Look at The Book of Lost Things

The Book of Lost Things.

Judul: The Book of Lost Things
Penulis: John Connolly
Penerbit: Atria Books
Bahasa: Inggris
Tahun Terbit: 2006
Jumlah Halaman: 339 halaman

--- [] ---


Saya masih ingat betul bagaimana segala sesuatu yang saya sukai dipengaruhi oleh kakak laki-laki saya. Mulai dari gaya berpakaian, selera musik, genre film favorit, buku bacaan, dan masih banyak lagi. Kakak saya adalah partner in crime pertama yang menjadi teman karib sekaligus musuh bebuyutan saya dari kecil. 

Dulu, kami bahkan sering sekali berantem ala-ala Popeye dan Brutus setelah makan keripik bayam buatan ibu. Kami akan suit dan menentukan siapa jadi siapa, lalu yang berperan jadi Popeye akan sok-sokan makan keripik bayam dan jadi berotot. Lalu kami saling membanting di atas kasur hingga salah satu ada yang menyerah. Atau hingga ibu kami ke kamar dan marah-marah karena kami begitu berisik.

Biasanya kalau berantem kami menjadi serius dan jambak-jambakan, ibu bahkan ke kamar dengan membawa dua pisau di tangan. Mengancam untuk memberikan pisau itu supaya kami takut dan berhenti. Tapi biasanya, saya justru makin beringas kalau diancam. Ibu terpaksa melakukan tips parenting yang lain.

Memisahkan kami jauh-jauh.

Namun kami juga tidak bisa berpisah lama karena saya manja sekali padanya. Sebentar tidak melihat kakak saya saja, rasanya aneh. Kadang saya ngintilin dia sampai ke kamar mandi juga. Semua aktivitas kakak akan saya tirukan. Mungkin saya annoying, tapi saya tahu dia sayang sekali pada saya.

*adik yang kepedean*

Hampir semua bacaan kakak, saya suka. Mulai dari majalah, buku, novel, dan semua hal yang dibaca oleh kakak, saya jadi ikut-ikutan membacanya. Kakak saya menyukai banyak genre bacaan. Random. Namun kalau saya lihat, dia paling antusias saat membaca genre thriller, detektif, dan drama. 

Saya pun mengenal buku ini karena dia. The Book of Lost Things. Yang ditulis oleh John Connolly. 

--- [] ---

Of all that was found and all that was lost...

Merupakan judul bab pertama yang ada di buku ini. Kamu akan diajak memasuki kehidupan David, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang kehilangan ibunya saat perang dunia kedua. Ayah David menikah lagi dengan seorang wanita bernama Rose dan mereka pindah ke kota London untuk memulai hidup baru.
I lost then I found you.

Dari titik permulaan ini, David akan mengajak kamu untuk berkeliling di alam bawah sadarnya. David sering mengalami mimpi aneh dan halusinasi berlebihan seperti bayangan buku-buku dongeng yang saling berbicara satu sama lain. Namun, semakin lama, David menyadari bahwa semua itu bukanlah mimpi belaka. Mereka nyata.

Di chapter setelahnya, kamu akan dibawa masuk ke dunia dongeng bersama David dan melihat sisi lain dari semua dongeng masa anak-anak yang pernah kamu baca. David akan mengajak kamu bertemu Snow White dan ketujuh kurcacinya. David juga akan memperkenalkan kamu pada Sleeping Beauty dan Little Red Riding Hood. Lebih lanjut lagi, David juga akan membawa kita untuk berbincang dengan beberapa makhluk hybrid negeri dongeng yang lucu namun mengerikan.

Everything you can imagine is real...

Sebuah kutipan dari Pablo Picasso yang disisipkan pada buku ini menjadi kunci dari keberlangsungan kisah David dalam mengajak pembacanya berfantasi menuju negeri dongeng. Tidak sama seperti buku Alice in Wonderland, The Book of Lost Things merupakan cerita thriller yang semua character imagery-nya digambarkan dengan luar biasa detil dan tegas. Kengerian yang ditimbulkan oleh deskripsi John Connolly di buku ini mampu membuat kita terbawa ke dalam dunia David yang mencekam dan tertekan.
I can imagine about you so that you are real.

Ia harus menemukan jalan pulang. Jika tidak begitu, David akan selamanya tersesat dan menjadi buruan Rumpletilskin dan beberapa villain lainnya dari negeri dongeng. David akan berkali-kali tersesat dan harus menangangi semua masalahnya di dunia dongeng untuk menemukan “hal yang hilang” dari dirinya.

Clue, semua yang dilakukan David sebenarnya mengarah pada satu hal.

Kerinduan pada ibunya yang telah meninggal.

--- [] ---

Dari buku The Book of Lost Things ini, saya mendapatkan suatu gambaran bahwa kita tidak bisa selalu menceritakan dongeng yang memiliki akhir bagus pada anak kita kelak. Mereka harus tahu bahwa hidup tidak selalu memiliki jalan cerita yang indah. Terkadang, akan ada halang rintang yang muncul saat kita berlari mengejar sesuatu. Bukan berarti saya mengusulkan untuk selalu membacakan dongeng yang sad ending. Bukan. Namun sesekali, anak perlu tahu jika tidak semua jalan hidup manusia akan berakhir happily ever after seperti dunia dongeng.

Rasional itu perlu, jendral.

Cerita dalam The Book of Lost Things memiliki aura gelap dan suram. Membuat pembaca akan diajak berpikir ulang bahwa dunia dongeng memang tidak selalu penuh kebahagiaan. Namun novel ini tidak bisa dikategorikan menjadi satu-satunya novel yang mengangkat dongeng dengan tema dark. Karena jika kita mau menelaah lebih dalam, sebenarnya dongeng tentang Gadis Korek Api memiliki sensasi yang lebih suram dan menyedihkan.






Pictures are taken from:
https://tianafeng.com/2012/09/10/the-book-of-lost-things-john-connolly/
https://chachic.wordpress.com/tag/the-book-of-lost-things/
https://www.pinterest.com/pin/369435975663316695/
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

2 Comments:

  1. ini buku favoritku pas smp tapi sekarang udah lupa blas sama jalan ceritanya :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku baca ini ada lima kali dan belum bosan, Fa. Emang bagus banget sih ya X)

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.