Justice League: Liga Keadilan Pembasmi Generasi Micin

Liga Inggris

Hari Jumat kemarin, beberapa teman memang mengajak saya untuk menonton film-film yang running di bioskop. Beberapa di antaranya ada film luar dan dalam negeri. Suasana sore yang dingin-dingin anjay karena hujan lebat seharian, membuat mereka bahkan menyewa Gocar untuk menuju ke bioskop. Manja.

Saya juga ditawari ikut, tapi saya masih ada jadwal ngajar les hingga sore. Selain itu, rupanya film yang ditawarkan (maaf), saya nggak tertarik. Yang perempuan ingin nonton film horor Indonesia di Solo Square, sementara yang laki-laki ingin nonton film tawuran ala China yaitu Chasing The Dragon di Paragon. Akhirnya saya skip dan tidak ikut keduanya. Saya maunya nonton Justice League. Titik. Karena saya sudah menunggu cukup lama akan kehadiran film ini. Bahkan sejak desas-desus pembuatannya santer tahun lalu.

Selesai mengajar, saya lekas memacu motor menuju Grand Mall, tempat dimana bioskop 21 berada. Sebelumnya saya sudah mampir XXI sih, tapi semua tiket sudah booked sampai midnight. Pedih. Mau tak mau, karena saya sudah ngidam nonton dari lama, akhirnya saya pindah ke 21. So far, harga tiketnya lebih miring. Tapi kualitas dolby sound-nya juga berbeda sekali. Ada harga, ada rupa. Sungguh pepatah yang tak terbantahkan.  

Saya mendapatkan kursi sisaan yang hanya tinggal dua biji. Dua biji, Sis! Tapi tak apalah, setidaknya masih bisa nonton dan nggak pulang dengan tangan hampa atau nonton film lain di luar rencana. Kursi nomor E 15 menjadi spot saya hari itu. Pojok, tapi deretan tengah. Oke. Baiklah. Dengan senyum lebar karena akan menonton film kembaran (Gal Gadot), saya memasuki teater dan mencari kursi bakal menonton saya.
Murah banget anjis

Kondisi teater penuh semua anjaaaay. Semua membawa teman, keluarga, dan pasangan. Tapi saya nggak masalah sih. Saya juga kurang suka kalau menonton dengan teman yang tidak paham tentang prekuel-prekuelnya atau tidak mengikuti film sebelumnya. Yang ada nanti mereka ngrecokin. Yang ada nanti saya hilang fokus dan butuh aqua. Yang ada nanti terjadi pembunuhan di dalam bioskop. #lah

Jadi, menonton sendirian adalah jalan ninjaqu. Yuhu ~

Namun ada satu yang mengganggu saya sepanjang pemutaran film. Tiga gerombolan perempuan yang seat-nya ada di depan saya, justru asik bermain instastory dan WhatsApp Story. Mereka bukan nonton filmnya, tapi malah mainan hape. Dari awal duduk waktu di layar masih iklan, mereka sudah selfie berpuluh kali. Ini sih alamat ke depan bakal lebih parah.

Tapi masih saya diemin aja.

Film dimulai dengan rekaman 3gp Superman (Henry Cavill) yang sedang diwawancarai oleh anak-anak. Yah, semacam kilas balik dulu, kenapa orang ini nggak ikut di dalam film. Tiga perempuan di depan saya langsung bisik-bisik tetangga. Sekilas saya melihat ada yang membuka kamus digital atau kamus aplikasi di hape gitu lah. Saya jadi mikir, ini film perasaan udah ada subtitle-nya, kenapa pakai kamus segala. Memangnya mau ujian TOEFL?

Masuk ke scene awal dimana Batman (Ben Affleck) menampakkan kakinya, mereka justru snapping foto ke layar lagi dan lagi. Nggak ngerekam sih. Foto doang. Tapi buanyak banget, gila. Saya yang mulai terganggu akhirnya ngintip sedikit ke depan. Dan tahukah kalian, sodara-sodara? Mereka buka kamus karena mau bikin caption foto yang diunggah di Instagram. Brengsek betul.

Tapi masih saya diemin aja.

Pengenalan masing-masing superhero yang terlibat ditampilkan secara tergesa-gesa. Ibarat makanan di warung, ini bukan paket lengkap. Nggak ada lalapan, sambelnya dikit, dan bahkan nasinya hanya separuh. Ngeselin. Dengan durasi yang lebih manusiawi daripada film pendahulunya (BvS), menurut saya film ini terlalu rapat, terlalu cepat, dan terlalu mudah ditebak. Nggak greget. Beberapa bahkan ada holes di scene-nya yang padat itu. By the way, saya ngetik padat kok rasanya nggak enak banget ya kalau dibaca.

Waktu memasuki scene Barry Allen (Ezra Miller) dan Victor Stone (Ray Fisher) pindah profesi sebagai tukang gali kubur, saya tertawa ngakak. Namun bioskop hening. Dan saya juga heran ya, sepertinya Solo basis penggemar DC-nya sedikit sekali deh. Sepanjang nonton, kayaknya cuma saya yang ketawa sendiri. Atau memang standar ketawa saya menjadi receh? Saya pun tak tahu. Penonton lain (meskipun bioskopnya penuh), hanya diem. Atau pura-pura diem karena melakukan hal lain? Maklum jam nonton malam hari, yakan? Who knows. 

Saya yang biasanya kalem kalau nonton film, bisa dibuat cekikikan karena kelakuan pacarnya Icha (Ezra Miller) yang crunchy. Renyah-renyah nggak jelas. Dan gesrek. Ini juga yang membuat saya terkesima dan tetap bilang bahwa film ini bagus banget. Jokes-nya dapet, seriusnya dapet, gokil pokoknya. Film Justice League ini membuktikan bahwa aura dark di film-film DC bisa berubah menjadi lebih colorful. Ini juga karena adanya film pendahulunya yang cukup bagus, Wonder Woman.

Saat scene pertempuran dengan Superman yang bangkit dari kubur, tiga perempuan yang ada di depan saya mulai menggila. Mereka membawa popcorn dari luar dan entah mengapa, popcorn-nya justru tidak dimakan. Mereka malah saling melempar popcorn menggiurkan tersebut kesana kemari. Sialan. Saya semakin kesal. Tambahan nih, sejak 5 menit masuk ke dalam teater, sebenarnya saya kebelet pipis. Dan lapar. Tapi saya nggak mau ijin keluar karena takut ketinggalan barang satu detik pun. Nggak mauuu.

Ini udah nggak bisa didiemin.

Maka melihat kelakuan mereka bertiga, rasanya cacing di perut saya menabuh genderang untuk perang. Oke. Ini saatnya. Mereka harus mendapatkan pelajaran. Akhirnya, dengan tiga kali tekel menggunakan kaki, saya tendang kursi mereka satu per satu dari belakang. Mau orang di samping kanan saya kaget karena keanarkisan saya juga, bodo amat. Tapi ternyata, respon mereka menggembirakan.

"Kok nggak dari tadi sih nendangnya, Mbak? Saya udah kesel liatnya." Celetuk si mas-mas yang nonton berdua dengan pacarnya tersebut. 

Saya pun cuma bisa menjawab dengan "ehehe" dan kami bertiga tertawa bersama meskipun tidak saling kenal. Percayalah, menertawakan sesuatu dengan orang asing cukup membuat kita bahagia. Serius. 

Tiga perempuan tadi segera menoleh ke belakang, melihat kami bertiga satu per satu. Pasangan di samping saya langsung nunduk karena memang mereka nggak bersalah sih. Tapi waktu mereka melihat ke arah saya, saya senyumin sekalian biar tahu kalau saya pelakunya.

Hingga akhir film, mereka anteng banget. Masih mainan hape sih, tapi jadi anteng. Syukurlah akhirnya saya bisa menikmati film dengan tenang di sisa durasi 40 menit sebelum berakhir. Saya masih sempat nonton adegan klimaks-nggak-klimaks pertempuran enam superhero tersebut dengan tenang. Dan juga menikmati tubuh kotak-kotak Aquaman (Jason Momoa). Fyuh...
Junjungan emang nggak pernah bohong

Seperti yang saya katakan tadi, sebenarnya film ini bagus. Banget. Sayangnya ya itu tadi, kelima karakternya seperti dikesampingkan oleh kebangkitan dari kuburnya si Superman. Perangnya juga (maaf), tidak sesuai ekspektasi yang saya bayangkan. Mereka berenam lho. Musuh utamanya cuma satu. Tapi kok rasanya si Superman yang menguasai permainan dan yang lain bagaikan cameo belaka. Apalagi Batman, Bruce Wayne-nya, jadi letoy dan tidak bergairah pula. Kezel bat gua ~

Untuk sekelas film superhero keroyokan begini, villain-nya nggak impresif. Dia menang di awal karena berhasil nyolong-nyolong kotak milik ibu. Padahal ibu sudah tenang dengan loncengnya di alam sana kan. Ending-nya juga lagi-lagi, cepet banget. Belum puas ketawa karena melihat The Flash yang saling adu menolong penduduk dengan Superman, filmnya tiba-tiba udah kelar aja. Kalahnya gitu doang. Sekali lagi, gitu doang. Sebenarnya saya ingin membahas tentang CGI juga, tapi nggak jadi deh. 

Overall, film ini bagus kok. Meskipun ada cacatnya. Yah, namanya juga film. Kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa. Ya nggak? Tos dulu sini!

Sebenarnya saya tidak berniat membahas film ini di blog sih. Tapi karena teman-teman dan keluarga saya belum banyak yang nonton (karena waktu dan termakan spoiler duluan), sehingga saya belum bisa berkeluh kesah dan berdiskusi dengan mereka. Saya jadi butuh ladang untuk menyalurkan pujian positif dan pikiran protes saya terhadap film ini. 
Bersatu demi kemaslahatan umat berbangsa dan bernegara

Ngomong-ngomong, DC dan Marvel. Kalau ditanya, saya memang suka keduanya. Entah mengapa sampai sekarang, kalau disuruh milih, masih susah banget. Saya nggak bisa. Rasanya saya mencintai mereka secara seimbang. Ten-ten. Fifty-fifty. Dan kemunculan Justice League ini mengobati ketidakseimbangan sesaat saya yang masih belum bisa move on dari film superhero Marvel yang konyol, Thor. Beberapa minggu yang lalu.
Selesai film sampai after credit, saya cukup puas dengan apa yang saya saksikan. Meskipun sampai pertengahan film harus gondok dengan adanya tiga spesies makhluk alay tersebut. Itu pun saat keluar dari teater dan menuju lift, saya masih harus bersama dengan mereka. Kebetulan, mereka masuk lebih dulu dan saya belakangan. Saat lift sampai di basement, entah karena dendam atau apa, salah dua dari mereka bertiga menabrak saya dari belakang. Kanan dan kiri. Tapi saya diemin sih, karena nggak ngefek juga dan nggak membuat saya sampai jatuh terguling-guling seperti adegan The Flash yang ditubruk Superman.

Saya sebenarnya kurang suka kalau di bioskop ada yang bermain hape. Selain sinarnya mengganggu, mereka juga jadi berisik. Apalagi saat heboh minta barter foto. Lagian kalau mau nongkrong kenapa nggak di food hall atau food court aja sih? Nggak perlu di dalam bioskop juga kan. Mereka sampai bikin instastory hampir tiap lima menit sepanjang film diputar. Sampai waktu saya intip, stories-nya udah kecil-kecil banget sepanjang titik-titik di halaman daftar isi skripsi. Saya mau ngatain mereka anggota Micin Squad Generation (MSG), tapi takut micinnya marah karena nggak merasa punya anggota seperti mereka.
Sebuah quote

Saya jadi ingin membentuk Justice League juga. Liga Keadilan Pembasmi Generasi Micin. Sepertinya oke tuh. Jadi saya akan merekrut orang yang pikirannya lurus dan yang hidupnya nggak melulu soal sosial media. Dunia nyata lebih kekal, bosque. Semacam saya dan Yoga Eskrim gitulah. Kami bisa bersatu dan menumpas para generasi alay yang bermain hape di bioskop, kelompok yang bermain sosmed saat ngumpul bareng teman, dan kelompok-kelompok MSG lainnya. Ide bagus, bukan?
Liga Keadilan Pembasmi Generasi Micin

Yah, segitu dulu review film Justice League ini. Maaf kalau banyak curhatnya. Ehe. Yang jelas film ini bagus, konsepnya matang. Meskipun ada kekurangannya, tapi itu tidak mereduksi plot story secara keseluruhan. Dramanya oke, jokes-nya keren, dan karakternya gokil semua. DC tetap juaraaaaa ~

By the way, kalau mau baca review lengkapnya yang lebih bener dan nggak ampas begini, bisa main ke blog teman saya yang pacarnya Ezra Miller tadi, namanya Icha. Tapi saran saya, bacanya kalau kamu sudah nonton ya. Kalau belum, takutnya bisa menyebabkan pembatalan niat menonton, impotensi, serangan jantung, serta gangguan kehamilan dan janin. 





Pictures are taken from:
https://www.movieinsider.com/m4395/justice-league
https://weliveentertainment.com/welivefilm/justice-league-review-the-most-fun-you-will-have-at-the-movies-all-year/
http://www.thepictures.club/hashtags/simicin
https://dafunda.com/movie/gimana-kalau-tubuh-superhero-marvel-dan-dc-bersatu-lihat-wujudnya-di-sini/
https://finance.yahoo.com/news/justice-league-2-already-development-084513234.html
http://wegotthiscovered.com/movies/flashpoint-dc-spinoff-wonder-woman/
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

42 Comments:

  1. ((REKAMAN 3GP))

    MAYANG BANGSAT.

    Wah gercep ya, May. Salut salut salut. Ini memang udah direncanain jauh-jauh hari bakal nulis apa kecetus tadi malam, May?

    Nah iya tuh, scene gali kubur itu lucu. Tapi aku kehilangan fokus dah apa gimana ya, aku bingung kenapa mereka nggak pake kekuatan mereka buat gali ya? Jadinya kan biar cepet selesai. Apakah itu memang supaya jadi ajang mereka mengakrabkan diri aja ya? Bisa ngobrol gitu kalau gali kuburnya lama.

    AKU PENGEN TERIAKIN TIGA SPESIES ALAY ITU. HUH DASAR NORAAAAAAAK. Untung Mayang badass ya seperti kembarannya. Yaitu Wonder Woman. Dengan gagah berani nendang kursi mereka terus kasih senyuman maut. Mmmmmaaantaaaap. Kurang disleding aja lagi tuh empedu mereka satu persatu. Biar makin kapok. Anjir lah. Serusuh-rusuhnya aku nonton di bioskop, aku nggak pernah barter foto, insta story, buka sosmed. Hhhhh. Kalau buka hape sih pernah sesekali, buat nyatat poin-poin di film yang ditonton. Itupun aku kurangin banget pencahayaan hapenya terus aku tundukin. Huhuhu.

    Yeeeee seneng banget ada juga yang mengakui kalau Ezra adalah pacarku. Wkakakakaka. Hmm tulisan ini tidak ampas, May. Rapiiii banget. Kalau punyaku berantakan gitu.

    Btw kenapa memilih Yogaeskrim sebagai anggota liga? Apa karena dia sempat nggak main Twitter beberapa hari? Terus satunya lagi coba ditambahin, May. Siapa aja boleh. Asalkan jangan Reyhan. Karena dia sudah lekat dengan citranya sebagai Mr. gRey yang punya kekuatan menyiksa wanita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru kecetus semalam pasca komen di blog kamu, sayaaang. Karena rangorang belum banyak yang nonton, saya jadi belum bisa memaki-maki film ini. Akhirnya bikin review deh, pulang kerja tadi ngetik sejaman :'D

      Iya kan? Masa superhero gali kubur pake cangkul? Nggak make sense ini.

      IYA NORAK. Saya kalau inget kesel mulu, Chaaa. Rasanya mau saya rampok aja hapenya sekalian trus saya jual ke pasar loak. Ke bioskop cuma buat pamer doang, nggak ngikutin filmnya buat apa :(

      Iya, Yoga nggak main twitter, nggak main story, de el el. Sepertinya kami cocok untuk membentuk liga semacam ini. Benar kan? HAHAHAHA.

      Ini ngapa Rey kena lagi sih :v

      Delete
  2. ((pacarnya Icha))

    Kurang suka DC, selain Batman versi Nolan. Betul-betul nggak seimbang kayak seleramu itu. Saya condong ke Marvel. Kalau kebanyakan pahlawan emang kadang puyeng nontonnya, sih. Suka nggak fokus gitu. Lihat dari ulasanmu ini, semakin memantapkan hati buat nggak nonton. Wq. Syukur Marvel jarang mengecewakan saya. Civil War yang rame banget itu, asyik untuk dinikmati. Konfliknya pun mantap~

    Wqwq, itu kenapa saya yang diajak? Karena pernah beberapa kali vakum main medsos? Yah, meskipun ini udah era digital, saya tetap berprinsip kalau setiap hal yang ada di dunia nyata itu nggak perlu ditunjukkan ke dunia maya.

    Setiap update-an status atau lokasi tentu ada risikonya. Mungkin maksudnya ingin rekomendasiin tempat makan gitulah (atau seringnya pamer habis makan di restoran). Tapi kejahatan bisa terjadi dari situ, kan? Siapa tahu salah satu followers ada yang jahat.

    "Wah, duitnya banyak nih habis makan di restoran itu. Pulangnya bisa dijambret~"

    Atau, khayalan liar itu cuma ada di kepala saya? Wakakak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Save your self for the film indeed. Nonton dulu elah :( Kenapa ya orang-orang cenderung langsung "no" kalau DC dan tetep "yes" kalau Marvel. Yah mau bagaimanapun juga Marvel memang unggul, tapi nggak ada salahnya loh ngasih film-film DC kesempatan. Nonton dulu!

      Iya sih. Dan saya sendiri juga tipe demikian. Nggak sosmed-an, masih bisa hidup. Bahkan saya udah sempat logout IG tiga bulanan. Ini balik lagi sih, tapi tetep aja loginnya sekali-sekali doang. Karena menurut saya, nggak terlalu penting. Haha.

      Ah, nggak sama sekali. Saya juga sering mikir gini. Nggak cuma dijambret malah. Takut ketemu spesies Mr. Grey gitu.

      Delete
  3. Bedanya Mayang kalo review film sama icha. Kalo Mayang mah minta maaf mulu yak, udah kayak mpok Hindun.

    Emang paling nyebelin dah kalo nonton ada yang berisik, kalo posisinya di bahwa kita masih enak negornya, kalo yang di bagian atas. Makanya gue paling suka nonton kalo nggak seat B ya C, soalnya kalo yang di seat atas itu pasti niatnya beneran nonton, kecuali yang seat di atas tapi di pojok. Nah itu beda kayaknya.

    Sebenarnya ntah kenapa masih sedkit ragu mau nonton film ini, Sama kita, belum bias move on dari kampretnya Thor. Mungkin tetap nonton aja kalik ya, tapi ekspektasinya ditinggal di rumah aja, mehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya saya kalau film amatiran, jatohnya penikmat doang sih, San. Beda sama novel dan komik. Kalau buku saya bisa bahas A sampai Z tanpa minta maaf.

      WOY BEDA APANYA YANG SEAT ATAS POJOK? :')

      Iya nonton dulu. Nonton!

      Delete
  4. Hahah sempat ketawa saya baca judulnya, sungguh sangat kreatif yah mas. dan semangat nontonnya yah

    ReplyDelete
  5. Waaaah gilaaaaakkk mbak mayang hebaaat. Pas nih buat jadi temen nonton bioskop. Aku mah gak berani kayak gitu.. paling cuma sebel-sebelan aja trus dipendem dalam hati :( ahahaha..

    Eniwei,aku blom sempet nonton ini. haha, pengen banget.. pada heboh ngomongin ini. cuma aku sendiri yg belom nonton O_O

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kalau kesel sama orang langsung action soalnya, kadang main fisik sih, nggak pake ngomong atau gondok diem-diem. Ehehehe X) *tapi nggak berlebihan kok*

      Nonton. Belum turun layar kok, setidaknya sampai minggu depan mungkin.

      Eniwe, nama kamu lucuuu XD

      Delete
  6. Wah. . Abis kerja coba buka ini blog, denger cerita ente malah ngakak sejadi2nya

    Tuh 3 bedes gak ente sekalian tampolin aja sis, biar pada ilang karat2 di otaknya, biar bersihan dikit karna jarang dipake. . . (°~°)9

    Ane kalo ke bioskop (entah sendiri, ama pacar, ato temen) malah kebalikan tuh bocah2 alay. . . lebih sering diem, bukan buat fokus merhatiin film-nya sih, tapi cuman karna sering molor ditengah2 alur cerita @_@

    Dulu malah pernah kejadian, waktu nonton ama temen2 (waktu itu nonton sherlock holmes 2) di XXI. . belom juga sampe 30 menit, ane tau2 udah molor aja (mungkin karna efek dinginnya AC ama kencengnya suara dolbi, haha). . Eh, kebangun juga karna dibangunin ama petugasnya, dan temen2 dengan brengseknya ninggalin ane trus ketawa2 waktu ane keluar dari bioskop nyamperin mereka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngakak sejadi-jadinya itu gini bukan? HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. Gitu?

      Udah ditekel kursinya kok, alhamdulillah ngefek. Mungkin kalau belum ngefek, lain kali saya tampolin palanya saat ketemu lagi. Yuhu ~

      Bangkay, sungguh pengalaman nonton yang kampret sekali ya? XD

      Delete
    2. Weits. . sorry sis, ngakak ane gak sesederhana kata HA-HA-HA berulang yg dikeluarin pita suara pake nada 4-6-1°. Ngakak ane hampir selalu pake "basa kromo inggil" yg kadang2 dibumbui C5H8NO4Na biar lebih gurih2 anyoi.

      Kasian tuh kursinya, dikorbanin buat jadi collateral damage akibat keganasan ente membasmi bedes2 sapiens.

      Kampret-nya sih gak salah apa2 sis, tapi malunya itu loh. . . ToT

      Oh ya, untuk masalah review, ane gak bisa komentar macem2. . Selain karna belom nonton, tapi juga karna gak pernah suka ama yg namanya film dengan franchise superhero.

      Btw, itu tangan ente sendiri yg megang tiketnya? Nyempluk juga ya.

      Delete
    3. WOY! KETAWA AJA PAKE RUMUS! x)

      Percayalah, tangan saya tidak senyempluk itu. Malah kurus aslinya. Ehe.

      Delete
  7. Ekpetasi memang terlalu berlebihan sama nih Punya DC
    kalo di bangingin sama Marvel untuk filmnya sih sedikir jomplang ya
    sama kayak batman vs superman kmren masih belum bisa menuhin ekspetasi saya
    tapi ya speerti kata mbak mayang, tidak ada film yang sempurna
    yang sempurna hanya milik tuhan dan lagunya andra and the backbone

    Ini nih yang generasi micin sering banget kalo lagi nonton cuma ketawa2 sibuk sendiri sama temennya
    tau si mereka bayar, tapi yang lain juga bayar. Udah kayak Tas kresek bertebar dimana mana anak-anak yng kayak gini.

    tapi sejak haruka yg iklanin ajinomoto sya jadi suka micin -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. ((kau begitu sempurna di mataku kau begitu indah))

      Anjuuu. Kenapa harus disamain kayak tas kresek sih, nggak ada yang lebih mendingan dikit apa? XD

      Jangan kebanyakan micin tapi ah. Gak baik. Bikin bokek. Karena belinya pakai duit juga kan.

      Delete
  8. Hahahah rusuh juga nih. mana dapet sisianay dua bangku lagi. Kalo pas lagi bawa pasangan pasti yang 'Tuhkan kita jodoh!' "Uh pas banget buat kita doang" "Kita emang ditakdirkan berdua!' Halah somplak.


    Tunggu. Ini kenapa gue jadi emosinya ke arah sana ya...

    ReplyDelete
  9. Wkwkwkwkkw kocak bener reviewnya XD

    Untung lah di Depok gak ada yang norak-norak amat begitu. Ada sih momen cekikikan atau ngakak nya, tapi itu emang pas lagi adegan lucu. Bukan kerusuhan segerombolan micinwan dan micinwati wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Disini kalau XXI gitu juga jarang yang norak kok, entah mengapa kemarin saya nemu beginian di 21. Sebuah keapesan yang hqq, Ul.

      MICINWATI HANJIR :))

      Delete
  10. jaman gw ABG dulu, gak ada tuh orang yang main2 hape pas lagi nonton bioskop.



    soalnya belum pada punya hape.

    ReplyDelete
  11. nyesel saya nonton film ini hehehe

    ReplyDelete
  12. Itu apa, kok ada 3gp disebut-sebut? Hahaha

    Kalau aku pribadi sih lebih suka marvel. Ngga tau kenapa, ceritanya lebih keren dan gampang dipahami gitu aja sih. Sempet nonton Dawn of Justice yang sempet rame di kalangan temen-temen. Eh nyatanya ceritanya juga biasa aja. Kalau boleh jujur, malah bagusan Wonder Womennya. *Iyalah, orang ada Gal Gadotnya xD

    Itu 3 anak labil, tolong dimusnahkan aja lah. Mungkin baru pertama kali masuk bioskop, jadinya heboh kaya gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengutip tagline merk kendaraan, meskipun Yahama selalu di depan, tapi toh Honda yang lebih unggul. Tahun ini DC mencoba menerobos ke depan, tapi Marvel selalu lebih unggul. Nggak salah sih. Tapi tetep, saya suka keduanya seimbang.

      Udah saya tekel. Lain kali saya sleding palanya.

      Delete
  13. Ga sempet nonton ini sih gara" budget nonton udah kepake di No Game No Life.. xD

    Emang yang suka main HP di bioskop itu ngeselin banget, bikin silau..

    And then banyak yang nonton film itu cuman gara" lagi hype, ujung"nya ada adegan yang harusnya penonton ketawa malah hening..
    Kejadian pas nonton film Deadpool ada adegan yang seharusnya penonton ketawa eh malah aku doang yang ketawa.. Kan kampret.. -_-a

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, NGNL XD

      Saya udah ngidam nonton ini dari tahun lalu soalnya, Gede. Jadi ini prioritas dulu. Hehe. Lah bener, kadang saya heran ini mereka yang selera humornya tinggu atau selera humor saya yang receh.

      Delete
    2. Can't ressist Shiro's cuteness.. xD

      Mungkin selera humorku terlalu rendah.. :D

      Delete
    3. Ah, Shiro X))

      Jadi pengen maraton nonton lagi.

      Delete
  14. May, aku kangen nonton bioskop deh. Sayangnya si Teto gak demen. Dia malah molor mulu. Rugi dah gocap :(

    ReplyDelete
  15. Hmm..ngomongin film ya may? Berhubung lagi bahas film dc.. Ane coba tetep di lingkupnya.. Kenapa barry dan victor harus gali pake sekop? Well.. Ane belum nonton sih.. Tapi pasti ada penjelasan mereka ngelakuin hal useless kayak gitu.. Kembali ke BvS.. Clark yang notabene pendengarannya tajam.. Penglihatannya menembus apa aja.. Bisa-bisanya gak nyadar ada bom di kursi roda.. Kenapa? Pengalihan dengan pengalihan dengan pengalihan.. Pusing pusing dah lu.. Senator sama pengguna kursi roda udah di dalem ruang sidang.. Masing-masing dari mereka udah di bawah kontrol Luthor.. Iming-iming keadilan atas hilangnya keluarga dan kaki yang diamputasi.. Hukum tentang keberadaan superman.. Ketidakhadiran Luthor di kursinya.. Dan Granny Peach.. Di scene ini ane sampe kebayang plan joker di universe nya nolan.. Setiap anggota yang menyelesaikan tugas di bunuh anggota yang menemani.. Joker? Tugas ku membunuh supir bus.. And boom!!! Where's the others? Bang!!! Opening paling gila buat ane.. Nah semua indera perasa Clark di alihkan.. Dan saat sadar.. Boom!! again.. Pasti ada penjelasan buat adegan cangkul.. cangkul.. cangkul yang dalam.. Banyak juga yang mengatakan Bruce terlalu useless tanpa Clark.. Dia manusia.. Biasa.. Punya rasa punya hati.. Sama seperti dia kehilangan Jason gara-gara gak bisa milih ngebunuh joker.. Dia ngerasa bersalah dengan tidak menyadari permainan Luthor.. Pengalihannya menghasilkan doom.. Sayang yang tadinya kriptonite buat ngendaliin dua super alien ini di curi Batsy.. Ya wasallam.. Ane bener-bener nunggu JL keluar br nya.. Maklum.. Orang hutan.. Pake H.. Inget!! H!! Gak bisa ke bioskop.. Timeline yang berjalan lurus cuma Clark.. Sisanya acak.. Maju mundur.. Tanpa intro.. Ibarat gambar puzzle yang gak bisa disusun urut dari pojok atas ke pojok bawah.. Seperti bocoran bahwa The Batman nanti tidak di mulai lagi dari awal mula.. Namun dari issue deathstroke.. Sedang Flash sendiri dengan Flashpoint yang bisa merubah timeline universe JL atau dengan side story miliknya sendiri (yang dimana dia bertemu Thomas (Batman) Wayne dan Martha (Joker) Wayne.. Bukan garis datar jalur tembakan.. Tapi pecahan ledakan yang berhamburan..

    Gara-gara nte ane komen panjang banget.. Capek tau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komentar bisa difavorit nggak sih? Haha.

      Tapi makasih buat pandangan mindblowingnya! SALUT!

      Delete
    2. Lah nte yang ngajarin ane ngeblog.. Gimana sih iki.. Ane aja ngutak2 blog masih kayak anak tk..

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.