I Love You Like Crazy

Fulfilling our dreams like crazy.

“May, nonton film cinta-cintaan yuk?”

Teman saya, Lian, menawarkan genre film yang akan kami tonton untuk menikmati Sabtu malam bersama. Film cinta. Pertama kali, jelas saya nggak setuju karena saya bukan penggemar film semacam itu.

“Eh, jangan cinta-cintaan lah. Yang thriller atau horror aja gimana?”

“Bosan. Kalau nonton genre thriller sama horror, saya berasa nonton sama pemeran pembunuh atau setannya. Takut,”

KAMPRET.

“...”

Saya diem. Masih ngeliatin.

“Eh, bener kan? Salah siapa kalau nonton selalu muka datar?”

“...”

“Cukup dada aja yang datar, muka jangan. Yang ekspresif dong.”

“...”

Benar-benar dah ini anak satu. Dari tadi ngeselin banget. Mau ngusir keluar kos, apa daya ini kosan dia. Saya yang numpang. Akhirnya saya hanya bisa membiarkannya memilih film yang akan kami tonton tanpa protes sedikit pun.

“Yang ini dijamin kamu suka deh.”

“Tapi...”

“Serius, kamu pasti akan suka.”

“Tapi...”

“Ada pemain favorit kamu, yang main di Star Trek."

“Hah? Siapa?”

“Anton Yelchin.”

“OKE SIAP!”

Mendengar nama mas-mas dengan rambut sedikit gondrong dan ikal itu, saya langsung berubah pikiran. Saya lekas duduk manis dan menanti Lian yang sedang mengatur speaker eksternalnya.

Dan malam itu, persepsi saya tentang film cinta-cintaan, berubah 100%...

--- [] ---

100% murni cinta Anna pada Jacob, semenjak mereka bertemu di kelas seorang profesor pada sebuah mata kuliah.
Dunia terasa milik berdua.

Anna dan Jacob merupakan dua tokoh utama dalam film Like Crazy (2011). Film ini disutradarai oleh Drake Doremus yang merupakan penulis screenplay-nya juga. Film dengan durasi tepat 90 menit ini diproduksi oleh Paramount Vantage, Amerika. Dengan modal yang sedikit, film ini mampu meraih box office berkali-kali lipat dan juga penghargaan yang banyak banget karena memang ceritanya yang bagus.

Dulu saya sempat membaca kalau film ini adalah film indie, tapi setelah saya menulis review-nya ini dan mencoba browsing ulang, saya tidak lagi menemukan titel indie pada film ini. Entahlah. Mungkin memang sudah masuk industri film mayor. Karena saya sudah menontonnya beberapa tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2012.
Sedang bahas tanaman tetangga.

Film ini... Manis.

Menceritakan tentang hubungan Anna (Felicity Jones) dan Jacob (Anton Yelchin) yang pertama kali bertemu sebagai mahasiswa dan asisten dosen. Anna adalah mahasiswa dari Inggris yang bersekolah di Amerika. Sementara Jacob adalah mahasiswa desain yang menjadi asisten dosen, sekali waktu ia ikut menemani profesornya mengajar. Dan disitulah ia pertama kali bertemu Anna.

Keduanya saling jatuh cinta dan akhirnya memutuskan untuk bersama. Namun berbagai masalah pelik muncul, apalagi tentang berakhirnya visa studi Anna yang akhirnya membuat mereka harus LDR-an setelah keduanya lulus kuliah.
I love you too.

Like Crazy menampilkan brengseknya hubungan LDR yang kerap sekali diangkat menjadi jokes dan tema di media sosial. LDR adalah hubungan yang rawan gagal. LDR adalah hubungan yang tidak jelas. LDR adalah Lu Doang Relationship, bukan Long Distance Relationship.

Kisah cinta Anna dan Jacob juga begitu. Ada beberapa scene yang menunjukkan betapa desperate-nya keduanya saat saling merindukan, namun tidak bisa memeluk satu sama lain karena sedang berjauhan. Amerika-Inggris, gaes. Lebih jauh daripada sekadar Solo-Kediri.
Let me kiss you ~

Film ini merupakan film cinta yang menurut saya nggak mainstream karena kedua tokohnya dibuat manusiawi banget. Kalau kalian sudah pernah menonton, pasti tahu kalau film ini ada efek shaggy dan shaking-nya, seperti layaknya film indie dan dokumenter.

Ceritanya bahkan cenderung overflow dan tidak kentara klimaksnya di bagian mana. Tau-tau udah keluar aja. #eh

Efek suara dan backsound tidak terlalu ditonjolkan di film ini karena memang kharisma visualnya yang lebih diutamakan. Apalagi kalau kalian termasuk penggemr film yang memiliki banyak jutaan quote tentang cinta, film Like Crazy ini jelas tidak boleh dilewatkan. Hampir semua dialog pemainnya penuh dengan quote. Kayak udah ngalahin bukunya Shakespeare aja, yang diksinya penuh kalimat manis.
Gombalannya tak tertandingi.

Saya sempat berdiskusi dengan Lian mengenai film ini. Ada beberapa hal yang bisa dipetik kalau kita menjalani hubungan LDR dengan kekasih.

Pertama. Komunikasi adalah yang kunci paling utama. Namun sinyal telepon dan jaringan internet brengsek adalah musuh yang sebenar-benarnya.

Sama seperti Anna dan Jacob yang sering bertengkar karena keduanya sibuk dan jarang memberi kabar. Padahal keduanya sama-sama rindu dan saling menginginkan.

Kedua. Saling percaya adalah hal yang harus diusahakan selama menjalani hubungan jarak jauh. Namun adanya orang ketiga di dekat pasangan adalah sekampret-kampretnya keadaan.

Sama seperti saat Jacob akhirnya mencoba memiliki kekasih baru dengan kolega kerjanya bernama Samantha dan Anna yang mencoba hubungan baru dengan tetangganya bernama Simon.

Ketiga. Solusi paling tepat untuk mengakhiri hubungan jarak jauh adalah menikah agar bisa terus bersama-sama. Namun salah satu harus mengalah dengan menggadaikan seluruh hidupnya. Mulai dari pekerjaan, keluarga, dan banyak hal lain.

Oke, yang ini nggak perlu dijelaskan karena takut terlalu spoiler.

Menurut saya, film ini harus masuk nominasi 10 romance movies to watch before you die. Bagus. Beneran. Like Crazy nggak seperti film-film romance yang halu dan ketinggian.

--- [] ---

“Ketinggian, May.”

“Apanya?

Lian menatap saya lamat-lamat sambil mengunyah permen gummy bears Yuppy. Setelah selesai menonton filmnya, ia menangis sesenggukan karena rindu kekasihnya yang jauh disana. Sianjir.  Ternyata ini adalah akal muslihatnya yang menjebak saya untuk nonton film ini dulu sebelum curhat tentang kekasihnya.

“Kalau bercita-cita untuk menikah, jelas ada. Tapi ketinggian,”

“Kenapa? Belum dicoba kan.”

Lian diam. Ada sesuatu tentang kekasihnya yang saya belum diberi tahu.

“Karena selain beda kota, kami juga... Beda agama.”

Saya diam. Dia diam.

“Saya nggak bisa komentar ya, Lian.”

Karena memang saya nggak mau ikut campur kalau udah urusan hati manusia. Apalagi kalau menyangkut agama. Sensitif. Lalu Lian terlihat menangis lagi. Kali ini bukan nangisin filmnya, tapi keadaan dan hubungan dengan kekasihnya.

“Beri saya saran, May.”

Saya diam lagi. Walaupun sedang tidak memikirkan saran.

“Saya hanya bisa berdoa, ada jalan yang tepat nantinya. Kamu bahagia, dia bahagia. Itu aja. Kalau saran, maaf.”

Dikasih saran kayak gimana juga kalau Lian bukan memutuskan sendiri, akan tetap sama. Jutaan quote ngeselin ala-ala Tumblr dan Pinterest tentang LDR dan cinta beda agama nggak akan ngaruh kecuali Lian yang melangkah mengambil keputusan. Kadang kala, orang meminta saran hanya untuk mencari ketenangan batin. Bukan untuk benar-benar dilakukan.

Selama lima belas menit, ruang kamarnya hening. Saya mengalihkan diri sambil membaca komik sambil tetap memeluk pundaknya. Lian masih menangis. Kemudian dia pamit tidur karena matanya bengkak gede banget seperti disengat lebah.

Beberapa saat kemudian, akhirnya saya menyusul tidur.

--- [] ---

Tidur. Saat itu saya masih tidur. Pukul 2 pagi di sebuah hari di tahun 2016, ponsel saya berbunyi nyaring. Telepon dari Lian.

“Halo, kenapa, Yan?”

“May, saya mau ngabarin sesuatu.”

Saya melirik jam dinding. Sialan. Masih dini hari. Pasti Lian begadang lagi.

“Masih jam 2 pagi. Nanti malam aja ya,”

“Nggak bisa, kamu harus dengar sekarang.”

Akhirnya saya mencoba duduk supaya ngantuknya hilang.

“Oke, Lian. Silakan cerita.”

Di ujung sana, terdengar ia menghela napas panjang.

“Ada dua kabar baru. Yang satu penting buat saya, yang satu pasti penting buat kamu.”

“Iya. Apa?”

Saya mulai nggak sabar.

“Saya putus, May. Kami nggak bisa sama-sama terus. Dia punya pacar baru, teman paduan suara di gerejanya.”

Terdengar suaranya sedikit tercekat.

“Oh... Akhirnya ada jawaban atas doa kamu di tahun 2012 dulu. Syukurlah.”

Lian sedikit menangis. Saya tahu karena deru napasnya mulai meracau. Lalu dia bercerita tentang kronologi lengkapnya hingga setengah jam ke depan. Pembicaraan mulai intens dan ngantuk saya tiba-tiba hilang.

“Oh iya, May. Kabar keduanya...”

Kini kami akan berganti topik. Ini adalah kabar yang katanya menyedihkan untuk saya.

“Anton Yelchin, meninggal dunia. Kecelakaan.”

Saya bengong. Kaget.
Yelchin saat main di Star Trek.

“Padahal masih mau rilis film ketiga Star Trek, tapi dia udah meninggal duluan. Kecelakaan tunggal, kegencet mobilnya sendiri.”

Saya makin bengong kayak orang bego.

“Sekarang masih proses autopsi, tapi pihak Hollywood udah memastikan kalau meninggal. Dia nggak akan ikut premiere Star Trek. Katanya akan ada prosesi penghormatan gitu saat nanti di pemakamannya.”

Saya masih diam. Udara masih dingin. Hari masih sepi. Pagi masih buta. Beberapa scene film Anton Yelchin di film Star Trek muncul di kepala. Beberapa scene film Like Crazy juga berkelebatan kesana kemari. Si jayus dengan rambut berantakannya itu. Sudah pergi.

Dan tiba-tiba, terdengar bunyi hujan di luar sana. Padahal saat itu sudah bulan Mei.
Farewell, Yelchin. You may now rest in peace.





Pictures are taken from:
https://www.amazon.com/Like-Crazy-MFTMP-Dustin-OHalloran/dp/B005SD3XJY
https://weheartit.com/entry/101832725
https://modernmaterialculture.wordpress.com/tag/like-crazy/
http://www.metacritic.com/movie/like-crazy
http://onesmallwindow.com/movie-reviews/so-is-like-crazy-any-good/
http://www.fanpop.com/clubs/romantic-movies/images/29985207/title/like-crazy-screencap
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

6 Comments:

  1. Cukup dada yg rata dompet jangan. Kalo beda agama emang pelik banget sih, gimana ya bingung saya juga. Akhirnya mah putus juga meski meninggalkan luka.

    Kayanya hampir sama kaya kejadian paul walker, meninggal kecelakaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, sialan malah diperjelas lagi. Iya emang datar kok, Asep.

      Apakah Asep juga pernah jatuh cinta beda agama?

      Delete
  2. Mataku basah habis baca ini. Review ini aku favoritkan dari 10 review film kamu bulan ini, May. Sisi personalnya kamu kerasa banget di sini. Duh. Merinding baca kalimat terakhirnya.

    Dan aku juga langsung keingat momen-momen dengerin Can't Help Falling In Love-nya Ingrid Michaelson, lagu yang ada (kalau nggak salah) di trailernya film ini. Bikin si cengeng ini berkaca-kaca tiap dengerin lagu itu. Film ini memang bedebah sih. Sederhana nyampein manisnya, tapi justru itu yang bikin film ini ngena banget. Menurutku yang nggak pernah ngalamin LDR pun juga pasti ngerasa ini film yang ngena sih.

    Btw aku jadi ingat, aku nonton ini karena direkomendasiin Njus. Dia suka banget film ini, padahal katanya dia jarang suka nonton film romance. Nah, aku jadi mikir kalau ciwik-ciwik yang jarang nonton romance sukanya yang film begini deh. Uuuuh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Can't Help Falling in Love di film ini emang bikin merinding, Cha. Aku suka banget sama film ini sejak nonton bareng Lian. Entah karena momennya yang tepat, atau memang efek filmnya yang hebat XD

      LDR itu berat, Jendral :'(

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.