Belajar Hidup Dari Ikan-ikan Mati

Belajar hidup dari "Ikan-ikan Mati"

Di suatu sore yang lengang, kadang saya berpikir apa jadinya dunia tanpa adanya akses digital. Tanpa adanya gadget. Kembali pada jaman dimana semua manusia hanya bisa berinteraksi jika saling bertatap mata. Ini gokil sih. Karena menghilangkan kebiasaan yang sehari-hari dilakukan, tentu berat banget untuk diusahakan.

Yang tadinya deket dengan gebetan dan tiap hari say hello from the other side aja susahnya minta ampun untuk diberhentikan. Apalagi bermain gadget yang notabene sudah menjadi kebutuhan primer, menggeser posisi atas yang dulunya diraih oleh sandang, pangan, dan papan. 

Jika dulu, setiap bangun pagi, hal yang akan dilakukan manusia adalah mengucek mata, ngupil, dan menguap-nguap setengah sadar lalu berjalan ke kamar mandi, sekarang manusia akan lebih dulu meraih ponsel pintarnya dan mengecek notifikasi sosial media. Candu banget, anjir. Candu.

Meskipun tidak semua orang seperti itu sih. Saya misalnya, masih lebih mendahulukan memasak nasi di pagi hari karena saya sering lupa ngeklik tombol "COOK" di alat penanak nasi jika dalam keadaan terburu-buru. Maka memasak nasi, adalah prioritas pertama di pagi hari. Sebelum morning glory...

...dengan kasur lagi. #lah

Jadi, mari kita kembali lagi. Apa efeknya jika gadget di seluruh dunia dihapuskan?

Jawabannya mungkin ada dua. 

Pertama, terjadi kekacauan massal karena orang akan cranky seperti zombie yang mencari-cari gadgetnya agar kembali. Atau bisa juga seperti orang yang sakaw dan butuh suntikan morfin dengan segera. Chaos akan datang. Bahkan mungkin pembantaian massal akan muncul ke permukaan. Atau pecah perang dunia ketiga antar sesama umat manusia. Oke, ini seram. Saya jadi ingat film Armageddon (1998).

Kedua, dunia justru bisa damai tanpa adanya pesan singkat (SMS) mama minta pulsa, broadcast berantai, pesan WhatsApp jamaah yang kalau nggak disebar akan diancam jomblo seumur hidup, dan lain sebagainya. Nggak akan ada lagi manusia yang kalau di mall matanya jelalatan nyari spot wifi kenceng hanya untuk live Instagram. Nggak akan ada.

Dan tulisan Roy Saputra dalam bukunya yang berjudul "Ikan-ikan Mati" ini mampu mewakili imajinasi saya mengenai fenomena dunia dengan dan tanpa gadget, lengkap dengan segenap implikasinya pada dunia jika hal itu terjadi. 

--- [] ---

Sampulnya berwarna jingga...

Seperti warna jeruk merekah di pagi hari. Desainnya edgy dan classy sekaligus, membuat saya langsung bisa menerka bahwa cerita di dalamnya akan penuh dengan intrik yang berhubungan dengan dunia digital. Sebagian orang menganggap bahwa warna jingga adalah perwujudan energi yang mampu merangsang emosi seseorang. Dan benar saja, isi novel ini cukup membuat fantasi saya naik turun kanan kiri selama tiga jam membacanya.

Ada gambar seonggok ikan yang berbentuk digital dan berwarna putih. Di atasnya, ada ilustrasi seperti gelembung yang menandakan bahwa ikan itu sempat bernapas. Sebelum akhirnya mati dan terbawa arus dari satu tempat ke tempat lain. Deep.

Prolognya dimulai dengan sebuah fenomena...

Mengambil latar tempat di Jakarta, Indonesia, suasana di awal buku diceritakan sedemikian rupa seperti kata orang kebanyakan. Kota yang sibuk. Kota yang mandiri. Kota yang adidaya. Namun juga kota yang kesepian karena tidak pernah utuh. Itulah Jakarta. Dan kota ini, sekaligus negara yang dipusatkan padanya, sedang berada dalam krisis mental karena berita hoax saling serang di sosial media. Semua hal yang terunggah di sosial media sudah benar-benar dalam taraf mengkhawatirkan, kantor polisi penuh dengan laporan pencemaran, dan hal itu merambah pada kehidupan nyata yang membuat setiap orang takut untuk keluar rumah karena banyak demonstrasi dimana-mana.

Roy menggiring kita pada sebuah kenyataan bahwa dunia maya lebih menyeramkan daripada dunia nyata. Dan fingering lebih berbahaya daripada mouthing. Hm. Sepertinya ada yang aneh.

Maksud saya, tagline "Mulutmu harimaumu" sekarang sudah berganti dengan "Jarimu kalajengkingmu". Sekali capit, seribu orang mati karena racun kebencian hasil ketikan jari tangan. 

Kalau diperhatikan, ini sudah muncul di era 2015-2017 nggak sih? Akun-akun gosip bertebaran di sosial media. Heran saya. Kayak kurang-kurang aja berita picisan begini di televisi. Kalau kalian sempat menyadari atau bahkan nonton, pasti tahu kalau acara gosip bisa tayang di media televisi bisa hingga lima kali sehari. Itu baru di satu stasiun televisi. Belum yang lain. Belum channel lokal tiap provinsi. Ditambah lagi dengan adanya akun-akun tadi. Yang lebih heran, kok ya ada yang pasang iklan di akun-akun tersebut sehingga mereka mendapatkan penghasilan. Yah, meskipun iklannya nggak jauh-jauh dari pembesar aset wanita dan pria.

Saat menjajaki beberapa bab pertama...

Roy lincah sekali dalam menceritakan betapa Indonesia Kindess App (IKA) dapat mengubah pola hidup manusia. Yang tadinya enteng berkata-kata kotor di sosial media, orang-orang cenderung berpikir dua kali untuk mengunggah caption kasar pada statusnya. Bahkan, IKA ini dianggap sebagai "alat perbaikan moral" penduduk Indonesia. Mereka juga akan mendapatkan poin tersendiri jika mampu mendapatkan "likes" dari teman-temannya di sosial media yang dapat ditukarkan dengan diskon di beberapa merchants di Indonesia.

Disini saya mulai mikir sih, kok kesannya IKA malah jadi pengekang secara implisit. Di saat beberapa tahun lalu orang meneriakkan hak kebebasan, adanya IKA justru menjadi pasung tersendiri bagi manusia. Oh, ayolah. Siapa sih orang yang nggak pernah berbicara kasar. Bahkan dalam hati dan pikiran, kita pasti pernah melafalkan kosakata tersebut. Dan IKA menjelma menjadi aturan yang mengikat secara tak kasat mata.

Saat menjajaki beberapa bab terakhir...

Roy membubuhkan pemikiran cemerlangnya pada lima bab terakhir. Pemberontakan dan pembelotan. Juga bagaimana manusia sebenarnya bisa menyelesaikan sebuah masalah dengan akalnya sendiri meskipun di awal sempat galau-galau nggak jelas. Karakter utama dalam cerita ini, Gilang, mengajak pembaca menelusuri berbagai konspirasi yang dilakukan sosial media maupun IKA terhadap dunianya. 

Gilang beraksi dan menggugat batas abnormalitas. Gilang tidak mau menjadi ikan mati yang harus berakhir di laut lepas dan menjadi santapan para plankton. Gilang ingin melawan arus. Seperti saya yang pernah bego naik eskalator untuk ke atas, sementara eskalatornya mengarah ke bawah. Bangkai. Malunya itu loh, bukan main, meeen.

Bagaimana cara Gilang dalam menyikapi side story percintaannya juga menjadi daya tarik tersendiri bagi saya. Karena dengan melihat Gilang, saya merasa bahwa berada dalam keadaan jatuh cinta dan kebimbangan adalah hal yang manusiawi. Cara Gilang melihat setiap celah tentang dua perempuan yang menyukainya, Citra dan Monita, membuat saya jatuh cinta pada sosok Citra. Tidak ada yang bisa membuat Gilang jatuh cinta sedemikian rupa seperti Citra. 

Novel ini ditutup dengan...

Sempurna. Roy benar-benar cerkas dalam memberikan konklusi-konklusi dari setiap pertanyaan dan kejanggalan yang saya dapatkan sepanjang perjalanan membaca buku ini. Rasanya, saya seperti membelah atmosfer berlapis-lapis, meluncur bareng paus akrobatis, terus ngebut menuju rasi bintang paliiinnnggg maniiisss. Jadi iklan Good Day deh.

Jadi ya, ibarat makanan, novel "Ikan-ikan Mati" oleh Roy Saputra ini menyajikan perpaduan lima rasa dasar yang lengkap. Manis, pahit, asam, asin, dan umami. Hidup Micin Squad Generation!

--- [] ---

Secara keseluruhan, jika ditanya saya paling relate dengan siapa di dalam novel ini, maka saya akan menjawab dengan pasti: Citra dan Jay. Citra 60%. Jay 40%. Gabungan keduanya bisa menjadi padu dan membentuk karakter saya yang memang agak kontradiktif.
Contoh sosial media: NAPZA digital

Saya bukan orang yang engage ke sosial media. Bahkan saya cenderung menghindari pemakaian sosial media secara berkala. Dulu kalau ditanya mengapa, saya juga tidak tahu apa jawabannya. Sesederhana bahwa saya tidak terlalu nyaman kalau apa-apa tentang saya harus diketahui pihak dunia maya. Dunia nyata aja udah lebih dari cukup kok. Dan perilaku saya ini, ternyata didukung oleh quote yang dinyatakan Citra saat ngobrol bareng Gilang.

The good thing is, I don't have to prove anything to anyone in social media. Kinda think life is easier that way. - Citra, Ikan-ikan Mati: halaman 131

Serasa mau bilang ke dia, "Cit, ini gue banget!". Tapi sayangnya, Citra tokoh fiktif. Jadi, pankapan kalau saya ada kesempatan bertemu dengan Bang Roy Saputra, saya akan membisikkan kalimat tadi di dekat telinga kanannya dengan nada se-intuitif mungkin.

Sementara Jay, saya mirip karakternya yang gesrek luar biasa. Dengan nama lengkap Jaelani, Jay ini hidupnya woles banget, mameeen. Tipikal anak You Only Live Once (YOLO) yang live at present dan nggak pusing-pusing mikirin past things maupun future things. Endapkan masa lalu. Nikmati masa kini. Berfantasilah tentang masa depan. 

Anjir, sebuah falsafah hidup yang saya banget ini mah. Rasanya saya ingin Jay ada di dunia nyata supaya kami bisa menguasai dunia dengan ilmu kegesrekan dan kewolesan. Yuhu ~
Gambar hanya ilustrasi: Mayang dan Jay

Jay ini juga jayus abis. Ada saat ketika Jay ngajarin Bobby untuk pedekate ke perempuan di sebuah klub malam. Tapi naas, bukannya sukses, Bobby malah ditolak matang-matang. Ini mirip dengan saya saat mencoba mencomblangkan teman laki-laki dengan gebetannya yang ketemu di sebuah pusat perbelanjaan. Namun bukannya berhasil, teman saya justru dikatain piktor karena gombalan yang saya bikin agak anu. Ehehe.

--- [] ---

Ngomong-ngomong, Roy Saputra sebenarnya hanya ingin membawa kita untuk belajar menikmati hidup dari fenomena ikan-ikan mati. Kalau diperhatikan, kita selalu terpaku pada eksistensi sosial media. Preferensi orang memang berbeda-beda sih dalam menyikapi manfaat media yang satu ini. Ada fitur live, manjer video say hi berkali-kali meskipun yang nontonin cuma satu biji manusia. Ada fitur story, ikutan bikin juga. Bahkan banyak pula yang sampai mengunggah story kegiatannya di dua aplikasi sekaligus. Sampai ada salah satu netizen yang menyuarakan keresahannya.
Curhatan seorang Bambang

Banyak yang bilang bahwa bermain sosial media bisa menjadi hiburan tersendiri, sarana penyalur penat pikiran, dan juga sejuta manfaat lain seperti yang orang paparkan. Tapi apa gunanya jika kita menjadi manusia kebanyakan? 

Seperti misalnya, ada beberapa orang yang terikat dengan pandangan orang lain. Well, ini wajar. Karena sebagai manusia, kita diberi mata dan telinga untuk melihat dan mendengar. Tapi kalau komentar orang lain sampai masuk ke dalam hati, ini nggak sehat sih kalau kata saya. Cuek itu perlu kok, asal nggak berlebihan. 
Spoil me please ~

Misalnya lagi. Di saat orang lain ada yang terpaku pada spoiler, review, maupun rating terhadap sebuah film atau buku sehingga mereka urung untuk menonton atau membaca, saya justru kebalikannya. Persetan dengan semua itu. Mau spoiler-nya garing, review-nya ampas, atau rating-nya hancur-hancuran, kalau bukan saya yang menonton atau membaca sendiri, saya nggak akan pernah berkomentar atau membatalkan niat.

Percayalah, kecewa setelah menonton sebuah film adalah lebih baik daripada kecewa nggak jadi membuktikan bagus tidaknya film tersebut dengan nonton sendiri karena udah telanjur turun layar. Dan kecewa setelah membaca sebuah buku adalah lebiih baik daripada kecewa nggak jadi membuktikan bagus tidaknya buku tersebut dengan membaca sendiri karena udah telanjur sold out di Gramedia. 

Jangan mau jadi ikan mati yang dipaksa mengalir mengikuti arus. Jadilah diri sendiri. Beda dengan orang kebanyakan nggak masalah kok. Ini hidup kamu. Hak kamu. Kamu yang menentukan. Ciao!





Pictures are taken from:
http://forum-animeindo.com/apa-itu-spoilerarti-dan-pengertian/
http://www.thecenterforpep.com/young-people-say-relate-to-me-how-do-we-do-that/
https://www.ixxus.com/ceo-blog/5-social-media-no-nos/
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

24 Comments:

  1. Whew dalemnyaa
    Mesti banyak belajar deh akuuu, ngereview buku atau film bener bener ngenilai aja gitu langsung, enggak pake dikaitin sama fenomena sosial jaman now atau korelasinya sama hidup di dunia nyata dan maya

    Hmmmmmm
    Brilliant

    Gak kebayang deh gimana kalau gak ada gadget dan sosmed
    Sbg orang yang sudah mempersembahkan hidup pada gadget dan mengabdikan diri pada sosmed, kayaknya aku pribadi gak bakal bisa bertahan kalau dua-duanya hilang wkwkwk

    Malah misalnya saat duit udah tinggal selembar dengan kondisi perut laper dan paket internet habis, aku bakal ngeduluin paket hahahahha

    XD

    Jadi pengen baca bukunya deh
    Perfect title, btw.
    Belajar hidup dari ikan-ikan mati
    Kontras dan gregeeettttt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Berarti asumsi pertama bisa terlaksana. Akan ada chaos yang membuat orang-orang cranky karena nggak ada gadget. Ini sama aja seperti pemadaman listrik sih. Orang akan cenderung marah-marah dan protes ke timeline Twitter PLN. Karena alasan yang sama, kebiasaan. Kebiasaan terang pake lampu, ada sumber listrik. Tapi coba bayangin kalau jaman dulu nggak ada listrik dan gadget. Orang juga masih bisa hidup kok. Hehe.

      Delete
  2. Oke, kalau begitu, saya akan jadi ikan julung-julung mulai hari ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ikan julung-julung itu apa yak? taunya ikan sapu-sapu doang:')

      Delete
    2. @Firman: Boleh, bang. Nanti saya tangkepin. Saya jadiin oseng mercon.

      Delete
    3. @Lulu: Yang sering di pinggiran pantai ngumpul itu loh, Lu. Kecil-kecil.

      Delete
  3. Antar kebutuhan terhadap wanita dan gadget berbanding lurus,,,,, bagaimana ini?

    ReplyDelete
  4. Sehabis baca buku ini, saya juga semakin mengurangi main media sosial. Waktu 1-2 jam buat buka Twitter atau IG di kala senggang, bisa buat menulis atau membaca. Kalau megang ponsel bisa lebih fokus buka blog dan blogwalking aja. Sumpah, bikin lebih produktif ternyata. Contohnya bulan ini. Haha.

    Selain menghibur, ternyata banyak bagian di buku ini yang lebih ngajak pembaca untuk mikir dan merenung gitu, sih. Saya pun namatinnya nggak sampai satu hari. Buku yang saya rekomendasikan~ :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju sama kamu, Yogs. Bisa lebih produktif ngelakuin hal ini itu kan? Saya juga merasakannya sejak 2015 sih. Hehe. Bahkan untuk IG sendiri, saya hampir udah nggak pernah buka lagi. Story juga sama kayak kamu, nggak pernah ngeliatin satu-satu.

      Iya, banyak bagian yang bisa direnungi banget sih. Ini adalah novel Indonesia kontemporer yang bisa memukau saya lagi setelah sekian lama.

      Delete
  5. kayaknya mau beli juga nih buku, sekalian nambah koleksi rak biat keliatan gimana gitu haha
    saya hampir 3 tahun mengurangi medsos, bahkan tanpa mereka sama sekali cuma Whatsapp doang itu pun untuk kerja
    dan aktif lagi setelah saya mulai ngblog, untuk share postingan doang
    hidup tanpa medsos lebih tenang, karena terhindar dari berita2 hoax yg selalu menyerang
    kadan ikut emosi liat komentar orang

    kalo soal kudet mah, kita masih bisa baca berita di kanal babe, detik dll
    yang penting gimana kita memanfaatkan teknologi secara baik dan bijak saja

    jangan terlalu menelanjangi diri di dunia maya...cukup berbagi seadanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener. Daripada ikut terombang-ambing, mending skip aja ya baca berita provokatif di sosial media. Btw, saya suka kalimat terakhir yang "jangan terlalu menelanjangi diri di dunia maya". Nice shot.

      Delete
  6. KAMU NGAPAIN NAEK KE ATAS DI ESKALATOR TURUN SIKKKK. YA ALLAH PENGEN JITAK.

    Btw, entah kenapa aku orang yg enggak betahan lama-lama internetan. Cape, bosen. Kalo emang lagi butuh atau nyari hiburan dikit, baru deh buka medsos.
    Oh ya, kalo pagi bangun tidur, aku selalu memilih untuk morning glory daripada cek notif medsos.

    Aku penasaran deh apa gombalan temen kamu yg ditolak karena dikatain piktor itu may? hahahhahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namanya juga nggak fokus, Lan. Elah :(

      MORNING GLORY SAMA SIAPA NIH? Yang jelas bukan Darma, yekan?

      Anu, Lan. Ini tentang anu yang anu-anuan.

      Delete
  7. Iya jg ya, jaman skrg mah gabisa bgt lepas gadget dan sosmed. Klo aku sndiri bsa aja sih, tahan2 aja buat gak sosmed-an, atau gak intrnetan di kala paket abis. Asalkan ada hiburan lain kyak dramkor, film, atau novel. Dgn bgtu saya bsa mengesampingkan internet. Hahaha.

    Kokbisa sih, kpikiran buat naek ke atas di eskalator turun sih? :( aku jg smpet kpikiran sih dulu, tp gak pernah mraktekin, malu, trs takut ada satpam yg ngomelin. Wkwkw.

    Iya jg ya, trkdang kita slalu trpaku dgn review dn rating trhadap sbuah buku atau film. Misalnya di sosmed lg rame film ini baguslah, yg nntn udh ribuan lah, ehh giliran kita yg nntn sndiri trnyata gak ssuai dgn apa yg kita harapkan :') jd sbnernya tetep kmbali ke selera masing2 sih.. blm tntu apa yg org bilang bagus, bagus juga mnurut kita. Begitu pun sbaliknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena manusia adalah makhluk sosial, sebenarnya wajar sih kalau mereka lebih terhibur lewat sosial media dan reramean di kolom komentar seleb sosial media. Wkwk.

      Yak bener. Selain sosmed ada pula alternatif hiburan lain macem film, buku, komik. Tapi orang yang bener-bener menikmati buku dan komik jarang. Yang nonton film sebagai hiburan lebih dari sosmed juga jarang.

      Delete
  8. Aku selalu suka sama tulisan2mu mbak Mayaaang... Oh god, bener banget sama apa yang dituliskan, aku banget juga mbak.. Hhh
    Kadang suka heran sama rang orang yg apdet story samaan kaya status watsap. Hhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Ella. Saya jadi makin semangat nulis setelah baca komentar kamu dan teman-teman. Hehe.

      Iya sih. Mungkin itulah cara mereka mengekspresikan diri pada dunia.

      Delete
  9. Saya juga tertarik dan sering baca tulisannya mba mayang , semoga tulisan-tulisannya bisa menginspirasi orang banyak yah

    ReplyDelete
  10. Ini buku masih belum baca. belum punya juga. ahahaha.. ya allah, lama gak mampir ke toko buku. eh, mampir minggu lalu tapi bukunya kosong. :( sebagaimana penutupnya, saya nggak bakal ikut2an ngebagus2in ini buku walo review dari berbagai org mengatakan begitu. nunggu seudah baca aja. :)

    sama kayak review film sih. saya nggak pernah peduli ama penilaian org. nonton film kok cuma buat menilai. dikira film itu PR murid apa. udah gitu memaksakan ama semua org kalo penilaiannya itu harus diikuti. Pernah saya nonton film yg ratingnya jelek, gak taunya berkesan banget. sebaliknya juga pernah, yg reviewnya tinggi malah ampas.

    masalah media sosial, saya aktifnya di twitter saja. FB hanya jadi akun login main game. IG, emang jarang sih, IG aja yg bikin bukan saya. kalo dibilang mengurangi, kayaknya nggak deh. saya nggak aktif2 banget juga. malah keseringan aktifnya pas timeline lagi pada sepi. kok saya komennya begini sih...

    ulang.

    waaa... kesian itu beruangnya. matanya ampe merah. dibeliin obat tetes mata coba, May!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, jangan jadi ikan mati yang terpengaruh review, rating, dan komentar orang. Baca dulu sendiri. Baru komen.

      Itu beruangnya nggak punya mata loh. Udah saya congkel kemarin buat jadi bakso.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.