Kucing hitam Edgar.

Judul: The Black Cat (and Other Stories)
Penulis: Edgar Allan Poe
Penerbit: Naura
Bahasa: Indonesia (terjemahan)
Jumlah Halaman: 378

--- [] ---

Edgar Allan Poe. Pertama kali saya mengikuti tulisan-tulisan beliau adalah saat saya berusia tujuh belas tahun. Karena saat itu saya sedang tergila-gila dengan serial detektif milik Sir Arthur Conan Doyle dan Agatha Christie. Saya juga sedang cinta-cintanya dengan Arsene Lupin. Semua penulis cerita horror, suspense, dan thriller hampir selalu menyebutkan nama Poe di dalam kiblat kepenulisannya. Sir Arthur Conan Doyle bahkan menyebutkan bahwa Poe merupakan penulis yang merintis genre tersebut. 

Poe memiliki tulisan yang berbentuk puisi dan cerita pendek yang cukup banyak. Semua tulisannya memiliki satu karakter yang sama yaitu: suram.

Meskipun begitu, tulisan Poe ini unik dan kaya bahasa. Pertama kali saya membaca tulisan beliau dalam edisi full Bahasa Inggris saat masih SMA dulu, saya dibuat takjub karena memang bahasanya luwes dan luas dalam cara yang sederhana. Beberapa orang dan reviewer pernah berkata bahwa tulisan Poe ini terlalu banyak deskripsi. Dan narasi. Seorang tokoh dan kejadian akan digambarkan atau diceritakan dengan empat hingga lima halaman. Saya setuju. Namun kembali lagi, gaya bercerita Poe inilah yang membuat pesan dan kesan suram dalam ceritanya tersampaikan. 

Dan saya membeli buku ini karena tidak sengaja menemukannya di Gramedia beberapa waktu yang lalu. Tepatnya saat selesai nonton film Murder In The Orient Express di bioskop. Saya yang cengo karena filmnya flat abis, akhirnya memutuskan ke toko buku untuk membeli bacaan yang menetralisir. Eh, tahu-tahu nemu kumpulan cerita pendek karya Edgar Allan Poe yang diberi judul "The Black Cat". Sesuai salah satu judul ceritanya. 

--- [] ---

Edgar Allan Poe sendiri telah menulis banyak cerita pendek dan puisi yang kini disusun di beberapa forum dan situs seperti guttenberg.org dan poestories.com yang cukup terkenal. Penerbit Naura dari Indonesia menerbitkan dua antologi tulisannya yang berjudul “The Black Cat” dan “The Raven”. Dua makhluk yang identik dengan aura mistis kental dan misterius. Di awal buku, pihak Naura menjelaskan bahwa sumber penyusunan dan penyuntingan buku ini bermuara pada kedua website yang telah saya sebutkan di atas.

Meskipun saya telah membaca beberapa cerita Poe dalam versi Bahasa Inggris, saya akui bahwa penyuntingan novel ini cukup bagus dan mampu menyampaikan tema “gelap” yang ditulis Poe dalam ceritanya.

Dan lagi, sama seperti dulu, saya dibuat jatuh cinta dengan kecerdikan tokoh Monsieur C. Auguste Dupin dalam menganalisis kejadian dan kasus penuh misteri yang ada di sekitarnya. Dupin yang diceritakan memiliki bi-part soul oleh tokoh aku dalam buku ini dapat berubah menjadi orang kreatif, namun juga keras hati. Kemampuan berpikirnya yang tajam tak lain adalah karena kegemarannya membaca buku. Dupin gila membaca buku.

Cerita pendek dengan tema detektif dalam antologi “The Black Cat” yang paling paling dan paling saya sukai adalah Pembunuhan Marie Roget. Tentang mayat perempuan yang mengambang di sungai dengan keadaan mengenaskan. Boleh dibilang, cerita Marie Roget ini merupakan cerita detektif Poe yang paling saya sukai sejak membacanya bertahun lalu.

Namun untuk cerita dengan genre horror, saya menyukai William Wilson dan Kucing Hitam. William Wilson menceritakan bagaimana seorang pemuda membunuh jati dirinya dengan cara yang mentah dan sarat emosi. 
Hanya ilustrasi kok.

Sementara Kucing Hitam, adalah cerita yang mengerikan. Cerita pendek milik Poe ini sudah diadaptasi menjadi visual comic dan film pendek karena ketenarannya. Beberapa pembaca bahkan mengatakan bahwa cerita pendek inilah yang menjadi cikal bakal cerita horror Poe lainnya karena diceritakan dengan tema gothic yang sangat kental. Cerita ini juga menjadi legenda yang makin menguatkan bahwa kucing berwarna hitam adalah kucing yang membawa sial.

*padahal kucing hitam aslinya lucu banget*

--- [] ---

Ada beberapa kutipan yang nancep banget dari buku ini. Meskipun setiap cerita akan diawali dengan kutipan yang menjadi ciri khas tersendiri, tapi saya memiliki dua kutipan favorit dari buku “The Black Cat” versi saya sendiri.

Pertama:

Kenyataannya, orang yang cerdas selalu berangan-angan, sedangkan orang yang imajinatif pasti pandai menganalisis. – hlm. 209
Ini opini aja sih.

Orang cerdas terkesan kaku dalam menentukan pilihan dan tindakan yang akan dilakukan. Berbeda dengan orang yang imajinatif. Kadang, orang cerdas harus menentukan do and donts serta efek positif dan efek negatif yang akan mereka dapatkan saat melangkah. Kelamaan. Banyak mikir ini itu tapi ujung-ujungnya tidak dilakukan.

Namun orang imajinatif, akan mampu membuat keputusan dengan cepat. Walaupun kadang terburu-buru dan jatuhnya justru salah langkah, namun kesalahan tersebut akan menjadi pelajaran dan pengalaman yang berharga. Orang imajinatif sering diremehkan karena idenya yang “tidak masuk akal”. Namun justru dari ide absurd tersebut, orang dengan kategori ini dapat “lebih hidup” dan manusiawi dibandingkan dengan orang cerdas.

Tapi kalau menjadi cerdas dan imajinatif dapat dilakukan secara bersamaan, mengapa tidak?

Kedua:

Nil sapientiae odisius acumine nimio (kecerdikan yang berlebihan akan menghilangkan akal sehat) – hlm. 347
Saat membaca kutipan ini, entah mengapa saya jadi teringat salah satu episode Spongebob Squarepants yang Patrick Star menjadi pintar karena otaknya tertukar dengan koral. Kecerdikan yang berlebihan akan menghilangkan akal sehat mulai dari insecure, kehilangan hasrat bersosialisasi, dan beberapa hal lainnya di luar nalar. Iya nggak sih?

Jadi, kalau kamu termasuk penggemar cerita-cerita detektif dan horror, buku “The Black Cat” ini akan menjadi bahan bacaan yang menegangkan untuk menemani malam hari. Saran saya, bacanya saat menjelang tengah malam di malam Jumat. Dijamin sensasinya bikin jantung terasa ngilu. Yuhu ~





Pictures are taken from:
https://www.amazon.com/Black-Cat-Edgar-Allan-Poe/dp/1502990253
http://tonvinhvanhoadoc.vn/con-meo-den-truyen-ngan-cua-edgar-allan-poe.html/

4 Comments

  1. Yang paling saya ingat di buku ini ialah cerita detektifnya. Ada tiga dan sukses bikin kepala saya puyeng. Kayaknya saya emang kurang cocok sama cerita-cerita bertema detektif. :(

    Kalau yang horor tentu saja kucing hitam itu; lalu tentang mayat yang udah dikubur dan ditembok, tapi bisa bangkit lagi; sama balas dendam yang mengajak temennya ke ruang bawah tanah buat segentong anggur dan itu rupanya tipu muslihat, sebab temannya emang pengin dijebak di situ.

    Kalau diperhatikan, ceritanya terlalu banyak narasi dan deskripsi, sungguhlah Poe ini terkenal akan pelit dialog.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau horrornya cocok kan tapi? Yang pendulum-pendulum juga ngeri-ngeri sedap, Yogs. Masih inget nggak? Tapi justru dengan pelit dialog ini dia bisa menyajikan gambaran suspense dan thriller yang nggak tanggung-tanggung. Ngerinya dapet. Mayat aja diceritakan detilnya seperti apa kan? Kalau keinget, bisa membuat acara pipis saat kebangun malam hari menjadi adegan film horor seketika.

      Delete
  2. Biasanya, beauty blogger erat degan istilah 'racun' karena bisaan aja membuat yang membaca review tersebut menjadi gemas dan ingin mencoba.

    But for me, you are one of the greatest poison. Entah film atau buku, selalu bikin aku penasaran dan jadi pingin lihat/baca. Dari pengamatanku (hailah), genre nya gak jauh beda sama yang aku suka.

    Selain itu main di sini berkali2 juga bikin gumam, 'kapan Zah hobi baca buku lagi?'.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal niatnya nggak ngeracun juga sih. Saya hanya mengajak. *lah sama aja dong*

      Kamu pasti orangnya cadas ya, kelihatan. Dan hobi baca buku bukan untuk dipaksakan. Tapi dibiasakan. Mulailah dari membaca buku katalog Shopie Martin, Zahrah. Dijamin.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.