Me Loving You, Me Before You

Me loving you so much ~

Kepada, Jojo Moyes, yang terhormat.

Saya hanya ingin bilang bahwa sejujurnya saya belum membaca novel Anda. Saya hanya punya bentuk softfile pdf-nya dan itupun belum tersentuh hingga kini. Jadi saya belum tahu seperti apa isi ceritanya. Namun rupanya hal ini tidak membatasi saya untuk menonton film yang diadaptasi berdasarkan buku Anda. Me Before You (2016).

Pertama.

Emilia Clarke ini kan terkenal dalam membintangi serial HBO yang berjudul Game of Thrones. Saya tidak menyangka bahwa ia bisa juga berakting manis dan ceria ala-ala perempuan feminim pada umumnya. Dengan mengambil porsi peran menjadi seorang Louisa Clark, pekerja serabutan yang mau bekerja apa saja demi membantu perekonomian keluarganya. Mengapa dipilih Emilia? Apakah karena nama belakangnya sama-sama Clark? Tolong dijelaskan.

Saat pertama kali saya melihat pembawaan karakter Louisa, saya kagum. Bagaimana seorang khaleesi yang anggun mampu menjadi perempuan yang petakilan dan hiperaktif macam itu? Ini luar biasa. Dan menarik. Sampai akhir film, saya tidak berhenti bengong karena terkejut dengan perubahan karakter yang drastis dari seorang Emilia Clarke. Yah, namanya juga artis, yekan. Harus bisa akting apa saja. Tapi ini mayan signifikan. Emilia seperti turun kasta dari ratu naga menjadi pembantu rumah tangga. 

Kedua.

Sam Claffin. Kenapa yang jadi William Traynor adalah Sam Claffin? Saya bahkan belum bisa move on dari aktingnya sebagai Finnick Odair di film series The Hunger Games. Kharismatik iya. Ganteng iya. Lucu iya. Lalu, sebagai seorang laki-laki cacat dan desperate karena ditinggal menikah kekasihnya, Sam Claffin ternyata mampu berubah menjadi karakter yang juga berbeda 100% dari karakter Finnick yang cenderung "gesrek" dan "overconfident". Di film Me Before You ini, ia bisa menjadi sosok baru yang luar biasa dark and gloomy. Kereeen.
Foto after dan before masuk bengkel ketok mejik

Ketiga.

Filmnya menyentuh dan menyedihkan. Tapi belum sampai membuat saya banjir air mata. Saya justru lebih sibuk melihat kelucuan Louisa saat berusaha mengajak Will nonton pacuan kuda dan memaksa waitress untuk menyediakan kursi di sebuah restoran yang hanya bisa dipesan via booking di hari sebelumnya. Louisa benar-benar merupakan gadis yang happy-go-lucky dan perky. Too perky malah. Lincah dan bawel minta ampun. Tapi justru dengan kelakuannya yang aneh-aneh, Louisa berhasil membuat es batu yang ada di hati Will mencair.

Padahal di awal, Will sempat ilfeel dengan Lou, panggilan pendek dari nama Louisa, karena gadis itu selalu memakai outfit of the day (OOTD) yang aneh, antik, dan tidak seperti orang kebanyakan. Seleranya, maaf, sedikit kuno dan tidak lazim. Apalagi sepatunya. Hm. Udah bermotif, warnanya mentereng pula. Namun Lou justru pede dengan baju dan penampilan pilihannya sendiri. Peduli setan orang mau komentar apa, Lou tetap suka. Hal inilah yang juga membuat Will jatuh cinta pada perawatnya sendiri. 
Yang penting pede ya, Lou? Okesip

Meskipun begitu, Lou juga sempat berdandan normal dengan setelan dress berpotongan dada rendah berwarna merah dan high heels yang berwarna maroon. Momen ini terjadi saat ia dan Will akan menonton konser musik klasik. Disini, Will benar-benar didesain menjadi laki-laki jantan yang manis banget, woy. Nonton scene ini seperti minum teh segelas tapi gulanya 5 kilogram. Apalagi caranya dalam mencuri pandang ke arah Lou. Sam Claffin killed it perfectly.

Keempat.

Saya juga ingin berterima kasih pada Anda, Jojo Moyes. Karena film ini mengajarkan bahwa hubungan lama dan menahun, bisa putus juga karena keadaan yang memaksa. Will yang sudah bertahun-tahun berpacaran Alicia, harus menelan pil pahit bahwa kekasihnya itu menikah dengan sahabatnya sendiri, Rupert. Hal ini terjadi setelah Will kecelakaan, cacat, dan hanya bisa bertahan menjalani hidup dengan berada di atas kursi roda. Apes banget lah nasib Wil disini. Dan kekasih serta sahabatnya juga bangkay. Kenapa harus gini amat jalan hidupnya sih? Kan kasiaaan. Hiks.
Undangan pernikahan mantan bajingan

Selanjutnya Lou. Lou yang sudah bertahun-tahun berpacaran dengan Patrick juga harus putus karena ia tidak bisa memilih antara pekerjaan, rasa sayangnya pada Will yang mulai tumbuh, dan hubungannya dengan Patrick yang cenderung stagnan. Kalau dibilang Lou selingkuh, jelas enggak sih. Tapi memang timing-nya pas banget, anjir. Lou butuh pekerjaan. Will memberi pekerjaan. Mereka dekat karena setiap hari bersama-sama. Akhirnya daripada Patrick sakit lebih lama lagi, mereka pun memutuskan untuk berpisah.
Kisah kita berakhir di bangku taman

Kelima. 

Ending-nya flat. Sedatar pola pikir orang-orang yang mencetuskan teori bumi datar. Sedatar hidup saya. Sedatar aset saya. Sekali lagi, saya belum baca bukunya. Bisa jadi karena ini makanya saya merasa film ini biasa aja ending-nya. Adegan yang sarat emosi adalah saat Lou gagal melakukan tugasnya dan gagal pula menyampaikan isi hatinya. Ia menyerah. Sementara Will tetap teguh. Untuk melepaskan Lou dan memilih mati. 

Will tidak mau Lou kehilangan sisa hidupnya hanya untuk merawatnya. Kalau orang menangis sejadi-jadinya di scene ini, justru saya malah heran. Ada ya orang se-desperate ini sampai-sampai memilih agar kekasihnya pergi meninggalkannya? Padahal cinta kan obat paling kuat di dunia. Obat kuat aja sampai kalah oleh cinta. #eh
Cause there's something in the way you look at me ~

Kepada, Jojo Moyes, yang terhormat.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menulis cerita cinta yang rasanya nano-nano macam ini. To be honest, chemistry Emilia dan Sam ini kurang greget sih. Kayak ada batasannya. Kayak nggak totalitas. Memang mereka baru dipasangkan disini dan ternyata koneksinya, hm, tidak cukup kuat untuk membuat saya baper dan menangis sesenggukan. Aktingnya bagus, jelas. Nggak perlu dipertanyakan. Dan memang benar ada beberapa scene yang cukup manis seperti saat mereka nonton konser (seperti yang saya sebutkan tadi) dan saat Lou duduk di atas kursi roda Will di pantai. Tapi untuk kesan couple-nya? Nope. Kuraaang bangeeet.

Jadi ya, sepertinya saya mau lanjut baca bukunya dulu deh. Siapa tahu persepsi saya berubah. Tapi kalau nanti dibikin sekuel film untuk buku keduanya, sebaiknya jangan. Etapi siapa saya ngelarang-ngelarang Anda untuk meneruskan proses film adaptasi novel ini? Oke, do as you wish.

PS:

Film Me Before You ini mengajarkan kita untuk "live the moment". Hiduplah tanpa batasan yang diciptakan orang lain. Hiduplah dengan menjadi dirimu sendiri. Jangan mau dibatasi keadaan. Dan cinta. Karena kamu berhak 100% atas kebebasan dan kemerdekaanmu sendiri. Ini sih yang sering dilupakan oleh kita, sebagai manusia. Kita terlalu takut melakukan ini dan itu karena khawatir dengan pandangan orang. Kita terlalu takut melangkah karena takut menghadapi resiko. Dan saya takut terlalu sayang sama kamu karena ini nggak baik untuk kejiwaan saya. Sekian.





Pictures are taken from:
https://pantip.com/topic/35236496
http://www.portal42.com.br/wp-content/uploads/2016/07/the-me-before-you-cast-is-one-big-fandom-crossover-993249.jpg
https://www.popsugar.com/entertainment/Me-Before-You-Soundtrack-41374833
https://www.flickr.com/photos/chris-wilson/31327683713
http://www.walesonline.co.uk/whats-on/film-news/pretty-streets-pembroke-feature-new-11427242
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta Trisniarti

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

14 Comments:

  1. Endingnya cukup menampar pelupuk mata anjeeeeeeeeeer.

    Jadi ingat dulu ada blogger yang ngereview film ini juga, aku sempat tertarik tapi entah kenapa waktu itu nggak tergerak buat nonton. Mungkin karena lagi nggak pengen dapat asupan cinta-cintaan karena lagi galau. Wkakakaka. Sekarang ada blogger lagi yang ngereview, yaitu kamu, May. Semoga aku segera tergerak untuk menyantap kudapan manis satu ini.

    Pantesan pernah liat di mana ini cewek, taunya dia main di Game of Thrones ya. Wkakaka. Aku nggak nonton GoT sih, cuman tau mukanya dia dari banyak meme yang bertebaran di medsos. Cantik banget yak ternyata kalau rambutnya nggak blonde. Terus itu apaan dah turun kasta. Bikin ngakak anjir kalimatnya. Hahahahahahaha.

    Yap, semoga novel dari Jojo Moyes lebih memuaskan hasrat Mayang ya daripada pas nonton film adaptasinya. Yuhuuuu~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sedang gegalauan mantan, film ini oke banget untuk ditonton, Cha. Tapi kalau mood sedang tinggi, sebaiknya jangan XD

      Yak betuuul, Emilia Clarke. Cantik kalau rambutnya begini ya. Waktu jadi khaleesi emang aneh sih. Dan Sam Claffin ternyata film romantisnya nggak cuma ini. Ada Love Rosie juga, lagi download ini, Cha XD

      Delete
    2. Mood sekarang lagi sedang-sedang aja nih. Masukin watchlist, dulu...

      MASUKIN MULU CHAAAA TUMPUK AJA TERUS WATCHLISTNYA TERUUUUUUUS.

      Nah kalau Love, Rosie aku udah nonton. Di situ dia menurutku chemistry-nya mantap shol sama Lily Collins. Gara-gara film itu juga aku jadi suka lagunya Lily Allen judulnya Littlest Things, May. Lagunya baguuuuuus :')

      Delete
    3. Hei, aku juga kalau habis baca review kamu begini. Masukkin mulu ke watchlist tapi nggak tahu kapan donlod dan nontonnya. Tapi The Room kemarin keren bangkai. MAKASIH :*

      Kayaknya selera musik kita banyak yang sama deh, Cha. Anjir aku jadi baper pingin ke Samarinda deh :')

      Delete
  2. Obat kuat ya

    XD

    Belum pernah nontonnnnnnn
    Aku rada cupu gitu kalo soal film
    Nonton yang ada dan dikasih aja, enggak begitu nyari2 huhu

    Ini di Lk21 udah ada nggak sih wkwkwkw
    #KidsJamanNow

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaelah Aul fokusnya ke bagian obat kuatnya anjir. Wkwkwk.

      Saya sebenarnya nonton film-film ini udah lama juga, Ul. Tapi tau sendiri saya kemarin-kemarin sering vakum ngeblog, jadi tulisan reviewnya hanya berakhir di draft. Hehe.

      Delete
  3. Waah jadi kepengen nonton nih mba :)
    Kalo mba rate film ini dari 1-10, dikasi nilai brapa mba?? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau film saya nggak berani nge-rate mbak. Apalagi romance. Saya amatiran XD

      Delete
  4. Sampai sini masih saya pantau.

    sepertinya beberapa waktu lagi, namanya bakal jadi "Tipi Ke Mana Saja". semuanya review pileeeeemmmm dari kemaren2.

    saya mah nggak begitu maniak film yak, palagi film romance gitu. beda halnya klo film animasi kayak Coco, monster universe... demen banget. tambah lagi pilm kamen rider. xD
    jaid walo sebagus apapun review atau sengena apapun ama kehidupan yg ditinggalin nikah ama mantan dan sahabat, tetep nggak tertarik nonton. etapi klo bukunya boleh lah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ANIMASI DAN ANIME TETEP NOMOR SATU.

      Tapi biarlah saya menyelesaikan draft saya satu per satu, Haw. Akan ada masanya nanti saya review full sebulan komik dan anime. Tinggal tunggu waktu sih, ehe.

      Delete
  5. Sedatar hidup saya, sedatar aset saya hmmm -_- ternyata mbak mayang penganut aliran flat earth.

    saya tidak bgitu suka denga film yang genre begini, jadi skip aja dan lanjut cari obat kuat nya. XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. HEH. JANGAN SEBUT FLAT EARTH DISINI YA, ADI.

      Mau disunat lagi?

      Delete
  6. Hmm.. Kalo dibaca review endingnya.. Ane rasa wajar.. Mereka emang couple? Bukan!!! Itu pembokat sama majikan.. Muhehe.. Gak kayak ftv tukang jamu bisa jadi sama orang kaya tujuh turunan.. Mungkin saat mereka memutuskan jadi couple baru chemistry yang beda bisa ditunjukin..

    Ini apa? Belum nonton filmnya udah sok2an*gebukin

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHAHA. Pembokat sama majikan. Ngeselin ya analogi kamu. Ah, tapi orangnya juga ngeselin. Sampai pingin nyleding.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.