Dari Solo Menuju Palo Alto

Palo Alto ~

Minggu ini sepertinya memang minggunya keluarga Franco dan Emma Roberts dalam watchlist saya. Satu lagi film yang mengusung tema kehidupan remaja di sekolah. Di Amerika. Palo Alto (2013). Film yang dibuat berdasarkan cerita pendek yang ditulis oleh James Franco. Salah satu pemain filmnya. Saya baru tahu kalau James Franco bisa menulis cerita, kirain cuma bisa ganteng dan main film aja. Muehehe.

Berbicara tentang kehidupan di sekolah, saya menemukan beberapa hal dalam hidup saya yang relate dengan film ini. Baik saat saya sebagai siswa dan masih duduk di bangku sekolah, maupun sekarang saat kembali ke sekolah dengan status yang berbeda. Guru.

Dan kalau direnungkan sambil ngemil popcorn, terkadang saya merasa bahwa saya mengalami transformasi yang cukup pesat. Dari siswa bandel menjadi guru bandel. Cihuy sekali. Ada kemiripan seperti dalam kisah yang diceritakan James Franco di dalam buku dan filmnya yang berjudul Palo Alto ini.

--- [] ---

Palo Alto fokus menceritakan tentang seorang gadis bernama April (Emma Roberts) yang mencari cinta masa remajanya, seorang anak laki-laki bernama Teddy (Jack Kilmer) yang ingin menikmati masa remajanya dengan bersenang-senang, dan seorang guru olahraga ganteng bernama Mr. B (James Franco) yang mencari daun muda untuk dipacari. Meskipun begitu, banyak karakter pendukung yang muncul untuk menceritakan bahwa mental dan kejiwaan remaja masih sangat labil adanya.
Teddy dan April sedang mengejar masa depan

Baik Teddy dan Mr. B, keduanya menyukai April dengan cara yang berbeda. Jika Teddy lebih banyak diam dan memperhatikan dari jauh (dan galau karena April selalu membuat hatinya berdebar-debar), Mr. B justru lebih agresif melakukan strike dari sisi kanan dan kiri. Sampai-sampai ia selalu meminta tolong pada April untuk menjaga anak laki-lakinya setiap weekend tiba. Sungguh modus operandi seorang guru duda yang mendebarkan.
Pak guru sedang melancarkan aksi pedekate pada muridnya

Cerita dalam film ini bagus dan mengungkap sisi lain dari kehidupan remaja sekolah di Amerika yang bebas dan liar. Dimana party after study dan free sex adalah biasa. Dan semua itu muaranya sama yaitu ke arah pergaulan, lingkungan, dan lingkaran pertemanan. Salah satu tokoh yang bernama Fred, bahkan memiliki kecenderungan multiple mental disorder berupa hiperaktif, bipolar, dan disosiatif. Fred ini bahkan membawa pengaruh buruk bagi Teddy, sehingga ia banyak terkena masalah di sekolah maupun di masyarakat.
Because being crazy is not easy

Semua masalah-masalah yang muncul dalam film ini disajikan dengan lugas dan apa adanya. Saking apa adanya malah membuat bosan. Adanya scenes yang terkesan long-paced membuat Palo Alto kurang greget dan berbahaya jika ditonton dengan kondisi tubuh yang letih usai bekerja. Bikin ketiduran, cuy. Saya juga sempat ketiduran bentar waktu nonton ini. Lima menitan. Lalu bangun saat scene Fred dan Teddy menggergaji sebuah pohon di pekarangan tetangga. Brisik soalnya. HAHAHAHA.

Jadi, film Palo Alto wajib ditonton khususnya untuk pemerhati dunia pendidikan sih. Kalau kita menyadari dan mau menelisik lebih dalam, sebenarnya pergaulan remaja di Indonesia lama-lama juga semakin sama dengan pergaulan di kubu barat. Hanya saja levelnya berbeda. Jika remaja Amerika sudah berani live streaming begituan dengan pasangannya, maka remaja Indonesia masih bermodalkan ekstensi 3gp sebagai bukti otentik kisah cinta mereka.

--- [] ---

Banyak hal dalam kehidupan remaja di sekolah yang semestinya diperhatikan betul-betul agar mereka tidak mengalami kesalahan dalam tumbuh kembang. Sebagai mantan remaja di sekolah yang sekarang kembali bertemu dengan remaja di sekolah, perlahan-lahan saya menyadari bahwa beberapa hal tersebut adalah:

1. KARAKTER SISWA DI KELAS

Setiap orang memiliki kehidupan masa sekolahnya masing-masing. Akan ada karakter-karakter yang selalu membuat kita rindu saat membuka album kenangan. Ada kang onar, ada kang gosip, ada kang ngamen, ada kang nonton film di kelas, ada bandar bokep, ada yang cinlok dengan teman sekelas, ada yang cinlok dengan guru, ada yang naksir diam-diam, ada yang naksir terang-terangan, ada yang suka bolos, ada yang usil, ada yang drama queen, dan ada yang pendiam tapi aura membunuhnya kental sekali. Ada banyak macam karakter manusia dalam satu kelas.
I am a Poker Face and a Troll Guy back then

Dan seharusnya ini diperhatikan guru. Kelas nggak mungkin isinya homogen pinter semua, ganteng semua, cantik semua, mesum semua, dan pendiam semua. Sama seperti di film Palo Alto ini. Ada remaja yang suka bergosip, ada yang ratu sekolah, ada yang suka memberi fellatio pada semua teman laki-lakinya seperti Emily, ada yang yang nakal dan unik seperti Fred. Mereka tidak mendapatkan guidance yang tepat, sehingga melakukan apapun yang mereka mau tanpa batas. Suka-suka mereka, asalkan mereka bahagia.

Sama seperti April yang mulai galau antara naksir temannya, Teddy, atau gurunya, Mr. B. Ia bimbang. Ia tidak bisa bercerita pada ibunya karena memang April ini introvert. Dan ibunya, sekalipun disini kelihatan sayang pada April, juga tidak berusaha menanyakan bagaimana perkembangan kehidupan pribadi anaknya. Guru, yang seharusnya memperhatikan perkembangan April juga malah suka dengan muridnya. Kompleks sekali, bukan?

Sama seperti beberapa kasus murid saya. Ketahuan pacaran di belakang sekolah usai jam pulang. Ada pula yang ketahuan menyimpan banyak video anu di ponselnya pada saat ada razia dan inspeksi mendadak. Meskipun katanya ini sudah mendarah daging sejak jaman video bokep Ariel dan Luna Maya, seharusnya ini bisa diminimalisir. Setidaknya dikontrol. 

2. LATAR BELAKANG SISWA DAN LINGKUNGANNYA

Ada kekata bijak yang bilang bahwa jika kita ingin mengenal seseorang dengan baik dan mengetahui seperti apa dia, kita harus melihat orang-orang yang ada di sekitarnya. Ini benar. Sebanyak apapun kita denial, lingkungan dan teman adalah dua faktor utama yang membentuk latar belakang seorang manusia. Remaja baik-baik, jika berteman dengan teman yang tidak baik, otomatis akan menjadi sedikit tidak baik. Berapapun kadar tidak baiknya, tapi pasti ada perubahan yang cukup kentara. Remaja yang baik-baik, jika memiliki masalah keluarga, pasti akan berubah menjadi tidak baik. Entah dari segi emosional ataupun mental. Dan ini harus dibantu. Mereka seharusnya dibantu.
Fred dan Teddy sedang menyusun rencana kenakalan yang berikutnya

Di film Palo Alto, Teddy sebenarnya merupakan anak baik-baik yang menyukai seni melukis. Ia juga cenderung berperilaku wajar. Tidak seperti teman karibnya, Fred, yang justru sedikit kurang ajar. Nggak dikit sih. Banyak. Tapi ini semata-mata karena Fred memiliki "keunikan" dibandingkan dengan teman-temannya. Teddy mendapatkan banyak masalah karena Fred. Tapi ia tetap lari pada Fred jika ada masalah. Dan Fred juga sebaliknya, membutuhkan Teddy sebagai teman curhatnya. Ketergantungan dengan teman yang mengarah pada hal negatif ini seharusnya dikendalikan. Oleh siapa? Jelas oleh orang tua dan guru.

Sedikit membuka luka lama, ada seorang murid saya yang pendiam tapi cerdas sekali, sebut saja Dani. Karena ia unik, beberapa teman di kelas mem-bully-nya habis-habisan. Sampai suatu ketika, mereka bertengkar dan Dani memukuli teman yang mengejeknya dengan dua buah penggaris besi sampai temannya berdarah-darah dan robek kain seragam serta kulit punggungnya. Ini sudah diproses dan ketahuan bahwa Dani ternyata memiliki latar belakang yang "berbeda" dari teman-temannya.

Karena itu, adanya guidance dalam tumbuh kembang anak remaja di sekolah, amat sangat dibutuhkan. Kita tidak tahu apakah anak tersebut memiliki masalah dengan teman, pacar, atau bahkan gurunya, jika kita tidak peka dan menanyakan hal tersebut secara langsung. Jangan sampai udah kejadian, baru disesali. Penyesalan selalu datang di akhir, karena dia tidak datang di awal. Waspadalah. Waspadalah.

--- [] ---

Saya jadi ingat dulu waktu masih sekolah, saya termasuk siswa yang nakal. Bolos, telat masuk, telat upacara, lompat pagar untuk beli cilok enak di belakang sekolah, pura-pura sakit supaya bisa tidur di UKS, ngerjain guru, ngusilin temen, dan merusak properti sekolah. Semua itu pernah saya lakukan dulu saat SMP dan SMA. Saat SD juga sih. Tapi saya hanya join teman laki-laki untuk ngintipin isi rok teman perempuan. Iya. Saya dulu memang kurang ajar.

Dan sekarang setelah saya jadi guru, saya seperti merasakan siklus yang berbeda 180 derajat. Saya keki dan gemas kalau melihat ada siswa yang telat. Saya sampai kesal kalau ada siswa yang merusak properti sekolah. Saya sedih kalau melihat nilai ujian Fisika siswa saya hancur-hancuran dan mereka remidi. Hal ini membuat saya berpikir, "Jadi, begini toh yang dirasakan guru saya dulu saat menghadapi siswa seperti saya?"

Sehingga kalau ada orang bilang bahwa roda kehidupan ini berputar, ya, saya setuju. Tapi bukan berarti hal seperti ini tidak bisa dinikmati, bukan?





Pictures are taken from:
http://www.taryncoxthewife.com/wife-movie-night-palo-alto/
https://www.memecenter.com/fun/1005836/every-class-has-a
http://www.wearemoviegeeks.com/2014/05/palo-alto-review/
http://www.gothic.stir.ac.uk/blog/youth-and-young-manhood-male-anxiety-in-palo-alto/
https://www.pinterest.com/pin/418553359103422787/
https://favim.com/image/3367803/
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

10 Comments:

  1. Wadaaaaaaaaaaaw. Neng Emma menang banyak ya anjir. Main film sama Dave Franco, terus main sama James Franco juga. Kakak adek diembat semua.

    Film ini pernah aku denger dan baca reviewnya, tapi baru ngeh kalau ada si James Franco. Huhuhuhu. Kayaknya seru deh tapi alurnya rada lambat gitu ya, May? Kayaknya memang harus ditonton pas mood lagi bagus deh ya.

    ANJIR MERUSAK PROPERTI SEKOLAH. GARANG WOOOY GARANG. Huahahahaha. Itu gimana ceritanya, May?

    Jadi ingat kenakalanku semasa sekolah. Tidur di kelas sampe disuruh keluar kelas, terus pernah kegep nyontek pas remedial. Huhuhuhuhu. Aku suka tuh kalimat terakhirnya. Nikmatin aja, yak. Mungkin roda berputar juga pernah aku alamin. Dulu pernah jadi Customer Service yang suka ngerepotin admin di tempat kerjaku. Terus pindah tempat kerja, jadi admin, terus jadi ngerasa rada 'direpotin sama Customer Service di tempatku. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emma Roberts emang menang banyak kampret. Hahahaha. Dia ternyata movie listnya bareng duo Franco banyak banget, Cha. Ini barusan aku donlod semua. Soalnya sama Emma suka, sama duo Franco tergila-gila. Gokil.

      Alurnya lambat, iya. Cocok untuk gegalauan.

      HAHAHAHA. Dulu ngerusak apa ya, banyak. Properti lab, ring basket, taman sekolah. Ehehehehehehehehe.

      Ah, kalau tidur di kelas dan diusir aku belom pernah, Cha. Pernahnya malah ngusir siswa keluar kelas buat cuci muka sih tapi, soalnya dia tidur sampai ngeces-ngeces di meja. Wkwk.

      Betul, emang manusia sejatinya hidup hanya untuk bertukar peran. Sekarang jadi anak, nanti jadi orangtua. Sesimpel itu ya.

      Delete
  2. Setelah baca ini saya jadi inget massa sekolah dulu
    sya termasuk siswa yang introvert akut, sulit bergaul tapi ttp punya teman yg loyal
    kalo di kelas masuk kategori artistik hahaha
    bagian gambar2 gak jelas
    tapi kadang juga ikutan bandel sedikit apa lagi maslah uapcara sama rambut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti langganan kena popol rambut ini si Adi mah. Iya kan? XD

      Delete
  3. Maaf, mau tanya. Fred dan Teddy dapat gergaji dari mana ya? Apakah di sana pada saat itu ada rentalan gergaji, atau mereka beli sendiri, atau bagaimana?

    Hmm.. jadi guru itu sebenarnya sedang menjalani karma ya? *kabur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu nggak tahu? Fred disini adalah kepanjangan dari Freddy Krueger, yang main di Freddie versus Jason. Darimana asal gergajinya, tentu kamu paham sendiri.

      Karma gundulmu X)

      Delete
    2. Saya bisa gundulin. Pakai kapak. Gratis.

      Delete
  4. Itu cerita Dani malah ngingetin ama keponakan temen saya. di sekolahnya dia rada sombong karena anaknya org pemerintahan. trus suka membully anak2 sejenis Dani itu, tapi karena anak yg dibully udah gak tahan lagi, dia ngambil pensil yg masih tajem dan ditusukin ke pipi keponakan temen saya itu ampe bedarah, tembus nggak ke dalemnya, gatau deh.

    (malah bahas cerita di luar pilemnya...)

    iya, kehidupan seperti roda, berputar. kadang di atas, kadang di bawah. tapi yg namanya roda, tetep aja tempatnya di bawah. makanya ini udh mulai belajar pake baling2 bambu doraemon aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke. Saya miris banget ngebayangin keponakan temen kamu. Tapi ini juga merupakan bukti nyata kalau bullying leads to bad impacts. Mengerikan efeknya ya, Haw :')

      HAHAHAHA YAKALI BALING-BALING BAMBU.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.