Chicken Soup For The Coffee Lovers Soul

Sayangnya saya nggak bisa minum kopi.

Judul: Chicken Soup for The Coffee Lover’s Soul
Penulis: Jack Canfield, Mark Victor Hansen, dan Theresa Peluso
Penerbit: Backlisht LLC
Tahun Publikasi: 2012
Bahasa: Inggris
Jumlah Halaman: 400 halaman

--- [] ---

Ada dua hal tentang saya yang berkaitan dengan kopi.

Satu. Kenyataan bahwa saya tidak bisa meminum kopi adalah benar.

Dua. Saya menyukai aroma kopi hitam yang baru diseduh di pagi hari.

Keduanya bertolak belakang. Saya tahu. Karena itulah saya sempat menjadi orang paling boros dan tidak tahu diri sedunia. Setiap saya ke supermarket atau toko dan saya melewati section kopi, saya akan berhenti. Mengamati setiap brand. Mengambil beberapa yang sekiranya bisa diendus hanya dari bungkusnya. Tambahan, kopinya yang hitam asli. Bukan kopi oplosan seperti kopi sachet-an merk Kereta Api dan Bad Day. Bukan.

Setelah itu, saya akan mengambil satu yang ukuran 100 gram atau 200 gram untuk dibawa pulang. Bukan untuk diminum. Ada hal lain yang selalu saya lakukan di pagi hari selama setahun lamanya.

Saya menyeduh kopi satu cangkir, membiarkan aromanya menguar memenuhi kamar, menghirup kafeinnya dalam-dalam, dan membiarkannya hingga dingin. Untuk kemudian dibuang. Sekali lagi. Dibuang, sodara-sodara.

*kayak berasa orang kaya aja buang-buang kopi anjay*

*bahkan orang kaya justru banyak yang peminum kopi*
Aromanya yaampun.

Sampai suatu ketika, kelakuan bejat saya ketahuan oleh ibu karena laporan seorang teman, inisialnya Devi. Devi ini rese abis. Saat saya sedang ngobrol dengan ibu, dia nyeletuk kalau saya suka nyeduh kopi pagi-pagi. Lalu pembicaraan selanjutnya jelas bisa ditebak.

“Memangnya kamu bisa minum kopi?”

“Eng...”

“Bukannya tiap kali minum kopi langsung kambuh maag-nya?”

“Eng...”

“Itu kopi apa memangnya? Sachet?”

“Eng... Kopi hitam, bu.”

“Hah? Manaaa adaaa. Jangan ngarang. Kamu minum Luwak White Coffee sachet dua seruput aja muntah-muntah.”

“Ehe...”

“Trus itu sejak kapan bisa minum kopi hitam?”

Saat saya akan menjelaskan duduk perkaranya seperti apa, si Devi bedebah itu langsung menyambar dari belakang telepon.

“Nggak diminum. Dihirup doang terus dibuang, tante.”

Saya langsung menoleh dan mengisyaratkan padanya sebaris kalimat: Kamu pulang tinggal nama!

“PEMBOROSAN!!!”

Ibu saya terdengar marah disana.

“Tapi bu...”

“Disuruh makan berat susah, tapi malah nyeduh kopi terus dibuang. Kamu nggak mikirin warga Zimbabwe yang kelaparan ya?”

“Bu, please, nggak ada hubungannya...”

“BAWA PULANG SISA KOPINYA! JANGAN DIBUANG LAGI! TITIK!”

Saya diam. Kalah telak.

“Nggih, kanjeng ratu.”

Sejak itulah, ritual menghirup seduhan kopi yang panas, kental, hitam, pekat, dan mempesona selesai sampai disitu. Dan teman saya, Devi, pulang tinggal nama beneran.

Karena orangnya menginap di kos saya selama dua hari.

--- [] ---

Maag saya cukup akut. Sejak SMP saya sudah menderita penyakit ini. Tiap saya minum kopi, saya langsung muntah-muntah mirip ibu hamil trimester pertama. Tapi beda kasus kalau saya makan pedas atau asam. Saya pernah makan rujak mangga muda 5 biji, tapi perut saya aman-aman aja. Pernah juga pesan ayam geprek dengan cabai 15, kuat-kuat aja.

Namun begitu saya minum kopi, warga masyarakat di perut saya seperti menolak mentah-mentah. Padahal kan kopinya matang. Udah disangrai dan di-brew dengan suhu yang tepat guna. Proses penumbukannya juga telah diperkirakan estimasi waktunya agar rasa kopi terbaik dapat diracik.

*lagak lu May, udah kayak barista kelas teri aja*

Padahal kan kopi hitam katanya bagus buat kesehatan ya. Kenapa di perut saya justru menjadi masalah baru?

Kenapa?

Kenapaaaa?

Kenapaaaaaaaa?

Oke. Baiklah.
Cover lama.

Di tengah kebimbangan karena tidak lagi bisa menghirup aroma surga, akhirnya saya menemukan buku ini. Chicken Soup for The Coffee Lover’s Soul. Di dalamnya ada 55 kisah inspiratif berdasarkan pengalaman nyata yang menguarkan aroma kehangatan. Buku ini sukses membuat sakaw terhadap aroma kopi saya berhenti sesaat. Buku ini. Hebat.

--- [] ---

Chicken Soup for The Coffee Lover’s Soul merangkai kisah-kisah berbagai manusia mengenai kecintaannya pada kopi. Seperti biasam, buku ini dibagi menjadi beberapa bab yang cantik. Tipikal buku-buku Chicken Soup yang lain. Bahkan di beberapa bagian, ada informasi dan ilmu baru tentang kopi yang belum saya ketahui sebelumnya. Termasuk diantaranya cara memanggang kopi yang benar, jenis kopi, dan tips-tips yang berkaitan dengan waktu serta teknik meminum kopi.

Boleh dibilang, buku ini merupakan representasi kecintaan saya terhadap kopi. Saya mencintai kopi, namun tidak bisa menikmatinya. Sama seperti saat kamu mencintai seseorang, namun tidak bisa memilikinya. Pedih, bukan?

*kemudian terdengar lagu Rhoma Irama yang berjudul Perpisahan*

*ternyata bapak kos yang mutar dari radio*

*brb, nyolong radio bapak kos*

Sudah.

Ada salah satu cerita pendek yang amat saya sukai di Chicken Soup for The Coffee Lover’s Soul. Cerita tentang wanita paruh baya yang sudah bertahun-tahun minum kopi empat shot tiap pagi. Namun tiba-tiba ia didiagnosa memiliki gangguan asam lambung akut. Segalanya berubah. Anak perempuannya meminta sang ibu untuk beralih ke teh.
llustrasi.

Baru sebulan mengkonsumsi teh, wanita tersebut justru merasa seperti orang kehilangan arah. Kantung matanya bertambah hitam. Kesehatannya menurun. Ia depresi berat dan semua pekerjaannya berantakan.

Di suatu pagi, ia memberanikan diri membuka laci tempat penyimpanan kopinya yang terdahulu. Menyeduhnya. Menghirup aromanya. Sepersekian detik kemudian, ia berkata “persetan” dan meminum kopi pertamanya lagi setelah sekian lama. Ajaibnya, justru setelah itu semangat hidupnya muncul kembali. Wajahnya berseri-seri. Kantung matanya memudar. Ia menambah porsi cangkir kopinya sampai kembali seperti sedia kala. Empat shot. Tidak kurang. Tidak lebih. Setelah dua bulan, penyakit lambungnya sembuh. Gokil.

Di paragraf paling bawah, penulis cerita pendek tersebut menyisipkan kekata bahwa “kekuatan sugesti dan kopi tidak akan pernah terdefinisi”.

Couldn’t agree more.





Pictures are taken from:
https://www.amazon.com/Chicken-Soup-Coffee-Lovers-Soul/dp/1623610656
https://fgrhs.org/2017/12/08/coffee-with-the-president-and-the-principal/
http://yiskaraema.blogspot.co.id/2012/05/resensi-novel-chicken-soup-for-coffee.html
https://www.riversidedentalgroup.com/moreno-valley-dentists-offer-ideas-for-coffee-lovers/
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

6 Comments:

  1. Aku udah baca buku yg ini mbakk.. Hahaha
    Sama, aku juga suka bau kopi, aroma kopi selalu menggoda dan bikin rileks.. Tp aku nggak bisa menikmatinya. Nah loh, kan sakiiiit

    ReplyDelete
  2. kalau kopi tradisional saya suka aromanya Mbak, apalagi ada yg tawari gratiss...biasanya saya tidak nolak, :)

    klu kopi sasset saya kurang suka.

    ReplyDelete
  3. Yang pernah kubaca itu tentang motivasi ibu dan anak, hue!

    Aaaarkk!! AKu pernah minum kopi harga 40k :( mahal bangett hue, dua jenis lagi -_- gegara tengsin udah kadung masuk kafenya. Untung bawa duit, astaghfirullah :(

    Abis itu semaleman gak bisa tidur, otak kayak terang benderang mikir terus. Besoknya sampe sore juga badan lelaaah, tapi otak mentereng. Tapi aku suka banget kopi (tapi terlalu males untuk nyeduh sendiri huehehehe).

    ReplyDelete
    Replies
    1. ((motivasi ibu dan anak))

      HAHAHAHA. Buku bacaan kamu unik-unik yaaa XD

      Kopi termahal yang pernah saya minum adalah kopi Flores. Tapi setelah itu maag akut membuat lambung saya megap-megap. *sigh*

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.