berlari selama bertahun-tahun. Buku ini sudah diterjemahkan pada berbagai bahasa di seluruh dunia. Dengan judul asli yaitu “Hashiru Koto ni Tsuite Kataru Toki ni Boku no Kataru Koto”, Murakami memaparkan sendiri bahwa penulisan buku ini diilhami oleh buku milik Raymond Carver yang berjudul What We Talk About When We Talk About Love.
Versi aslinya.

What I Talk About When I Talk About Running memiliki beberapa bab yang masing-masingnya bercerita tentang pengalaman lari Murakami sejak tahun 1980. Setelah ia memutuskan untuk menutup usaha kafenya, Murakami ingin menulis. Namun ia tak kunjung mendapatkan ide dan mulai sakit-sakitan karena hanya berdiam diri di rumah untuk menanti ide cerita.

Ketika itulah ia menyadari bahwa ide justru tidak bisa muncul saat kita diam. Kita harus bergerak dan keluar dari zona nyaman. Dan sejak itulah, Murakami merasakan bahwa berlari adalah sebuah keharusan. Sama seperti bernapas untuk bertahan hidup.

Jika kalian termasuk yang menyukai buku dengan tipe memoar seperti ini, buku What I Talk About When I Talk About Running akan menjadi salah satu bagian dari reading list 2018 yang menyenangkan.

--- [] ---

PS: Tahun ini saya ingin ikut lari maraton. Semoga bisa kesampaian. Amin.





Pictures are taken from:
https://audiobookstore.com/audiobooks/what-i-talk-about-when-i-talk-about-running.aspx
https://en.wikipedia.org/wiki/What_I_Talk_About_When_I_Talk_About_Running
https://www.merdeka.com/sehat/lari-mampu-membuat-lebih-cerdas.html
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

14 Comments:

  1. Bahaha suka digangguin? Wkwkwk, kecuali sama sms mama minta pulsa yak.. Konyol mbak may, suka sama review2mu.. Daan ku doakan semoga bisa ikut lari dr kenyataan eh lari maraton maksudnya.. Hihihi

    ReplyDelete
  2. Bahkan hal sederhsna bisa jadi tulisan yang menarik.. Frasa di judul juga membuat pembaca tertarik.. Pengulangan kata dengan makna yang berbeda.. Review singkatnya juga lebih mudah dicerna.. Pengalaman berkata..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahkan komentar yang sederhana juga bisa menimbulkan tawa. Thank you.

      Delete
  3. Kalo aku, yg bisa ngurangin rasa sedih itu makan-makan. Kan kenyang tuh... abis itu lanjut tidur.. tapi gak sehat yaaa.. nanti udah tuanya kena diabetes. Kayaknya aku musti baca nih bukunya, kali aja bikin aku semngat.. ๐Ÿ˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apakah ini masih sedih? Kok kamu baru muncul lagi?

      Delete
  4. Belum pernah berlari sambil tidur ya. Hmm..

    ReplyDelete
  5. Yakin mau ikut lari maraton XD
    semoga kesampean la
    kalo saya biasa joging pagi aja kalo hari minggu
    sebagai bentuk olahraga dan lari dari kenyataan

    ReplyDelete
  6. Saya belum baca itu. Sempet pengin beli, tapi stoknya udah habis waktu ke Gramed. Malah beli Pedro Paramo. Haha. Tanpa baca buku itu, saya rutin lari setiap seminggu sekali. Kalo lagi nggak ada kerjaan, bahkan seminggu bisa 3-4 kali.

    Sejujurnya, pikiran emang jadi seger pas lari. Kayaknya lari ini bisa dianalogikan buat menulis juga, ya? Maraton seperti nulis novel. Sebelum bener-bener nulis, persiapannya mesti banyak supaya bisa sampai garis akhir. Nggak mandek di tengah jalan, kayak naskah-naskah saya. Teleq wedhus.

    Gokil pengin maraton. Semoga tercapai deh~ Saya belum berani atau malah males coba lari yang event-event gitu. Habisnya di Jakarta seringnya mahal bener harganya. Terus pada pamer sepatu mahal. Huhu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca komentarmu serasa pengin nabok. Yoga kampret. Hahahahahaha. Murakami yang buku ini emang khusus buat memoar tentang larinya. Kalau penulis besar gini emang rutinitas aja bisa jadi buku ya.

      Betul. Lari dan menulis sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Apalagi lari dari kenyataan.

      Hahaha, saya suka ikut event lari-lari gini, Yogs. Tapi yang gratis. Tentu saja. Kalau bayar, saya pasti skip.

      Delete
  7. belum selesai baca buku ini wkwk. aku suka sin baca buku ini kayak ngasih motivasi untuk hidup sehat. apalagi murakami sangat serius dalam hal lari. padahal kebanyakan orang-orang yang pengen jadi penulis di lingkunganku itu sangat jauh dari kata hidup sehat. eh ini murakami udah jadi penulis profesional tapi sadar tentang hidup sehat juga.

    ReplyDelete
  8. Benar, ide gak bisa datang kalau cuma diem (buat aku), harus egrak. Contohnya pas nyetor di kaamr mandi. Waah, tumpah ruah deh idenya, sampai lupa waktu udah lega -_-

    Sayangnya masih belum ada kesempatan untuk baca salah satu buku beliau. Padahal udah di mention2 sejak jaman SMA.

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.