Welcome To Imaginary City

Imaginary City - Rain Chudori

Tidak banyak novel romantis yang mampu mengambil hati saya. Maka saat saya mengulasnya, berarti saya menyukainya. Berarti novel tersebut bagus menurut saya.

Sok-sokan banget, May.

Ada nih, seorang novelis kisah cinta yang dari awal kepenulisannya penuh dengan skandal followers Twitter dan beberapa masalah lain yang mengiringinya beberapa tahun lalu. Mulanya, saya mencoba membeli satu bukunya (kebetulan buku pertama sih) dan saya merasakan kehambaran yang tak terdefinisikan. Seperti makan nasi lauk saos sambal botolan di akhir bulan.

Lalu, saya tidak berhenti disitu. Saya beli lagi tuh buku ketiganya. Saya baca. Namun lagi-lagi, saya merasakan kehambaran yang kedua. Setelah itu saya stop dan tidak pernah mengikuti tulisannya lagi. Sesekali saya hanya melihat cuitan di blog pribadinya.

Eh, waktu saya lulus dan wisuda, salah satu teman saya memberikan kado sebuah novel yang pengarangnya adalah penulis ini. Karena itu adalah buku kesekian yang ia terbitkan, saya mencoba membaca lagi. Siapa tahu ekspektasi saya meleset dan cerita cinta yang ditulisnya kali ini bagus. Namun lagi-lagi, saya diserang kehambaran kali ketiga. Hm. Lalu saya bakar bukunya untuk kemudian dibuang ke rawa-rawa.

Hehe. Nggak deng. Cnd.

Padahal saya merupakan penikmat teenlit dan chicklit nomor satu di garda terdepan. Tapi untuk novelis yang satu ini (bahkan novelnya bukan sekelas teenlit), saya belum menemukan kecocokan dengan storyline kisah cintanya. Sejak SMP, saya suka membaca novel cinta-cintaan bodor yang FTV banget (meskipun saya nggak suka FTV). Kalau kalian pernah mendengar nama Luna Torashyngu (novel Lovasket series), Esti Kinasih (novel Cewek, Still, Fairish, dan Trilogi Jingga), dan Dyan Nuranindya (novel Dealova), itulah beberapa nama penulis novel teenlit favorit saya. 
Jajaran novel Esti Kinasih

Dan setelah beberapa tahun saya tidak membaca novel bernuansa romantis (terakhir yang saya baca adalah trilogi Dilan dan Milea), saya mencoba menelusuri Gramedia untuk menemukan referensi baru. Yakali bacanya novel thriller mulu. Saya juga butuh novel cinta-cintaan untuk menyeimbangkan kejiwaan saya yang agak geser.

Mungkin jodoh, bisa pula dikatakan takdir, saya menemukan novel karya Rain Chudori ini. Mulanya saya blank sejenak. Ini siapanya Leila S. Chudori ya? Pengarang yang menulis novel Pulang (2013). Kok namanya sama-sama Chudori. Tambahan, Leila S. Chudori juga baru menelurkan sebuah buku dengan judul Laut Bercerita (2017) di bulan yang sama dengan terbitnya novel Rain Chudori ini.

Ternyata setelah saya cari tahu, keduanya memang memiliki hubungan erat. Leila jadi ibunya, Rain jadi anaknya. Sungguh kebetulan yang luar biasa bahwa ibu dan anak bisa menerbitkan novel mereka di saat yang nyaris bersamaan. Bahkan, pihak Gramedia sempat menuliskan ucapan selamat atas terbitnya buku ibu dan anak ini. Gokil. Gokil. Gokil.
Adakah hubungannya dengan Klan Stark?

Novel berjudul "Imaginary City" ini merupakan novel pertama Rain Chudori. Isinya, full English. Saat ditanya mengapa Rain tidak menuliskannya dalam Bahasa Indonesia, ia menjawab dalam sebuah wawancara, bahwa menulis dalam Bahasa Indonesia tidaklah mudah baginya dan butuh skill menulis yang lebih lama daripada menulis dalam Bahasa Inggris. Dia belum percaya diri dalam menulis menggunakan Bahasa Indonesia. Anomali kan. Padahal doi orang Indonesia, guys. 

Setelah membayar, saya pun lekas pulang untuk kemudian membaca buku ini di kamar kosan. Saat hujan. Bersama dua gelas teh tawar panas. Di dekat jendela. Sambil memasang playlist lagu dengan tema "Membaca Cerita Cinta". Isinya tidak jauh-jauh dari lagu milik Secondhand Serenade, Jason Mraz, Pagi Tadi, Payung Teduh, dan Afternoon Talk. And the dance begins.

--- [] ---

Welcome to Imaginary City...

Selamat datang di sampul buku yang desainnya bohemian classic sekali. Ada sebuah potret kursi rotan dan meja kayu hasil plituran yang warnanya nyaris keemasan. Di atas meja dilengkapi semangkuk es krim berwarna merah jambu, sepertinya rasa strawberry. Rain seakan mengajak pembaca untuk menikmati buku ini dengan keadaan yang sama. Berdamai dengan kesederhanaan. Ini unik. Ini bukan desain sampul yang berupa ilustrasi. Ini gambaran nyata. Dan cerita di dalamnya, meskipun fiksi, ternyata rasanya sangat nyata.

Sebelum memasuki bab demi bab, kita akan disajikan sebuah peta Imaginary City yang merupakan peta beberapa tempat di Jakarta. Ya. Cerita dalam novel ini mengambil latar tempat di Jakarta. Ada beberapa tempat legenda yang menjadi tujuan kedua tokoh utama dalam cerita ini. Beberapa di antaranya adalah Kafe Rooftop di Kemang, Pelabuhan Tanjung Priok, Pasar Kue Subuh Senen, dan Museum Nasional. 
Peta Imaginary City

Buku ini baru cetakan pertama, namun sudah ada pesan kesan dan review singkat beberapa rekan sesama penulis. Salah satunya adalah Aan Mansyur yang berkomentar bahwa buku ini "captivating". Lalu pada beberapa lembar setelahnya, ada sebuah kalimat pembuka yang sungguh membuat baper teramat sangat. 

For Jakarta, where it all began. For you, where it all ended.

Sebuah quote yang cukup menggambarkan keseluruhan cerita di dalamnya. Sampai-sampai saya berpikir bahwa ini pasti sad ending nih. Pasti sad ending. Dan beberapa lembar di dalamnya, menguak segalanya. Dengan daftar isi berupa tempat-tempat yang menjadi tujuan kedua tokoh disini, Rain membawa pembacanya untuk berjalan-jalan mengelilingi Jakarta dengan caranya sendiri. Menjadikan Jakarta sebuah kota imajinasi yang penuh kenangan tersendiri.

Sepasang kekasih bertemu di Jakarta...

Setelah sekian tahun tidak menyapa. Keduanya adalah teman masa kecil yang bertemu pertama kali saat usia belasan. Dan sekarang si perempuan sudah bekerja menjadi seorang penyair yang menuliskan barisan puisi dengan jemarinya. Sementara si laki-laki adalah seorang arsitek. 
Gambar hanya ilustrasi

Keduanya terlibat kisah cinta yang menurut saya, maaf, cukup unik sekaligus rumit. Saya bilang begini karena memang keduanya merupakan tokoh tanpa nama. Rain hanya menuliskan pronoun "she" dan "he" untuk menggambarkan kedua karakternya. Anjir, ini sih fix bikin penasaran. Saya jadi berandai-andai kalau mereka namanya Mayang Dwinta dan Dave Franco. Sungguh cihuy sekali, bukan? 

Tokoh perempuannya lalu menceritakan bahwa ia ingin memiliki sebuah kota penuh imajinasi yang dia buat sendiri. Dimana ia dan kekasihnya bisa berjalan-jalan menikmati hari dan membunuh waktu. Berdua. Tanpa memikirkan orang lain di sekitarnya. Dan si laki-laki dengan tatapan penuh cintanya meminta kekasihnya untuk mendeskripsikan kota imajinasi itu secara detil dan rinci. 

Sepasang kekasih menciptakan dunia mereka sendiri...

Dan begitulah mereka bertemu. Setiap malam hingga menjelang pagi. Menjajaki setiap sudut Jakarta dan melabelinya sebagai imaginary city milik mereka berdua. Emosi keduanya yang naik turun dan perdebatan dengan berbagai tema, turut mewarnai kisah cinta yang disajikan Rain dengan epic ini. 

Tidak ada konflik nyata, tapi mereka berpisah seakan keduanya semena-mena. Ada beberapa halaman yang menjelaskan bahwa betapa mereka saling cinta, mereka tidak akan pernah bersama. Mereka juga selalu berkeinginan untuk membangun sebuah kota imajinasi milik mereka sendiri. Mereka berandai-andai ini dan itu. Membuat saya gemas, kesal, dan penasaran. Ini kenapa nggak langsung nikah ke KUA aja sih biar beres? Kesannya tarik ulur tarik ulur. Udah kayak permen karet yang dikunyah lama.

Aqutu nggak bisa diginiin ~

Hm. Kenapa jadi saya yang baper.

Namun setelah saya membaca lembar demi lembar setelahnya, ternyata ada alasan mengapa mereka hanya bisa bertemu di malam hari, jalan-jalan sampai menjelang pagi, dan tidur bersama sejenak untuk kemudian bangun, saling memeluk, dan melakukan morning talk. Membicarakan kota imajinasi mereka. 

Dengan segala stagnansi dalam novel ini, Rain justru bisa membuat saya jatuh cinta. Tidak ada effort lebih seperti bumbu pertengkaran atau skandal yang berarti, namun saya justru mencintai buku ini. Ini sederhana. Sesederhana pasangan yang terhalang alasan untuk bersama dan berandai-andai untuk membangun tempat asing milik mereka sendiri. Tempat dimana mereka akan memulai hidup baru tanpa adanya orang-orang lama atau masa lalu yang membatasi kisah cinta mereka. Mereka bebas dalam kota imajinasi yang mereka buat sendiri. Milik mereka sendiri. Yang lain ngontrak.

Saya jadi berpikir hal yang sama. Sampai sekarang, saya masih menginginkan untuk pergi ke belahan bumi lain atau bahkan planet lain untuk memulai hidup baru. Meninggalkan masa lalu. Ke tempat dimana saya bisa menjadi orang baru, dengan identitas baru. Entahlah bagaimana saya akan beradaptasi, tapi saya pasti bisa. Dan saya akan hidup disana selamanya sampai mati. Oke. Ini imajinatif sekali. Tapi bukan berarti tidak bisa menjadi kenyataan, bukan?

Sepasang kekasih berpisah di Jakarta...

Dan novel Rain diakhiri dengan manis tentang bagaimana kedua tokohnya merefleksikan diri terhadap perasaan masing-masing. Di bagian belakang buku, ada ulasan singkat yang mengatakan bahwa kedua karakter dalam tokoh ini terlibat "beautiful affair". Menurut beberapa kamus dan rujukan, affair memiliki beberapa definisi.

1) An intense amorous relationship, usually of short duration. - Thesaurus
2) A sexual relationship, especially a secret one. - Cambridge
3) A romantic or passionate attachment typically of limited duration. - Merriam Webster  

Ketiga definisi tersebut mengarah pada semua kejadian yang ada di dalam novel ini. Ini masuk akal. Makanya, sepsang kekasih ini hanya bisa bertemu di malam hari. Kalau asumsi saya sih, pasti ada alasan mendasar yang membuat keduanya hanya bisa bertemu di jam-jam manusia lain sedang asik bercumbu dengan kasur. Dalam buku ini tidak dijelaskan apa alasannya, sehingga pembaca bebas berfantasi dengan imajinasinya sendiri. Namanya juga Imaginary City. Semuanya penuh imajinasi. Tapi konteks realis dalam novel ini sungguh kentara. Apalagi jika kita sudah pernah mengunjungi salah satu tempat yang disebutkan di dalam peta.

--- [] ---

Sejauh saya membaca buku dengan jumlah halaman 112 ini, saya mendapatkan puluhan quote romantis tentang hidup dan cinta. Ini tidak biasa. Mengingat beberapa quote beginian hanya terkesan angin lalu dan gombalan klise yang tanpa makna, Rain justru bisa menyajikannya dalam bentuk yang manis dan penuh candu. Salah satunya adalah saat sepasang kekasih ini membicarakan tentang kekuatan hasrat (willpower).

The only thing you can be sure of in the world is yourself. - hlm. 14

Ada juga momen dimana keduanya saling membicarakan hal-hal yang disukai. Si perempuan bilang menyukai pantai dan si lelaki kemudian berkata, "I want to be the ocean". Dan hal ini terulang beberapa kali. Ia selalu ingin menjadi apa yang disukai perempuannya. Tempat, makanan, dan momen. Ia akan menjadi apapun untuk kekasihnya. Yah, dari sini saya agak hening juga sih. Soalnya rada FTV. Tapi mau bagaimanapun juga, ini manis sekali. Saya sampai merasa seperti habis nenggak gula satu kilogram saking manisnya.

You are the only one who can tell me how to get home. - hlm. 94

Mereka juga membicarakan tentang rahasia dan menyatakan bahwa keduanya adalah rahasia untuk satu sama lain. Well, ini adalah satu clue yang mengarah pada alasan bahwa mereka tak bisa bersama. Si lelaki menyatakan kesepian karena ia terikat. Sementara si perempuan menyatakan kesepian karena ia bebas. Dua-duanya seperti membentuk agony untuk saling melengkapi, tanpa saling memiliki. Keduanya saling membutuhkan, tapi tanpa ikatan.

Sungguh cara yang halus untuk mati pelan-pelan.

--- [] ---

Setelah membaca ini, saya jadi tahu bahwa jatuh cinta sungguh melelahkan sekaligus membahagiakan. Bagaimana kita bisa menghakimi diri sendiri yang menjadi bodoh dan cerdas di saat bersamaan. Dan Rain, dalam bukunya yang berjudul "Imaginary City", menawarkan salah satu kisah cinta paling sederhana dalam kehidupan. 
Gambar ini juga ilustrasi

Kisah cinta yang murni, tanpa peduli bahwa keduanya akan bersama selamanya atau tidak. Karena baik bersama maupun terpisah dalam kehidupan nyata, keduanya sudah kekal dalam kota imajinasi milik mereka sendiri. Dan itu cukup bagi keduanya untuk bertahan hidup.





Pictures are taken from:
http://yoanmareta.blogspot.co.id/2011/07/group-jingga-matahari-senja-on-facebook.html
https://www.facebook.com/gramediacom/photos/a.358403640898589.83797.185156571556631/1688238757915064/?type=3
https://seleb.tempo.co/read/1025888/imaginary-city-novel-pertama-rain-chudori
http://www.todayschristianwoman.com/articles/2003/january/i-had-affair.html
https://www.freepik.com/free-photos-vectors/couple
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

16 Comments:

  1. Saya udah lupa kapan terakhir baca novel.. mungkin sudah lebih dari 5 tahun yang lalu :D paling baca buku nya Raditya Dika XD
    btw, salam kenal ya mba :D followback blog saya jika berkenan ^_^ terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ayo baca buku lagi. Asik loh, menghidupkan fantasi dari sebuah tulisan :)

      Salam kenal. Oke, saya main kesana ya.

      Delete
  2. Aaaa ini kok kayaknya mesti beli novel ini dan baca langsung ya.. Jd ngiler nih, keren bgt ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beli yuk, Ella. Worth banget kok novel Rain Chudori ini :)

      *lah kok saya malah kayak jualan*

      Delete
  3. Pengen satu dong novelnya. ceritanya agak menggantung sih

    ReplyDelete
  4. saya kurang suka dengan cerita romance, tapi eggak semuanya
    ada beberapa yg suka juga

    sering keinget mantan wkwkwkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wajar kok. Mantan memang buat diingat. Kalau diulang, hm, entahlah.

      Delete
  5. Kasitau siapa seleb medsos yg bukunya hambar itu, kali aja org yg dimaksud sama seperti seleb yg membuat saya kesel pas baca bukunya.

    ReplyDelete
  6. gile, keseringan baca novel thrailler jadi pelariannya baca novel romance gitu ya?
    ini beneran penulisnya itu anak dari penulis juga? wah keren. terus bisa menciptakan buku d waktu yang bersamaan. ini pas penulisan, nongkrong bareng gitu kali ya?

    wah, jdi pengen baca juga nih novelnya. apalagi bisa membayangkan bahwa diri kita adalah si tokoh utama d novel itu karena ga ada namanya ya. bakalan seru sih itu.

    tapi itu emang bener ya, saling melengkapi tapi tanpa perlu ikatan akan berakhir mati perlahan gitu? anjir. kok gue jdi ngerasa kesindir gitu ya. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muahahaha. Saya suka novel genre apa aja kok, Zi. Asal ya itu tadi, nggak hambar. Beneran, itu ibu dan anak. Kece kan? Mungkin waktu nulis mereka barengan di Setarbaks. Saya juga udah membayangkana tuh, sama Dave Franco. Surgawi sekali.

      Kesindir gimana? Bukannya hubungan kamu sama perempuan berkumis tipis lancar-lancar aja? XD

      Delete
  7. Seperti biasa, review buku dari Mayang selalu rapi pi pi pi pi pi pi. Rapi, cermat, dan tentu aja ditulis pake hati. Niat banget gitu. Tapi kenapa ada Dave Franco segala elaaaah. Hahahahahha. Aku juga suka Dave Franco, tapi aku harus setia pada Paul Dano dan Ezra Miller. Yuhuuu.

    Baca ini jadi ingat kalau aku nggak serakus kamu dalam menerkam novel. Aku jadi ingat masih ada beberapa novel yang belum kebaca. Ada Dilan yang aku beli kapan tau karena tergiur saran Robby (atau Yoga ya? lupa). Ada seri Supernova yang belum aku baca semua. Aku ketinggalan banget kalau soal novel. :(

    Btw, May. Bisa kali ntar kasih tau lagu apa aja yang ada di playlist Membaca Cerita Cinta. Lagi pengen cinta-cintaan nih malam Minggu ini. Ehehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahahaha, makasih Ichakhai-ku, sayang. Padahal ini amatiran anjir X(

      Entah kenapa duo Franco itu benar-benar menggemaskan. Nggak kakaknya, nggak adeknya. Tapi kalau kakaknya ketuaan. Jadi aku milih adeknya aja, Cha. Iya, harus konsisten sama Ezra yaaa. Kalau ketawa segaris, sama kayak kamu.

      Supernova series yang dulu dikasih siapa ya? Duh aku lupa.

      BISA, NANTI AKU WASAPPPPP.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.