Kepadamu, 10 November 1945


SELAMAT HARI PAHLAWAN!

Mungkin postingan ini telat 8 hari, namun hari pahlawan seharusnya tidak berhenti diperingati, iya kan? 10 November 1945 memang menjadi salah satu titik ekivalensi perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Mungkin sebagian besar dari kita, selalu mengingat peristiwa tersebut karena memang penjelasannya dituliskan di buku-buku mata pelajaran Sejarah dan setiap tahunnya akan diceritakan ulang oleh guru di sekolah. 

Peristiwa 10 November 1945 erat kaitannya dengan upaya penguasaan kali kedua oleh Belanda. Rupanya Belanda memang gagal move on dan ingin balikan. Setelah digantikan era pendudukan Jepang yang hanya berlangsung sepersekian persen tahun dibandingkan mereka, Belanda ternyata ketagihan kembali ke Indonesia. Mungkin karena... Perempuan Indonesia cantik-cantik. Ehe.

Maka untuk kali ini, ijinkan saya berbagi sepatah sajak yang tertulis dari curahan pikiran dan hati. Di beberapa diksinya, merupakan sebuah cerita implisit yang turun temurun dan melegenda. Tentang kakek saya dan duka yang menenggelamkan kenangan di mata keluarga.

----- [] -----


OST: Shanna Shannon - Gugur Bunga


"Perkamen dan Tapak Dara"

Dulunya, ibu sering bercerita
Tentang perkamen dan tapak dara
Bagaimana menjahit duka di jaman perang
Saat para lelaki hilang satu-satu, dipenggali

Ibu selalu mengenang perkamen kakek
Berisi panggilan untuk membantu perang
Katanya, kakek adalah satu yang tewas pertama
Di tangan para Belanda
Selepas pergi dua bulan, kakek tidak nampak
Sedih yang dirasa nenek mulai mengepak

Jenazah kakek tidak pernah pulang
Kabar kematian tidak pernah datang
Dan roda kehidupan semakin jalang

Ibu dan nenek hidup terkatung
Kadang berdagang kayu, kadang mendapat pilu
Satu dua, ibu mulai menanam bunga
Tapak dara adalah favorit kakek saat membujang
Pun juga saat menikah dengan nenek sebelum perang

Setelah nenek tiada pula
Ibu kadang melamunkan diri di dekat jendela
Memegang perkamen tua, mengelus tapak dara
Terkadang juga menyulam kenangan dengan tangis lara

MDT - 10 11 2017


----- [] -----


Bagi saya, puisi adalah cerminan perasaan diri karena logika sedang berhenti. Touche.

Postingan ini adalah bagian dari #ProjectLocktober kedua yang akan ditulis dengan label "Nulis Puisi" ke depannya. Mengikuti jejak label "Nulis Cerpen" yang sudah ada di postingan sebelumnya. Saya masih amatiran dalam merangkai puisi dan nada. Tapi percayalah, sajak di atas tak ubahnya seperti dahan tua yang rapuh. Jika tidak dipatahkan, justru akan membebani pohon induknya. Dan kekata ini, jika tidak dikeluarkan, mungkin akan menjadi kenangan lara selamanya. Melankolis dikit boleh lah ya? 

Jadi, semoga menginspirasi dan jangan berhenti mencoba menulis puisi. It never gets old.





Pictures are taken from:
https://twitter.com/kompastv/status/631848598804631552
https://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/rahasia-dibalik-perang-surabaya.htm
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

24 Comments:

  1. ((Belanda gagal move on))

    Ini pngalaman pribadi tntang kakeknya? Sedihhh :( Gak kbayang sedihnya sang nenek dn juga ibumu saat itu yaaa... Mnunggu kakek pulang.. Tp diketahui udh meninggal tnpa tau dmna jasadnya :'(

    Lanjutkan trs nulis puisinya ya! Ku tdak pernah bsa berpuisi. Apa gak prnah nyoba kali ya? Suka ngerasa aneh aja klo tbtb ku nulis mellow :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Lu. Ini cerita turun temurun di keluarga sih, jadi kakek saya adalah korban pembunuhan massal waktu jaman orba dulu :)

      Coba dulu satu bait, Lu! saya juga sukanya asal nulis sih kalau puisi. Kalau lagi ada ide atau melo gitu pasti jadi satu dua bait. Hehe X)

      Iya, template-nya sedang under construction ini. Muehehe :v

      Delete
  2. Tapak Dara kirain apaan, itu ternyata nama bunga, ya? Hm, dulu sering nemu bunga itu di deket rumah. Banyak banget tetangga yang nanem itu bunga. Sekarang entah ke mana. :|

    Cukup asyik di beberapa bagian, rimanya pun dapet. Saya udah lama nggak bikin puisi sepanjang ini. Biasanya sebait udah cukup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, yang ada warna putih dan ungu itu, Yogs. Daunnya sering dipakai buat rajang-rajangan waktu main pasaran, ahahahaha X)

      Saya masih sering di kaskus. Buat saya puisi udah kayak udara. Kalau nggak nulis seminggu sekali bikin sesak napas.

      Delete
  3. Aku pergi menyongsong asa
    Melawan mereka yang mencipta luka
    Aku tahu mungkin kehilangan jumpa
    Perkamen berjanji untuk terus menulis kata

    Di sana aku memasang mata
    Menyergap dan menoreh luka
    pada mereka yang diteriaki belanda

    schieten... schieten... schieten...

    teriakan ketiga tubuhku terpental
    satu peluru mendarat, mataku tersumpal

    Perlahan istri dan anakku membayang
    Mereka membelah kayu untuk berdagang
    Teringat pula saat aku membujang
    Memandang tapak dara dengan senyum mengembang

    aku belum bercerita padanya
    tapak dara hanyalah alibi belaka
    karena saat dia melintas aku memerintah mata
    "ikuti tiap geraknya"

    begitu pun saat dia berbalik badan
    aku menyuruh mata berganti pandangan
    waktu itulah tapak dara jadi sorotan
    lama dan terus kupandang sebagai pengalihan

    mungkin dia mengira aku begitu mengagumi tapak dara
    nyatanya, aku sangat mengagumi dia
    sampai tak kuasa menatap lebih lama
    terasa kecil nyali dengan denyum dna kerlingan matanya

    namun biarlah, semoga tapak dara menjadi sejarah
    agar aku terus di sukmanya walo sudha menjadi arwah
    kini tanah yang tertindih badan sudah penuh darah
    moga kalian terus dijaga sang Maha Megah

    ReplyDelete
  4. Bisa nulis review, bisa nulis resep masakan, bisa nulis cerpen, dan bisa nulis puisi. Bu Guru Mayang memang multitalent.

    Sedih baca puisinya, May. Aku jadi ngebayangin Katy Perry di ending music video The One That I Got Away pas baca "Ibu kadang melamunkan diri di dekat jendela. Memegang perkamen tua, mengelus tapak dara. Terkadang juga menyulam kenangan dengan tangis lara." Huhuhuhuhu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah iya, jadi kayak vidklip Katy Perry yang onoh. Besok-besok kalau ibu keliatan ngelamun lagi di deket jendela, mau saya samperin dan saya setel lagu ini keras-keras di dekat telinganya. Makasih, Cha!

      Delete
  5. Ahhhhh :'(
    So sweet
    But so sad

    Mari kita doakan semoga beliau syahid
    Karena tiada dalam sebuah perjuangan

    Awesome worddssssss
    Pemilihan diksi nya indahh
    Jadi pengen nulis puisi lagi

    Udah berapa abad yaa aku gak pernah nulis puisi lagi huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Makasih, Ul.

      Emang umur kamu udah berapa abad?

      Delete
  6. Otak saya disuruh kerja keras kalo baca puisi

    salam kenal aja deh, mampir sini dari blognya mas yoga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa perlu saya bacakan?

      Oke terima kasih, salam kenal juga ya :)

      Delete
  7. Titik ekivalen. Ya ampun, inget percobaan titrasi. :')

    Jadi inget puisi yang dibacain salah satu mahasiswa dari Riau waktu ikut aksi 3 tahun Jokowi-JK beberapa minggu yang lalu di depan Istana Presiden. Puisi-puisi soal perjuangan dan pergerakan lagi suka banget gak tau kenapa.

    Mengutip lirik lagu Darah Juang, "Bunda relakan darah juang kami. Padamu kami mengabdi."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahahaha, iya juga titrasi ya. Dedek Robby emang calon alkemis andalanque.

      Saya kalau dibacain puisi dengan teman begini sampai merinding, Rob :')

      Delete
  8. sedih, begitu banyak yg gugur namun sedikit yg terkenang.

    ReplyDelete
  9. Aku bacanya terharuuu banget, ah semoga beliau mendapat tempat terindah yaa.. Ku kok jadi baper belanda belum move on, wkwkwk

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.