For A Pessimist, I Am Pretty Optimistic

Formasi yang sekarang. Dari kiri ke kanan: Taylor York, Hayley Williams, dan Zac Farro.

Judul: For a Pessimist, I’m Pretty Optimistic
Album: RIOT!
Penyanyi: Paramore
Tahun: 2007
Durasi: 3 menit 48 detik
Label: Fueled By Ramen
Genre: Alternative rock – Pop punk

--- [] ---

Paramore. Sama seperti band-band lainnya, saya mengenal Paramore dari kakak saya. Lagu pertama yang saya dengar adalah Pressure dari album All We Know is Falling. Sebagai salah satu manusia yang pernah melewati generasi emo-emoan, saya langsung jatuh cinta setengah mati pada Paramore. Saya jatuh cinta pada lagunya yang cadas-cadas dan menggairahkan.

Bagi saya, Paramore bukan hanya sekadar band.

Jika kakak saya tumbuh bersama Linkin Park, seperti yang pernah saya ceritakan di postingan ini, maka saya tumbuh bersama Paramore.

Hampir semua lagu Paramore saya suka. Tiap lagu memiliki makna serta momen masing-masing pada setiap lembar diary saya. Singkat kata, lagu-lagu Paramore merupakan original soundtrack kisah hidup saya yang fluktuatif. Saya mencintai Paramore seperti saya mencintai seduhan kopi hitam kental di pagi hari. Panas. Berkesan. Dan menyenangkan.

Bahkan playlist Paramore di ponsel saya, ada sekitar 47 lagu dari total 58 lagu miliknya. Belum terhitung kolaborasi Hayley Williams dengan Zedd yang berjudul Stay The Night.
Formasi yang dulu. Dari kiri ke kanan: Josh Farro, Taylor York, Hayley Williams, Zac Farro, dan Jeremy davis.

Saya pernah mengulas tentang Hayley di salah satu postingan lama yang berjudul My Hayley Williams beberapa tahun yang lalu. Hayley menjadi top one penyanyi wanita yang paling saya sukai. Suaranya unik dan mungkin sampai sekarang belum ada yang menyamai. Saya suka vokalis Evanescence dan The Pierces, tapi saya masih lebih suka suara Hayley. Saya juga suka suara vokalis Kotak dan Garasi, tapi saya masih lebih suka suara Hayley.

Hayley Williams for love. Hayley Williams for life.

Dulu saat pulang sekolah, biasanya saya akan memutar lagu-lagu Paramore di kamar dan bernyanyi kesana kemari ala-ala Hayley KW lima ratus ribu rupiah. Saat menyapu, saya akan menyanyikan lagu Brick by Boring Brick sambil mengetuk-ngetuk tembok. Tiap saya main game, saya akan menyanyikan lagu Born For This. Dan saat ibu sedang memasak daging di rumah, saya akan memutar lagu The Only Exception.

*karena saya bisa makan apa saja kecuali olahan daging*

Nggak tahu kenapa ya, tapi hampir semua lagu Paramore masuk dan relevan untuk semua kegiatan saya sehari-hari. Mulai dari yang paling receh sampai yang paling serius. Mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat. Dan dari sabang sampai Merauke. Indomie seleraque ~

Meskipun semua lagu Paramore saya suka, namun ada satu lagu mereka yang paling paling paling saya suka hingga sekarang. Dari album RIOT!.

For a Pessimist, I’m Pretty Optimistic.

--- [] ---

I never wanted to say this

You never wanted to stay

I put my faith in you, so much faith

And then you just threw it away

You threw it away

Adalah cuplikan reff lagu For a Pessimist, I’m Pretty Optimistic. Boleh dikata, saya adalah orang yang rebel dan cenderung tidak berpikir dua kali sebelum bertindak. Dulu nih, duluuu banget, saya sering memiliki banyak masalah dengan lingkaran pertemanan. Karena saya orangnya woles, saya selalu mengiyakan setiap permintaan teman meskipun aneh-aneh. Sama seperti motto hotel milik Tuan Crab.

Kami tidak akan menolak permintaan pelanggan meskipun permintaannya aneh-aneh.

Rasanya motto itu terukir di jidat saya besar-besar. Dengan warna merah dan plang yang menyala terang. Berasa buka warung barang dan jasa deh pokoknya. Saya tidak bisa bilang “tidak” jika ada teman yang meminta sesuatu. Entah meminta pertolongan, uang, maupun hati. #lah

Namun karena hal inilah, saya menjadi orang yang semi-masokis. Suka disuruh-suruh. Suka mendengarkan curhat orang-orang. Suka menderita karena tidak tidur membantu teman dalam menyiapkan surprise untuk pacarnya. Suka menyisir jalanan karena bantuin teman nyari barang untuk ulang tahun orang tuanya. Suka ini. Suka itu. Dan suka kamu.

Dan suatu saat, ketika saya terjatuh di titik paling rendah, mereka justru meninggalkan saya. Ketika saya meledak karena kelebihan kapasitas, mereka justru membiarkan saya berserakan di jalanan.

Pedih? Tentu saja.

Hal ini terjadi saat saya masih sekolah di jenjang menengah pertama. SMP. Saya belum menemukan teman yang benar-benar teman selama dua tahun lebih. Saya tidak punya geng seperti layaknya teman-teman yang lain. Yang bisa membentuk duet, triplet, kwartet, dan et-et lainnya. Saya nomaden. Kadang ikut geng A, kadang ikut geng B. Kadang sendirian baca komik di kelas. Kadang ke warnet bareng teman laki-laki untuk taruhan game online. Saya tidak benar-benar punya sahabat di sekolah. Dulunya.

Lagu ini menjadi pengisi hari-hari saya selama beberapa tahun dan saya mengutuki hubungan pertemanan saya yang tidak pernah sukses. Saya sudah mempercayai mereka sepenuhnya. Saya mengusahakan untuk selalu ada bagi siapa saja. Namun saat saya yang butuh, mereka semua pergi.

Ini sama seperti cuitan teman saya, Wahyu, beberapa bulan lalu di Twitter.

“Wahyu, kok temen kamu banyak sekali sih. Kadang kamu pergi main sama si ini, kadang kamu pergi main sama si itu.”
“Ah, nggak sebanyak itu kok. Menghitungnya jangan sekarang. Nanti kalau saya dapat musibah, baru kamu hitung ada berapa teman saya.”

Dan inilah kesalahan terbesar saya saat itu. Saya naif. Saya pikir saya mampu membahagiakan semua orang. Namun kenyataannya, saya tidak bisa. Maka setelah saya berhenti berusaha, saya menjadi pribadi yang pendiam. Penyendiri. Dan saya baru menyadari, bahwa saya bukan orang yang terbuka. Meskipun saya terlihat ramai dan gampang akrab dengan semua orang, tapi saya tidak mampu menunjukkan ekspresi dan emosi saya kepada mereka.

Saya hanya bisa mendengarkan cerita mereka. Saya tidak bisa mengutarakan pikiran saya. Ini jugalah yang menjadi salah satu alasan saya untuk menulis. Dan blogging. Saya bawel. Itu benar. Tapi saya introvert tingkat internasional.

Dan ini terbukti saat momen kelulusan tiba. Saya mendapatkan tiga teman luar biasa di akhir SMP. Prisma, Putri, dan Prili. Kami membentuk geng gila-gilaan yang kami namai “Ibliz Community”. Namun kebersamaan kami yang mesra, hanya terhitung beberapa bulan saja. Setelah itu, kami berpisah SMA. Dan seperti yang sudah saya prediksi, meskipun kami bertiga dekat banget, saya tetap tidak mampu menceritakan tentang diri saya. Kecuali saat mereka yang bertanya. Atau mencari tahu.

Di SMA, kejadian sama seperti di SMP terulang kembali. Saya mudah sekali beradaptasi dengan teman baru. Dalam seminggu, saya hapal semua nama teman sekelas saya. Dalam tiga bulan, saya sudah menjajaki semua geng di kelas. Namun tidak ada yang benar-benar saya masuki.

Baru di penghujung SMA, saya menemukan tiga personil kwartet saya yang baru. Pipit, Yola, dan Titis. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda-beda. Namun lagi-lagi, saya tidak mampu membuka diri saya 100% pada mereka. Jika mereka penasaran, pada akhirnya mereka yang akan bergerilya mencari tahu tentang saya. Kebersamaan kami juga singkat, hanya lima bulan. Lalu kami berpisah karena kampus yang berbeda. Saya di Surakarta. Yola di Jakarta. Pipit di Surabaya. Dan Titis, teman saya yang paling jayus, berkuliah di Malang.

For a Pessimist, I’m Pretty Optimistic menjadi soundtrack perpisahan saya dengan kedua geng saya di SMP dan SMA.

Sejak saat itu, lagu ini juga menjadi latar musik saat grup chat kami ramai oleh banyak kalimat semacam “yuk meet up” dan “yuk kapan ngumpul” yang kebanyakan kabur menjadi wacana semata.

--- [] ---

Paramore akan konser di Indonesia nanti hari Jumat, tanggal 16 Februari 2018. Tepatnya di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Tangerang, Banten. Saya ingin sekali nonton. Dan sudah ditawari oleh salah seorang teman bloger, Syahidah Farh, untuk ikut. Ia bahkan sudah memberikan bantuan berupa suplai tiket murah dari temannya yang berganti jenis pilihan festival.
Aaaaa, mau nontooooon!

Tapi apa daya, jadwal kerjaan yang seketat rok span tidak dapat diakali. Saya sudah mengusahakan untuk ijin, tapi tidak diperbolehkan. Ijin kerja hanya diperbolehkan saat saya hamil. Yakali, saya ngaku-ngaku hamil biar dapat ijin nonton konser.

Padahal kan saya ingin bertemu kakak perempuan saya. Padahal kan saya ingin menyanyikan lagu Told You So bersamanya. Dan padahal-padahal lainnya yang membuat saya kesal jika teringat bahwa ijin kerja saya di tanggal 16 Februari 2018 tidak tembus.

Yang tembus justru rok saya. Karena sedang bulanan. Pft.

--- [] ---


(Paramore - For a Pessimist, I'm Pretty Optimistic)





Pictures are taken from:
https://www.billboard.com/articles/columns/rock/7793135/paramore-best-rock-band-21st-century-after-laughter
http://www.pickywallpapers.com/widescreen/music/bands/paramore-group-shot-1-wallpaper/
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

2 Comments:

  1. woaaah aku baru baca ini :')
    ah mayang aku masih berharap kamu bisa ikut nonton huhu :((

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.