3 Alasan Mengapa Accepted Wajib Ditonton Menteri Pendidikan

Accepted!

Congratulations! You’ve been accepted!

Salah satu film komedi paling favorit yang pernah ada sepanjang abad 20. Accepted (2006) merupakan film komedi buatan Amerika yang menceritakan tentang liku-liku memasuki dunia kampus setelah lulus SMA.

Film ini diperankan oleh sejumlah artis dan aktor yang memang terkenal karena perannya yang bangke dan lucu abis. Sebut saja Justin Long, Blake Lively, Jonah Hill, Anthony Heald, dan Lewis Black.

Accepted berdurasi sekitar 92 menit. Dan sepanjang rentang waktu lebih dari satu setengah jam itu, saya dibuat ngakak on and off all along. Komedinya bagus, pesan kesannya keren, dan semua hal yang ada di dalam film ini jelas relate ke semua orang yang pernah merasakan fase mencari kampus untuk memulai jenjang kuliah. Untuk jiwa-jiwa yang pernah mengalami serangkaian tes dan seleksi masuk bedebah yang biasa disebut SNMPTN, SBMPTN, Ujian Mandiri, dan kawan-kawannya supaya eks siswa bisa mendapatkan titel mahasiswa.

--- [] ---

Accepted dimulai dari kehidupan seorang remaja bernama Bartleby (Justin Long) yang diperankan oleh Justin Long. Bartleby ini sedikit tertekan karena ia tidak diterima di  kampus mana pun saat ia mencoba mendaftar. Sama kampus aja ditolak, meeen. Naas banget emang nasibnya si Bartleby ini.

Hal semakin rumit saat ibu dan ayahnya mendesak Bartleby untuk berusaha apply di kampus lain lagi, namun ternyata ia sudah menghabiskan semua list perguruan tinggi di daerahnya, namun tidak ada satu pun yang menerima. Apalagi dengan kabar bahwa sahabat baiknya, Sherman Schrader (Jonah Hill) yang memang jenius, diterima di universitas prestisius itu Harmon College.

Makin down lah si Bartleby.

Seperti kata pepatah. Jika kita melihat sahabat kita sedang terpuruk, kita akan merasa sedih.Tapi kita akan merasa lebih sedih kuadrat saat sahabat kita bernasib lebih baik. True dat. Bener banget ini, gaes. Udah gitu, orang tua Bartleby akhirnya semakin membandingkan kemampuan anaknya dengan Sherman. Nyesek nggak tuh.
Sherman dikerjain saat ospek.

Di titik terburuknya, saat momen perpisahan di sekolah, Bartleby akhirnya mengetahui bahwa ia bukanlah satu-satunya siswa yang ditolak berkas pendaftarannya. Ada Rory (Maria Thayer) yang tidak dapat masuk  ke Yale University karena tahun itu banyak calon mahasiswa “setan” yang bisa masuk tanpa tes karena punya uang sogokan dan jalan belakang. Ada pula Holloway (Columbus Short) yang kehilangan beasiswa di sekolah olahraga karena kecelakaan dan Glen (Adam Herschman) yang gagal dalam semua tes masuk ke perguruan tinggi, sama seperti Bartleby.

Jadilah Bartleby memiliki pikiran cerdik sekaligus licik. Jika tidak ada universitas yang mau menerimanya, ia akan membuat universitas sendiri. Dari dia. Oleh dia. Untuk dia. DEMOKRATIS BANGET ANJIR.

Dari ide gilanya tersebut, Bartleby mengajak rekan-rekannya yang bernasib sama seperti Rory, Holloway, dan Glen untuk “berkuliah” di “perguruan tinggi” buatannya sendiri. Meskipun di awal terlihat menyenangkan, setelahnya akan banyak sekali masalah yang muncul karena perbuatan Bartleby dan teman-temannya ini. Masalah tersebut sama seperti kurva lonceng yang naik dan mencapai klimaks, sehingga ada adegan yang menunjukkan bahwa Bartleby benar-benar seperti kehilangan harapan hidup.
SHIT Squad!

Tapi so far, film ini meskipun mengangkat isu serius karena menceritakan sistem pendidikan tinggi di Amerika, alurnya sama sekali tidak sarat emosi karena komedinya yang luar biasa cerdas. Justin Long apalagi. Kocak banget mainnya. Jonah Hill juga. Kombinasi Justin Long dan Jonah Hill memang benar-benar duet maut yang bisa membuat kita tertawa sampai pingsan.

--- [] ---

Sesuai judul postingan, film ini seharusnya ditonton oleh menteri pendidikan. Bukan hanya di Indonesia, tapi seluruh dunia. Para pemerhati pendidikan, guru, kepala sekolah, dan semuanya yang bekerja di bidang pendidikan seharusnya nonton film ini.  Karena film ini sarat makna tentang sisi lain pendidikan dan juga perjuangan para siswa untuk masuk ke perguruan tinggi. Tentang seberapa sakitnya kecewa karena penolakan dan judgement orang sekitar yang melihat bahwa kita gagal masuk ke perguruan tinggi.

Jadi, inilah beberapa alasan kuat yang membuat film Accepted harus ditonton oleh menteri pendidikan dan semua jajaran anggota yang terkait dengannya. Juga orang tua.

Satu. Accepted menghimbau orang tua agar tidak membandingkan kemampuan anaknya dengan orang lain.

Bartleby dalam film ini diceritakan depresi berat karena tidak diterima dimana-mana. Namun ibu dan ayahnya justru menyalahkan anaknya karena memiliki kemampuan di bawah rata-rata. Kan bangkai. Bukannya mendingan, Bartleby malah makin depresi karenanya. Ia juga dibanding-bandingkan dengan sejumlah temannya yang diterima di perguruan tinggi favorit.
Dean Lewis sedang menasihati Bartleby.

Siapa sih orang yang suka dibanding-bandingkan? Nggak ada kan? Setiap orang unik dengan caranya sendiri. Kita tidak akan bisa menemukan karakter A pada B, begitu pula sebaliknya. Anak juga begitu. Ada yang kemampuannya melukis, ada yang kemampuannya berolahraga, ada yang kemampuannya berhitung. Semuanya berbeda. Jangan disamakan.

Seperti kata Einstein, “Jangan pernah menyuruh ikan untuk terbang.”

Ikan pandai berenang. Jelas. Karena ia punya sirip. Tapi kalau untuk terbang? Sudah jelas ia tidak bisa dan tidak boleh dipaksakan.

Ini sama seperti anak yang memiliki kemampuan bermusik. Main band. Tidak boleh dipaksakan untuk masuk ke jurusan teknik. Kalau misalnya ditolak sejak awal penerimaan mahasiswa baru, okelah. Tapi kalau diterima dan dia harus kuliah disana, biasanya masalah akan muncul di tengah jalan dan akhir. Ia tidak lulus-lulus karena skripsi atau tugas akhir. Kan pedih.

Ini yang seharusnya dipertimbangkan oleh menteri pendidikan. Sukses tidak sukses seharusnya tidak diukur dengan iya tidaknya seseorang berkuliah di perguruan tinggi. Karena bagi sebagian orang, definisi sukses boleh jadi berbeda-beda. Harus ada arahan untuk orang tua agar tidak memaksa anaknya berkuliah. Paradigma “kuliah = gampang cari kerja” sebaiknya dihilangkan karena ini merupakan tekanan tersendiri bagi anak. Apalagi jika sudah lulus SMA.

Dua. Accepted menunjukkan bahwa proses untuk masuk ke perguruan tinggi adalah seleksi alam.

Bartleby ditolak oleh banyak pihak. Ditolak universitas impian. Ditolak universitas cadangan. Ditolak orang tuanya. Ditolak gebetannya. Puncaknya, ia merasa seperti ditolak kehidupan. Berkali-kali ia mengatakan bahwa ia membenci hidupnya sendiri.
Bartleby di persidangan.

Sama seperti orang yang sudah melewati fase mencari universitas. Tidak semua orang jalannya mulus tanpa tanjakan dan lubang. Ada yang harus naik dan muter, ada yang harus melewati tanjakan, dan ada yang harus turun lagi karena tiba-tiba motornya mogok. Film ini menunjukkan tentang seberapa berat kecewa dan sakit hati jika kita mendapatkan pengumuman seperti ini.

1) Maaf, anda tidak diterima di perguruan tinggi xxx

2) Anda tidak lolos seleksi masuk xxx

Dan juga beberapa pengumuman lain dari portal universitas tempat kita mengajukan admission

Pedih? Jelas. Tapi inilah yang dinamakan seleksi alam.

Saya pribadi merupakan salah satu yang pernah mengalami pedihnya tidak diterima di perguruan tinggi impian, bahkan setelah mencoba seleksi melalui jalur apapun. Kekecewaan itu sempat membuat saya mengurung di kamar beberapa hari dan nggak makan saking sedihnya.

Kecuali kalau sedang tidak ada orang di rumah. Saya akan keluar ke dapur dan membawa makanan banyak ke dalam kamar. Muehehe.

Hal inilah yang ingin Accepted tunjukkan pada menteri pendidikan. Tidak ada omong kosong yang mampu mengobati rasa sakit hati karena penolakan. Karena sejak lama sudah ada dogma bahwa “orang yang sukses adalah orang yang memiliki ijazah sarjana”, maka banyak orang berusaha masuk ke universitas pilihannya dengan cara apapun. Jika tidak, orang akan masuk ke jurusan medioker yang sebenarnya tidak sesuai dengan minat bakatnya, semata hanya untuk mendapatkan tempat berkuliah.

Tiga. Accepted memberikan parameter baru dalam dunia pendidikan.

Dalam film ini diceritakan bahwa kurikulum dan mata kuliah yang diadakan di kelas akan ditentukan oleh masing-masing mahasiswa. Apa saja hal-hal yang menarik minat mereka untuk dipelajari, akan menjadi mata kuliah. Luar biasa gokil. Bahkan ada kelas yang agendanya hanya nontonin cewek-cewek pakai bikini di kolam renang. Jadi prinsip di universitas yang didirikan pada Accepted adalah “You learn what  you like”.
Math-turbation on point.

Konsep yang sama seperti yang saya pernah baca di buku Tottto Chan. Jadi, siswa diajak untuk menentukan keinginannya. Jika sudah, anak hanya perlu mempelajari hal sesuai minatnya dan tidak perlu mempelajari hal lain di luar konteks tersebut. Fokus.

Kita tahu bahwa pendidikan di Indonesia memiliki unsur pemaksaan. Siswa harus belajar semua hal secara menyeluruh. Anak IPA harus belajar Sejarah dan anak IPS harus belajar Matematika. Kurikulum yang baru malah mengharuskan anak IPA untuk  belajar Geografi, Ekonomi, atau Sosiologi. Sementara anak IPS harus belajar Fisika, Biologi, atau Kimia.

Padahal mengajar Fisika di kelas IPA aja susahnya minta ampun, apalagi mengajar Fisika di kelas IPS.  Baru masuk kelas, saya udah langsung disorakin.

“Bu, apa pentingnya menghitung kecepatan apel jatuh terhadap nilai kurs dollar yang naik turun?”

SEBENARNYA HUBUNGANNYA MEMANG  NGGAK ADA TAPI MAU GIMANA LAGI SAYA HARUS TETAP NGAJAR KALIAN FISIKA KARENA TUNTUTAN DARI PEMERINTAH SEPERTI ITU.

Fyuh...

Padahal mengajar anak yang sudah tidak minat pada subjeknya adalah sesuatu yang pointless. Sia-sia. Saya sih kalau boleh usul, seharusnya pembelajaran disesuaikan dengan minat anak sejak usia 6 tahun. Bukan 16 tahun.

Telat bat anjir kalau SMA baru dijuruskan ke spesifikasi kemampuan yang dimiliki anak. Nanti ujung-ujungnya saat mereka mulai masuk ke kelas 12 atau 3 SMA, baru deh bingung mau pilih jurusan apa untuk kuliah. Udah milih, tapi nggak lolos seleksi masuk. Akhirnya lari ke jurusan yang nggak diinginkan. Kalau masuk ya syukur, tapi kalau enggak, anak harus memilih nganggur setahun untuk menunggu penerimaan tahun berikutnya.

--- [] ---

Terlepas dari poin-poin penting alasan untuk menonton film ini, Accepted lagunya enak-enak banget. Salah satu favorit saya adalah lagu dari band yang juga favorit saya. Green Day. Judulnya Holiday. Saat Bartleby depresi, lagu yang diputar sebagai  backsound juga brengsek betul. Pas banget dengan keadaannya yang sedang menyedihkan. Judulnya Let The Drummer Kicks dari Citizen Copes.

Ngomong-ngomong, sebenarnya sudah berniat menulis komedi untuk review kali ini sesuai dengan tema filmnya. Tapi ujung-ujungnya justru seperti menulis surat terbuka untuk menteri pendidikan. Apa boleh buat ya, habisnya saya kesal juga karena kurikulum dan sistem pendidikan di Indonesia makin hari makin kurang ajar  dan tidak masuk akal. Hiks.





Pictures are taken from:
http://movie.info/accepted
http://www.hollywood.com/general/accepted-movie-stills-57225811/
https://www.justwatch.com/ca/movie/accepted
http://www.thissplendidshambles.com/2013/04/why-accepted-is-my-favourite-all-time/
http://www.pluggedin.com/movie-reviews/accepted/
http://alexkittle.com/2009/07/23/accepted-2006/
http://www.tepg.se/accepted-2006/
https://www.youtube.com/watch?v=5nrCh2we0Gw
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

12 Comments:

  1. Replies
    1. Maksudnya yang diam-diam nyelundupin makanan ke kamar pas di rumah nggak ada orang.

      Delete
    2. Maksudnya Justin Long saat masih muda.

      Delete
  2. Ohya, kayak sama, saat ini ada perkataan seperti itu “orang yang sukses adalah orang yang memiliki ijazah sarjana". Makanya sekarang makin banyak yang kuliah ga sesuai dengan minat atau bakat. Apalagi, orang tua sering memaksa untuk masuk di jurusan yang menurut mereka bisa bermanfaat bagi anak mereka.

    Terlepas dari itu semua, film accepted saya masukin ke draft film harus didownload.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Makanya dogma seperti ini harusnya dihilangkan. Selamat menonton ya!

      Delete
  3. Tau film ini pertama dari Icha ketika minta rekomendasi film tentang perkuliahan, terus pas kelar nonton mantaplah~

    Seandainya ada kampus yang memang seperti itu, saya pikir, saya nggak akan depresi karena puyeng sama masalah pendidikan yang gagal. Teori terus, praktiknya nggak ada. Begitu menghadapi kenyataan yang langsung praktik, jelas dongo dan nggak becus. Wqwqwq.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang bagus ya, Yogs. Tapi kalau diwujudkan, sebenarnya ini bisa menjadi terobosan baru. Siswa atau mahasiswa diikutkan dalam pembuatan kurikulum mata pelajaran atau mata kuliah apa yang ingin dipelajari. Belum dicoba sih, tapi menurut saya justru bisa efektif karena mereka bisa ikut memilih ingin belajar apa :)

      Delete
  4. Penggunaan kata Pyuh...Anjir....bedebah, sepertinya cukup menggambarkan sosok admin yang blak2an, saya suka gaya seperti itu.Alami khas Anak Muda. :)

    sepertinya menarik kalau blog Mbak saya liput kecil2an.

    eee..kok saya malah koment tdk relevan, ngk pa2 ya Mbak, soalnya review filmnya saya sudah nangkap kok, intinya ada pelajaran khusus untuk nonton wanita berbikini. tapi lulusnya nanti buat apa yach... ? menjadi penjaga pantai! ahhh namanya juga film. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mas Nata. Eh, nama lengkapnya bukan Nata De Coco kan?

      Nggak masalah, yang penting pesannya tersampaikan.

      Delete
  5. Kalau masalah susah nyari perkuliahan, alkahmdulillah saya nggak ngalami.
    Tapi....habis kuliah itu baru. Mag "DEG". Kurang lebih ceritanya sama kaya di film ini juga kayaknya XD. Masukin lamaran ngga ada respon, sekalinya dapet panggilan interview, eh besoknya nggak ada kabar lagi. Kan...

    Nyari di ganool dulu lah...biar ikutan nonton film-film lawas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena sesungguhnya liku-liku mencari kerja justru lebih menakutkan daripada mencari tempat kuliah. Wkwk.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.