Mission To Mars: Perjalanan Ke Mars Bukanlah Hal Yang Mustahil

Poster film Mission To Mars.

“Pak, bisakah kita pergi ke Mars suatu saat nanti?”

Adalah pertanyaan yang pernah saya lempar di kelas kepada guru Fisika saya di SMA dulu. Si bapak diam. Tersenyum. Lalu menjawab dengan quote dari film animasi. Toy Story.

“Bisa. Kita bisa menuju tak terbatas dan melampauinya.”

Semenjak itulah, ada satu cita-cita saya yang bertambah. Saya ingin bekerja di NASA. Dulu.

Saat masih TK, saya termasuk siswa yang menjawab dengan jawaban mainstream saat ditanya perihal cita-cita. Saya menjawab “astronot” karena ingin pergi ke bulan. Sungguh mimpi yang selalu diinginkan sebagian anak-anak di usia 5-10 tahun.

Namun, semua rencana tidak bisa selalu terlaksana. Akhirnya saya urung menjadi astronot dan memilih untuk menekuni coding saat SMA. Begitu lulus sekolah, masuknya justru ke jurusan Fisika.  Oke. Baiklah. Rencana tersebut semakin jauh. Cita-cita menjadi astronot terdengar asing dan halu. Ketinggian. Padahal dulu saat kecil, dengan modal kotak kardus bekas kulkas milik ibu, saya bisa membuat roket-roketan dan bermain peran sebagai astronot atau alien. Main ke rumah teman. Dengan kardus. Meminta makanan ke ibunya.

*dan sekarang saya menyadari kalau sedari kecil saya udah nggak punya malu*

Namun hingga sekarang, saya masih menyukai semua pengetahuan yang berhubungan dengan perjalanan ke luar angkasa. Menjelajahi semesta dengan pesawat berkecepatan cahaya. Sepertinya menarik. Semua update dan newsletter dari NASA selalu saya baca.

Dan dalam seratus tahun terakhir, sebenarnya NASA sudah mulai mengembangkan rencana kunjungan dan eksperimen di Mars. Sejak tahun 60-an, banyak wacana tentang pemindahan koloni manusia ke Mars. Hal ini juga ditunjukkan oleh banyaknya ujicoba pesawat ulang alik kesana, pembuatan roket, dan berbagai penelitian yang dilakukan untuk mengkaji tentang Mars.
Mencari jejak kehidupan.

Bahkan industri film dunia juga mengikuti trend tersebut dengan mulai menciptakan film-film yang berkaitan dengan perjalanan ke luar angkasa dan ke Mars. Film dan serial Star Trek, adalah salah satu bukti yang memperlihatkan bahwa manusia di era 60-an sudah berpikir dan berimajinasi untuk menjelajahi angkasa. Menyusul kemudian banyak sekali film seperti Red Planet, Astronout The Last Push, dan masih banyak lagi judul lainnya.

Dan film Mission To Mars (2000) merupakan salah satu film yang menjadi representasi dari keinginan manusia untuk tinggal di Mars. Kelak di kemudian hari.

--- [] ---

Film Mission To Mars adalah salah satu film lama yang menjadi bagian dari fantasi saya sejak kecil. Salah satu favorit saya. Dulu kalau nggak salah, film ini sempat diputar di televisi tiap liburan tiba. Namun, sekarang sudah tidak pernah lagi.

Bukan filmnya. Tapi televisinya. Di kos saya nggak ada TV-nya.

*lalu menggaruk tembok bapak kos yang dulu pernah berjanji akan menyediakan TV di ruang tengah*

Film ini mengisahkan tentang misi penelitian ke planet Mars untuk menyelidiki karakteristik planet tersebut secara mendalam. Mulai dari komposisi tanahnya, keberadaan air dan es disana, gejala alam yang terjadi, dan juga mengembangkan green house. Film dengan durasi 113 menit ini diperankan oleh artis dan aktor di eranya seperti Gary Sinise, Don Ceadle, Connie Nielsen, Jerry O’Connel, Kim Delaney, dan Tim Robbins.
Space craft.

Yang menjadi ciri khas dari perjalanan menuju Mars di film ini adalah kita akan menemui bahwa setiap kelompok terdiri dari empat orang. Keempatnya memiliki job description sendiri-sendiri. Ada ketua, teknisi, dan ilmuwan. Dulu saya tidak paham mengapa harus empat. Mengapa bukan jumlah yang lain?

Lalu kakak saya dengan entengnya menjawab, “Simpel. Karena mereka bukan astronot dari China atau Jepang.”

Dan kami tertawa di sepanjang sisa film. Karena memang orang China dan Jepang, tidak menyukai angka empat. Kalau diperhatikan, pusat perbelanjaan dan gedung perusahaan yang berlantai-lantai miliki orang China tidak memiliki angka empat pada lift-nya. Setelah lantai 3, maka ada 3A dan 3B. Atau justru langsung 5. Padahal secara konstruksi, itu jelas lantai empat. Padahal angka empat adalah angka sakral untuk saya. Angka empat adalah tanggal dimana saya bisa makan Indomie di setiap bulannya.

Oke. Kembali ke Mission To Mars.

Di awal, film ini menceritakan tentang kelompok pertama yang terdiri dari Luke, Renee, Kirov, dan Nicholas yang diberangkatkan ke Mars untuk melanjutkan penelitian disana. Namun sayangnya, badai voxtex yang terjadi di Mars membunuh tiga dari keempat astronot tersebut. Hanya Luke yang masih bertahan hidup.
(Dari kiri) Renee, Nicholas, Luke, dan Kirov.

Kelompok kedua pun diberangkatkan untuk misi penyelamatan Luke dari Mars. Mereka adalah Woody, Jim, Terri, dan Phil. Saat sudah mendekat ke orbit Mars, terjadi hujan micrometeor yang membuat space ship mereka kehilangan kendali. Jim hampir mati karena kadar atmosfer di pesawat semakin tipis. Phil hampir kehilangan darah banyak dan Woody hampir terlempar ke luar angkasa. Namun keadaan kembali stabil setelah mereka melakukan perbaikan sistem secara perlahan.
Jim dan Phil yang gantengnya nggak bagi-bagi.

Konflik semakin rumit saat mereka akan melakukan landing. Woody akhirnya tetap terlempar ke orbit Mars saat mencoba mengambil Resupply Module yang tadi terlepas dari badan pesawat. Terri, istrinya yang juga merupakan astronot pada misi itu, mencoba menyelamatkan suaminya. Namun bahan bakar Terri tidak akan sampai kepada posisi Woody yang sudah melayang-layang. Karena tidak ingin istrinya yang meninggal, Woody memilih bunuh diri dengan melepas helmnya. Ketiganya lalu kembali ke pesawat dan bersiap untuk landing dengan perasaan kacau dan berkabung.

Apakah mereka bisa menemukan Luke? Dan apakah Luke akan ditemukan dalam keadaan hidup?

Dua pertanyaan ini akan membawa kita pada berbagai pertanyaan lain yang lebih kompleks karena plot twist yang terjadi di sepuluh menit terakhir film akan membuat kita menyadari sesuatu. Bahwa alam semesta ini bekerja dengan prinsip paralel, paradoks, dan koherensi. Satu fakta yang tidak bisa dibantah meskipun sekarang Fisika Kuantum belum mampu 100% menjelaskannya pada dunia.

--- [] ---

Film Mission To Mars ini menuai banyak kritik dan pujian sekaligus. Beberapa review menunjukkan bahwa film ini termasuk kategori film tentang luar angkasa yang buruk. Rotten Tomatoes, salah satu lembaga survei dan review film, menyatakan bahwa hanya sekitar 25% dari 110 sampel kritik yang memberikan pernyataan positif pada film ini. Selebihnya menilai jelek.

Penilaian buruk yang diterima film ini kebanyakan berasal dari sinematografi dan juga dari beberapa konsep Fisika yang dilanggar. Untuk film dengan tema seperti ini, efeknya terkesan seperti animasi. Terutama pada bagian awal film yang menggambarkan terjadinya badai vortex dan membunuh hampir semua astronot pada misi tersebut. Eh, ada juga yang di akhir film. Efeknya justru seperti display di ruangan Astronomi.
Badai vortex di Mars dalam film ini.

Dulu waktu saya menonton film ini untuk pertama kali, saya nggak ngeh kalau film ini memiliki cacat dimana-mana. Yah, namanya juga anak kecil yang masih ingusan, yakan? Belum paham efek-efekan di film. Apalagi konsep Fisika yang digunakannya. Masa kecil saya dihabiskan dengan malakin Tamiya milik teman-teman sekampung.

Maka dari itu, sekarang saya tahu mengapa film ini mendapatkan bad responses bertubi-tubi. Tapi, film Mission To Mars ini tetap menjadi salah satu rekomendasi watchlist dari saya jika kalian termasuk yang menyukai film dengan tema fiksi ilmiah. Terutama yang mengangkat tema perjalanan ke luar angkasa.

Dramanya dapet. Sains-nya lumayan. Teknologinya gokil. Dan yang paling penting, film ini menghidupkan harapan bagi orang-orang yang tidak sabar untuk ikut menjadi volunteer pada perjalanan perdana menjadi The Martians.

Like me.

--- [] ---

Mars adalah salah satu planet terdekat dengan bumi yang berwarna jingga dan kemerahan. Nama Mars diberikan menurut nama dewa perang Romawi. Karena komposisinya yang mirip dengan bumi, maka planet ini adalah satu-satunya planet yang paling memungkinkan untuk ditinggali oleh manusia. Suatu hari nanti. Namun, manusia harus membawa sendiri oksigen dan air dari bumi karena belum ada pembuktian sahih yang menunjukkan bahwa di Mars ada sumber oksigen dan air yang melimpah.

Hanya sempat ada bukti bahwa di Mars ada air dan es. Namun jumlah tepatnya masih belum diketahui. Oleh karena itu, harus benar-benar ditentukan kadar masing-masing senyawa penting tersebut sebelum manusia dapat pindah kesana.
Infografis planet Mars.

Pada posisi terdekat, Mars berada pada jarak 56 juta kilometer dari bumi. Lebih dekat dengan bumi dibandingkan semua planet, kecuali Venus. Mars memiliki poros yang miring, sama seperti bumi. Oleh karena itu, Mars memiliki musim-musim yang berganti sesuai kala rotasi dan revolusinya. Mars juga memiliki atmosfer, namun lebih tipis daripada atmosfer bumi. Dengan atmosfer yang tipis, Mars justru tidak panas karena suhu matahari. Planet ini justru bisa memiliki suhu -55 derajat Celsius. Suhu yang amat sangat dingin sekali.

Hampir semua film tentang luar angkasa yang telah diproduksi, semuanya mengarah pada perjalanan ke planet ini. Bukan yang lain. Karena memang demikian. Prospek Mars sebagai planet yang dapat ditinggali cukup tinggi. Alasan ini jugalah yang membuat NASA fokus untuk membuat rencana perjalanan ke Mars dan bukan ke planet yang lain.

--- [] ---

Perjalanan ke Mars yang diceritakan pada film Mission To Mars ini di-setting dan dilakukan di tahun 2020. Dua tahun dari 2018. Sekarang. Melihat kemajuan riset NASA untuk mempersiapkan kendaraan disana, hal ini bisa saja mundur dengan estimasi keberangkatan kelompok astronot pertama di tahun 2030 atau 2040. Itu pun harus mampir ke International Space Station (ISS) dulu. Karena sekalipun terlihat dekat, Mars sebenarnya memiliki jarak yang jauh dari bumi. Kecuali kalau NASA sudah memiliki roket dan pesawat dengan kecepatan gerak yang setara kecepatan cahaya.
It is promising.

Di Mars sendiri sudah diletakkan beberapa pesawat robotik tanpa awak dan rover yang sudah menjelajah datarannya untuk mendapatkan real time keadaan disana sejak sepuluh tahun lalu. Pengendalian Mars rover ada di Amerika Serikat. Laporan tentang vortex dan radiasi yang ada di planet merah tersebut akan terus dilaporkan untuk penelitian lanjutan ke depannya.

Bekerja sama dengan beberapa universitas (misalnya MIT dan Caltech) dan juga pusat penelitian (misalnya CERN), NASA akan membuat kendaraan khusus untuk melakukan perjalanan ke Mars dalam beberapa tahun ke depan.

Engineers and scientists around the country are working hard to develop the technologies astronauts will use to one day live and work on Mars, and safely return home from the next giant leap for humanity.  NASA, 2017


Oleh karena itu, perjalanan ke Mars... Bukanlah hal yang mustahil. 





Pictures are taken from:
https://www.nasa.gov/content/nasas-journey-to-mars/
https://www.youtube.com/watch?v=w9aYYYtG08I
https://www.wired.com/2016/10/how-we-will-get-to-mars/
http://metrograph.com/film/film/192/mission-to-mars
http://www.darkcarnival.co.za/event/mission-to-mars-on-tv-3/
https://en.wikipedia.org/wiki/Human_mission_to_Mars
http://www.satiitv.com/more/space/indias-mars-mission-onto-highest-rupees-2000-paper-currency/
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

6 Comments:

  1. Plot twist; 2030 manusia tinggal di Pluto.

    ReplyDelete
  2. Busyed ... Udah lama gak maen kesini ternyata banyak juga ya yg udah dibahas. Eh, tapi kenapa sebagian besar ngomongin film yah?

    Pernah juga waktu stm dulu nanya ke guru fisika ane hal yg hampir serupa kaya ente, sis. Waktu itu beliau lagi njelasin tentang Matahari dan tata surya. Dialognya kaya gini lah kira-kira (seinget ane):
    Ane: "Pak, mau nanya. Khan jarak antar planet itu jauh banget. Nah, kalo menurut Bapak, bisa ato gak sih Pak di masa depan manusia itu bikin alat transportasi ke planet lain? Kalo bisa gimana caranya?"
    Guru ane: "Hahaha ... (jinguk, dia malah ketawa. Abis itu, dia diem beberapa detik) Atau."
    Ane: "Heh?! Maksudnya Pak?" (cuman bisa diem dengan ekspresi cengok karna gak tau apa maksudnya kok dia ngomong 'atau')
    Guru ane: "Kuncinya ini. Hahaha." (Sambil nulis di whiteboard kata 'Alcubierre Warp')

    Nah itu, dialog absurd antara ane ama guru fisika ane dulu. Beberapa tahun setelah ane masuk kuliah, baru nyadar apa yg dimaksud oleh beliau dan juga guyonan absurdnya.

    Sampe sekarang memang masih banyak pertanyaan yg cuma bisa dijawab dengan kata 'atau'. Misalnya: Seandainya benar teori 'Alcubierre Warp' ini bisa diimplementasikan menjadi suatu bentuk nyata secara fisik, bahan (materi) seperti apakah yang mampu untuk tetap mempertahankan bentuknya ketika bergerak dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya? Seandainya bahan tersebut ditemukan, dengan bahan bakar (energi) apa agar suatu alat (dalam hal ini, pesawat ruang angkasa) tersebut mampu sampai ke tempat tujuan tanpa ada suatu kendala? Apakah menggunakan energi dari reaksi fusi, fisi, atau bahkan ZPE (Zero Point Energy) serta bagaimana ZPE benar-benar mampu diwujudkan? Seandainya benar semua hal-hal diatas dapat diwujudkan, seberapa besar biaya yg dibutuhkan? Dan pertanyaan yg paling utama adalah akan seperti apakah masa depan yg menanti pada masa ketika semua hal diatas telah terjadi? Menjadi lebih baik atau malah sebaliknya?

    Btw, dulu cita-cita ane juga pengen jadi astronot. Dulu.�� Setelah melewati realita kehidupan, jadinya sekarang ini sih cuman bisa memandanginya lewat teleskop doang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena sedang ikut acara #30HariMenulisReview, bang. Hehe.

      "Alcubierre Warp" sering dipakai saintis untuk mengungkap hal-hal yang belum pasti dan masih dipertanyakan. Bahkan kadang masih dalam imajinasi. Prinsip ketidakpastian Heisenberg dulu juga sempat diperdebatkan namun ada salah satu saintis on board yang bilang bahwa prinsip ini masih "Alcubierre Warp".

      Hyperspace, Faster Than Light (FTL), merupakan dua konsep yang juga masih dijawab dengan "Alcubierre Warp". Sebenarnya sekarang NASA sedang mengembangkan pesawat dengan kecepatan hampir mendekati cahaya. Bukan melebihi. Mendekati. Bahan bakar, menggunakan salah satu sifat cahaya itu sendiri. Difraksi. Dan menurut saya, ZPE bukan tidak mungkin untuk diwujudkan, bang :)

      Pertanyaan terakhir saya jawab dengan prinsip ketidakpastian Heisenberg. Sebelum kita benar-benar memiliki kendaraan berkecepatan mendekati kecepatan cahaya, kita tidak akan tahu secara pasti apakah efeknya buruk atau baik. Atau bahkan keduanya. Baik dan buruk.

      Terima kasih diskusinya!

      Delete
  3. Wah, baca diskusi kakak-kaka di atas aku rasany blank hahahaha xD pelajaran paling gak mudeng kedua setelah Kimia, ya Fisika -_-

    Nah, dulu pernah diskusi gitu sama dosen....katanya, atmosfer itu kan bisa bikin meteor aja terbakar gak bersisa. Nah gimana bisa pesawat2 luar angkasa lolos darisitu? Kata beliau sih, sebenernya benda2 itu masih di dalam atmosfer. Iya gak sih?

    Semenjak berita hoax tentang Neil Amstrong yang dibikin bikin videonya tentang pendaratan di bulan (bendera kok bisa berkibar di bulan, dll), ntah kenapa jadi skeptis banget sama NASA. Gimana tuh kak~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau pertanyaan kamu saya jawab, bisa jadi essay, Zahrah.

      Satu. Ada yang namanya escape velocity. Roket didesain untuk meluncur dengan thrust yang tinggi saat meninggalkan atmosfer. Nggak akan hancur saat meninggalkan planet dan atmosfernya dan hancur saat kembali ke atmosfer atau masuk ke suatu planet. Thats why para astronot yang kembali dari luar angkasa kalau mendarat ke bumi bukan pakai roket karena roketnya sudah pasti hancur saat masuk atmosfer. Mereka mendarat pakai soyus capsule. Energi untuk keluar dan masuk tidak sama. Roket yang kamu lihat, bisa keluar angkasa. Kalau nggak gitu, operator nggak bakal eksis di dunia. Satelit harus ada di luar atmosfer dong. Kalau di dalam nggak guna XD

      Kalau soal Neil Armstrong, dia nggak hoax. Sebenarnya itu bukan berkibar. Itu karena percepatan gravitasi di bulan jauuuuuuh lebih keciiiiil daripada di bumi. Makanya saat ditancapkan, benderanya tetap ingin melayang-layang.

      Satu lagi, NASA tidak seburuk yang kamu kira.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.