Yanusa Nugroho Dan Segala Anomalinya Dalam Bulan Bugil Bulat

Sebuah review anu tentang anunya Yanusa Nugroho

Yanusa Nugroho membuat saya berhenti menulis cerita pendek. 

Saya menulis cerpen sejak kelas 3 SD dengan modal kertas buram sisaan ulangan dari bapak, yang merupakan seorang guru Matematika. Salah satu tema cerpen yang saya sukai adalah fabel. Tentang hewan. Saya selalu mencintai hewan, apapun. Oleh karena itu, saat saya pertama kali diajak berkunjung ke Kebun Binatang Surabaya (KBS), saya ketagihan. Saya bahkan bermimpi memiliki mujizat seperti Nabi Sulaiman yang dapat berbicara dengan binatang. Hal ini jugalah yang membuat saya dulu pernah menulis status seperti ini.

Aku ingin membeli Kebun Binatang Surabaya di tahun 2030. Amin.

Dan mimpi itu saya tuliskan di setiap sosial media yang saya punya di tahun 2014. Tahun dimana KBS sedang terpuruk karena banyak hewan yang mati lantaran sakit. Miris memang. Apalagi dengan adanya pemberitaan miring disana-sini yang membuat pengunjung hampir berhenti berdatangan. 

Kembali ke cerpen. Sejak SD, saya sering menulis fabel, cerita dongeng ala saya sendiri, dan beberapa cerpen thriller serta horror. Good grief, saya bahkan baru ngeh kalau ternyata saya udah suka nulis beginian sejak kecil saat kemarin pulang ke rumah dan menemukan sekardus kumpulan cerpen-cerpen saya. Saya jadi ingat, dulu saya menulis cerpen dan membawanya ke sekolah. Kemudian saya selalu meluangkan waktu untuk mem-fotocopy cerpen-cerpen tersebut untuk dijual kepada teman-teman karena mereka suka. Kecil-kecil udah komersil, anjir.

Saya juga aktif di beberapa majalah anak sebagai kontributor cerpen serta beberapa rubriknya. Hal itu terus menerus saya lakukan hingga saya masuk ke jenjang SMP. Namun karena mulai ikut ekskul ini dan itu, intensitas saya dalam menulis cerpen sedikit berkurang. Keadaan ini menurun drastis dan bahkan berhenti total saat saya masuk dalam dunia SMA. Kelas 10. Pertama kali menginjak perpustakaan sekolah setelah masa orientasi. 

Saya berhenti menulis cerpen karena sebuah buku bertajuk Bulan Bugil Bulat.

--- [] ---

Yanusa Nugroho lahir di Surabaya, 2 Januari 1960. Ia bersekolah di tanah kelahirannya hingga SD kelas 4 dan pindah ke Palembang hingga lulus. Tahun 1975, ia melanjutkan studinya di SMP Negeri 1 Sidoarjo dan pindah ke Jakarta pada tahun 1977 untuk bersekolah di SMA Negeri 43 Jakarta. Wow. Just wow. Nomaden sekali penulis yang satu ini, sodara-sodara.
Om, cerpennya lagi dong, Om ~

Tak berhenti sampai disitu, Yanusa Nugroho sempat terdaftar sebagai mahasiswa IPB, namun harus drop out karena tidak menemukan passion disitu. Ia pindah ke Fakultas Sastra UI dan lulus dengan gelar sarjana sastra. Gokil bukan? Kalau jaman sekarang pindah universitas gitu mentoknya mungkin dari negeri ke swasta karena dibatasi usia.

Yanusa Nugroho merupakan kontributor cerpen di koran Kompas. Dan hampir kesemua cerpennya itu, akhirnya dibukukan pada tahun 1990 semata agar penikmat setia karya-karyanya bisa membaca ulang ceritanya tanpa harus mengumpulkan koran-koran bekas yang kedodoran. Tahun 2004, buku berjudul Bulan Bugil Bulat ini bahkan dicetak ulang dengan embel-embel "milik negara tidak diperdagangkan" karena karya Yanusa Nugroho ini sudah dimasukkan ke dalam salah satu literatur sastra Indonesia secara absah. Ampuh deh pokoknya Om Yanusa ini.

Lalu mengapa kumpulan cerpen milik si om ini sempat mampu menghentikan kiprah saya di dunia tulis menulis cerpen yang kadang absurd dan terlalu imajinatif?

Alasannya ada tiga.

Satu, CERPEN KARYA YANUSA NUGROHO BAGUS.

Dua, CERPEN KARYA YANUSA NUGROHO BAGUS BANGET.

Tiga, CERPEN KARYA YANUSA NUGROHO BAGUS BANGET ANJIR KAMU HARUS BACA JANGAN SAMPAI NGAKU PENIKMAT SASTRA KALAU BELUM BACA KARYA BELIAU SAMA SEKALI CEPETAN CARI DI PERPUSTAKAAN KOTA KARENA BUKUNYA TERBATAS BANGET YAKINLAH SUMPAH.

Udah gitu doang alasannya.

--- [] ---

Pertama kali, saya membaca buku kumpulan cerpen ini saat jam kosong karena gurunya masih menyusun RPP dan rapat setelah kegiatan siswa baru selesai. Dan saat itulah, pertama kali saya menangis sampai berlinang ingus di perpustakaan kala membaca sebuah cerita pendek. Sebelum-sebelumnya nggak pernah sampai begitu. Seriusan. 

Saya orangnya miskin ekspresi banget. Tapi cerpen-cerpen Yanusa ini benar-benar brengsek. Saya langsung jadi orang yang melankolis karena tanggul kesedihan saya ambrol seambrol-ambrolnya. Banjir bandang udah kayak sawah diterjang tsunami lah pokoknya. 
Bahkan yang minjem buku ini di perpus sebelum saya, sampai memberikan komentar singkat seperti ini

Ini cerita apaan yawlaaa, kok pedih banget. Sampai ngilu rasanya menusuk hati. 

Salah satu cerpennya yang berjudul "Embi dan Aku", mengisahkan tentang persahabatan anak dengan kambing gembalanya. Kambing itu bukan miliknya. Bukan. Dia hanya bekerja menggembalakan kambing milik Haji Jalil, seorang guru ngaji kondang di desa itu yang merangkap jutawan. Tipikal film Hidayah tapi di akhir cerpennya sama sekali tidak ada adzab yang menghampiri. Justru cerita berakhir tragis dengan Embi menjadi kudapan Idhul Adha di meja makan. Si narator yang menjadi pencerita disini meringis sedih karena ditempeleng bapaknya membabi buta saat akan menghalangi Embi untuk dikurbankan.

Cerpen kedua yang menyita perhatian adalah yang berjudul "Dorrr". Mengajarkan bahwa kita tidak boleh sesumbar jadi manusia dengan menyakiti binatang semena-mena. Yanusa Nugroho memasukkan sedikit unsur personifikasi disini, sehingga saya sampai merinding dan menangis saat membaca barisan diksinya. Sakit. Koyak. Tubuh tercabik. Seperti ada disitu rasanya dan menonton tiap-tiap scene yang dituliskan olehnya. Bangkai. Sakit jiwa ini. Asli. Cerpen apaan nih yang bisa membuat pembacanya ngeri sampai nadi dan tulang sendi?

Bahkan buku milik Edgar Allan Poe, Stephen King, dan Lovecraft yang jelas-jelas horror-suspense, hanya bisa membuat saya mindblowing. Belum sengeri seperti saat membaca cerpen milik Yanusa Nugroho ini. Cerpen milik beliau benar-benar surealis. Benar-benar nyata terasa di depan mata.

Dan ini tidak baik untuk kejiwaan. Saya masih selalu menangis saat membaca bukunya, meskipun sudah berkali-kali membaca ulang sampai tak terhitung jumlahnya. Belum pernah saya mengulang membaca buku hingga segila ini.

Karena buku ini pilu. Buku ini memanusiakan saya. Buku ini seperti menampar saya. Apalagi dengan keluwesan dalam merangkai diksi yang sarat makna, Yanusa Nugroho seperti bercerita di depan saya dengan suara sendu dan bersahaja. Walaupun saya belum pernah bertemu beliau dan mendengar langsung suaranya, tapi saya bisa membayangkannya. 

--- [] ---

Buku Bulan Bugil Bulat ini merupakan kumpulan cerita pendek kontemporer yang paling bagus yang pernah saya baca. Sejak SMA. Hingga saat ini. Belum tergeser sama sekali selama kurun waktu 8 tahun dan tak tahu apakah akan bergeser seumur hidup saya. Bahkan sejak membaca kumpulan cerpen milik Yanusa Nugroho ini, saya jadi tidak mudah tertarik pada antologi cerpen lain yang terbit ke permukaan. Di samping saya nggak minat nulis cerpen lagi. 
Saya keluar dari dunia percerpenan!

Anomali Yanusa Nugroho benar-benar meracuni jalan pikiran saya dalam melihat sastra. Lebih jauh lagi, pada cara saya melihat dunia. Bahwa apa yang kita anggap tidak adil, justru merupakan yang paling adil untuk kita. Yanusa Nugroho seakan menyampaikan pada pembacanya bahwa dunia itu bukan hanya tempat untuk numpang makan, minum, tidur, bekerja, lalu mati. Bukan. Ada visi dan misi yang lebih besar daripada itu. Dan keduanya berbeda untuk masing-masing kepala.

Seperti tokoh "aku" dalam cerpen "Embi dan Aku". Visinya adalah menjadi teman dan gembala yang baik bagi Embi. Misinya adalah menjaga Embi dari segala marabahaya termasuk ancaman golok bapaknya atau tekanan Haji Jalil yang mata duitan. Sederhana? Mungkin menurut kita, iya. Namun menurut kedua karakter tersebut, jelas visi dan misi itu lebih dari kata sederhana.

Kalau nih... Kalauuu aja saya bisa bertemu dengan Yanusa Nugroho, saya ingin berbincang melewati satu malam saja untuk mendengarkan semua pandangannya tentang kehidupan. Tentang sederhananya cinta "Sum dan Sabar" yang ditentang semua orang. Tentang kisah "Bu Guru Dwita" dengan murid-muridnya yang luar biasa variatif karakternya. Tentang "Suci" yang menunggu Sarno pulang untuk melamarnya. Tentang "Senandung Kecil Buat Ning" yang penuh duka lara.

Rating dari saya... eng...

...nggak bisa anjir. Saya nggak kuasa ngasih rating karena buku ini nggak bisa dinilai dengan sekadar rating. NGGAK BISA. NGGAK BISA. NGGAK BISA.

Intinya, buku ini bagus. Kamu harus baca.

Udah segitu dulu karena saya mau buang ingus yang dari tadi meler nggak kelar-kelar. Kombinasi sempurna karena saya sedang flu, tapi membaca ulang buku Yanusa Nugroho. Sehingga produksi ingus jadi meningkat tajam dan tak terbantahkan.

Oke. Baiklah. Sampai jumpa!





Pictures are taken from:
Self collection from My Very Own Room view (26 December 2017)
Self collection from My Very Own Room view (29 December 2017)
http://nova.grid.id/News/Peristiwa/Mengenal-Wayang-Sasak-Karya-Amaq-Darwilis-Yang-Dikenal-Di-Mancanegara
http://www.reactiongifs.com/im-done/
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

12 Comments:

  1. Saya belum pernah baca bukunya
    Tapi kalo tentang yanusa nya sdh tau.
    Spertinya saya harus baca setidaknya 1 karyanya seumur hidup

    ReplyDelete
  2. Hebrat sekali Om Yanusa ini. Membugili bulat-bulat perasaan seorang Mayang yang biasanya berekspresi datar saat menikmati karya seni. Btw itu lucuk judul salah satu cerpennya. Bu Guru Dwita. Nyaris kayak nama kamu, May. Profesinya samaan juga pula.

    Aku buta nih kalau soal buku. Bacanya yang mainstream-mainstream doang, itupun kayaknya yang aku baca novel terjemahan. Yang dalam negeri kayaknya cuma punya Ibu Suri alias Dewi Lestari :( Tapi leh ugha nih buku. Jadi bikin kangen pengen main ke perpusda. Siapa tau ada di sana~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya memang aku cocok untuk menjadi mangsa om-om, Cha. *eh*

      Iya anjir, aku juga baru nyadar kalau namanya mirip ya. Beda kurang huruf 'n' doang di tengahnya. Profesinya juga guru pula. Tapi Bu Guru Dwita ini guru SD. Aku guru SMA yang muridnya udah bisa ngelawan dan nyepikin. Wkwk.

      Oh, buku Dewi Lestari doang nih? Yang dulu menang giveaway nggak disebutin?

      Delete
  3. Kak Mayang, Kak Mayang di Bandung bukan sih? Kalau di Bandung kita meet up dong, saya mau pinjam bukunya soalnya di perpustakaan kota sold out.

    ReplyDelete
  4. Mbak Maaaay, udah suka nulis dari SD. Waaaw
    Btw aku jd penasaran sama cerpennya Yanusa.. Masuk wishlist deh ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Iseng aja sih, Ella. Hehe.

      Bukunya ada di Perpusda ya. Di Gramedia nggak ada XD

      Delete
  5. Dulu di perpus sekolah atau pusda, kayaknya belom nemu bukunya pak Yanusa ini. Kumcer yg kubaca pas sekolah amoe bukunya kuselundupin bawa balik ke rumah itu kumcernya A.A Navis yg robohnya surau kami. Itu jadi buku favorit samoe saat ini.

    Kumcer lainnya yg kutemui itu kumcernya Umar Kayam yg seribu kunang2 di manhattan, parta karma dan sri sumarah. Juga kumcer terjemahan karya... ... siapa lupa. Bukunya keburu ilang diambik entah ama siapa pas baru dibaca setengah.

    Masalah kisah kayak fabel atau binatang yg diberi nurani, itu sering aku bimbangkan klo org udah menganggap terlalu serius. Tuhan kan sengaja ngebuat kita nggak mengerti bahasa binatang agar kita bisa "buas" memakannya. Hukum alam. Tapi dgn membuatnya bernurani, kita jadi kasian. Padahal ada yg mengatakan klo udah kasian dgm binatangnya, misal kambing yg mau disembelih. Itu bisa jadi haram. Seolah gini, kita jadi kasian pada yg seharusnya dimangsa, dan memangsa/berkelahi pada yg seharusnya disayangi. Ini aku komen apaan dah. Tau ah... masih kedau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. A. A. Navis juga juaraaa cerpennya. Apalagi cerpen yang sesuai judulnya itu, "Robohnya Surau Kami". Saya masih ingat yang salah satu tokohnya mau menggorok leher Ajo Sidi. Anjir. Keren abis. Saya punya bukunya di rumah loh, Haw. Berburu di pasar loak buku bekas dulu karena saya bacanya juga waktu masih SD dan terngiang-ngiang ingin punya bukunya sendiri. Alhasil nabung deh X)

      Umar Kayam juga bagus. Ah, kalau kumcer saya suka banyak dari sastrawan lama. Btw, saya emang suka sastra lama. Bahasanya memang baku banget, tapi dari situlah saya bisa membaca kebudayaan dan kehidupan lain daerah di Indonesia pada masa lalu.

      Iya, saya juga pernah baca haditsnya tentang haramnya hewan untuk dimakan jika sudah dijijiki atau diaksihani. Tapi kan saya emang vegan. Wkwk.

      Delete
  6. WOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO SMP NYA SATU ALMAMATER /LARI KELILING BULAAAN/
    Huwoh ._.

    Bapak Yanusa kapan temu kangen ke SMP 1 paaak? Gue datengiiiinnnn /padahal rada ga asik main ke mantan sekolah/ huee.

    Tipe2 cerpen kayak begitu gak bakal dapet trus kebaca kalau bukan guru bahasa Indonesia yang ngasih wkwkwkw. Bacanya lebih ke sci-fi macem Fablehaven, Harpot, dll.

    OKE. NOTED. NTAR KALO KE PERPUS NYARI. MAKASIH KAK.


    TAPI KE PERPUSNYA MASIH BULAN DEPAN.
    SOALNYA LAGI LIBUR.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loh, satu almamater SMP, anjaaay. Bangga secara nggak langsung dong ini XD

      HAHAHAHA.

      Emang selera kamu yang savage-savage ya, Zahrah.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.