(Meraut Kenangan: Part 2) Sekadar Rumus Fisika

Dear diary, saya rindu...
Membuka buku catatan lama selalu berhasil membawa saya sukses untuk kembali ke masa lampau. Ya, saat malam ini saya scroll-scroll draft tulisan basi dari jaman Majapahit, saya kembali menemukan sebuah tulisan kasar tentang diary keseharian saat saya mulai kuliah dulu. Tentang teman kuliah yang entah mengapa berbeda dengan teman SMA, tentang lingkungan kos yang karakter setiap kamarnya berbeda, tentang cinta masa lalu yang tertunda, dan tentang makan lima onggok gorengan di kantin kampus tapi ngakunya dua.


--- [] ---

Catatan di secarik kertas gorengan legam bekas ingus karena nggak punya tissue. Tanggal 12 Desember 2012. Surakarta, Jawa Tengah.

--- [] ---

Semester 1 sudah akan berakhir. UAS sudah di depan hidung. Namun saya masih merasa bahwa kuliah di jurusan Pendidikan Fisika adalah kuliah di jurusan banci. Belajar Fisika hanya dua pertiga mata kuliah, karena sepertiganya dialokasikan untuk mata kuliah strategi belajar mengajar yang menurut saya sangat membosankan. Bukan apa-apa, tapi menurut saya, bisa tidaknya guru mengajar, bukanlah melalui teori muluk-muluk dan bedah kurikulum K13 yang kala itu njelimet seperti kentut satpam. 

Guru bisa mengajar karena kebiasaan. Karena praktik lapangan. Sekece-kecenya model pembelajaran yang digunakan, Role Playing Game, Two Stick, Quantum Learning, dan lain sebagainya, tidak akan berpengaruh banyak dalam proses pembelajaran. Karena tetap yang dominan adalah pengalaman dan kecerdasan guru dalam melihat karakter siswa. Trust me. It works.

Namun kembali lagi, selain harus ditempuh karena merupakan mata kuliah wajib di kampus, setidak-tidaknya kita harus tahu dari penjelasan dosen juga untuk mendapatkan komparasi dengan pemahaman kita. Kalau kita mau membaca.

Karena banyak kasus teman kuliah saya yang minat bacanya sudah rendah sekali. Mereka lebih suka nongki-nongki cantik atau nongki-nongki varokah usai pulang kuliah.

Yep, ada dua jenis mayoritas teman perempuan saya saat kuliah di Solo.

Geng yang seger di mata, tapi pedih di dompet
Yang pertama adalah golongan SODA GEMBIRA. (SOsialita buDget rendAh tapi pinGin nEcis, glaMour, BohaI dan beRgAya). Hazeg.

Ini adalah golongan wanita yang selalu up to date fashionnya, apapun trend baju yang ada di Matahari dan Ramayana selalu diikuti. Hijabers lah istilahnya, hijab dililit-lilit sampai kalau bernafas megap-megap kayak ikan di daratan. Kalau pulang kuliah, golongan SODA GEMBIRA ini selalu punya agenda untuk nongki disana-sini (walaupun pernah sekali saya nge-gep mereka nongki di angkringan dengan busana gemerlapan) dengan OOTD hits mereka di tempat-tempat yang konon katanya, uhuk, Instagrammable. Bahasannya juga nggak jauh-jauh dari cowok.

Geng yang hangat dunia akhirat
Yang kedua adalah golongan BANDREK (BArisaN aDem nan baRokah ukhti ukhti solEhah jilbab dan roK lebar). Subhanallah.

Ini adalah golongan wanita yang selalu melangkahkan kakinya dengan ringan ke masjid besar kampus usai perkuliahan selesai. Mereka sering sekali terlibat kegiatan rohani di kampus, kegiatan amal di luar, dan liqa' atau majelis ilmu di berbagai spot di kampus. Auratnya juga selalu tertutup pakaian lebar nan sopan. Jika terkena angin, jilbabnya akan berkibar-kibar semriwing. Benar-benar wanita MADESU. MAsa DEpan SUrga.

Dan dimanakah tempat saya bernaung?
...

...

...

...

...

Yep, bukan keduanya. Selamat, tebakan kalian benar! 

Saya ada di golongan abu-abu dengan barisan para pria yang jumlahnya hanya tujuh butir dari total tiga puluh lima mahasiswa yang ada di kelas. Sekadar tahu, angkatan saya terdiri dari dua kelas dan masing-masing terdiri dari tiga puluhan mahasiswa. Saya berada di kelas B, yang jumlah laki-lakinya hanya tujuh butir itu. Dan satu diantaranya harus pindah STAN untuk kehidupan (yang menurutnya) lebih baik. Sisa enam deh jadinya.

Pram, teman ngapak saya di curhat colongan yang pertama, adalah anggota kelas sebelah. Tapi kami sering bertemu untuk diskusi tugas atau nongkrong di burjo membahas ini dan itu. Tentunya dengan bahasa Indonesia, karena saya masih kesulitan memahami bahasa ngapak kala itu.

Pram sendiri lebih sering nimbrung di kalangan cowok-cowok kelas saya. Sebut saja mereka Prem, Prim, Prom, Prum, Pring, dan Prang. Dengan jumlah mereka yang minimalis, cowok-cowok di kelas saya justru solid dan tidak playboy. Mereka justru menghormati kaum perempuan yang notabene lebih banyak jumlahnya. Yaaah, antara memang benar-benar baik dan ingin diam-diam beristri empat. 

--- [] ---


Plop!

Draft diary saya tutup, ternyata banyak sekali kenangan yang belum sempat diceritakan. Banyak sekali kenangan yang sempat terlupakan. Namanya makin berumur, yang dipikir udah bukan kenangan lagi. Yang dipikir udah ganti tentang makan apa esok hari, gaji bulan ini cukup enggak ya buat nabung, harga pembalut yang meroket, dan diskonan di supermarket.

Mungkin sekian dulu, postingan saya akhir-akhir ini setelah comeback memang naik turun. Kadang bahas buku, kadang film, kadang masakan, nggak jelas dan random. Kalau boleh menambahkan, itu semua adalah hutang-hutang tulisan yang dulu belum sempat terselesaikan. Menulis kan memang untuk meraut kenangan. Menyimpan masa lalu. Memprasastikan cerita. Kalau tidak ditulis dan tiba-tiba kita terkena Alzheimer atau amnesia seperti di tipi-tipi, kita mana mungkin bisa ingat? Kalau tidak diketik, bagaimana kita bisa menertawakan kebodohan di waktu terdahulu? Tentang tulisan alay saat masih bocah. Nulis nama Mayang Dwinta aja jadinya |V|4YaNk Dw1n+4. Kan ngehe.

Perjalanan tentang napak tilas lika-liku kuliah, KKN, dan magang PPL, mungkin akan lebih banyak menghiasi label "Curhat Colongan" ini. Saya bahkan masih ada janji menulis tentang teman KKN yang kala itu mengabdi di lereng gunung Lawu pada tahun 2015. Serem-serem asoy ceritanya.

Yang penasaran dengan cerita pertama dari seri kuliah ini bisa diklik di tautan berikut:





Pictures are taken from:
https://www.theodysseyonline.com/dear-diary-sick
http://www.resepharian.com/resep-membuat-es-soda-gembira-segar-sederhana/
http://minumanstarbucks.blogspot.com/2016/03/cara-membuat-bandrek.html
Share on Google Plus

About Mayang Dwinta

A half happy go lucky girl and half human who tends to enjoy life in peace. A cat and seafood lover. A bookworm and music enthusiast. Currently working on Mars Project to escape from the planet earth. If you were aliens, maybe we could be bonding perfectly. Ciao!

13 Comments:

  1. Maksa sumpah itu Soda Gembira maupun Bandrek. Tapi mengategorikannya ke dua minuman yang memang berbeda seperti itu, serta pengertiannya, patutlah diapresiasi. :)

    Gue kayaknya kalau jadi cewek, termasuk tipe pertama deh. Yoi gitu, duit sedikit terus banyak gaya. Kalau kata sebuah tulisan di warkop deket rumah, "Aku memang orang miskin, tapi hobiku mahal."

    Hidup Soda Gembira!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya emang maksa. hahahaha. tapi gimana dong, akronim yang pas ya itu sih. minuman. seger dan anget. pernah waktu mereka berantem, kelas berasa horor banget kyk rumah kosong :v

      HAHAHAHA. ADA NGGAK ADA DUIT, YG PENTING NONGKRONG! GOOD!

      Delete
  2. Huahahaha. MaDeSu yang terfavorit. Emang ena sih nongkrong sama teman cowok, apalagi curhat. Jadi inget waktu SMP, nongkrong-nongkrong sama teman-teman cowok di bangku belakang. Waktu itu karena nggak punya temen cewek sih. Tapi lama-lama jadi kebiasaan sama mereka, suka bergaul sama mereka, sampai akhirnya temenan sama empat cewek di kelas itu dan jadilah geng-gengan yang mirip-mirip kayak SODA GEMBIRA. Hhhh.

    Ngomongin utang tulisan, aku juga banyak utang tulisan huaaaaaaaaa. Bisa belajar dari dan sama Mayang nih, cara tawakal dan konsisten serta optimis melunasi utang tulisan itu. Yuhuuu~

    ReplyDelete
    Replies
    1. mari menjadi madesu juga, Cha. biar menjelma menjadi istri istri yg varokah. hhh.

      soda gembira emang seger. mereka bisa mencairkan suasana kelas dgn gerak gerik dan tingkahnya yg super genit, apakah kamu juga genit, Cha? Rasa-rasanya kok susah membayangkan kamu genit X)

      MARI MELUNASI HUTANG BERSAMA! :*

      Delete
  3. MERANTAU BUKAN SEKEDAR RUMUS FISIKA, SAYA SUKA DENGAN JUDULNYA.
    KEREN KERENN MBA

    ReplyDelete
  4. hahahhah... tottallitas ini. pas seperti saya. nulis buat saya tuch seperti diary yang sewaktu waktu bisa saya buka terus flas back dan ngakak lihat kelakuan saya. blog saya juga udah lama, biarin aja isi nya gado gado toh niat saya nulis buat buang stress, berbagi dan iseng. hahah...

    suka sama ni blog. btw saya kawanan abu abu juga lho.

    www.ulimayang.com

    ReplyDelete
  5. Haloo, baru prtma mampir ksni! Tp udh bbrp kali dibikin ngakak sm tulisannya.
    Itu aku kira namanya Pram bneran, eh sisanya jd Pram, prem, prom. Kmvrt skalih. :')

    Tulisan lama kita emg slalu memaksa untuk flashback. Trs bkin istighfar jg ngeliat tulisan lama yg alay dan gak tau rupa dan bentuknya. Hikss.
    Bner jg sih, makin brumur, makin bnyak yg dipikirin, trutama buat cewek, kyak hrga pembalut yg meroket, sm hrga make up yg bisa buat beli 3 dus indomi... :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. hello luluuu. saya juga udah sering mendengar tentangmu dan membaca tulisanmu. salam kenal yaaa :)

      betul, prioritas utama perempuan adalah roti jepang. turunkan harga pembalut!

      Delete
  6. Suka berteman dengan teman lakik yang kalau kena angin, 'awwww'. Mereka lakik, tapi sepemikiran. Hm.

    Strategi pembelajaran lumayan penting sih untuk pengetahuan gimana handle kelas secara teknik. Maksudnya kan juga dibahas dikit2 tentang permainan berfaedah. Sapa tahu bisa kolaborasi antara fisika dan Mobile Legend.

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.