(Meraut Kenangan: Part 3) Micro-Cheating Ronde Awal

Ilustrasi mengajar yang baik dan benar

Catatan di draft blog yang ditulis saat sedang bingung dengan harga rakitan Gundam terbaru dan kalah level oleh bedebah Pinoy saat war game online. Tanggal 1 Februari 2015. Surakarta, Jawa Tengah.

--- [] ---

Tak terasa waktu itu saya sudah melewati lima semester perkuliahan di kampus. Saya sudah mulai menerima dan belajar mencintai tempat tersebut. Karena setelah dipikir-pikir, tidak buruk juga kuliah keguruan. Guru kan, salah satu pekerjaan mulia yang ada di dunia. Sehingga saya memutuskan untuk belajar mennyukainya sedikit demi sedikit. Buku-buku tutorial tentang bahasa pemrograman entah bagaimana awalnya, jadi tidak pernah tersentuh lagi.

Instead of complaining a lot, I learnt about how to deal with it.

Saya juga mulai memberi kursus atau les privat pada anak dosen sejak masuk kuliah di semester dua. Dan semua urusan setelahnya... Lancar. Saya menikmati mengajar privat maupun kelompok siswa-siswi SMA. Ternyata mengajar, sama seperti belajar lagi. Ilmu kita tidak akan aus jika terus menerus ditularkan.

Hm. Tumben ngomong bener ya, May. Muehehe.

--- [] ---

Semester enam telah menjelang. Di semester ini, ada mata kuliah yang disebut dengan mata kuliah Microteaching, atau jika dialihbahasakan adalah Pengajaran Mikro. Artinya, mata kuliah ini adalah sarana praktek bagi mahasiswa untuk melakukan pembelajaran yang semi-real dengan jumlah siswa terbatas yang terdiri dari dosen dan teman-teman sekelasnya sendiri.

Di angkatan saya, atau lebih spesifik lagi di kelas saya, sejumlah 35 mahasiswa dibagi menjadi 5 kelompok, sehingga masing-masing berisi tujuh orang. Kelompok saya terdiri dari saya sendiri, lima mahasiswi lain (sebut saja nama mereka Ester, Bugenvil, Asoka, Mawar, Raflesia) dan satu mahasiswa laki-laki yaitu si Prim. Prim yang polos dan sederhana.

Saat pertemuan pertama, kami diwajibkan mengambil lotere untuk mendapatkan model dan metode pembelajaran yang akan kami usung pada pertemuan berikutnya. Kebetulan saya mendapatkan model Inquiry (Penemuan) dengan metode Eksperimen (Praktikum). Yah, suatu pilihan yang tepat sekali. Karena membelajarkan Fisika, jelas masuk akal jika menggunakan eksperimen dengan alat dan bahan di laboratorium. Sedangkan untuk materi, saya memperoleh sub bab Hukum 3 Newton. Tentang Aksi-Reaksi. So far, amanlah ya...
Betul apa betul nih?

Yang menjadi masalah adalah, anggota lelaki satu-satunya, Prim, mendapatkan model Konstruktivisme (Membangun Konsep) dengan metode Role Playing Games (Bermain Peran). Sementara materinya adalah tentang Gerhana Matahari.

Mampus. Oke. Ini sih bencana namanya.

Saya akrab dengan semua teman laki-laki di kelas, jadi saya paham betul "orientasi" Prim seperti apa. Prim yang memang cenderung pendiam dan submissive langsung pucat pasi, seakan membayangkan apa yang akan dia ajarkan minggu depan. Role Playing Games kan harus menggunakan siswa untuk memperagakan materi. Masa iya, si Prim harus grepe-grepe muridnya dalam memperagakan proses terjadinya gerhana? Nggak lucu kan, kalau tiba-tiba ada yang "upacara" saat perkuliahan minggu depan. Bisa-bisa Prim langsung di DO secara tidak hormat.

Karena teman saya yang bernama Ester, Bugenvil, dan Asoka itu adalah salah tiga dari anggota SODA GEMBIRA (SOsialita buDget rendAh tapi pinGin nEcis, glaMour, BohaI dan beRgAya) yang bajunya serba kekecilan satu ukuran di bawah bentuk tubuh asli mereka, maka sudah pasti Prim akan merasa anu. Saya membayangkannya saja udah susah. Apalagi nonton waktu pembelajaran nantinya. Kelas Fisika mungkin bisa berubah menjadi kelas lukis erotis. Gokil kan.

--- [] ---

Dan hari yang ditunggu-tunggu setelah tiga tahun lamanya pun datang juga. Akhirnya kami memiliki kesempatan untuk mengamalkan teori-teori dari mata kuliah bertema pendidikan secara langsung dalam proses belajar mengajar. Yah... Meskipun masih tahap latihan dengan teman sendiri, setidaknya kami sudah maju satu langkah dalam mendapatkan pengalaman mengajar. Karena saya urutan pertama, maka saya harus maju membawakan materi Hukum 3 Newton paling awal sesaat setelah sesi kuliah dibuka.

Bayangan saya, yang namanya Microteaching ya mengalir apa adanya di depan kelas. Antusias tidaknya murid gadungan (yang merupakan teman kita sendiri), yang menentukan adalah kita. Pure. Murni. Tanpa rekayasa. Karena mata kuliah ini kan memang didesain agar kita belajar mengenal watak dan karakter siswa yang beragam di setiap kelasnya.

Namun tiba-tiba, sesaat sebelum dosen masuk ke dalam ruang kuliah, Asoka mengajak kami semua untuk mendekat dan melingkar. Ia ingin membicarakan sesuatu.

"Hei, nanti saat kita maju satu per satu, usahakan semuanya antusias menyimak, ya. Jangan sampai yang di depan kayak kacang tanpa perhatian. Kemarin aku nanya kakak tingkat kalau penampilan mengajar kita setiap minggunya akan dinilai total oleh dosen. Jadi, harap kerjasamanya untuk saling membantu lah, biar nilai mata kuliah kita bagus." Kata Asoka panjang kali lebar.

What? Ini berarti main skenario dong ya? Saat itu saya ingin menyampaikan pendapat karena keberatan, tapi keduluan oleh Raflesia.

"Nggak fair dong, tujuan Microteaching kan untuk belajar mengenal siswa. Kalau direkayasa gini kesannya nggak jujur," Ia menyanggah sambil membenarkan letak kacamatanya. Namun rupanya, Asoka tetap tidak mau kalah.

"Yah, kita kan sudah semester enam. Semester depan benar-benar terjun ke sekolah untuk mengajar. Sertifikat mata kuliah Microteaching ini kan menentukan banget di sekolah mana kita akan ditempatkan. Masa iya kamu tega kalau kelompok kita dipencar-pencar jauh di luar kota gara-gara nilai Microteaching-nya pas-pasan?" Asoka mulai sengit.

"Kalau nggak mau pas-pasan, ya latihan dong, untuk membuat pembelajaran yang menarik." Sangkal Raflesia lagi. Kali ini membetulkan dalemannya yang geser.

Asoka terdiam. Tidak membantah lagi. Saya melirik Prim tapi dia diam saja. Sianjir. Sertinya pikiran Prim sejak tadi tidak ada disini. Mungkin dia sibuk memikirkan strategi grepe-grepe yang tepat untuk penampilannya nanti.

Perdebatan masih berlanjut. Raflesia tidak berhenti sampai disitu, ia bahkan menambahkan kalimat pamungkas yang mematikan seperti ini, "Kalau kamu mau mata kuliah ini direkayasa, bukan Microteaching namanya. Tapi Microcheating! Kalau akting mending masuk jurusan seni sekalian!" 
Keren ~

DUARRR!

Meskipun hening, tapi saya merasakan ada bom atom yang dijatuhkan tepat di kepala Asoka oleh Raflesia. Headshot, gaes. 

Sebenarnya, saya memang tidak setuju dengan ide Asoka tentang "akting antusias" tersebut. Namun saya juga tidak suka cara Raflesia menjatuhkannya dengan telak dan, maaf, kurang sopan kedengarannya. Ingin rasanya berkomentar, "Sesuai namamu, Raf. Kamu memang bangkai,"

Namun semua itu hanya tertahan dalam hati saja. 

--- [] ---

Yang penasaran dengan cerita seri kuliah ini bisa diklik di tautan berikut:





Pictures are taken from:
http://murasaki-t.blogspot.co.id/2011/02/teaching-learning.html
http://bestanimations.com/Military/Explosions/Explosions2.html
https://imgflip.com/i/pp385
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

14 Comments:

  1. Instead of complaining a lot, I learnt about how to deal with it. <- quote ini harus di viralisasikan.

    SODA GEMBIRA (SOsialita buDget rendAh tapi pinGin nEcis, glaMour, BohaI dan beRgAya) <-INI HARUS MASUK URBAN DICTIONARY!!

    Standing ovation untuk kak Raflesia. Kadang teman yang 'right on the point' itu diperlukan supaya kutu-kutu jamur tidak membakteri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tolong dikondisikan ya, Zahrah XD

      Kamu bersemangat sekali.

      Delete
  2. geng SODA wahhh lehh ugha nie :D hahaha
    ooh jadi gini toh kuliah keguruan, sharing cerita cinta-cintaan ama murid lagi dooong. sukak gue XD hahahahahaha

    ReplyDelete
  3. Tu kan, jika orang tua salah memberi nama, akhirnya ya seperti itu, menjadi bahan umpatan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu bukan nama sebenarnya kok. Ada keterangan "sebut saja".

      Delete
  4. si prim sepertinya sudah siap dengan strategi grepe grepenya, tidak peduli dengan perdebatan yang terjadi

    ReplyDelete
  5. Bu guru.. Mau nanya.. Di bagian ketiga ini si ngapak itu kemana ya? Itu chara fav saya lho XD

    ReplyDelete
  6. Prim mentang-mentang paling polos, lugu, dan suci belum ternoda, dikasih nama samaran beda daripada yang lain ya, May. Hahaha.

    Kata-kata Raflesia mayan nyakitin sih. Sangaaaar. Tapi boleh juga sih dia. Diplesetin dari microteaching jadi microcheating. HIDUP RAFLESIA ARNOLDI!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang Raflesia kalau ngomong paling nylekit di kelas sih, Cha. Semua orang udah pernah jadi korbannya. Tapi justru itu yang sekarang ngangenin :')

      Delete
  7. di sini saya bingung karen abelom liat praktiknya, apa untuk menjelaskan gerhana matahari dgn metode role playing games, emang harus ngegrepe-grepe? kalo emang iya, kenapa dulu saya gak masuk pendidikan fisika aja, ya.

    kalo ttg microteaching itu, saya pernah diceritakan oleh bogger lain yg jurusan keguruan juga, katanya ya kadang ada yg skenarioan gitu. pura2 antusias biar dapat nilai bagus. cuma, karena penilainya ada di situ, dia juga tau dong, mana yg menjelaskan dengan cara yg asyik dan mana yang membosankan. kalo penjelasannya datar, tapi tiba2 antusias muridnya, siap2 aja katanya yg antusias itu dapat peringatan.

    tapi kalo microteaching gitu, temen2mu tetep pake baju yg nomornya satu angka dbawah ukuran aslinya po? saya bisa antusias walo dianya diem.

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.