Murder On The Orient Express Versus OCD On A Quick Access

Salah satu poster film Murder On The Orient Express

Sebenarnya tahun ini ada dua film adaptasi dari dua buku Agatha Christie yang rilis ke layar lebar. Yang pertama adalah Murder On The Orient Express dan yang kedua adalah Crooked House. 

Bedanya, Murder On The Orient Express (MOTOE) diproduksi oleh 20th Century Fox, Amerika, sehingga ia menjadi film "sekelas Hollywood". Apalagi dengan adanya pemain-pemainnya yang merupakan aktor dan aktris kelas dunia seperti Kenneth Branagh, Johnny Depp, dan Penelope Cruz. Sementara Crooked House didistribusikan oleh Sony Pictures, yang berbasis di Inggris, sehingga ia  cenderung kalah booming dan kalah hype dari MOTOE. Padahal beberapa pemeran di film Crooked House juga tidak kalah kece dari MOTOE, misalnya saja Glenn Close (pemeran Irani Rael di film Guardians of The Galaxy). 
Kiri: Murder On The Orient Express | Kanan: Crooked House

Di saat MOTOE merupakan representasi dari salah satu cerita Agatha Christie tentang detektif asal Belgia yang bernama Hercule Poirot, Crooked House merupakan salah satu cerita-detektif-tanpa-detektif yang masih serumpun dengan novel And Then There Were None.

Namun karena yang sudah tayang di Indonesia adalah MOTOE (dan saya tidak tahu apakah Crooked House akan tayang di Indonesia atau tidak), maka kali ini saya akan sedikit mengulas tentang film yang kemarin baru saya nikmati di bioskop tersebut.

--- [] ---

Saya sebenarnya mau nonton film ini hari Jumat, tapi karena banyak kejadian naas yang menimpa saya, akhirnya niat tersebut saya batalkan. Sehingga, Sabtu sore adalah waktu yang amat tepat untuk menikmati film dan thai tea. Saya membeli tiket dengan tempat duduk seperti biasa, E 16. Pojok, deretan kolom tengah, dan berdoa agar tidak ada gangguan selama menonton yang berasal dari kanan kiri dan depan belakang seperti yang dulu terjadi saat menonton Justice League.
45ribu, cuy ~

Novel Murder On The Orient Express sendiri pertama kali terbit tanggal 1 Januari 1934 di Inggris. Memang betul, beberapa novel Agatha Christie dulu sudah pernah difilmkan di rentang tahun 1950 hingga 1980. Dan cerita ini salah satunya, sudah pernah difilmkan sebelumnya pada tahun 1974 dengan judul yang sama yaitu Murder On The Orient Express (1974). Pemerannya juga nggak tanggung-tanggung. Yang menjadi Hercule Poirot adalah Albert Finney, salah satu aktor legendaris dari tahun 60-an. Maka dari itu, saya sempat berpikir, apakah film ini merupakan remake dari pendahulunya? Dan ternyata iya. MOTOE 2017 ini merupakan adaptasi novelnya sekaligus remake film MOTOE 1974. Hm. Oke. Baiklah.
Dari kiri ke kanan: Sampul novel, Poster film MOTOE 1974, Poster film MOTOE 2017

Sebagai orang yang sudah membaca novelnya dan menonton film versi jadulnya, saya tentu memiliki harapan yang tinggi pada film ini. Apalagi saya pernah dikecewakan oleh adaptasi television mini series BBC One dari And Then There Were None yang entah mengapa alurnya jadi mengambang tanpa kejelasan. Padahal bukunya kan keren banget, anjir. KEREEEN BANGEEET. Sampai-sampai saya pernah mengulasnya secara singkat di tumblr.

Dan harapan saya terhadap film ini masih 100%.

Dan film dimulai dengan adegan di Yerusalem, dimana Hercule Poirot (Kenneth Branagh) diminta untuk memecahkan kasus pencurian dengan tertuduh 3 orang. Seorang rabi, pendeta, dan imam. Dengan analisis dan juga bantuan tongkat saktinya, Poirot bisa mengungkap detil taktik kasus tersebut dan menemukan orang yang ada di baliknya. Epic. Bahkan beberapa kali ada adegan konyol sebelum itu dimana Poirot lagi-lagi menunjukkan karakter obsessive compulsive disorder-nya dalam menakar kesamaan ukuran dua telur untuk sarapan. Yap. Poirot memang OCD. Sama seperti saya. Tidak bisa tenang kalau melihat barang yang tidak simetris bahkan satu centimeter pun.

Meskipun sebenarnya Poirot sedang ingin berlibur dan melihat-lihat lukisan, ternyata ia harus sudah berangkat ke London untuk sesuatu yang urgent. Dengan bantuan temannya, Bouc (Tom Bateman), yang bekerja di kereta, Poirot bisa ikut dalam perjalanan kereta Orient Express namun harus sekabin dengan MacQueen (Josh Gad), sekretaris sekaligus orang yang mengatur keuangan seorang mafia dan bandar togel barang antik bernama Samuel Ratchett alias Cassetti (Johnny Depp).

Sebelumnya, Poirot sudah berkenalan dengan salah dua dari penumpang kereta saat menaiki kapal laut. Adalah Mary Debenham (Daisy Ridley) yang merupakan seorang guru Geografi. Dan Dr. Arbuthnot (Leslie Odom). Di dalam kereta, Poirot berkenalan dengan orang yang lebih banyak lagi. Seorang janda centil yang suka berkelana sendiri yaitu Carolline Hubbard (Michelle Pfeiffer), seorang wanita alim yaitu Pilar Estravados (Penelope Cruz), seorang yang mengaku professor bernama Gerard Hardman (Willem Dafoe), serta seorang keturunan kerajaan yang sudah tua bernama Princess Dragomiroff (Judi Dench) sepaket dengan pelayannya yaitu Hildegarde Schmidt (Olivia Colman)

Ada pula seorang pria chatty yang mengaku suka berbohong dengan pedenya yaitu Biniamino Marquez (Manuel Garcia-Rulfo), serta pasangan bangsawan unik yaitu Count Rudolph Adrenyi (Sergei Polunin) dan Countess Helena Adrenyi (Lucy Boynton). Tambahan, ada pelayan kabin yang bernama Edward Henry Masterman (Derek Jacobi). Sementara penjaga kabin kereta yang selalu berekspresi pucat bernama Pierre Michel (Marwan Kenzari).

Dengan pengenalan karakter yang singkat dan cukup berkesan, bisa dibilang pembukaan film ini mampu mengambil hati saya. Apalagi bagian dimana pasangan bangsawan Count dan Countess Adrenyi muncul. Heboh banget elah. Sampai si suami menendang paparazzi karena tidak suka diliput. Dan ini meskipun menegangkan, ada bagian lucunya saat si wartawan membanting kameranya sendiri karena takut. Sungguh menarique ~

Namun ada beberapa karakter yang tidak dijelaskan asal-usulnya seperti Marquez, Pilar, dan Pierre. Ini tentu menimbulkan plot hole yang cukup kentara mengingat di dalam bukunya ternyata dijelaskan secara gamblang. Disini malah disenggol sedikit pun enggak. Oke. Ini mulai nggak asik. 

Dan harapan saya terhadap film ini turun menjadi 70%.

Beberapa saat berlalu, alur cerita mengalir menuju bagian dimana mereka mulai berbincang dan makan-makan. Kalau seharusnya ini dapat tegangnya, saya justru merasa ini sedikit flat. Meskipun disisipi oleh pertengkaran kecil antara Mary dan Gerard yang membahas tentang ras, saya belum mendapatkan feel-nya seperti saat membaca bukunya. Saya baru mulai deg-degan saat Ratchett menodongkan pistolnya pada Poirot saat ia ingin meminta perlindungan dan mempekerjakannya. Bangkay. Akting Johnny Depp benar-benar ngehe sekali. Flawless, as usual. Aktingnya memang luar biasa keren anjir. Jadi mengimbangi karakter lain yang terkesan go with the flow, tidak sekuat di novelnya.

Dan harapan saya terhadap film ini naik menjadi 80%.

Kemudian mulailah plot-nya menanjak menuju klimaks. Malam dimana Ratchett mati dengan luka tusukan di dada berkali-kali, menjadi awal kasus yang membuat Poirot melupakan rencana liburannya. Meskipun saya tahu bahwa peran Johnny Depp disini akan sangat singkat karena dia sebagai victim, saya tetap kesal sendiri. Ehe. Karena pemeran lainnya kayak ngambang gitu loh. Nggak greget. Huhu.

Dan harapan saya terhadap film ini turun lagi menjadi 60%.

Sepanjang analisis kasus, saya bahkan seperti tidak mendapatkan apa-apa. Memang ada beberapa scene yang menarik saat Poirot bimbang dan sempat hampir menyerah sampai galau di pinggir jendela sambil melihat foto Katherine, kekasihnya. Juga saat Poirot mampu mengungkap jati diri yang sesungguhnya dari sosok Gerard. Selebihnya, none. Saya kecewa. 

Dan harapan saya terhadap film ini turun lagi menjadi 40%.

Stuck disitu sih persentasenya. Karena ternyata di dua puluh menit ke belakang hingga filmnya selesai, saya dibuat takjub oleh twist-twist yang diungkap di dalam cerita. Ada kasus kunci yang seharusnya dijelaskan di awal dan sepanjang cerita, yang ternyata baru terbaca di tengah menjelang akhir. DAN ENDING-NYA GOKIL BATS ANJAAAY. GOKIL. GOKIL. GOKIL. Akhirnya harapan saya terpenuhi, meskipun hanya 40%. 

Film ini ditutup dengan menarik oleh pertentangan batin Poirot yang juga disebabkan oleh Obsessive Compulsive Disorder (OCD) miliknya. Sebagai detektif, ia harus mengungkap kebenaran. Sebagai manusia, ia harus mempertimbangkan hubungan sebab akibat dan alasan manusiawi di balik tindak kriminal yang dipecahkannya. Hatinya ingin ketenangan. Meskipun pikirannya cranky karena ia merasa harus menyatakan siapa pembunuhnya. Seperti saya yang cranky kalau melihat taplak meja geser ke kanan atau ke kiri. 

Well, it's not a lot like a spoiler, huh? Saya sengaja nggak membeberkan keseluruhannya karena film ini masih running di bioskop dengan jumlah layar yang lebih banyak daripada film produksi negeri sendiri. Cukup mengasikkan untuk ditonton kok, terutama bagi kalian yang menyukai genre film crime dan mystery. Apalagi untuk orang yang belum membaca bukunya, film ini akan menarik dan menegangkan sekali untuk dinikmati. Mengingat original sound track-nya yang bikin merinding selama jalannya film berlangsung, efek CGI yang sempurna, dan storyline yang lumayan rapat serta intens. Jadi, nontonlah sebelum turun layar. Oke?

--- [] ---

Setelah melihat film ini hingga selesai, rasa hati ingin mengomentari perbandingan novel dan kedua versi film MOTOE. Maka dengan ini, saya akan membuat poin-poin susunan ala kadarnya menurut kesotoyan saya. Oke. Begini.

Kalau dilihat dari adegan pembuka...

Di novel, terbagi menjadi 3 babak. Babak 1 adalah The Facts. Babak 2 adalah The Evidence. Dan babak 3 adalah Hercule Poirot Sits Back and Thinks. Di bagian awal, diceritakan bahwa Poirot sedang berjalan di sekitar Taurus Express. Ia berkenalan dengan Mary dan Arbuthnot. Sementara di film lamanya, dibuka dengan kasus keluarga Armstrong. Daisy kecil yang meninggal karena diculik dan dibunuh. Ibunya, Sonia Armstrong yang stres. Serta ayahnya, John Armstrong, yang akhirnya bunuh diri setelah mengirimkan surat pada Poirot. Sementara di film terbarunya, adegan dibuka dengan Poirot yang menangani kasus di Yerusalem.

Kalau dilihat dari jokes-nya...

Di bukunya nggak ada jokes yang tersisip secara eksplisit mengenai nama Poirot. Sementara di film lamanya di tahun 1974, Ratchett salah memanggil "Poirot" dengan sebutan "Perrot". Dan Poirot mengoreksinya. Di filmnya tahun 2017 ini, Mary dan Ratchett salah menyebut nama depannya yaitu "Hercule" menjadi "Hercules"

Kalau dilihat dari pemeran Hercule Poirot-nya...

Di novel, Poirot diceritakan sebagai sosok detektif yang "enjoy living at his space", OCD, perfeksionis, tidak bisa melihat ketimpangan, dan memiliki selera humor yang cukup receh. Ia bisa menertawakan diri sendiri hanya dengan hal-hal yang tidak penting. Di film lamanya, Poirot yang diperankan oleh Albert Finney sungguh lucu dan jayus, mirip dengan Charlie Caplin. Saya berkali-kali ngakak melihat tingkahnya. Terkadang bahkan seperti anak kecil.

Dan ini berlaku juga untuk Poirot versi 2017 juga. Lucu. Tapi Poirot yang diperankan oleh Kenneth Branagh (yang juga sutradara dalam film ini), cenderung lebih mudah memperlihatkan emosinya dalam melakukan analisis. Ini beda dengan Poirot versi lama yang wajahnya datar dan konyol meskipun sedang serius maupun bercanda.

Tapi untuk aksen keduanya, SAYA SUKAAAAAAAAAA. Keduanya benar-benar memiliki aksen kental selayaknya orang Belgia. Dan bahasa Inggrisnya juga Perancis banget. SUNGGUH SEKSI SEKALI. Nonton film dengan British accent begini ini yang membuat saya keluar dari teater seperti orang habis nyandu dan nenggak stok morfin 2 kilogram. Sungguh santapan yang lezat bagi jiwa dan telinga saya. Yuhu ~

Kalau dilihat dari sinematografinya...

Sudah jelas lebih bagus yang versi 2017. Dengan teknologi secanggih ini, imajinasi seliar apapun pasti bisa tersalurkan. Sementara jaman dulu kan belum ada hal-hal semacam ini.

Kalau dilihat dari original sound track-nya...

Tentu saja bagus yang versi 2017. Ini sih kalau kata saya, penata latar musiknya harus menang penghargaan musik tahun depan. Festival film kek. Grammy kek. POKOKNYA HARUS. Kece banget, gilaaa. Yang menghidupkan film versi 2017-nya ini justru latar musiknya. Sementara di film yang terdahulu, musiknya tidak banyak. Yah, namanya juga film keluaran lama, yakan? 

Oh iya, bagi yang mau menonton official trailer film MOTOE versi jadulnya yang ada di tahun 1974, bisa dilihat pada tautan Youtube berikut. Nuansanya classic dan vintage sekali, bosque ~


(Official Trailer Film MOTOE 1974)

Sementara official trailer film MOTOE yang versi terbarunya di tahun 2017, bisa diintip disini. Kenneth Branagh ini yang dulu jadi guru pertahanan ilmu hitam di Harry Potter 1 dan salah satu kapten di film Dunkirk. Ternyata doi bisa berubah-ubah gini wajahnya. 


(Official Trailer Film MOTOE 2017)

Jadi ya, jika boleh diurutkan, preferensi saya tetap nomor 1 adalah novelnya. Nomor 2 adalah versi film pertamanya di tahun 1974. Dan nomor 3 adalah versi film terbarunya di tahun 2017. Meskipun begitu, masing-masing film memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing seperti yang sudah saya ulas di atas.

Karena memang, film adaptasi novel tidak akan pernah sesempurna fantasi para pembacanya. Ini adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan sejak dulu hingga sekarang. Berbeda dengan film yang kemudian dibukukan. Sungguh berbeda sekali.

--- [] ---

OCD on a quick access. Poirot digambarkan oleh Agatha Christie sebagai detektif yang tidak bisa melihat ketidakseimbangan. Ketidaksimetrisan. Jadi setiap ia melihat hal yang tidak sesuai tempatnya atau tidak pada wajarnya, Poirot dapat menganalisisnya menjadi bukti yang ia perlukan dalam penyelesaian kasusnya. Ini sakti sih kalau kata saya. Dan ini keren.

Saya jadi ingin mengolah OCD saya supaya bisa menjadi kekuatan tersendiri. Superhero dengan kekuatan OCD, misalnya. Jadi kalau ada kejahatan di muka bumi yang tidak sesuai aturan negara, korupsi misalnya, akan langsung saya sleding penjahatnya dengan rasengan dan jurus seribu OCD. MUAHAHAHAHAHAHA. Anjir, baru dibayangin aja udah keren banget keknya ~

Ngomong-ngomong, saya me-review seperti ini menurut kalian OCD juga nggak sih?





References are taken from:
https://en.wikipedia.org/wiki/Agatha_Christie
https://en.wikipedia.org/wiki/Murder_on_the_Orient_Express
https://en.wikipedia.org/wiki/Murder_on_the_Orient_Express_(1974_film)
https://en.wikipedia.org/wiki/Murder_on_the_Orient_Express_(2017_film)
https://en.wikipedia.org/wiki/Crooked_House_(film)
https://en.wikipedia.org/wiki/Hercule_Poirot
https://www.hollywoodreporter.com/news/1974s-orient-express-won-an-oscar-weeks-hollywood-flashback-1052913
https://en.wikipedia.org/wiki/And_Then_There_Were_None_(miniseries)
http://mayangdwinta.tumblr.com/post/167832002120/another-agatha-christie-movie
https://en.wikipedia.org/wiki/Adaptations_of_Agatha_Christie

Videos are taken from:
https://www.youtube.com/watch?v=u0ykCP1AYlk
https://www.youtube.com/watch?v=Mq4m3yAoW8E

Pictures are taken from:
https://www.traileraddict.com/murder-on-the-orient-express/trailer
http://cinemorgue.wikia.com/wiki/Murder_On_The_Orient_Express_(2017)
https://www.foxmovies.com/movies/murder-on-the-orient-express
http://www.denofgeek.com/uk/movies/murder-on-the-orient-express/49807/murder-on-the-orient-express-new-trailer
https://bigother.com/2011/01/15/there-and-then/murder-on-the-orient-express-1974/
https://www.rexburgstandardjournal.com/news/local/upcoming-library-events-to-feature-forensic-scientist-escape-house/article_9b23c71c-e9a9-11e6-93f5-6b63d2338ae2.html
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

24 Comments:

  1. Njir, gerak cepat juga nih ente nulisnya makasih request abe telah ente kabulin.

    Ada beberapa hal mendasar sih yang bener2 beda antara novelnya ama ini film. Mulai dari karakternya (Pilar estravadoss? Marquez? Arbuthnott jadi dokter? Jinguk, siapa sih mereka -_-'), prolog kasus sebelum mulai ke kasus utama dalam cerita (Yerusalem? Shit!!! Ini prolog yang bagus buat ngangkat cerita), dan yang paling bikin ane eneg itu kumisnya Poirot kenapa jadi kaya jemb*t kuda gitu.

    Koreksi dikit, di film lamanya (1974) Poirot juga ketemu kok sama Debenham plus Arbuthnott di kapal laut menuju ke Turki.

    Dari beberapa orang yang pernah jadi cast-nya Hercule Poirot (Albert Finney, David Suchet, sampe Kenneth Branagh), ane tetep paling suka ama si David Suchet, Poirot jadi bener2 orang yg malas bergerak tapi cerdas dalam intuisi dan analisis, dan yang paling penting, kumis dan botaknya ituloh. . Sesuai dengan imajinasi ane tentang karakter Poirot.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bang. Sama-sama. Saya soalnya gemes juga abis nonton merasa ingin mengoprek yang lalu-lalu. Saya yang heran, paling heran, ya sama karakter Arbuthnot yang berubah jadi dokter. Secara dia kan harusnya bawahan John Armstrong kalau di novel. Btw, Pilar ini yang ngasuh Daisy.

      Sebenernya prolog udah bagus. Serius. Tapi ke belakang agak hm ya begitulah. Hehe. Poirotnya memang beda disini. Emosinya juga terlalu kelihatan.

      Iya ketemu kok, tapi scene pembukanya kan pemberitaan tentang kasus Armstrong dulu. Baru scene kapal yang kenalan itu kalau di film 1974.

      Oh, jelas. David Suchet ini Poirot banget. Kumisnya pas. Game Agatha Christie yang Death On The Nile juga pakai role model David Suchet. Tapi Albert Finney juga mayan bagus kok, bang. Kenneth ini bagus sebenernya, tapi banyak kekhasan Poirot dari novel yang hilang sama dia.

      Delete
    2. Wah iya, bener juga. . David suchet ternyata yang jadi role Poirot-nya di game Death of Nile. Ane malah baru tau kalo ada ini game (gak suka ama game tipe "hidden object", sering bikin perih mata).

      Ane malah sebenernya pengen banget kasus "The Murder of Roger Ackroyd" diangkat lagi jadi film, tapi kali ini penonton disuguhin 'point-of-view' orang pertama (dr. Sheppard). Di TV seriesnya (tahun 2000) pernah diangkat juga sih, tapi ya gitu~ gak ada gregetnya sama sekali, karna pengambilan 'point-of-view'-nya dari orang ketiga, jadi efek plot twist-nya gak dapet, Shit!!! Hambar. . . T~T

      Delete
    3. Bang, kayaknya emang novel Agatha Christie susah kalau difilmkan. Ya nggak sih? Kan dia drama-dark crime. Beda sama Sherlock yang kalau difilmkan justru jadi bagus XD

      Delete
  2. Kemaren temen ada ngajak mau nonton film ini tapi berhubung saya gak bisa
    akhinrya batal, dari ulasan mbak mayang walau katanya turun sampe 40%, malah bikin saya penasaran sama nih film
    saya belum baca novelnya jadi mungkin bisa lebih greget nontonya

    ReplyDelete
  3. Duh aku belum nonton ini nih, jadi semangat banget buat nonton gara2 baca reviewnya mbak may,

    ReplyDelete
  4. Mauuuuuuu nontonnnnnnnn bangeettttt
    Kemaren liat trailernya pas nonton Justice League

    dan sebagai penggemar Conan, ini tuh harus aku tontonnnnn hahahahhaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaa. Kalau suka detektif-detektifan harus nonton ini, Ul!

      Delete
  5. Belom pernah baca bukunya.
    belom pernah nonton film sebelumnya.
    Jadi kalo nonton film ini gak bakal punya ekspektasi apa-apa. xD tapi kayaknya nggak bakal nonton juga. jadi nanya ini aja, kan katanya keseimbangan itu tercipta dari kadar yang berlawanan, seperti yin dan yang. nah, kalo di dunia ini ada kejahatan, tapi kejahatannya menyeimbangi kebaikan yang ada, apakah detektif OCD nya akan bekerja?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm. Premis yang menarik, bosque ~

      Sepertinya tidak. Tapi imbang tidak seimbang, tidaklah sama antar perspektif manusia. Yang menurut kamu seimbang, buat orang lain belum tentu seimbang. Ini di luar konteks OCD ya. Dan sebaliknya.

      Delete
    2. btw, saya jadi keinget film detective conan episode kereta ekspress saat menghadapi organisasi hitam, di sana dia juga menybut buku christie yg ini karena adanya kejadian pembunuhan di kereta yg modelnya pun sama. dan episode itu jaid salah stau episode favorite saya. entah apakah film ini bisa semenarik conan itu apa nggak.

      Delete
    3. Iya ada, kamu jeli banget sih, Haw. Di scene kereta itu. Emang cerita detektif kadang satu universe ya.

      Delete
  6. wahh lengkap bahasannyaaa.. seru... aku juga suka baca agatha christie dulu..

    ReplyDelete
  7. Agatha Christie.. Penulis wanita pertama yang bikin ane jatuh hati.. Cek tkp..

    Sosiopat vs OCD menang siapa menurut nte?

    ReplyDelete
  8. Yang paling kentara bedanya, tokoh Dokter Constantine di novel dihapus dalam film MOTOE terbaru. Kolonel Arbuthnot (di novel, profesinya tentara) malah jadi dokter. Terus, ada satu lagi tokoh perempuan yang namanya diganti. Lupa yang mana.

    Walaupun kurang etis bandingin versi buku sama film (karena beda media), tapi tetap ngaruh juga sih pas nonton. Aku pun jadi kurang bisa menikmati filmnya. Bukan cuma soal twist-nya yang udah bocor duluan, tapi juga sampe ke hal-hal sepele kayak kumisnya Poirot yang bikin risi. KUMIS MACAM APA ITU.

    Nah, kalau soal sinematografi dan scoring film adaptasi yang terbaru ini juara!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tak. Betul. Dokter Constantine dihilangkan. Kolonel Arbuthnot dioper perannya jadi dokter. Kan ngeselin :'( Yang Pilar itu, Do. Kalau nggak salah.

      Iya, tapi saya bandinginnya plotnya kok. Kalau yang lain-lain, saya lebih bandingin dengan film sebelumnya. Ahahaha, kok banyak yang komplain kumisnya ya XD

      Betul. Penguasaan emosi dan dramanya juga juara!

      Delete
  9. Kok sendirian aja nontonnya ka? *Disleding pake rasengan

    Saya malah baru tau loh ada istilah ocd dalam dunia ke-dektektifan wkwk, keliatannya sih seru terlebih emang suka genre yang mengundang teka-teki karna belum pernah baca novel dan film jadulnya. Mungkin saya akan menonton film ini, sendirian juga *loh

    ReplyDelete
    Replies
    1. *sleding Asep Kurniawan pake rasengan*

      LAH TADI NANYA KENAPA NONTON SENDIRIAN, TAUNYA SITU SENDIRIAN JUGA x(

      Delete
  10. Duh, saya fans Poirot yang menanti2kan film ini rilis, eh pas tayang saya sedang mudik ke pulau yang ga ada bioskopnya. Trims ulasannya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa ditunggu ada di netflix sambil baca bukunya mbak :D

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.