Lights Out Because Not Lights In

Lights Out karena pemadaman bergilir.

Pertama kali saya nonton film ini adalah di hari Kamis malam Jumat karena baru selesai men-download-nya menggunakan wifi kampus yang super duper cepat dan tak tertandingi. Saya menontonnya saat hujan deras, petir menyambar, dan ada suara lolongan serigala di kejauhan.

*dramatis banget anjay*

Oke. Setting aslinya tidak seperti itu kok. Saya menonton film ini saat sedang cerah ceria di sore hari. Nggak ada hujan. Nggak ada petir. Dan di teras kosan karena sambil nungguin teman untuk kerja kelompok. Efek suaranya juga hanya dari meriahnya acara pernikahan kucing liar di pagar depan. Saling mengeong dan menduduki. Berisik sekali.

Baiklah. Kembali pada konteks film.

Lights Out merupakan salah satu film horor terbaik yang saya tonton sepanjang tahun 2017 kemarin. Film ini sebenarnya rilis tahun 2016, tapi saya memang baru menontonnya tahun lalu.

Film dengan durasi 79 menit ini berhasil mencuri perhatian saya tanpa jeda karena ceritanya seru sekali, pemirsa. Aftertaste yang ditimbulkan oleh film ini membuat saya sedikit takut ke kamar mandi saat gelap tiba. Apalagi baru kejadian kapan lalu, lampu ke arah sana mati mendadak. Serius ya. Sensasinya benar-benar tak terkatakan.

Dan semuanya dikisahkan dengan menawan oleh tokohnya yang diperankan oleh Teresa Palmer (sebagai Rebecca), Gabriel Bateman (sebagai Martin), Alexander DiPersia (sebagai Bret), Billy Burke (sebagai Paul), Maria Bello (sebagai Sophie), dan Alicia Vela-Bailey (sebagai Diana).

Dan alur kusutnya dimulai dari kegelapan malam yang berkepanjangan.

--- [] ---

Diana. Tokoh kunci yang menjadi karakter misterius di film ini, meninggal karena eksperimen yang dilakukan oleh rumah sakit jiwa. Diana memiliki seorang teman seperjuangan bernama Sophie yang kemudian bisa survive dan memulai kehidupan baru. Ia sembuh dan tumbuh dewasa dengan bahagia. Tak tanggung-tanggung, Sophie justru menikah dua kali dengan dua pria berbeda dan memiliki anak dari keduanya. Sungguh kemampuan yang luar biasa, bukan?

Sophie merupakan ibu Rebecca (dengan suami pertama yang tidak diceritakan asal-usulnya) dan ibu Martin (dengan suami kedua bernama Paul). Rebecca mulanya tinggal bersama ayah tirinya dan adik tirinya. Sementara Sophie, ibunya, tinggal di rumah terpisah karena gejala sakit jiwanya kambuh lagi.

Ia sering berbicara dengan teman bayangannya, Diana. Selama beberapa tahun, mereka berempat sudah berpisah rumah. Namun sebagai suami yang baik, Paul berusaha mencari tahu apa yang terjadi pada istrinya lewat berbagai dokumen yang dia kumpulkan dari eksperimen di masa lalu.

Rupanya hal ini membuat Diana tidak suka. Paul akhirnya terbunuh dengan tragis saat mematikan lampu di ruang kerjanya. Dan ketegangan mulai muncul ke permukaan.
Martin dan Rebecca.

Hal-hal aneh dan mengerikan terus terjadi semenjak kematian Paul. Satu per satu tanda dan bukti terkuak, membuat Rebecca penasaran dan ingin memecahkan misteri kematian ayah tirinya. Dari sinilah, Rebecca harus beradu hidup dan mati dengan maut saat gelap tiba.

Rebecca parno pada kegelapan malam.

Apalagi sejak kejadian itu, ia sering sekali mengalami pemadaman listrik. Ini namanya kampret tingkat nasional. PLN disana memadamkan lampu kok timing-nya tepat sekali dengan kejadian horor di rumah Rebecca. Karena kejadian pemadaman itu berkali-kali, harusnya dia menuliskan tweet atau direct message berisi keluhan pada PLN seperti yang biasa saya lakukan.

Ah, Rebecca. Kamu harusnya bikin akun Twitter!

Tak berhenti sampai disitu, Rebecca malah nantangin Diana dengan datang ke rumah ibunya. Disitulah ia menemukan kejanggalan demi kejanggalan berikutnya hingga tercapai ending yang super wow dan membuat kita termenung, tidak mampu berkata-kata.

Meskipun saya mengakui bahwa film ini cukup bagus, mampu membuat merinding, juga kaget (tipikal film horor pada umumnya), namun ada beberapa momen yang bikin ngakak karena menurut saya nggak relevan dengan kaidah ilmiah.

*sok-sokan banget bawa-bawa kaidah ilmiah*

Satu. Rebecca mainan light saber namun tetap tidak mampu mengusir Diana yang takut pada cahaya tersebut. Hantunya pilih-pilih, men.

Kalau disinari dengan lampu 10 watt ke atas dengan panjang gelombang polikromatis, dia takut dan terbakar macam vampir gitu lah. Tapi kalau hanya disinari dengan cahaya ampas monokromatis yang kecil-kecilan intensitasnya macam laser dengan warna merah dan biru, Diana tetap tegak berdiri menggerogoti nyali.
Light saber tidak mempan, gaes.

Dua. Diana takut pada cahaya lampu mobil milik Bert. Padahal cahaya lampu mobil kan nggak segitu terangnya. Kecuali yang sudah dimodifikasi ya. Scene ini membuat saya tertawa apalagi dengan adanya komentar dari adik saya yang amat sangat bangkai sekali saat saya menontonnya kali kedua bersama dia di malam tahun baru kemarin.

“Nah gitu, makanya kalau jadi cowok harus punya mobil!”

Kan kampret. Nyambungnya bisa kesitu.

Ini memang entah filmnya yang nggak mampu nge-twist atau adik saya yang matrenya kebangetan. Who knows. Tapi scene itu memang sungguh membuat putus kotak tertawa.

--- [] ---

Secara keseluruhan, film Lights Out ini bagus. Cocok jika ingin ditonton bersama keluarga tercinta.

*loh, kok bisa, May?*

Bisa. Karena ada beberapa anak yang memang memiliki teman khayalan (imaginary friend) dalam usia tumbuh kembangnya. Ini nggak salah. Ini bukan sakit jiwa. Anak yang memiliki teman khayalan justru berpotensi untuk menjadi anak yang cerdas kelak di masa dewasanya. Katanya sih. Oleh karena itu, orang tua harus bisa membimbing anak agar ia tidak menggunakan kemampuan dan hubungannya dengan teman khayalannya untuk hal-hal yang negatif.
Martin dan Sophie sedang ngobrolin kucing tetangga.

Sophie yang dalam kasus ini memang sudah memiliki keanehan sejak kecil, harusnya tidak serta merta dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh orang tua terdahulunya. Malah setelah dimasukkan ke RSJ, ia memiliki teman asli yang meninggal dan menjadi teman khayalan yang betulan.

Suami dan anaknya juga seharusnya tidak meninggalkan Sophie dalam kesendirian. Ia butuh dukungan. Ia butuh hiburan untuk bisa keluar dari jerat Diana yang mematikan dan posesif.

Setahu saya, orang yang sakit jiwa malah sebenarnya tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Apalagi disakiti. Karena sakit jiwa tidak sama dengan sakit-sakit fisik pada umumnya. Bisa disembuhkan kok, kalau ada dukungan keluarga. Saya sendiri jadi miris kalau mengetahui ada berita sebuah keluarga memasung salah satu anggotanya karena dianggap gila. Ini salah. Mereka harusnya dibina. Tidak mudah sih. Tapi mereka berhak mendapatkan perlakukan manusiawi, bukan?

Kira-kira begitulah pesan moral yang dapat dipetik dari film ini.

--- [] ---

Film Lights Out ini mengingatkan saya pada game yang pernah saya mainkan setahun lalu. Namanya “Don’t Starve”, sebuah game survival yang membuat player-nya berusaha bertahan hidup di alam liar. Player dalam game ini dituntut untuk mengumpulkan semua bahan makanan, bahan bakar api, dan alat-alat untuk membuat tempat tinggal yang nomaden.
Salah satu game favorit saya sepanjang masa ~

Prinsipnya satu. The more you get, the longer you live.

Makin banyak bahan makanan dan alat yang kamu dapat selama bermain, makin lama pula kamu bisa bertahan hidup. Game ini nggak ada menang kalah. Tolok ukurnya dilihat dari seberapa lama kita bisa bertahan hidup. Nanti di pojok kanan akan ada keterangan hari ke berapa yang sudah berhasil kita lalui.

Menegangkan, bukan?

Karena kita harus jeli melihat setiap sudut wilayah untuk menemukan item-item tersebut. Kita juga tidak boleh stay di satu tempat yang sama karena bisa ada kebakaran, chaos, penyakit, wabah, dan apapun yang mengharuskan kita untuk terus nomaden berpindah tempat.

Yang paling ngeri dari game ini adalah saat malam hari.

Jadi kalau malam, akan benar-benar gelap. Kecuali kita memiliki bahan untuk membuat nyala api tetap bertahan sampai pagi. Jika tidak, siap-siap akan ada monster kegelapan yang akan memakan player hingga status darahnya (blood meter) habis. Kalau habis, koitlah sudah. Game berhenti dan tamat begitu saja. Tidak ada nyawa tambahan seperti di game Mario Bross. Kalau mati, mengulang lagi dari hari pertama.
Markas player saat selesai dibangun.

Jika monster dan musuh-musuh yang lain bisa diusir atau dibunuh dengan alat dan senjata yang ditemukan selama di jalan, monster kegelapan ini tidak bisa dilawan dengan cara apapun. Apapun. Kalau ternyata bahan untuk membuat api habis, tamat sudahlah riwayat player kita sekaligus game-nya. Over.

Bentuknya seperti apa, tidak ada yang tahu. Pokoknya kalau gelap, tidak ada penerangan, player kita akan dimakan dan digerogoti. Karena ada suara “krauss-krauss” yang timbul selama gelap masih di kandung badan. Beberapa saat kemudian, darah habis, dan mati. Pedih.

Game ini sama seperti film Lights Out. Monster akan muncul saat ada kegelapan. Diana merupakan sosok tak kasat mata yang muncul jika ada kegelapan.

Sama juga seperti kesepian. Yang muncul karena kegelapan hati saat dirimu tak lagi bersamaque ~





Pictures are taken from:
http://bltdsports.com/2016/07/23/lights-out-2016-film-review/
http://www.comingsoon.net/movies/reviews/704699-lights-out-review
https://www.vox.com/2016/7/23/12255356/lights-out-review-spoilers
https://www.vox.com/2016/7/23/12255356/lights-out-review-spoilers
http://dontstarve.wikia.com/wiki/File:Don%27t_Starve_Promo_2.png
http://dontstarve.wikia.com/wiki/File:Base_camp.jpg
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

6 Comments:

  1. Nah gitu, makanya kalau jadi cowok harus punya mobil!

    kalimat yg sedikit menusuk pantat...
    Warning !!! film ini tidak diperuntukkan untuk kaum jomblo yg nontonnya sendiri
    kalo kaget masa harus peluk tembok...

    ReplyDelete
  2. horor dan menakutkan yach Mbak filmnya ? saya ikutan merasa serem juga saat membaca artikel diatas, untung saya hapal Ayat Kursi. :)

    ReplyDelete
  3. Nah gitu, makanya kalau jadi cowok harus punya mobil!

    Bajigur, syarat nikah jadi nambahkan padahal memiliki rumah dan lahan itu lebih baik! *loh

    Jadi penasaran, tapi ngeri juga sih soalnya dirumah masih banyak pohon dan gelap kalo malem. Tapi kalo dibacain ayat kursi diana bakal kabur gak ya? Ehm..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diana hanya akan kabur kalau dinyanyiin lagunya Koes Plus yang judulnya sesuai namannya, Diana. Ehehehe.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.